
Tiba di rumah sakit, para dokter dan perawat bergegas membawa Mami Athalla ke ruang IGD. Petugas ambulance menyerahkan barang yang mereka temukan di TKP yang mungkin saja milik korban untuk proses identifikasi.
Dokter mulai melakukan tindakan untuk menutup luka yang ada di kepala korban dengan di bantu oleh beberapa perawat. Sementara, perawat yang menerima barang korban mulai melakukan identifikasi dan menghubungi keluarga korban.
“Selamat sore, dengan keluarga Ibu Kusuma Arupama. Kami dari Rumah Sakit Jakarta ingin menyampaikan bahwa Ibu Kusuma Arupama mengalami kecelakaan dan sekarang sedang menjalani perawatan.” Perawat rumah sakit menjelaskan sedetail mungkin tentang korban.
Sedangkan Athalla yang saat ini masih berada di kantor sangat terkejut mendengar kabar bahwa Maminya mengalami kecelakaan. Dia bergegas keluar dari kantor, melajukan mobilnya secepat mungkin agar tiba di rumah sakit dengan cepat.
Sampai di rumah sakit, Athalla mendatangi resepsionis untuk menanyakan keberadaan Ibunya. Resepsionis menjelaskan bahwa Mami Athalla baru saja masuk ke ruang operasi untuk menjalani operasi darurat untuk menutup luka di kepalanya. Athalla terduduk mendengar penjelasan perawat itu. Pasti keadaan Maminya sangat parah sampai harus menjalani tindakan operasi.
Athalla berjalan dengan lesu ke depan ruang operasi. Tampak lampu di pintu ruangan itu masih menyala menandakan operasi di dalam sana masih berlangsung.
Ada sedikit penyesalan dalam hati Athalla saat melihat keadaan Maminya sekarang. Penyesalan saat dia meninggikan suaranya di hadapan wanita yang sudah melahirkannya itu. Jika bisa diulang, Athalla tidak akan meninggikan suaranya dan hanya sedikit memberikan pengertian kepada Maminya.
Namun, itu semua telah terjadi dan mustahil untuk di ulang. Bahkan, wanita yang melahirkannya itu kini terbaring tak berdaya di dalam sana berusaha mempertahankan hidupnya dengan tulang yang rapuh.
Setitik air mata turun dari mata Athalla membayangkan jika sampai terjadi hal yang mengerikan kepada Maminya. Dia tidak akan berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Athalla bersalah atas semuanya dan itulah yang sebenarnya. Tak henti-hentinya Athalla menyalahkan dirinya.
Perawat tampak terus keluar masuk dari ruang operasi membawa sesuatu yang tidak Athalla ketahui. Ingin sekali Athalla bertanya bagaimana keadaan Maminya, Athalla terus menahan diri agar tidak mengganggu tugas mereka. Agar mereka dapat berusaha sebaik mungkin menyelamatkan Maminya.
Berulang kali Athalla panjatkan doa agar Maminya dapat di selamatkan. Sebab, tidak ada hal lain yang bisa Athalla lakukan selain memohon kepada Pencipta untuk mengasihani makhluknya.
__ADS_1
Waktu terasa sangat lama dan menakutkan. Setiap detiknya bagaikan maut untuk Athalla. Athalla memohon kepada Tuhan agar memberikannya waktu sekali lagi untuk meminta maaf kepada Maminya.
Athalla tampak seperti seseorang yang tidak memiliki kehidupan lagi. Hatinya terus berdoa, tapi tubuhnya tergolek lesu. Tak kuasa menahan beban tubuhnya sendiri.
Dia hanya bisa duduk dan menunggu apakah Mami tetap akan bersamanya atau pergi meninggalkannya. Entah bagaimana skenario yang telah ditetapkan Tuhan kali ini.
Wajah Athalla terus saja tertunduk dengan menajamkan indra pendengarannya. Berharap pintu itu akan bergerak dan dokter dari dalam sana akan keluar dan mengatakan bahwa Mami baik-baik saja. Menyingkirkan semua mimpi buruk yang ada di kepala Athalla. Namun, pintu itu tidak kunjung bergerak seperti yang Athalla inginkan.
