NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 66. Restu Mami


__ADS_3

Kania bangun dari terbaring di atas sofa dengan wajah memerah. Dia juga tadi terbuai dan hampir memasrahkan dirinya. Kania lupa jika itu bisa saja mengulang kisah lama.


Menarik napas panjang, Kania berdiri dari duduknya dan beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.


"Aku mandi dulu, Mas," ucap Kania sebelum beranjak pergi masuk ke kamar mandi.


Setengah jam berlalu, Kania telah rapi dengan pakaiannya. Athalla memeluk pinggang Kania sambil berjalan menuju rumah sakit. Jarak rumah sakit dan hotel tempat Kania menginap sekitar satu kilometer. Namun, bagi dua orang yang sedamg kasmaran, mungkin itu bukan jarak yang jauh.


"Sayang, kapan sih kamu jeleknya?" tanya Athalla, yang membuat wajah Kania bersemu merah. Athalla selalu bisa membuat dirinya tersipu malu.


"Mas, pertanyaan macam apa itu? Mas itu yang ganteng. Aku saja sampai detik ini masih belum percaya sepenuh hati jika pria seperti kamu mau memilih aku menjadi pasangan. Padahal kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih segalanya dari aku ini."


"Cinta itu hadir dari rasa nyaman. Denganmu aku merasa nyaman, dan bahagia. Kamu memberikan apa yang tidak bisa aku dapatkan dari wanita lain."


"Aku bahagia karena kamu yang mencintai aku hingga sebesar ini."


Athalla menggenggam tangan Kania dan mengecupnya. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, tangannya Kania tidak pernah lepas dari genggaman Athalla.


Mereka berdua langsung menuju kamar tempat Mami di rawat inap. Athalla mengetuk pintu pelan sebelum membukanya setelah mendengar sahutan dari dalam.


Tangan Kania masih terus dalam genggaman Athalla saat masuk ke ruangan. Kania berusaha melepaskan tangannya saat Mami menyambut kedatangan mereka dengan senyuman. Namun, kuatnya pegangan tangan Athalla membuat Kania kesulitan melepaskannya.

__ADS_1


"Sini duduk dekat Tante," ucap Mami. Kania berjalan mendekati ranjang Mami dan duduk disampinganya.


Mami membentangkan tangannya ingin memeluk Kania, sehingga wanita itu berdiri dan mendekati Mami. Mereka berpelukan dengan erat.


Air mata Mami tidak bisa di tahan lagi. Banjir membasahi pipinya. Mami terisak menahan tangisnya. Athalla memandangi dari tempatnya berdiri dengan rasa haru. Berharap jika ini awal yang baik bagi hubungannya dengan Kania.


Setelah puas memeluk Kania, Mami melepaskannya. Kania menghapus air mata Mami. Air mata Kania juga di hapus Mami.


"Maafkan Papi-nya Athalla. Dia benar-benar tidak sengaja melakukan itu. Kami tidak tahu jika ada anak dari korban. Saat kami melakukan perdamaian, adik ibumu tidak ada menyinggung tentang kamu," ucap Mami.


"Adik ibuku. Maksudnya Tante Meri?" tanya Kania. Tampak Mami Athalla mencoba mengingat sesuatu. Akhirnya Mami menganggukkan kepala.


Kania kaget melihat reaksi dari Mami Athalla. Apakah berarti selama ini, Tante Meri tahu siapa pelaku dari kecelakaan yang dialami kedua orang tuanya. Namun, kenapa tante Meri tidak pernah mengatakan apapun itu.


"Tentu saja Kania. Kami berdamai di kantor polisi. Tante Meri tidak ada mengatakan jika korban memiliki anak. Dia hanya mengaku saudara dari ibumu. Kami mengadakan perdamaian. Maaf Kania, Papi Athalla memberikan uang yang cukup sebagai rasa bersalah. Dan juga untuk biaya pemakaman serta buat tahlilan."


Kania kaget mendengar semua itu. Dia ingat Tante Meri menjual semua perhiasan yang dimiliki ibu-nya Kania sebagai biaya buat pemakaman. Tante Meri tidak pernah menyinggung mengenai uang yang diberikan Papi Athalla.


Kania hanya diam, tidak mungkin dia mengatakan semua itu. Bukankah Tante Meri juga keluarganya. Menjelekkan tante Meri sama saja membuka aib keluarga.


Namun, ekspresi wajah Kania yang kaget dapat di baca Mami Athalla. Dia tahu pasti jika Kania tidak tahu apa-apa mengenai semua itu.

__ADS_1


"Apakah Tante kamu tidak pernah mengatakan tentang uang yang diberikan Papi Athalla?" tanya Mami Kusuma.


Kania hanya memberikan senyumannya dan tidak menjawab pertanyaan Mami Athalla.


"Tante tidak tahu jika seperti ini kejadiannya. Jika saja Tante tahu ada anak dari korban, mungkin telah kami adopsi."


Athalla tampak kaget mendengar jawaban dari wanita yang telah melahirkan dirinya itu.


"Mungkin Tante Meri tidak mengatakan tentang uang pemberian dari Papi Athalla agar uangnya bisa di simpan. Bukankah selama ini dia juga menjagaku hingga dewasa. Uang itulah mungkin yang digunakan untuk biaya hidupku, Tante," ucap Kania.


Athalla mendekati kedua wanita yang paling berarti dalam hidupnya itu. Melihat keduanya bisa mengobrol akrab begitu, Athalla orang yang paling berbahagia.


"Mami, aku bersyukur Mami tidak jadi mengadopsi Kania. Jika itu terjadi aku tidak akan bisa menikahinya, karena telah menjadi adikku."


Mami tersenyum mendengar perkataan anaknya itu. Bisa saja Athalla berpikir hingga ke sana. Tapi mungkin pertemuan Athalla dan Kania adalah cara Tuhan untuk mewujudkan keinginan Mami yang jika tahu korban memiliki anak, akan mengadopsinya. Sekaranglah saatnya dia akan mewujudkan itu dengan menikahkan Athalla . Dengan begitu Kania juga akan menjadi anaknya.


"Mami memang akan tetap menjadikan Kania anak Mami," ucap Mami. Athalla melotot karena kaget atas ucapan Mami.


"Apa maksud Mami?" tanya Athalla.


"Mami akan menjadikan Kania anak dengan cara menikahkan kamu dengannya," ucap Mami.

__ADS_1


Kania dan Athalla tidak percaya dengan apa yang Mami ucapkan. Sebelum dia meminta, Mami telah mengutarakan keinginannya. Athalla tersenyum semringah menanggapi ucapan Mami.


...****************...


__ADS_2