
Hari ini Mami telah diizinkan kembali pulang ke rumah. Kania yang masih mengambil cuti. Pekerjaan yang dipercayakan pada Kania telah selesai dan berhasil.
"Padahal kamu tidak perlu repot-repot segala Kania," kata maminya Athalla ketika dia melihat gadis itu membantunya membereskan barang-barangnya yang ada di rumah sakit.
Kania tersenyum ramah ke arah maminya Athalla. Dia senang mendengar maminya Athalla sedikit perhatian kepadanya. Meski hanya begini, tapi Kania sudah sangat bahagia.
"Tidak apa-apa, Tante. Lagi pula, aku juga tidak ada kegiatan apa-apa. Lebih baik aku membantu Tante saja." Kania meyakinkan maminya Athalla bahwa dia sama sekali tidak merasa keberatan untuk melakukan ini semua.
Maminya Athalla melihat kegigihan Kania untuk membuatnya menyukai gadis itu. Sehingga dia pun sekarang benar-benar menyukai Kania.
"Sudah selesai Tante, sekarang ayo kita pulang." Kania membantu maminya Athalla bangun dari ranjang rumah sakit dengan penuh kehati-hatian. Kania tahu, maminya Athalla pasti masih merasa pusing meski wanita paruh baya itu selalu bilang bahwa dia tidak apa-apa.
"Hati-hati, Tante. Kita jalan pelan-pelan saja." Kania sangat perhatian kepada maminya Athalla. Dia sama sekali tidak membiarkan maminya Athalla kesusahan.
Kania memencet angka satu untuk menuju ke lobi rumah sakit. Kebetulan tadi dia sudah memarkirkan mobilnya di depan, jadi mereka tidak akan berjalan terlalu jauh.
"Tante pusing?" tanya Kania hanya untuk memastikan kalau kondisi maminya Athalla.
"Enggak, Kania. Tante baik-baik saja," sahutnya membuat Kania mengangguk paham.
Tibalah mereka di lantai satu, Kania masih menuntun maminya Athalla sampai mobil. Dia masukkan tas berisi pakaian ganti milik perempuan yang sudah melahirkan Athalla itu. Kini Kania sudah duduk di kursi kemudi, dia akan mengemudikan mobilnya sendiri menuju rumah Athalla.
Maminya Athalla tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kania. Gadis itu benar-benar perhatian kepadanya. Bahkan Kania mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan supaya tidak mengganggu maminya Athalla.
"Tante mau makan sesuatu? Mau aku belikan sesuatu?" Kania kembali menawarkan sesuatu yang mungkin diinginkan oleh perempuan paruh baya yang duduk di sebelahnya itu.
Maminya Athalla menggelengkan kepalanya, "Tante tidak mau apa-apa. Tante tidak berselera makan apa pun, Kan. Jadi, kita tidak perlu membeli apa-apa," jawab maminya Athalla membuat Kania sedikit cemas.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, Tante. Perut Tante tidak boleh kosong. Apalagi Tante baru saja keluar dari rumah sakit, Tante harus menjaga pola makan Tante untuk pemulihan." Tanpa sadar, Kania sudah mengomel kepada maminya Athalla, membuat wanita paruh baya itu tersenyum. "Ah, maafkan aku Tante. Aku barusan bawel banget. Pasti Tante itu membuat Tante tidak nyaman." Kania meminta maaf, karena dia baru sadar bahwa tadi dia mengatakan hal yang mungkin bisa membuat maminya Athalla tersinggung atau tidak enak.
Maminya Athalla terkekeh, "Tidak apa-apa, Kania. Tidak perlu merasa sungkan. Tante malah senang, karena Tante merasa memiliki anak perempuan yang begitu perhatian."
Kania merasa lega, setidaknya maminya Athalla tidak marah atau tersinggung karena perkataannya tadi. Kania pun tersenyum cantik ke arah meminta Athalla.
Mobil yang dikendarai Kania masih membelah jalanan. Beradu dengan pengendara lain yang tak ingin kalah cepat.
Sementara Kania, dia masih tetap santai dan mengatur kecepatannya agar tetap stabil.
Di dalam mobil kini suasana menjadi hening.
