
Saatnya jedah dan makan siang bagi seluruh karyawan. Tersedia berbagai menu makanan. Kania tidak ingin antri di saat teman-temannya ada rebutan dan saling bercanda. Kania ingin menjaga hatinya agar tetap waras. Jika dirinya ikutan di barisan temannya pasti Ratih dan yang lain menyindir lagi.
Kania tidak peduli jika temannya mengatakan dia sombong. Yang dia butuhkan adalah menjaga perasaan sendiri. Walau semua itu memang salahnya, tapi dia juga punya hati yang bisa sakit jika terus menerus disalahkan.
Setiap manusia pasti pernah berbuat dosa. Baik dosa yang dilakukan secara sengaja ataupun tidak disengaja. Sebagai makhluk Allah yang dibekali dengan akal dan pikiran, dosa tersebut harus segera diobati dengan bertaubat.
Ingatlah Setan tidak menang ketika kamu berbuat dosa, tapi setan meraih kemenangan ketika kamu berpikir bahwa Allah tidak akan mengampunimu. Dosa-dosamu boleh jadi sebesar kapal, tapi jangan pernah lupa bahwa rahmat Allah lebih besar daripada lautan. Kania percaya itu. Dia ingin merubah hidupnya. Memang tidak mudah mungkin merubah pikiran orang tentang dirinya.
Kania ingat beberapa pesan dari para ulama,
Tangisan taubat seorang pendosa lebih Allah cintai daripada tasbihnya seorang yang sombong." -Ibnu Qayyim
Perbuatan dosa yang membuatmu sedih dan menyesal lebih disukai oleh Allah daripada amalan baik yang membuatmu menyombongkan diri." – Ali bin Abi Thalib
Jika suatu malam kamu melihat seseorang berbuat dosa, keesokan harinya jangan memandangnya sebagai orang yang berdosa, mungkin saja pada malam harinya dia telah bertaubat sementara kamu tidak mengetahuinya." – Ali bin Abi Thalib
Setelah antrian mulai sunyi, Kania berdiri. Dia memilih makanan yang cepat dalam menyantapnya karena sebentar lagi seluruh karyawan akan kembali bekerja.
Saat Kania sedang mengambil sate ayam ,wanita itu dikagetkan dengan suara seseorang yang dikenal.
"Ternyata kamu kerja di sini.Kalau tahu gitu kita pergi bareng aja," ucapnya. Kania memutar tubuhnya menghadap ke asal suara. Wanita itu tersenyum menyadari Athalla yang mendekatinya.
"Mas Athalla ... Eh Pak Athalla. Bapak mau sate juga?" tanya Kania gugup.
Kegugupan Kania bukan tanpa alasan, wanita itu menyadari banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka berdua. Kania tidak ingin menambah daftar gosip untuk dirinya.
"Boleh, kalau kamu menemani aku makan!"
__ADS_1
"Pak Athalla bisa aja. Apa kata karyawan yang lain jika saya menemani Bapak makan?" tanya Kania masih dengan gugupnya.
"Apa urusan mereka? Aku yang memintamu. Anggap saja ini perintah dari atasanmu!" ucap Athalla.
Bola mata Kania langsung membesar karena kaget mendengar ucapan Athalla yang memintanya menemani makan dengan dalih perintah atasan. Bagaimana mungkin Kania menolak jika itu perintah atasan.
"Tapi ...." Belum sempat Kania mengatakan apa-apa lagi, tangannya di tarik menuju meja terdepan dimana Athalla tadi duduk.
Wajah Kania memerah menahan malu. Berusaha melepaskan tangan Athalla dan berjalan sambil menunduk.
Di meja belakang, Ratih, Dinda dan Talita tampak kaget dengan apa yang mereka lihat. Begitu juga karyawan yang lain. Semua memandang iri dengan Kania.
"Apa mungkin pria yang ada di video itu Pak Athalla?" tanya Ratih dengan suara pelan takut ada yang mendengar.
"Aku juga sempat berpikir begitu. Namun, setelah aku perhatikan, postur tubuh mereka berbeda," ucap Dinda.
Mereka bertiga saling pandang, mengharapkan ada yang bisa memberikan penjelasan. Namun, dalam hatinya ke tiga rekan kerja Kania itu terselip rasa iri.
