
Apa pun yang kamu berikan untuk hidup, itu kembali ke dirimu. Jangan membenci siapa pun. Kebencian yang keluar dari dirimu suatu hari nanti akan kembali padamu. Cintai orang lain. Dan cinta akan kembali kepadamu.
Adit mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dia telah bertanya dengan beberapa temannya di mana keberadaan Alex saat ini. Adit tidak bisa terima perlakuan pria itu dengan adiknya.
Sementara itu di dalam kamarnya Stefani masih menangis. Dia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan semua kebenaran ini. Fani juga takut Papa dan Mama-nya tidak bisa menerima semua ini.
"Apakah Papa dan Mama bisa menerima kehamilanku ini jika aku berterus terang? Apakah mereka tidak akan mengusir aku nantinya?" tanya Fani dengan diri sendiri.
Mama yang mendengar sedikit keributan dari kamar anaknya, kaget melihat kepergian Adit dengan wajah yang tampak marah. Mama ingin menyapa tapi diabaikan melihat Adit yang tergesa menuju halaman dan langsung pergi dengan mobilnya.
Penasaran dengan apa yang terjadi, Mama naik ke lantai atas menuju kamar Stefani. Dia yakin ada masalah dengan anak itu sehingga Adit mencarinya. Kepergian Adit dengan wajah marah membuat Mama makin yakin ada sesuatu dengan putrinya itu.
Mama mengetuk pintu kamar Stefani sebelum masuk. Walau belum ada jawaban, wanita yang telah melahirkan Stefani itu berjalan masuk setelah mengetahui pintu tidak terkunci.
Melihat Stefani yang menangis, mama makin curiga. Dia mendekati putrinya itu. Mengusap rambut Fani yang terbaring.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Mama sambil mengusap punggung putrinya itu.
Sejak Mama ikut terjun ke bisnis, mereka jarang berbincang empat mata begini. Telah hampir sepuluh tahun mereka tidak jalan bersama. Tepatnya sejak Stefani memasuki Sekolah Menengah Pertama.
__ADS_1
Stefani bangun dari berbaringnya dan duduk bersandar di kepala ranjang. Memandangi wajah mama dengan intens. Telah lama rasanya Stefani tidak bicara berdua begini dengan Mama nya itu.
"Ma, maafkan aku," ucap Fani terbata.
"Emang kamu melakukan kesalahan apa? Kenapa Adit mencarimu?" tanya Mama pelan.
Mama tahu bagaimana putrinya ini. Dia tidak bisa dikeraskan. Harus bicara lembut jika ingin kejujuran dari Fani.
Fani memeluk mama dan kembali menangis terisak. "Ma, aku hamil," ucap Stefani pelan. Namun, suaranya itu masih dapat di dengar Mama.
Mama melepaskan pelukan Fani dan memandangi putrinya itu dengan wajah kaget. Tidak percaya dengan pendengarannya. Mama masih berharap jika dirinya salah dengar.
"Aku nggak bercanda, Ma? Maafkan aku, Ma. Aku telah membuat Mama malu. Aku emang salah!" ucap Fani terisak.
"Apa ini, Nak? Apa yang kamu lakukan? Kamu tahu'kan, semua ini bisa menjatuhkan nama baik kedua orang tuamu. Apa kamu tidak berpikir sebelum melakukan semua ini?"
"Maaf, Ma. Aku memang bodoh!"
"Apa yang harus Mama katakan pada Padamu! Apa dia bisa menerima semua ini? Katakan siapa pria itu? Sebaiknya kamu menikah secepatnya sebelum perutmu makin membesar dan semua orang tahu!"
__ADS_1
"Mama tolong aku! Temui pria itu. Aku mau menikah secepatnya sebelum perut ini makin besar. Katakan, ini janinnya. Dia harus tanggung jawab!" ucap Fani.
Mama menggenggam tangan putrinya. Sebagai sesama wanita, mama mengerti bagaimana perasaan Fani saat ini. Cuma yang ditakutkan, Papa Fani tidak bisa menerima semua ini. Nama baik keluarga pasti akan tercemar jika semua orang tahu, anaknya hamil di luar nikah.
"Maksud kamu apa, Fani? Apa pria itu tidak mau bertanggung jawab?"
Fani terisak mendengar pertanyaan Mama-nya. Dia hanya mengangguk untuk membenarkan ucapan mama. Mama tampak syok melihat reaksi Fani.
Tanpa mereka tahu, dari tadi papa telah mendengar semua pembicaraan mereka. Mengetahui pria itu tidak mau bertanggung jawab, Papa menjadi marah dan masuk ke kamar Fani.
"Papa ...!" ucap Mama dan Fani serempak melihat pria itu masuk dan berjalan menghampiri mereka.
Papa berhenti melangkah setelah sampai dihadapan Fani. Mata-nya melotot memandangi Fani. Melihat pandangan Papa yang seolah ingin memakannya. Fani menunduk.
"Siapa pria yang telah menghamili kamu" teriak Papa.
Fani meremas tangannya menghilangkan kegugupan dan ketakutan. Dia belum siap Papa berhadapan dengan Papa mengenai masalah ini.
...****************...
__ADS_1