NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 37. Kepergian Stefani


__ADS_3

Fani menarik laci nakas di samping tempat tidurnya. Semenjak dua bulan ini Fani mengkonsumsi obat tidur, kerena stres. Fani mengambilnya dan mengambil air. Dua puluh butir langsung di minum Fani.


"Selamat tinggal semuanya," ucap Fani sebelum menelan semua obat tidur itu.


Fani merasa kepalanya pusing sebelum akhirnya pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. Sementara itu mama berusaha membujuk Papa. Wanita yang telah melahirkan Fani itu ikut duduk di sebelah suaminya yang sedang menghubungi seseorang.


Setelah suaminya menutup sambungan telepon, barulah Mama angkat bicara. Dia tidak setuju jika Fani di kirim ke luar negeri. Anak mereka cuma satu Fani yang cewek.


"Pa, bagaimana kalau Fani kita bawa ke Villa saja. Apa Papa nggak kasihan jika kita kirim ke luar negeri? Fani itu nggak bisa apa-apa. Jangankan untuk menjaga anaknya, menjaga diri sendiri saja pasti belum bisa," ucap Mama mencoba merayu suaminya itu.


Melihat kedua orang tuanya yang sedang serius mengobrol, Adit juga ikutan nimbrung. Duduk bersama mereka. Mendengar ucapan Mama-nya, Adit setuju. Dia ikut angkat bicara.


"Aku setuju dengan Mama. Sebaiknya kita membiarkan dia tinggal di villa saja. Jika di Villa masih bisa kita sering melihat Fani saat dia melahirkan. Setelah Fani melahirkan kita bisa mengambil anaknya dan memberikan ke panti asuhan."


"Adit benar, Pa. Sebaiknya kita hanya menyembunyikan dia di Villa saja."


Papa berpikir sekali lagi. Pria itu berdiri dari duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya Fani. Mama dan Adit mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Sampai di depan kamar Fani, pintunya masih terbuka lebar seperti saat Mama terakhir meninggalkan kamar itu. Baru dua langkah memasuki kamar Fani, ketiganya terkejut melihat Fani yang tergeletak di lantai dengan busa yang keluar dari mulutnya.


"Fani ...," teriak Mama dan memeluk tubuh putrinya yang telah mulai membiru.


"Adit, Papa ... cepat siapkan mobil," teriak Mama lagi.


Adit mendekati Fani dan langsung menggendong tubuh adiknya. Sambil berlari dia menuruni tangga diikuti Mama. Sedangkan Papa terdiam di tempat dia berdiri. Tidak percaya dengan apa yang disaksikan tadi.


Tubuh Papa lemas dan luruh ke lantai.Memegang kepala dan menarik rambutnya frustasi. Papa tidak menyangka putri kecilnya sanggup melakukan itu. Bagaimana mungkin Fani bisa berpikir melakukan itu semua.


Adit mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Di kursi belakang mama duduk sambil memeluk putrinya itu. Mama menangis terisak, takut terjadi sesuatu dengan Fani.


Sesekali mama memukul pipi Fani pelan untuk membangunkan putrinya itu. Fani masih saja sama tidak bergerak sedikitpun.


Sampai di rumah sakit, Adit kembali menggendong tubuh adiknya. Berlari menuju ruang IGD. Mama yang mengunci dan menutup pintu mobil. Mama mengikuti dari belakang.


Adit dan Mama menunggu di luar, saat dokter memeriksa keadaan Fani. Papa datang dengan langkah lunglai. Duduk di samping mama.

__ADS_1


Papa menggenggam tangan Mama. Dia mengerti saat ini pastilah istrinya itu marah dengannya. Namun, Papa tidak peduli. Dia juga ingin memberikan dukungan agar mama anak-anaknya itu kuat.


"Fani pasti tidak apa-apa, dia kuat. Dia akan baik-baik saja," ucap Papa


Dokter keluar dari ruangan. Adit yang dari tadi bingung dan mondar-mandir di depan ruangan itu langsung menghampiri Dokter.


"Bagaimana adik saya, Dok?" tanya Adit.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Mama.


Tampak Dokter menarik napas dalam dan terdiam sesaat sambil menatap kearah Adit, Mama dan Papa bergantian.


"Maaf, Pak, Bu ... kami telah berusaha untuk menyelamatkan putri kalian. Akan tetapi karena dia mengkonsumsi obat tidur berlebihan sehingga menghentikan aliran darah dari jantung ke otak ...."


"Katakan saja apa yang terjadi dengan adik saya, Dok!" Adit memotong ucapan dokter. Tidak sabar menunggu Kata-kata keluar dari mulutnya.


"Maaf ... Adik anda telah berpulang ke pangkuan pemilik-Nya!"

__ADS_1


Mendengar ucapan Dokter tubuh Mama langsung luruh, untung Papa langsung menyambut dan memeluknya.


...****************...


__ADS_2