NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 61. Bertemu Kania


__ADS_3

Hampir dua puluh empat jam Athalla berjaga di sebelah brankar Maminya. Ke dua matanya masih setia tertutup, tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka. Mungkin efek terlalu lelah, Athalla terlelap di sebelah Maminya. Hingga sebuah gerakan kecil membangunkannya.


Kesadaran Mami Athalla sedikit demi sedikit mulai kembali. Menyadari hal itu, Athalla langsung menekan tombol yang ada di sebelah brankar untuk memanggil dokter.


Dokter lantas datang ke kamar itu dengan langkah tergesa-gesa. Dia melakukan tes keseluruhan kepada Mami Athalla untuk memastikan tidak ada efek samping akibat operasi tadi. Beruntung, Mami Athalla baik-baik saja dan keadaan sedikit demi sedikit mulai membaik. Athalla sangat bersyukur karena Maminya baik-baik saja.


“Mi, aku minta maaf karena udah bentak Mami waktu itu,” ucap Athalla memelas. Berharap agar Maminya mau memaafkan kesalahannya waktu itu.


Mami Athalla mengangguk ringan dan tersenyum kepada anaknya. Wanita paruh baya itu mengelus lembut rambut Athalla.


“Tidak apa-apa, Nak. Terkadang memang terjadi pertikaian kecil antara orang tua dan anak saat kalian mulai tumbuh lebih besar.” Mami Athalla tidak berhenti menyunjingkan senyum kepada anaknya.


Athalla sangat ingin mengatakan bahwa Kania telah menolong Mami, tetapi tidak dia lakukan karena tidak tahu Maminya itu akan merespons seperti apa. Maminya tidak menyukai Kania, bisa saja Mami akan menolak darah itu dan semua akan menjadi lebih rumit. Karena itu, Athalla memilih untuk merahasiakannya saat ini. Setidaknya sampai kondisi Mami menjadi lebih baik.


Malam hari telah tiba, waktunya bagi Mami untuk makan dan meminum obat. Athalla menyuapkan semangkuk bubur yang telah disediakan rumah sakit untuk Mami. Dengan telaten Athalla merawat Maminya. Tak ingin jika wanita itu kekurangan sedikit pun.


“Athalla, kapan kamu akan melupakan Kania dan memulai hidup baru?” tanya Mami Athalla saat dia sedang makan.


Ada sedikit rasa kecewa saat Mami menanyakan hal itu. Athalla tidak bisa melupakan Kania bagaimanapun itu. Wanita itu seperti sudah menjadi separuh dari dirinya. Hingga pada saat seperti ini, saat mereka harus terpisah membuat Athalla tersiksa. Pria itu tidak tahu bagaimana perasaan Kania, tetapi dirinya benar-benar seperti akan kehilangan akal.


“Apa yang kamu sukai dari wanita itu? Di luar sana banyak yang lebih baik dari dia.” Mami Athalla bersua lagi karena melihat anaknya sama sekali tidak merespon. Wanita paruh baya itu tidak menyadari bahwa Athalla sangat enggan untuk membahas hal ini.


“Dia wanita yang baik, Mi,” ucap Athalla membela Kania.

__ADS_1


“Sebaik apa sampai membuatmu tidak bisa lepas kayak gini?” Tidak yakin dengan ucapan anaknya, Mami Athalla menambahkan lagi. Athalla menarik napas dalam berusaha untuk tidak meninggikan suaranya pada Mami.


“Sebaik dia cari tiket saat itu juga terbang dari Singapura ke Jakarta cuma untuk donorin darah ke Mami yang lagi sekarat karena kekurangan darah,” jelas Athalla sedetail mungkin.


Tampak raut wajah Mami Athalla berubah setelah mendengarkan fakta itu. Tidak menyangka bahwa wanita yang dia benci selama ini melakukan hal yang begitu besar untuk hidupnya. Dan sekarang di dalam tubuhnya mengalir darah wanita itu. Mami Athalla menjadi malu sendiri setelah mengetahuinya.


Sekarang, Mami Athalla tahu sebaik apa Kania itu. Dia bahkan rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk menyelamatkan nyawa orang yang selalu menyakitinya.


