NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 57. Bertemu Ibunya Syafa.


__ADS_3

Pagi hari saat akan berangkat kerja, Athalla melihat Mami yang sedang sarapan. Di meja terhidang menu nasi goreng ikan teri kesukaan Athalla. Biasanya Mami akan antusias meminta Athalla sarapan.


Kali ini Mami hanya diam, walau Atha telah berada dihadapannya. Mami menyantap sarapan tanpa melihat ke arah Atha.


"Mi, aku pamit kerja," ucap Athalla. Mami tetap diam, tidak ada reaksi. Biasanya mami akan memaksa Athalla buat sarapan. Athalla tahu pastilah saat ini Mami masih marah atas keputusan dirinya yang memutuskan pertunangan.


Mami masih diam saat Athalla menyalami dirinya saat pamit pergi kerja. Athalla tahu, pastilah dia sangat kecewa dengan keputusan yang Athalla ambil.


***


Athalla mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sampai di ruang kerjanya, Athalla langsung menghidupkan laptop dan menghubungi Kania.


Dalam sambungan telepon itu di layar monitor tampak Kania sedang duduk di balik meja kerjanya. Kania tampak cantik dengan baju kerja yang dipakai.


"Sayang, aku kangen. Kapan bertemu lagi?" tanya Athalla dengan suara manja, membuat Kania tertawa.


Belum satu minggu Kania kembali ke Singapura namun, hampir setiap hari pria itu menghubungi bahkan hampir setiap jam. Terkadang hanya sekadar bertanya sudah makan apa belum.


"Belum juga satu minggu, sudah kangen saja," ledek Kania.


"Emang harus menunggu sampai satu tahun berpisah baru boleh mengatakan kangen?" tanya Athalla lagi.


"Bukan gitu, Mas. Namun, aneh aja. Baru satu minggu Udah kangen aja."


"Sayang, aku serius. Aku selalu ingat saat di rumah sakit. Aku ingin seperti itu setiap hari. Berdua denganmu, dan memeluk kamu."

__ADS_1


"Mas, pikirannya pasti mesum?" tanya Kania sambil tersenyum. "Udah dulu ya, Mas. Aku mau rapat. Jangan lupa sarapannya. Mas belum sarapan'kan?"


"Iya, Sayang. Aku nanti mau bertemu Ibu Syafa. Aku ingin membatalkan pertunangan kami. Semoga semuanya lancar dan aku bisa secepatnya melamar kamu."


"Semoga, Mas."


Setelah itu sambungan ponsel keduanya terputus. Kania menarik napas dalam. Dua kali bertemu Syafa, dia tahu jika wanita itu sebenarnya memiliki perasaan dengan Athalla.


Pertemuan kedua saat Syafa mengunjungi lagi di rumah sakit, saat itu terlihat dia sedikit berbeda ketika Athalla mengatakan dia menjaga Kania hingga menginap di rumah sakit.


"Semoga apa yang aku pikirkan ini tidak benar. Jika Syafa memang menyukai Athalla, aku merasa tidak enak hati karena gara-gara aku pertunangan mereka harus berakhir."


***


Syafa dan ibunya telah duduk di sebuah restoran yang Athalla katakan. Ibu Syafa mengira ini pertemuan biasa untuk saling mendekatkan diri antara calon menantu dengan dirinya.


Saat ini dihadapkannya telah duduk Athalla. Setelah menyalami ibunya, Athalla memilih kursi yang berhadapan dengan Syafa, bukan di sampingnya.


"Maag, Bu. Aku mau bicara. Mungkin apa yang akan aku katakan ini akan menyakiti hati Ibu." Athalla menjeda ucapannya. Dia melirik ke Syafa. Wanita itu hanya diam.


Sebenarnya Athalla sedikit heran dengan sikap Syafa. Dia yang memutuskan hubungan pertama kali namun, seolah dia tidak pernah menginginkan ini. Walau tanpa Syafa pinta, Athalla juga akan membatalkan pertunangan mereka.


"Apa yang ingin nak Atha katakan? Kelihatan serius," ucap Ibu.


"Sekali lagi aku minta maaf, Bu. Aku ingin mengembalikan cincin pertunangan kami. Aku tidak bisa meneruskan semua ini. Aku telah memiliki kekasih. Jika aku melanjutkan pertunangan ini akan banyak hati yang terluka."

__ADS_1


Bagai di sambar petir, Ibu mendengar ucapan Athalla. Dia telah begitu bahagia anaknya Syafa akan bersanding dengan pria itu. Ibu tidak ingin putrinya kembali dengan kekasihnya.


"Kenapa kamu membatalkan pertunangan saat ini? Jika memang kamu tidak mencintainya Syafa, kenapa harus mengatakan sekarang? Seharusnya jangan ada pertunangan. Jika kamu memutuskan sekarang, kamu bukan hanya menyakiti Syafa tapi juga ibu. Ibu sangat malu. Bagaimana harus menjawab berbagai pertanyaan keluarga dan orang-orang saat bertanya nanti."


"Ibu, maafkan aku. Jika dipaksakan juga percuma. Aku dan Syafa tidak memiliki perasaan. Aku ada pilihan, begitu juga Syafa. Dilanjutkan hanya akan membuat luka."


"Siapa bilang Syafa memiliki kekasih. Itu dulu. Mereka telah putus. Ibu pastikan jika Syafa tidak memiliki perasaan apa pun lagi dengan pria itu."


"Syafa sendiri yang mengatakan Ibu. Maaf, Bu. Aku nggak bisa lanjutkan semua ini. Aku rasa pembicaraan kita telah selesai. Sekali lagi maaf. Ini adalah yang terbaik."


Athala meninggalkan ruangan. Setelah Athalla pergi. Ibu Syafa bertanya dengan anaknya namun Syafa hanya diam tanpa membenarkan ucapan Athalla.


Dia berharap Athalla berubah pikiran dan tidak membatalkan pertunangan ini karena dia melihat keraguan pada kekasihnya. Pria itu tampaknya masih ragu untuk melamar Syifa setelah ditolak kedua orang tua Syafa.


Ibu Syafa yang kecewa atas semua ini pulang sendiri, meninggalkan putrinya di restoran itu.


Tentu saja Syafa terluka dengan sikap Athalla. Saat mereka yang jelas-jelas sudah melangsungkan pertunangan, tetapi dia baru mengetahui jika pria itu mencintai wanita lain.


Jauh dalam lubuk hati Syafa, dia sedang menangis saat ini. Gadis itu tetaplah seorang wanita yang lemah. Syafa meraih gelas yang berisi air di depannya lalu meneguk air itu perlahan. Menetralkan makanan yang masuk ke mulutnya.


Entah apa yang akan kedua orang tuanya lakukan nanti. Pasti kembali dirinya dikekang, tidak boleh pergi tanpa kawalan.


Terlebih saat Athalla meninggalkannya lebih dulu. Reruntuhan itu akan langsung menimpa dirinya dan tidak ada seorang pun yang mau menolongnya.


Tidak masalah, Syafa bisa pergi kalau memang itu yang Athalla inginkan. Tidak akan sangat sulit meninggalkan hubungan yang tidak memiliki masa depan seperti itu, mungkin. Bohong jika Syafa tidak merasa kecewa. Sangat, gadis itu merasa sanga kecewa.

__ADS_1


Syafa akhirnya pulang setelah meredakan gejolak perasaan di hatinya. Dia harus siap menghadapi semua ucapan dan tindakan selanjutnya dari sang Ibu.


...****************...


__ADS_2