Kania tidak tahu lagi harus mengatakan apa, begitu pula dengan meminta Athalla yang ragu untuk memulai percakapan. Hingga akhirnya, mereka sama-sama diam sampai mobil milik Kania berhenti di depan pelataran rumah milik keluarga Athalla.
Kania mematikan mesin mobilnya. Dia mengambil tas berisi pakaian ganti tadi dan membantu maminya Athalla turun dari mobil. Gadis itu masih membantu sang nyonya rumah hingga masuk ke dalam area rumah.
"Tante harus istirahat di kamar." Kania berusaha memaksa tetapi maminya Athalla terus-menerus menolak sehingga Kania menyerah dengan sendirinya.
"Ya sudah, biar aku buatkan minum untuk Tante ya?" Kania berlalu, dia ke dapur buat mengambil segelas air putih. Karena kata dokter, maminya Athalla harus memperbanyak minum air putih.
"Ini Tante," Kania memberikan segelas air putih untuk maminya Athalla. Ucapan terima kasih pun didengar oleh Kania. "Bagaimana kalau Tante aku buatkan bubur?" tanya Kania berbaik hati.
"Tante bosan makan bubur terus. Kemarin selama di rumah sakit juga makannya bubur terus-terusan," keluh maminya Athalla.
"Bagaimana kalau kamu buatkan sayur sop dan nasi tim saja untuk Tante?" tanya maminya Athalla kepada Kania dengan tatapan penuh harap.
"Sayur sop sama nasi tim, Tante?" tanya Kania memastikan.
__ADS_1
"Iya, kamu bisa 'kan buatnya?"
Kania menganggukkan kepalanya, "Bisa kok Tante, biar aku buatkan sekarang ya." Kania berlalu, dia meninggalkan meminta Athalla di ruang tamu sendirian dan pindah ke dapur untuk membuatkan sayur sop serta nasi tim sesuai permintaan maminya Athalla.
Di dapur, Kania tidak merasa kesulitan sama sekali. Dia memasak dengan begitu lihai. Sampai tak lama, satu jam kemudian masakan yang dibuat oleh Kania sudah matang semua. Kania membawakan nasi tim serta sayur sop pesanan maminya Athalla ke meja ruang keluarga. Dia akan membantu maminya Athalla buat makan di sana.
"Ini Tante, semoga rasanya enak ya." Kania meletakkan satu piring nasi tim dan satu mangkuk sayur sop yang masih panas di atas meja. Tak lupa, Kania juga kembali mengisi gelas dengan air putih lagi.
Kania duduk di samping maminya Athalla. Dia harap-harap cemas, takut kalau rasanya tidak enak. Namun maminya Athalla sudah berhasil makan dua suap dan belum memberikan komentar apa-apa. Hal itulah yang membuat Kania semakin khawatir. Jantungnya berdegup kencang hanya karena menunggu respons dari maminya Athalla.
"Bagaimana, Tante? Enak rasanya? Kalau nggak enak, jangan dilanjutkan, Tante." Kania sudah sedikit panik, tapi maminya Athalla malah tersenyum ke arahnya.
"Siapa bilang masakan kamu tidak enak? Ini enak kok, Tante suka." Maminya Athalla bahkan mengacungkan kedua jempolnya untuk memuji masakan Kania.
Mendengar hal ini, Kania tentu saja merasa lega. Usahanya tidak sia-sia. Sekarang, Kania merasakan tangannya digenggam oleh maminya Athalla, hal itu membuat Kania sedikit bingung.
"Kenapa, Tante?" tanya Kania.
"Kamu tidak pulang?" tanya maminya Athalla balik.
"Oh itu? Aku mau menemani Tante di rumah dulu. Takutnya nanti Tante butuh sesuatu," jawab Kania.
"Kania, Tante mau bilang kalau Tante sudah menerima kehadiran kamu sebagai bagian dari Athalla," ucap maminya Athalla membuat Kania sedikit gelisah, takut kalau maminya Athalla akan mengatakan hal yang tidak sanggup dia dengar. "Tante harap, kamu mau menikah dengan Athalla ya?" Meminta Athalla meminta Kania untuk menikah dengan putranya.
Kania mematung, dia antara percaya dan tidak. Tapi Kania yakin kalau barusan dia tidak salah dengar. Maminya Athalla memintanya menikah dengan Athalla.
...****************...
__ADS_1