Bukankah itu terlalu terdengar seperti malaikat. Mami Athalla menjadi ingin menemui wanita itu dan meminta maaf atas kesalahannya. Jika saja, dia masih diberikan kesempatan untuk melakukannya.


“Di mana Kania sekarang?” tanya Mami Athalla tidak lagi dengan nada merendahkan seperti biasanya. Athalla tertegun saat Maminya menanyakan hal itu. Kembali teringat saat Athalla harus kembali terpisah dengan orang yang sangat dia cintai setelah perpisahan yang begitu lama.


“Kania sudah balik ke Singapura,” ucap Athalla singkat. Penyesalan mulai menghantui Mami Athalla setelah mendengar putranya mengatakan hal itu. Kania bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengucapkan terima kasih.


Namun, apa boleh buat, saat menambahkan air terlalu banyak dalam beras, itu akan menjadi bubur dan tidak ada yang bisa mengubahnya.


***


Kania kini sudah berada di dalam pesawat menuju Singapura. Sepanjang penerbangan, wanita itu hanya duduk memandang ke luar jendela.


Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Bertemu kembali dengan Athalla ternyata tidak semudah yang dia pikirkan. Kania terus saja terbayang dengan kekasihnya itu.


Kania tahu pasti saat ini Athalla pasti tidak sedang baik-baik saja. Pria itu membutuhkan dukungannya. Namun, Kania tidak bisa menemani karena dia juga harus menyelesaikan semua tugasnya.

__ADS_1


Sebegitu sulitnya hanya untuk melenyapkan perasaan terhadap pria itu. Berpisah dengan pria yang Kania cintai membuatnya tersiksa setiap waktunya. Dia merindukan pria itu bahkan saat dia tengah terlelap.


Athalla selalu muncul dalam mimpinya, menghancurkan semua pertahanan yang Kania buat. Satu hal yang menjadi alasannya tetap hidup, pria itu masih berada di dunia.


Walaupun bukan di dunianya. Mereka sama-sama berada dalam balutan langit yang sama, tetapi dalam sisi yang sangat berbeda.


Saat mereka berpisah kemarin, Kania berusaha mati-matian untuk mengubur dalam-dalam perasaan yang sudah terlanjur membara. Kania merasa ragu bisa menemukan seseorang yang akan menggantikan kedudukan Athalla dalam hidupnya. Kalaupun mungkin dia menemukannya, akankah pria itu sebaik Athalla dalam mencintainya.


Itulah sebabnya Kania langsung menerima cinta Athalla kembali, walau dia tahu untuk bersatu dengan pria itu masih ada rintangan besar. Mami-nya Athalla belum merestui hubungan mereka.


Tanpa sadar, pesawat yang Kania tumpangi sudah mendarat di bandara Internasional Singapura. Kania kembali ke apartemen tempat dia menyimpan semua barangnya, sebelum menyiapkan tempat tinggal barunya di negara ini keesokan harinya.


Kania merasa sangat lelah setelah perjalanan yang memakan sangat banyak waktu dan tenaganya itu. Kania merebahkan tubuhnya di atas kasur berusaha untuk menetralkan pikirannya dari Athalla. Namun, semakin dia mencoba Athalla semakin menguasai pikirannya.


Merasa jengkel dengan dirinya sendiri, Kania memilih untuk membersihkan dirinya lebih dahulu. Sebelum dia benar-benar tertidur. Kania membersihkan setiap bagian dari tubuhnya menggunakan sabun aroma dengan harapan akan membuat dirinya menjadi lebih tenang. Kania menghabiskan lumayan banyak waktu di kamar mandi untuk berendam dan menenangkan pikirannya.


Usai mandi, Kania kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, lalu kemudian menikmati makan malamnya. Kania melakukan perjalanan hampir dua puluh empat jam tanpa menyentuh makanan.


Hanya makanan yang diberikan pihak rumah sakit setelah dia menyelesaikan prosedur donor darah. Wajahnya pasti sudah terlihat pucat saat ini.


Saat makanan yang dia santap selesai, Kania kembali membersihkan giginya, lalu berbaring di atas tempat tidur dengan harapan kantuk akan mendatanginya. Bahkan saat itu, pikirannya kembali berbalik kepada Athalla. Akhirnya, Kania menyerah dan memilih terjebak dalam pikirannya itu hingga dia lelah dan tertidur.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2