
Setelah memberi saran agar Stefani pulang dan mengatakan semuanya dengan jujur pada kedua orang tua dan abangnya. Athalla mengajak Kania menuju supermarket seperti tujuan awal mereka.
Setengah jam dihabiskan buat belanja. Mereka segera kembali karena jam telah menunjukan pukul Sebelas siang. Waktu mereka tersita untuk bicara dengan Stefani.
Di dalam mobil, Kania tidak bisa lagi menutup keingin tahuannya tentang Stefani, adiknya Adit. Kania dapat melihat dari tatapan Stefani, jika dia menyukai Athalla.
"Mas, Stefani itu sepertinya suka denganmu!" ucap Kania pelan. Namun, bagi Athalla suara wanita itu cukup jelas di pendengarannya.
Athalla tersenyum dan meraih tangan Kania, mengecupnya dengan lembut dan lama. Dia tahu Kania ingin menyelidiki ada apa antara dirinya dan Kania.
Stefani, Athalla ingat saat gadis itu selalu saja mencari perhatiannya. Namun, Athalla hanya memganggapnya sebagai adik. Bukannya pria itu tidak tahu atau tidak peka jika Stefani mencintainya.
Hingga suatu malam, Stefani main ke apartemen Adit tanpa memberitahu terlebih dahulu. Dia melihat Athalla yang sedang berhubungan badan dengan kekasihnya Chika di ruang tengah.
Athalla melihat wajah kaget dan sedih dari Stefani. Sejak saat itu, Stefani tidak pernah mau bertemu lagi dengan Athalla. Hingga Athalla juga menyaksikan Chika berhubungan badan dengan Adit di tempat yang sama, ruang tengah apartemen Adit.
Bukan marah atau adu jontos yang Athalla lakukan, dia langsung pergi dan memutuskan hubungan pacaran dengan Chika dan memutuskan persahabatannya dengan Adit.
"Mungkin dia cuma suka sebagai abang. Bukankah aku ini dulu sahabatnya Adit. Kami sering bersama kemanapun pergi dulunya."
"Apa aku boleh tanya satu pertanyaan lagi?" tanya Kania.
Athalla melirik ke arah kekasihnya itu dan tersenyum. Dia kembali menggenggam tangan Kania.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu ketahui? Jangankan satu pertanyaan, seribu pun boleh. Aku akan menjawabnya jika bisa!"
"Mas, apakah aku nggak salah menangkap jika kamu dan Adit tidak lagi bersahabat karena satu wanita?" tanya Kania pelan.
"Apa aku harus mengatakan semuanya? Bagiku semua masa lalu bukan untuk dikenang atau diingat. Apa lagi jika itu masa lalu yang buruk dan membuat luka hati. Lebih baik melupakan semuanya. Kita tidak perlu memandang kebelakang."
Athalla mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia teringat saat dulu Stefani menggodanya, tapi untung dia hanya menganggap adik tidak ada perasaan apa-apa dengan gadis itu.
"Kania, Setiap orang memiliki masa lalu, jadikan kisah masa lalumu sebagai guru untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Simpan masa lalumu sebagai pelajaran. Semakin kau membawanya, semakin berat untuk menuju masa depan. Jangan jalani hidup dengan penyesalan. Kesalahan adalah pelajaran. Nikmati hidupmu, jadikan sebuah kenangan yang pantas diceritakan. Kenangan tetap ada tapi jangan terfokus di sana. Hidup kita bukan untuk kenangan tapi buat masa depan," ucap Athalla dengan tersenyum."
Sampai di parkiran apartemen miliknya, Athalla keluar dari mobil dan menenteng makanan yang di beli untuk mereka masak dan santap sambil membuat proposal untuk kerjasama dengan perusahaan yang mereka menangkan kemarin.
Sementara itu di kediaman orang tua Adit. Pria itu sedang menunggu adiknya. Dia ingin bicara dengan Stefani setelah mendapat kabar kurang baik itu.
"Tadi pamitnya pengen sarapan aja. Mungkin sekalian makan siang juga!"
"Apa mama melihat sesuatu yang beda pada diri Stefani?" tanya Adit.
"Maksud kamu?"
"Mama tahu siapa teman dekatnya Stefani? Apa yang dia lakukan di luar?"
"Mana Mama tahu? Mama sibuk dengan kerjaan. Ini aja Mama di rumah karena capek pulang dari Bali. Emang Stefani kenapa? Kamu buat ibu penasaran aja!" ucap Mama.
__ADS_1
Belum sempat Adit menjawab, terdengar langkah kaki seseorang. Adit melihat siapa yang datang dan ternyata adiknya Stefani yang telah di tunggu dari tadi.
Tanpa menyapa Adit atau mama-nya Stefani langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya. Adit berlari mengikuti. Sedangkan mama masuk ke kamar untuk istirahat.
Adit mendorong pintu sebelum Fani menutup dan menguncinya. Adiknya itu tampak marah melihat Adit yang masuk ke kamarnya dengan paksaan.
"Kau mau apa?" ucap Stefani. Dia dan abangnya memang tidak pernah akur. Tidak ada sopan santun dan saling menghargai sesama saudara.
"Apa ini kamu?" ucap Adit memperlihatkan video mesum sepasang kekasih. Wajah pemainnya sedikit di blur tapi tetap jelas bagi orang yang mengenal dekat pelaku.
"Aku nggak tahu!" jawab Stefani. Padahal dia kaget melihat itu semua. Namun pura-pura tidak tahu. Stefani tidak menyangka jika video mesumnya telah beredar. Dia memilih duduk di tepi ranjang. Tubuhnya terasa lemas. Apa yang akan dia katakan. Abangnya pasti mengenalnya.
"Katakan dengan jujur! Ini jelas kamu!" bentak Adit.
Stefani tidak menjawab ucapan Adit. Namun, tangisnya pecah. Dia tidak tahu mau dimana sembunyikan wajahnya.
"Jangan menangis! Jawab pertanyaanku! Apa ini kamu!" teriak Adit.
Stefani tidak mungkin menutupi semua itu lagi. Seperti yang Athalla katakan, dia harus jujur. Mungkin Adit bisa membantunya.
"Benar itu aku! Abang mau apa?" tanya Stefani dengan terisak.
Adit kaget. Walau dia tadi telah yakin itu adiknya, namun saat dia harus menerima kenyataan itu ,dia tetap kaget.
__ADS_1
...****************...