"Enak jadi orang cantik. Dengan modal tubuh, semua pria takluk," ucap Ratih lagi. Sepertinya wanita itu yang paling tidak terima dengan keadaan saat ini.
Tepat pukul dua siang, seluruh karyawan kembali ke ruangan masing-masing. Begitu juga Kania. Setelah menemani Athalla makan sate, Kania langsung pamit.
Wanita itu sadar,pastilah saat ini dirinya menjadi bahan omongan dari seluruh karyawan. Bukannya Kania terlalu percaya diri,tapi itu sudah bisa dipastikan. Seorang karyawan biasa duduk satu meja dengan atasan.
Kania mengambil berkas yang tadi belum sempat dirinya selesaikan. Kania menghadap laptop-nya dengan serius tanpa pedulikan karyawan yang memandangi dirinya dengan tatapan memohon penjelasan.
"Kamu ternyata udah kenal Pak Athalla, Kania. Apa kamu masuk atas rekomendasi dari Pak Athalla?" tanya Rio.
__ADS_1
Kania yakin bukan hanya Rio yang menunggu jawabannya saat ini. Pasti seluruh karyawan di devisi juga ingin mendengar. Kania menarik napas sebelum menjawab.
"Aku juga baru dua hari mengenal Pak Athalla. Nggak tahu jika dia seorang pimpinan dari sebuah perusahaan besar. Dan aku masuk ke sini murni tanpa bntuan siapa pun!" jawab Kania.
Rio dan lainnya masih memandangi Kania. Wanita itu yakin, pasti rekan kerjanya banyak yang tidak percaya. Namun, Kania tidak peduli. Yang pasti dia telah berkata jujur.
"Enak banget jadi perempuan cantik. Dengan menyerahkan tubuh saja pasti semua pria bisa ditaklukan!" ucap Ratih.Tampaknya dia salah seorang yang masih belum bisa menerima kenyataan jika Kania mengenal atasan mereka.
Semua mata tertuju ke arah Ratih termasuk Kania. Dia mengepalkan tangan menahan emosi dan amarah. Tapi Kania sadar ssmakin dia terpancing dan emosi, temannya itu akan semakin senang dan mencari cara mengungkapkan kebenaran tentang videonya. Kania menarik napas dalam untuk menetralkan amarah pada dirinya.
"Sabar, Kania. Ingatlah, mereka punya bukti atas kesalahanmu yang tak mungkin bisa kamu elak lagi," ucap Kania dalam hatinya .
"Siapa yang kamu maksud?" ucap Ayu, rekan kerjanya yang lain.
"Nggak ada! Aku cuma beropini.Bukankah benar apa yang aku katakan itu. Jika kita cantik, semua pria pasti akan mendekati. Walau kadang hanya buat hiburan semata," ujar Ratih lagi.
Kania berpura-pura tidak mengerti jika Ratih menyindir dirinya. Wanita itu melanjutkan pekerjaannya mengacuhkan ucapan Ratih.
Ratih terlihat geram melihat ketenangan Kania. "Suatu saat seluruh karyawan harus tahu siapa kamu. Aku nggak mau ketularan sial atas perbuatan yang kau lakukan!" ucap Ratih di hati.
Hingga jam pulang kerja, karyawan wanita masih banyak yang membicarakan Athalla. Pimpinan mereka Athalla memang pantas jadi bahan obrolan. Pria tampan, muda dan mapan. Siapa yang tidak ingin kenal dan lebih dekat dengannya.
Saat pulang kantor, bukan hanya karyawan yang satu divisi dengannya yang mendekat dan bertanya tentang kedekatan Kania, tapi dari devisi lain juga ikutan bertanya.
Kania hanya menjawab dengan kata yang sama jika dia baru mengenal Athalla dan tidak tahu jika pimpinan mereka pria muda itu. Kania dapat melihat dari tatapan, mereka ada yang percaya dan banyak juga berpikir Kania berbohong.
Saat Kania telah sampai di halaman parkir gedung kantor tempatnya bekerja, kembali wanita itu mendapat kejutan. Athalla telah berdiri di depan mobilnya dengan tersenyum ke arah Kania.
__ADS_1
...****************...