
"Kau boleh memilih. Membesarkan bayi itu dan menghilang dari kehidupan kami selamanya. Akan aku kirim kau keluar negeri di mana tidak ada seorangpun yang mengenalimu. Atau kau boleh tetap bersama kami dengan syarat kau gugurkan kandunganmu itu!" ucap Papa.
Kedua pilihan itu terasa sulit bagi Stefani. Air matanya kembali turun membasahi pipi. Tidak menyangka Papa akan membuat pilihan yang begitu sulit.
Jika dia memilih yang pertama, apa Fani bisa hidup sendiri dan membasarkan bayinya. Selama ini dia terbiasa dilayani. Membuat segelas teh hangat saja dia tidak pernah dan tidak bisa.
"Kemas bajumu sekarang juga. Papa akan mengirim kamu ke luar negeri. Jika anakmu telah lahir, bisa kau titipkan ke panti asuhan. Setelah itu kau boleh kembali ke keluarga ini," ucap Papa dengan penuh penekanan.
"Papa meminta aku untuk membuang anakku setelah lahir nanti? Apa Papa tidak memiliki perasaan? Bagaimana pun anak yang ada dalam kandungan aku saat ini adalah cucu Papa! Bagaimana bisa Papa meminta aku untuk membuangnya ke panti asuhan," ucap Fani.
Fani tidak habis pikir, apa yang ada dalam pikiran Papa-nya sehingga meminta dia membuang bayinya setelah di lahirkan. Apa tidak ada rasa kasihan Papa untuk cucunya.
"Namun, jika kamu masih ingin hidup berdua dengan anakmu, jangan pernah kembali dan lupakan Indonesia selamanya. Tinggal dan menetaplah di negara yang Papa katakan tadi!"
__ADS_1
Stefani berdiri mendekati Papa-nya yang berdiri. Dia menatap Papa dengan mata tajam. Tidak ada rasa takut dan rasa hormat lagi dengan orang tuanya. Mama yang dapat membaca sesuatu buruk akan terjadi mendekati keduanya.
"Jadi Papa malu jika semua orang tahu aku hamil di luar nikah. Sehingga tega membuangku beserta calon cucu Papa yang ada dalam kandunganku ini!"
"Semua itu karena kamu kesalahan kamu yang tidak bisa menjaga diri. Kenapa kamu menyalahkan dan menimpa semua pada orang tuamu!"
"Kenapa Papa malu dan tidak mau mengakui anak yang ada di rahimku adalah cucu papa? Darah Papa juga mengalir di tubuhnya!"
"Aku tidak akan pernah mengakui anak dalam kandunganmu itu sebagai cucuku. Bersiaplah! Aku akan menghubungi orang suruhanku yang akan mengantarkan kamu dan mencarikan rumah untukmu di luar sana!"
Setelah mengucapkan itu Papa keluar dari kamar diikuti Adit. Dia tidak tahu harus bicara apa. Mau membantu adiknya tidak mungkin. Adit tahu betul sifat Papa-nya. Jika keinginannya ditentang, pria itu akan marah dan mengancam. Bisa-bisa Papa mengancam tidak akan memberikan uang untuknya.
Saat ini di kamar hanya tinggal Fani dan mama-nya. Fani langsung berlutut di depan Mama. Memohon pada orang tuanya itu.
__ADS_1
"Ma, aku mohon. Jangan kirim aku ke luar negeri. Aku takut. Sendirian di sana dalam keadaan hamil. Aku mohon, Ma. Bujuk Papa. Biarkan aku di Villa atau kirim aku ke desa. Asal jangan ke luar negeri seorang diri. Itu sama saja Papa ingin membunuhku secara perlahan," ucap Fani.
"Iya, Sayang. Mama akan coba bujuk Papa kamu. Sekarang kamu istirahat dulu. Mama mau menemui Papa," ucap Mama.
Mama pun melangkah meninggalkan kamar Fani. Tinggal Fani seorang diri di kamar. Fani duduk di tepi ranjang. Membayangkan akan hidup seorang diri di tempat asing dan dengan orang asing membuat Fani ketakutan.
"Daripada aku tinggal seorang diri dan mati ketakutan lebih baik aku mengakhiri hidupku. Tujuan Papa juga ingin membunuhku secara perlahan karena malu memiliki anak sepertiku," ucap Fani pada diri sendiri.
Fani menarik laci nakas di samping tempat tidurnya. Semenjak dua bulan ini Fani mengkonsumsi obat tidur, kerena stres. Fani mengambilnya dan mengambil air. Dua puluh butir langsung di minum Fani.
"Selamat tinggal semuanya," ucap Fani sebelum menelan semua obat tidur itu.
...****************...
__ADS_1