NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 39. Pemakaman Stefani


__ADS_3

Adit masih terus memandangi wajah Fani dalam foto. Foto saat mereka masih kecil. Di mana Adit memeluk adiknya itu.


Adit teringat saat bahagia mereka. Papa dan Mama yang belum terobsesi dengan Uang. Setiap akhir pekan mereka selalu menghabiskan waktu untuk liburan, walau hanya ke pantai.


Semua berubah sejak perusahaan orang tuanya mulai berkembang dan Papa terobsesi ingin mengembangkan usahanya lebih maju. Papa jarang di rumah dan mengabaikan banyak acara keluarga. Semakin hilang kebersamaan sejak Mama juga ikut berbisnis.


Saat ini jenazah Fani sedang dimandikan. Dengan berurai air mata ibu membasuh setiap jengkal tubuh anaknya itu.


"Sayang, dulu mama selalu memandikan kamu. Mama yang membasuh tubuhmu agar bersih. Hari ini kembali itu Mama lakukan untuk terakhir kalinya. Mengapa kamu memilih meninggalkan Mama, Sayang? Apa ini peringatan kamu untuk mama yang sering mengabaikan dan mengacuhkan kamu? Kenapa balasan yang kamu berikan sangat menyakitkan? Kenapa kamu mengakhiri hidupmu, Nak?"


Sambil memandikan jenazah anaknya, air mata mama jatuh membasahi pipinya. Semua yang melihat Mama, ikut merasakan kesedihan yang wanita itu rasakan.


Namun, tidak ada satu orangpun dari pelayat yang tahu penyebab kematian Stefani. Semua heran dan kaget. Banyak yang bertanya-tanya apa yang menyebabkan wanita muda itu menghembuskan napas terakhirnya.


Adit ikut menyirami tubuh bagian atas adiknya itu. Adit mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah. Tidak ingin ada yang melihat kerapuhannya.

__ADS_1


"Fani, adikku. Ini terakhir kalinya abang ikut memandikan kamu. Dulu, sewaktu kecil kita sering dimandikan bareng sama Mama. Fani, maafkan abang. Kesalahan yang abang lakukan pada wanita lain, dibalas tunai dengan karma yang menimpa kamu. Sakit rasanya melihat kamu harus pergi karena masalah ini. Selamat jalan, Dek. Semoga bahagia di sana. Abang janji akan berubah dan tidak mempermainkan wanita lagi."


Air mata tidak bisa Adit tahan lagi. Jatuh juga membasahi pipinya. Setelah mandi dan dikafani, jenazah Fani disolatkan di rumah duka saja.


***


Adit dan Papa turun langsung ke liang lahat menyambut jenazah adiknya itu. Setelah meletakan jenazah sesuai aturan, Adit mengadzani jenazah sebelum naik ke atas.


Perlahan pekerja kuburan menurunkan tanah untuk menutupi jenazah Fani. Diantara pelayat tampak Athalla menyaksikan semua itu dengan perasaan takut.


Saat jenazah mulai tertutup semuanya, tiba-tiba Mama Rani, mama-nya Fani berteriak dan berlari ingin masuk ke liang kubur. Beruntung Papa cepat memeluk dan menahan tubuh Mama.


"Fani, mama mau ikut, Nak! Jangan tinggalkan Mama. Jangan menghukum Mama seberat ini, Nak. Kenapa kamu cepat meninggalkan Mama. Bawa Mama pergi, Nak!"


Mama berteriak memanggil nama Fani sebelum akhirnya pingsan. Papa menggendong tubuh Mama ke gazebo yang berada dalam kompleks pemakaman.

__ADS_1


Setelah Fani dikuburkan, dan dibaca doa oleh Ustad, satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman. Termasuk Athalla. Dia akan bicara dengan orang suruhannya untuk menyelidiki kepergian Kania. Hanya tersisa keluarga inti Fani. Papa, Mama dan Adit.


Adit berlutut di depan makam adiknya. Menabur bunga di atas kuburan itu. Sambil memegang papan yang bertulisan nama Stefani, pria itu bicara.


"Adikku Stefani, maafkan abangmu ini. Selama ini aku belum bisa memberikan contoh yang baik untukmu hingga akhir hayatmu. Aku hanya memberikan karma buruk untukmu. Aku yang suka mempermainkan wanita, di balas dengan pria lain yang mempermainkan kamu hingga kamu nekat mengakhiri hidupmu. Maafkan atas kesalahan abangmu ini."


Adit menarik napas dalam. Dadanya terasa sesak. Terbayang apa yang pernah dia lakukan pada Kania. Tidak pernah dia berpikir jika apa yang dia lakukan itu bisa membuat nyawa melayang.


"Selamat jalan, Dek. Abang pasti akan merindukan kamu. Sikap manjamu, jahilmu dan semuanya pasti akan abang rindukan. Kamu pergi dengan membawa luka hatimu. Belum sempat maaf terucap atas kebersamaan yang sekejap.Tak banyak asa dan harap. Hanya ingin sekali mendekap. Adikku tercinta, Aku minta maaf atas semua. Tak bisa merawat dan menjaga.Belum mampu jadi sempurna.Ya Tuhanku, Jagalah adikku, Adik perempuanku.Yang kini berada di Pangkuan-Mu." Adit menjeda ucapannya. Kembali menarik napas. Dadanya terasa sesak.


"Ya Tuhan, berilah kami ketabahan, pada kami keluarga yang dia tinggalkan. Biarkan kami mengikhlaskan. Untuk menerima pilu dan beban. Adikku tercinta, ada rindu dalam dada, semakin lama semakin menggelora. Hanya pasrah dan sabar yang dapat aku lakukan. Meski hati kian gentar. Semoga Tuhan mendengar semua keluh dan gusar. Bagaimana aku tak berduka, kau adikku satu-satunya, usiamu masih sangat muda. Namun kini telah berada di surga."


Adit dan keluarga meninggalkan kompleks pemakaman setelah mengucapkan doa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2