
Sejak Kania ingin menikah dengan Athalla, dia mendatangi Tante-nya dan meminta menjadi wakil dari keluarganya. Awalnya Tante Meri tidak menerima kehadiran Kania namun, setelah tahu Kania akan menikah dengan seorang CEO, Tante Meri mau memaafkan dan menerima Kania kembali.
***
Kedua belah pihak keluarga Athalla dan Kania sedang berkumpul di sebuah resort. Hari ini, ada pemotretan prewedding Kania dan Athalla. Pasangan yang baru saja tunangan dua hari lalu itu langsung memesan fotografer yang memang biasa mengurus tentang konsep prewedding seperti Kania dan Athalla kali ini.
Athalla dan Kania sama-sama ingin melakukan foto prewedding di alam bebas. Kebetulan sang fotografer tahu tempat yang menyediakan tempat seperti itu. Seperti contohnya hari ini, Athalla dan Kania sibuk foto di bawah pohon pinus dan disaksikan oleh keluarga yang sambil duduk-duduk santai di resort yang mereka sewa hanya untuk satu hari ini saja.
Kali ini, foto prewedding Athalla dan Kania hanya mengenakan pakaian putih khaki dan terkesan lebih casual. Tidak sampai berpakaian heboh yang malah membuat Kania jadi kerepotan. Untungnya, semua pihak keluarga setuju dengan pilihan Kania mengenai konsep prewedding buat pernikahannya.
"Kalian bisa lebih dekat lagi?" Sang fotografer meminta supaya Kania lebih menempel pada Athalla.
Tanpa Kania sangka, Athalla malah menarik pinggangnya hingga kini mereka benar-benar menempel bagai amplop dan perangko. Kania dibuat blushing karena tindakan yang dilakukan oleh Athalla.
"Biar cepat selesai. Kamu juga capek 'kan foto terus dari tadi?" Athalla memberikan alasan supaya Kania tidak marah. Tapi sebenarnya tanpa Athalla memberikan alasan pun, Kania tidak akan marah kepada Athalla. Kania menganggukkan kepalanya dan kembali melakukan arahan yang diucapkan oleh fotografer mereka.
"Oke, satu kali gaya lagi. Kita selesai!" seru sang fotografer sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Athalla dan Kania.
Mendengar kalau mereka akan berfoto sekali lagi, Athalla dan Kania sama-sama lega. Akhirnya kegiatan yang melelahkan hari ini akan usai. Namun meski melelahkan, Athalla dan Kania sama-sama senang dalam menjalaninya.
"Mereka terlihat sangat serasi ya?" ucap maminya Athalla kepada Tante-nya yang mewakili keluarga Kania yang ikut menonton prosesi pemotretan anak-anak mereka.
__ADS_1
"Iya, cocok banget," sahut Tante Meri.
Salah seorang petugas resort datang, dia menyela dan memberi tahu bahwa petugas wedding organizer yang dipesan oleh kedua belah pihak keluarga telah datang. Tentunya, para tetua itu mengiyakan dan meminta petugas resort tadi buat mempersilakan petugas wedding organizer tadi buat masuk ke dalam resort.
Maminya Athalla meminta tolong kepada asisten rumah tangganya buat memberi tahu fotografer yang masih sibuk bersama Athalla dan Kania mengenai kedatangan wedding organizer. Kebetulan, acara pemotretan juga sudah selesai sehingga petugas wedding organizer itu tidak perlu menunggu lama.
Beberapa asisten fotografer tadi membereskan properti yang dipakai untuk pemotretan sementara fotografernya sendiri ikut ke dalam resort karena pihak Athalla dan Kania akan menggunakan jasanya lagi untuk pesta pernikahannya nanti.
Athalla dan Kania sama-sama duduk di sofa di dalam resort. Ketua wedding organizer yang memiliki nama besar itu pun turut menyambut kedua calon pengantin. Dia juga berbasa-basi sebentar sebelum masuk ke pembahasan. Semacam memuji ketampanan dan kecantikan Athalla maupun Kania.
