
Telah tiga bulan Papi meninggalkan dunia ini. Sejak Papi meninggal Athalla lebih sering tinggal dan menginap di kediaman Maminya.
Mami masih berduka atas kepergian suami tercintanya.Masih sering termenung dan teringat tentang suaminya itu. Satu bulan lalu Mami meminta Athalla untuk menikah dengan wanita pilihannya. Mami masih saja tidak bisa menerima kehadiran Kania.
Athalla terpaksa menerima permintaan Mami, karena ibunya itu memohon sambil menangis. Athalla tidak mau karena penolakannya Mami akan menyusul Papi.
Sejak saat itu, Athalla menghentikan pencarian tentang Kania. Padahal pria itu telah mengetahui jika saat ini Kania berada di kota Batam. Athalla mengubur rasa cintanya pada Kania demi Mami.
Athalla dan wanita itu akan bertunangan satu minggu lagi. Hari ini wanita yang dijodohkan dengan Athalla yang bernama Syafa, sedang berada di rumah kediaman orang tuanya.
Syafa dan Mami sedang memasak di dapur buat makan malam mereka. Mami tampak sangat bahagia. Sejak kepergian Papi baru kali ini Athalla melihat senyum Mami-nya lagi.
"Mami, coba udang saos Padang ini. Menurut Mami, sudah pas bumbunya apa belum." Syafa memberikan sendok untuk Mami mencoba.
"Hhhmmm, enak banget. Tidak salah Mami memilih kamu menjadi calon menantu. Kalau kalian telah menikah, Mami yakin Athalla akan gendut karena makan terus," ucap Mami.
"Itu jika Kak Athalla suka. Selera'kan berbeda Mi. Belum tentu yang Mami katakan enak, Kak Athalla juga berkata enak," ucap Syafa.
"Pasti Athalla suka. Enak begini. Kalau ada yang suka, aneh deh."
Mami dan Syafa kembali memasak. Athalla yang melihat dari tempatnya duduk hanya menghela napas. Dari orang suruhannya Athalla tahu jika saat ini Kania berada di kota Singapura.
Jika mengikuti kata hatinya, ingin rasanya Athalla menyusul wanita yang dia cintai itu. Namun, Athalla takut Mami akan mendapat serangan jantung seperti Papi.
Masih ingat satu bulan lalu Mami memohon padanya untuk melupakan Kania dan menerima gadis pilihannya.
"Kalau kamu masih ingin melihat Mami sehat, tolong dengarkan Mami kali ini. Terima calon yang Mami pilihkan untuk menjadi pendamping hidupmu. Setiap orang tua hanya menginginkan yang terbaik buat putranya. Begitu juga Mami. Beda jika Mami telah meninggal, kamu bisa sesuka hati memilih calon pendampingmu."
__ADS_1
Athalla tidak dapat menjawab ucapan Mami. Dia tidak ingin kehilangan Mami setelah Papi meninggalkan mereka. Hanya Mami yang dia miliki.
"Kamu mau'kan, Nak. Mami akan mengenalkan kamu dengan gadis itu besok," ucap Mami lagi. Kali ini Athalla menjawab dengan menganggukan kepalanya.
Keesokan malamnya, gadis itu datang dengan keluarganya untuk makan malam. Athalla dan Syafa akhirnya sama-sama menerima perjodohan itu.
Satu bulan telah Athalla dan Syafa menjalin hubungan. Tapi hati Athalla masih saja terikat dengan Kania. Dia sendiri tidak mengerti, kenapa begitu mencintai wanita itu. Padahal mereka hanya dua bulan bersama.
Setelah semua hidangan tersedia, Mami meminta Athalla bergabung buat makan malam. Athalla makan dengan pikiran melayang.
Selangkah lagi dia akan bertemu Kania ketika orang suruhannya mengatakan jika telah mendapat kabar jika Kania berada di kota Batam. Namun, niatnya ingin bertemu Kania harus dipendam karena keinginan Mami yang mau menjodohkan dirinya.
"Gimana Athalla, menurut kamu masakan Syafa ini?" tanya Mami.
"Enak, Mi," jawab Athalla.
"Mami bisa aja. Kak Atha ngomong enak pasti karena nggak enak hati aja," ucap Syafa.
Athalla hanya tersenyum menanggapi semua obrolan antara Mami dan Syafa. Setelah makan malam mereka berbincang sebentar.
"Acara pertunangan kamu dan Syafa diadakan di mana jadinya, Nak?" tanya Mami.
"Di hotel aja. Biar nggak repot, Mi," jawab Athalla. Dia tidak banyak mengundang tamu, hanya sekitar 200 orang saja.
"Mami setuju saja dengan apa pun keputusan kamu. Syafa, kamu setuju jika pertunangan kalian diadakan di hotel?" tanya Mami.
"Aku setuju saja, Mi. Seperti yang Mami katakan, apa pun keputusan Kak Athalla, aku ikut saja."
__ADS_1
"Athalla beruntung mendapatkan kamu. Calon istri yang penurut," ucap Mami.
Bertiga mereka mengobrol tentang acara pertunangan yang akan berlangsung seminggu lagi. Mami meminta Athalla mengantar Syafa.
Dalam perjalanan menuju ke rumah Syafa, mereka berdua lebih banyak diam. Satu bulan bersama belum juga membuat Athalla bisa lebih akrab dengan wanita itu.
"Kak, aku ingin bertanya sesuatu. Aku harap Kakak menjawab dengan jujur," ucap Syafa.
Athalla menurunkan laju mobilnya. Melirik ke samping. Tersenyum tanda setuju. Athalla dan Syafa tidak banyak bicara.
"Apakah Kak Athalla menerima pertunangan ini dengan terpaksa?" tanya Syafa.
Sejak mereka berkenalan, pria itu sangat irit bicara. Tampak sekali jika dia tidak sepenuhnya menerima perjodohan mereka. Telah beberapa kali mereka jalan bareng, diantara keduanya hanya lebih banyak diam.
"Apa aku harus menjawab itu? Aku rasa tidak perlu Syafa. Yang terpenting kamu tahu, aku menerima pernikahan ini."
"Tapi Kakak meneima dengan terpaksa!"
"Terpaksa atau tidak, itu biarlah jadi rahasia dihatiku. Yang perlu kamu ketahui cuma satu, apapun yang akan aku lakukan aku akan melakukan dengan tanggung jawab. Jika suatu hari kita menikah, yakinkan aku akan bertanggung jawab dengan keputusan yang aku ambil."
Athalla tidak mungkin jujur jika semua itu dilakukan dengan terpaksa, karena pasti akan menyakiti bagi Syafa jika dia jujur akan semua itu.
...****************...
Bonus Visual Athalla dan Syafa
__ADS_1