
Kania menerima pinangan Mami Athalla. Mami juga meminta agar calon menantunya itu segwra resign dari pekerjaannya di Singapura.
Saat Athalla Pulang dari kantor, dia melihat pemandangan yang membuat hatinya bahagia. Mami dan Kania yang sedang bercanda dan menonton televisi di ruang tengah.
"Udah pulang kerja, Nak. Duduklah sini. Ada yang ingin Mami bicarakan."
Mami meminta Athalla duduk di sampingnya. Athalla memandangi Kania menginginkan jawaban dari wanita yang dia cintai itu. Apa yang akan Maminya sampaikan. Kania mengangkat bahunya, mengatakan tidak tahu dengan senyuman yang mencurigakan.
"Tadi Mami telah melamar Kania untukmu. Kamu tahu apa jawabannya?" tanya Mami.
Athalla memandangi Kania. Dia takut lamaran Mami untuk dirinya di tolak wanita itu. Athalla masih ingat bagaimana perlakuan Maminya pada Kania.
Kania sendiri bukanlah malaikat. Rasa sakit atas sikap Mami selama ini sedikit banyak membekas di hatinya. Namun, semua bisa ditutupi dengan perlakuan Athalla padanya.
Cinta pria itu yang begitu besar dengannya, membuat Kania memaafkan semua sikap Mami. Walau dalam hatinya terkadang terbersit pikiran jika Mami Athalla baik dengannya hanya karena tahu dia anak korban dari kecelakaan yang pelaku utamanya Papi Athalla.
Namun, lagi-lagi semua berusaha di tepis Kania. Dia hanya ingin mengingat rasa cinta Athalla yang begitu besar dengannya. Apapun niat Mami merestui dan melamar dirinya untuk dijadikan istri Athala biarlah hanya Tuhan yang tahu.
Kania hanya berharap dengan seiringnya waktu, rasa marahnya atas kasus kecelakaan yang menimpa orang tuanya akan hilang. Begitu juga Mami akan menerima dirinya ikhlas tanpa niat apapun.
__ADS_1
"Emang Kania menjawab apa, Mi? Nia, apa kamu bersedia menjadi istriku. Mungkin lamaran aku ini tidak seperti pria lain yang romantis, tapi semua ini aku ucapkan tulus dari hati dan sebagai saksinya Mami."
Kania mengerjapkan matanya, menahan agar air mata tidak tumpah membasahi pipinya. Untuk kedua kalinya hari ini dia di lamar. Pertama Mami dan saat ini Athalla.
"Mas, aku tidak mengharapkan sebuah lamaran yang romantis. Aku hanya ingin di lamar dengan tulus dan ikhlas."
Athalla berdiri dari duduknya. Tiba-tiba berlutut dihadapan Kania. Athalla mengeluarkan cincin yang dulu pernah dia beli sebelum Kania pergi meninggalkan dirinya.
Saat itu, Athalla memang ingin melamar wanita itu untuk dijadikan istri. Namun, tanpa di duga Kania pergi menghilang karena permintaan Mami. Athalla menyimpan cincin itu di laci meja kerjanya di kantor. Entah mengapa tadi dia ingin membawanya. Athalla membuka cincin itu dan berucap di hadapan Kania.
"Kania, Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu. Will you marry me?"
"Sejak pertama kali bertemu, kehadiran kamu membuat kehidupan saya menjadi lebih berwarna. Kamu berusaha membuat saya tertawa walaupun saya sedang sedih, marah ataupun kecewa serta berusaha membimbing saya selama ini. Hal – hal tersebut mungkin hal kecil yang tidak memiliki arti tapi bagi saya, hal tersebut telah cukup membuat saya percaya bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi pasangan sehidup semati saya. Oleh karena itu lamaran ini saya terima dengan segala pertimbangan yang ada”.
Tanpa rasa malu pada Mami-nya. Athalla memeluk Kania mendengar jawaban dari wanita itu. Setelah menyadari jika di antara mereka berdua ada Mami. Athalla melepaskan pelukannya.
"Atha, sesuatu niat baik itu tidak usah di tunda. Jadi Mami berharap kamu dan Kania segera meresmikan pernikahan kalian."
"Baik, Mi. Aku dan Kania telah bicarakan ini. Kania harus kembali ke Singapura menyelesaikan semua pekerjaannya dan juga untuk resign."
__ADS_1
"Mami juga tadi telah bicarakan semua ini dengan Kania. Mami meminta dia segera pindah ke Jakarta ini."
"Iya, Tante. Pekerjaan yang dipercayai padaku kebetulan telah aku selesaikan dengan baik. Jadi aku tidak merasa bersalah jika meninggalkannya."
"Tante harap semua berjalan sesuai rencana."
***
Athalla mengantar Kania ke rumah kontrakannya. Athala dan Kania menyewa rumah itu untuk Kania tinggal menjelang pernikahan mereka.
"Sayang, apa kamu tidak bisa mengurus surat pengunduran diri dari sini saja?" tanya Athala saat perjalanan menuju kontrakan Kania.
"Aku nggak enak, Mas. Bagaimanapun Pak Anggara telah memberikan kepercayaannya padaku. Aku juga belajar banyak darinya. Aku ingin mengundurkan diri secara langsung.
"Tapi aku nggak bisa mengantar kamu. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan."
"Nggak apa, Mas. Aku bisa sendiri. Jangan kuatir. Aku ini bukan wanita lemah. Kamu lupa jika aku ini sudah sering menghadapi semua masalah dalam hidupku seorang diri."
Athalla mengecup tangan Kania. Dia tahu bagaimana selama ini wanita itu sudah terbiasa menghadapi masalah dalam hidupnya seorang diri tanpa ada dampingan dari keluarga.
__ADS_1
...****************...