NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 51. Melepaskanmu, Ternyata Tidak Mudah.


__ADS_3

Ditinggal oleh seseorang yang disayang memang membuat hidup terasa berantakan dan terasa seperti tidak ada gunanya. Tentu saja bersedih itu boleh dilakukan, namun tidak boleh berlarut-larut. Kalian harus kembali menjalani hidup dengan baik lagi, dan tunjukkan bahwa kalian sudah bisa bangkit dan mengikhlaskan semuanya. Tentu hal ini bukan hanya baik untuk kalian, namun juga bisa memberikan kalian kebahagiaan baru


Saat paling sepi dalam hidup seseorang adalah ketika mereka melihat seluruh dunia mereka runtuh, dan yang bisa mereka lakukan hanyalah menatap kosong.


***


Langit tampak gelap. Mendung berkabut awan. Bintang satupun tidak ada menampakan diri apa lagi sang rembulan. Semua tampak gelap seperti hati Kania saat ini. Walau langit mendung tidak ada niat Kania untuk meninggalkan taman hingga langit benar-benar menumpahkan airnya.


Tiba-tiba langit menangis. Air hujan jatuh membasahi tubuh Kania yang masih betah duduk di bangku taman. Seolah tidak terpengaruh dengan situasi saat ini.


Bukannya beranjak dari duduknya, Kania bahkan seolah menikmati hujan yang turun membasahi tubuhnya. Tangisan Kania kembali pecah.


"Air hujan, basahi tubuhku ini. Basuh luka hatiku. Aku ingin menangis dibawah derasnya air hujan, agar tidak ada yang tau bahwa aku lagi bersedih. Kutitipkan salam pada hujan. Tentang cintaku yang tak berujung temu. Hingga waktu tak kuasa untuk menunggu. Lewat hujan aku titipkan hati ini dengan harapan kamu juga bisa merasakannya.''


Kania merasa tubuhnya mulai kedinginan. Namun, tidak juga ada keinginan dari dirinya untuk meninggalkan tempat itu.


"Kepada langit mendung, aku meminta agar hujan segera memandikan jiwa-jiwa yang dirundung resah, menghanyutkan sampah-sampah di hati yang gundah. Saat cinta tak memberi arti lagi, hanya memberikan luka yang menyayat hati, seolah seperti malam hari, di mana hujan badai tak kunjung berhenti, namun semua ini harus kuhadapi karena perjalanan hidup itu tidak akan pernah berhenti."


Lani mengusap air hujan dan air mata yang membasahi pipinya. Anggara yang mencari keberadaan Kania akhirnya melihat keberadaannya. Anggara kaget melihat Kania yang tetap duduk di bawah guyuran air hujan.


"Kulewati perjalanan ini, di mana aku hanya sendiri di malam hari, menghadang hujan yang tak juga kunjung berhenti, menangis pun tidak ada yang peduli. Namun, aku harus tetap fokus dengan apa yang seharusnya aku cari. Hujan punya alasan kenapa ia jatuh, tapi aku tak mempunyai alasan mengapa hatiku jatuh kepadamu. Aku sudah bosan mulai bosan menjadi penikmat hujanmu. Bisakah kali ini kau tuntun aku menuju altar pelangi pelangi bahagiamu?"

__ADS_1


Saat Anggara sampai di hadapan Kania bertepatan dengan wanita itu yang jatuh pingsan karena kedinginan. Kania sebenarnya tidak kuat dengan udara dingin.


Anggara langsung menggendong Kania, membawanya masuk ke mobil dan melarikan ke rumah sakit. Anggara mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Sampai di rumah sakit, Anggara menggendong Kania masuk ke dalam ruang IGD. Kania sedang ditangani dokter saat ini.


***


Kania terbangun tengah malam dan melihat ke seluruh ruangan.Baru disadari saat ini dia sedang berada di rumah sakit. Kania merasa seluruh tubuhnya sakit dan terasa panas. Pasti ini karena dirinya yang kehujanan tadi, pikir Kania.


