NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 16. Kamar Kos Kania


__ADS_3

Athalla langsung memeluk Kania begitu wanita itu membuka pintu. Perasaannya lega setelah memastikan jika Kania baik-baik.


Kania merenggangkan pelukan Athalla. Tubuh hangat Athalla saat memeluk Kania sebenarnya membuat dia nyaman. Namun, Kania malu jika ada penghuni kos lain melihat.


Kania memperhatikan Athalla, tampak baju yang dia kenakan masih baju yang kemarin. Kania jadi heran dan bertanya, apakah pria ini belum mandi telah langsung ke rumahnya?


"Mas belum ganti pakaian?" tanya Kania akhirnya. Rasa ingin tahunya begitu besar.


"Aku menunggu kamu di mobil dari malam. Aku mencoba mengetuk pintu, tapi kamu nggak membukanya. Mungkin kamu telah tidur. Dan aku coba menghubungi tapi ponselmu juga mati. Aku tidur aja di mobil!" ucap Athalla dengan polosnya.


"Astaga, Mas. Kenapa nggak pulang aja. Mas bisa datang lagi nanti."


"Aku takut kamu kenapa-napa! Kania, aku tidak pernah berpikir untuk menyakitimu dengan sengaja, apa pun yang aku lakukan kepadamu tidak sengaja. Tolong maafkan aku, aku mencintaimu."

__ADS_1


Kania kaget mendengar ungkapan cinta dari Athalla dia hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Jika kata-kata kasar membuatmu menjauh, aku harap permintaan maaf aku akan membawamu kembali lebih dekat denganku. Aku sangat menyesal telah menyakitimu. Tolong maafkan aku! Aku tahu kamu pasti marah dan sakit hati karena perlakuan orang tuaku."


Kania tersenyum, walau diakui perkataan orang tua Athalla sangat melukai hatinya, namun Kania sadar jika itu bukan kesalahan pria yang ada dihadapannya saat ini. Pria itu telah berusaha membelanya. Yang lebih membuat Kania terharu, dia rela menunggu kata maaf darinya.


"Kamu nggak salah,Mas. Kenapa harus meminta maaf?"


"Jika saja aku tidak membawamu ke rumah pasti kamu tidak akan sedih dan terluka."


"Jangan berkata begitu, Kania. Tidak ada manusia yang tidak luput dari dosa. Aku juga tidak sebaik yang kamu pikirkan. Aku juga memiliki aib. Namun, Tuhan masih menutupinya sehingga aku masih terlihat baik. Aku mohon Kania, jangan menyerah. Kita buktikan jika cinta kita lebih besar dan kita juga berhak bahagia berdua."


Athalla menjeda ucapannya dan menghapus air mata Kania.

__ADS_1


"Restu itu tidak kita dapatkan, hanya karena orang tua belum tahu yang sebenarnya. Kita hanya perlu membuat semuanya menjadi jelas agar mereka bisa memahami apa yang kita rasakan. Mami belum mengenalmu, mungkin saja setelah mengenalmu, dia akan merestui kita," ucap Athalla lagi.


"Kania, kita yakin dan sepakat bersatu, sedangkan orang tua tidak demikian. Masalahnya hanya satu yaitu perbedaan cara berpikir terhadap kondisi ini. Menyerah bukan solusi karena solusi terbaik adalah berusaha merubah cara pandang orang tua agar sama seperti kita dan merestui hubungan ini. Kamu mau'kan berjuang bersama hingga restu itu kita genggam."


Kania menggenggam tangan Athalla. Kania tidak tahu harus berkata apa. Terlalu dini sebenarnya jika dia mengungkapkan cinta namun, ketulusan ungkapan pria dihadapannya saat ini membuat Kania terharu.


Diakui Kania, kata-kata Mami-nya Athalla benar. Pria dihadapannya saat ini bisa memilih wanita mana saja, kenapa pilihan jatuh padanya? Kania tidak tahu harus bahagia atau sedih. Bahagia karena menjadi pilihan, sedih karena pastilah cinta mereka tidak akan semudah yang dipikirkan. Akan banyak rintangan yang harus dihadapi.


"Demi kamu, Mas. Aku rela berjuang keras untuk mendapatkan restu tersebut. Apapun hasil akhirnya setidaknya ada dua kemungkinan positif. Aku bisa menikah denganmu, atau aku sudah benar-benar yakin tidak bisa memilikimu sehingga aku tidak lagi berharap padamu. Aku akan bisa pergi jauh dari kehidupanmu!"


Athalla memeluk Kania kembali. Tidak peduli ada orang yang melihat dan apa pikiran mereka. Rasanya dia ingin memeluk Kania begini selamanya agar mereka tidak bisa dipisahkan lagi.


Athalla tahu, perjuangannya dengan Kania kedepannya tidak akan mudah namun, dia akan berusaha dan terus berjuang hingga restu itu di genggam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2