Bahkan detak jam dinding bisa terdengar dengan sangat jelas karena ketegangan yang diciptakan Athalla untuk dirinya sendiri. Sangat hening di sana. Jauh dari keributan yang biasanya dibuat dalam ruang UGD.
Athalla merasakan pergerakan dari pintu ruang operasi tersebut. Dia bergegas berdiri, menuntut penjelasan dari dokter.
“Ibu Kusuma Arupama mengalami benturan yang sangat keras di kepala bagian belakangnya sehingga menimbulnya pendarahan yang sangat parah. Kami telah menutup luka pada kepalanya. Namun, Ibu Karina kehilangan banyak darah sebelum dibawa ke sini dan juga selama proses operasi.” Dokter itu menjeda sejenak perkataannya. Namun, Athalla sudah mengetahui bagaimana kelanjutannya.
“Stok darah AB sesuai dengan darah Ibu Karina di PMI sudah habis. Ibu Karina memerlukan darah sebelum dua puluh empat jam.” Dokter melanjutkan penjelasannya persis seperti apa yang ada dalam pikiran Athalla.
Bagaikan ada sebuah palu besar yang memukul kepalanya keras. Sangat sulit mencari golongan darah yang sama seperti Mami apalagi dalam waktu sesingkat itu. Jika saja golongan darahnya dan Mami sama, Athalla pasti akan langsung mendonorkan darahnya.
“Berapa banyak, Dok?” tanya Athalla mempertimbangkan harus mencari berapa banyak untuk Mami. Bagaimanapun, Athalla harus mendapatkan darah itu.
“Rumah sakit memiliki stok satu kantong darah sedangkan Ibu Kusuma membutuhkan dua kantong darah,” jelas Dokter itu. Athalla mengangguk mengerti lalu menghubungi semua orang yang dia kenal untuk mencari bantuan.
__ADS_1
Dia menyebarkan dalam akun media sosialnya bahwa dia membutuhkan darah AB untuk Maminya. Tidak hanya itu, dia juga mendatangi teman-temannya hanya untuk menanyakan golongan darah mereka.
Athalla sudah seperti orang yang kehilangan akal mencari pendonor. Darah AB bukan darah yang banyak dimiliki orang. Sangat sulit mencari walaupun hanya sekantong darah.
Mencari ke sana ke mari, tetapi seperti tidak ada harapan untuk itu. Dia tidak menemukan seorang pun yang memiliki golongan darah yang sama dengan Mami. Bahkan tidak ada yang menghubunginya dari sosial media.
Namun, itu tidak membuat Athalla putus asa. Dia terus mencari bahkan saat harapan itu sama sekali tidak terlihat. Jika tidak ada keajaiban, maka dia yang akan menciptakan keajaiban itu. Bahkan saat tidak ada harapan, Athalla tetap akan melakukannya.
Athalla segera kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui dokter. Sepertinya dia memiliki solusi lain untuk masalah ini.
“Dokter, golongan darah saya O. Aku tahu O bisa di donorkan ke semua golongan darah,” ucap Athalla berharap dokter setuju dengan sarannya ini.
“Tidak, Pak. Ini tidak semudah yang Pak Athalla usulkan. Ilegal melakukan transfusi darah O ke pasien dengan golongan darah selain O. Kecuali jika dalam keadaan bencana atau perang, kami diperbolehkan melakukannya. Bahkan itu pun harus atas keputusan pemerintah. Kami tidak memiliki kuasa untuk hal itu.” Dokter menjelaskan situasinya dengan hati-hati kepada Athalla berharap pria dihadapannya ini bisa mengerti keadaannya.
“Lalu kita harus bagaimana dokter! Diam saja tanpa melakukan apa-apa hanya akan membuat nyawa Mami dalam bahaya!” Nada suara Athalla meninggi. Dokter tidak bisa menjawab hal itu. Melanggar hukum bukan hanya membuat izin praktiknya dicabut. Namun, akan membuatnya berada dalam penjara.
Nada dering dari ponsel Athalla kemudian mengalihkan mereka. Athalla segera mengangkat panggilan itu dengan harapan bahwa itu adalah salah satu orang yang akan bermurah hati mendonorkan darahnya.
“Dokter, saya mendapatkan pendonor!” ucap Athalla setelah mematikan panggilannya.
...****************...
__ADS_1