"Ya Tuhan, seberapa banyak lagi luka yang harus kudapatkan, berapa banyak lagi rintangan yang harus kulewati, berapa banyak air mata lagi yang harus kukeluarkan hingga aku dapat tersenyum lagi? Kapankah semua kesedihan ini akan berlalu? Kadang ku teringat kelamnya masa laluku. Mengingatkan kembali semua memori yang kuharap tak ku ceritakan. Terkadang aku berpikir untuk pasrah. Mungkin, aku memang ditakdirkan untuk tidak memiliki hidup yang bahagia. Rasa sakit mungkin adalah hal yang akan selalu kukenal," gumam Kania dalam hati.


Tangisannya kembali pecah. Seberapapun dia mencoba kuat, tapi tetap saja rasa sakit itu dirasakan. Mengikhlaskan orang yang kita cintai itu tidak segampang saat mengucapkan.


Anggara terbangun saat mendengar suara tangisan. Dari kejadian yang dia lihat, Angga yakin jika ada hubungan antara Kania dan Athalla.


Anggara mendekati ranjang Kania dan melihat wanita itu sedang terisak. Anggara duduk di samping ranjang Kania.


"Aku nggak tahu sejauh mana hubunganmu dengan Athalla. Namun, aku dan semua orang yang memperhatikan kejadian malam tadi pasti bisa menyimpulkan jika kamu dan Athalla ada sesuatu." Anggara menghentikan ucapannya.


Kania menatap sendu ke arah Anggara. Dia butuh tempat untuk berbagi kesedihan. Anggara memgerti dengan apa yang saat ini Kania pikirkan.

__ADS_1


"Menangislah sepuasmu jika itu dapat mengurangi rasa sakitmu. Jika kau butuh teman untuk berbagi cerita aku siap mendengarnya," ucap Anggara.


"Pak Angga, apakah aku tidak berhak bahagia?" tanya Kania dengan suara pelan.


"Tentu saja ya. Saya rasa ini adalah hak semua manusia dari segala sudut pandang. Entah baik ataupun buruk. Dan saya pikir kalimat, "saya tidak berhak bahagia" yang kerapkali diucapkan tak ubah layaknya kalimat untuk mengutarakan kekecewaan atas kemalangan yang sudah atau sedang didapatkan. Cobalah egois sedikit. Utamakan kebahagiaan diri kita. Jangan hanya memikirkan kesenangan orang saja."


"Dari kecil aku telah merasakan kepahitan hidup. Hingga detik ini, belum sepenuhnya aku merasakan kebahagiaan. Terkadang aku berpikir, apakah karena dosaku terlalu besar sehingga Tuhan belum memberikan kebahagiaan padaku."


"Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi dari kemampuan. Lagi pula Tuhan tidak akan menghukum manusia yang telah bertaubat dari dosanya."


Anggara tiba-tiba menggenggam tangan Kania, awalnya wanita itu ingin menariknya, namun takut itu akan membuat Anggara tersinggung.


"Dengar Kania, aku pernah membaca quote ini. Dan aku rasa ini cocok untukmu. Sangat normal jika kita penuh dosa dan penuh dengan kekurangan. Yang menjadi masalah adalah saat kita berhenti menyesali dosa-dosa yang kita lakukan dan tidak bertobat kepada Allah." Anggara menjeda ucapannya dan memandangi Kania dengan lekat. Dia menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.


"'Perbuatan dosa yang membuatmu sedih dan menyesal lebih disukai oleh Allah daripada amalan baik yang membuatmu menyombongkan diri.Dosa-dosamu boleh jadi sebesar kapal, tapi jangan pernah lupa bahwa rahmat Allah lebih besar daripada lautan. Setan tidak menang ketika kamu berbuat dosa, tapi setan meraih kemenangan ketika kamu berpikir bahwa Allah tidak akan mengampunimu. Itu nasehat yang sering aku dengar dari seorang ustad," ucap Anggara.


***


Di tempat lain, tampak Athalla dan Syafa sedang bicara serius berdua. Entah apa yang mereka berdua bahas.


...****************...

__ADS_1


Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.



__ADS_2