"Untuk fotografer dan dokumentasi, nanti kami akan tetap memakai jasa yang sama dengan foto prewedding kami, Mbak." Athalla memberi tahu terlebih dulu supaya pemilik wedding organizer itu tidak menawarkan jasa fotografer lagi kepada mereka.
"Oh begitu? Boleh," sahutnya seraya mengeluarkan booklet mengenai beberapa tema pernikahan. "Ini booklet-nya, silakan dilihat dulu. Mana yang sekiranya calon pengantin atau pihak keluarga suka." Satu buah booklet yang berisikan foto-foto beberapa tema pernikahan sudah dilihat oleh pihak keluarga.
Maminya Athalla seketika mengerutkan keningnya, "Tema rustic itu yang bagaimana, Kania?" tanyanya sedikit bingung.
Pihak wedding organizer tadi langsung memberikan satu booklet lainnya dengan isian gambar-gambar pelaminan yang bernuansa rustic. "Ini adalah pernikahan dengan tema rustic, Ibu. Dominan dengan warna putih, krem atau warna pastel lainnya. Hiasannya cenderung lebih banyak mengenai tentang ranting pohon, dedaunan, bunga-bunga berwarna putih, pink dan hiasan lampu gantung. Untuk lebih detailnya, Ibu bisa melihat-lihat beberapa gambar yang ada di sini. Semoga membantu."
Maminya Athalla langsung mengiyakan dan melihat-lihat booklet tersebut. Sedangkan Tante Kania bilang bahwa mereka akan menuruti keinginan putra-putri mereka. Lagi pula, ini adalah pernikahan Athalla dan Kania, bukan pernikahan Tante-nya Kania. Sehingga dia paham dan membebaskannya.
"Kalau untuk warna gaunnya bagaimana?"
__ADS_1
Percakapan terus berlanjut. Buat kali ini, Kania bertanya kepada anggota keluarga, mengenai warna yang akan dipakai. Mulanya maminya Kania ingin didominasi warna brunt orange, tetapi karena Kania tidak terlalu suka sehingga keputusan akhirnya nanti mereka akan memakai dua warna untuk bridesmaid. Ada warna hijau emerald dan warna mauve.
Sementara untuk pengantinnya sendiri, akan memakai empat warna. Ada kebaya yang full putih, lalu lanjut ke warna hijau emerald saat siang, ketika sore akan berganti dengan gaun warna mauve. Lalu saat malam hari, pengantin bakal memakai gaun berwarna silver. Itulah rencana pernikahan yang diinginkan Kania.
Perbincangan mereka mengenai persiapan pernikahan berakhir di sana. Wedding organizer dan fotografer tadi juga sudah pamit. Begitu pula kedua belah pihak keluarga pun pamit karena mereka bilang masih harus mengurus yang lain.
Banyak sekali yang harus mereka persiapkan, mengenai undangan dan katering. Kebetulan, pihak keluarga Athalla dan Kania juga tidak akan memakai jasa katering dari pihak wedding organizer karena mereka sudah memiliki pilihan sendiri.
Saat ini, Kania dan Athalla sedang dalam perjalanan menuju rumah. Mereka baru saja membeli makanan di luar karena merasa lapar dan lelah usai mengadakan foto prewedding. Kania tidak menyangka kalau melakukan persiapan pernikahan itu begitu melelahkan. Dulu Kania pikir, menikah itu tidak capek. Tapi nyatanya juga menguras tenaga.
"Aku turun dulu ya, makasih banget udah nganterin aku sampai rumah." Kania memberanikan diri buat mencium pipi Athalla sekilas.
Athalla tersipu malu, dia mengusap-usap pipi kirinya yang barusan dicium oleh Kania.
"Iya, kamu juga langsung mandi terus istirahat,Sayang."
"Hati-hati di jalan, Sayang." Kania langsung keluar dari mobil begitu saja. Begitu pula Athalla yang langsung meninggalkan kontrakan Kania.
Kania merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Rasanya begitu nyaman, Kania bahkan bernapas lega karena akhirnya proses hari ini selesai juga.
"Sebentar lagi aku akan menikah dengan Athalla," gumam Kania seraya tersenyum cantik.
__ADS_1
...****************...