NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 14. Perjodohan Athalla


__ADS_3

Setelah semua duduk, makan malam di mulai. Mami mengambilkan nasi dan lauk buat Fitri. Kania kembali menarik napas dan hanya bisa tersenyum. Kenapa Kania mau bertahan? Dia menghargai Athalla dan tidak ingin makin mempermalukan pria itu jika dirinya kabur.


Sepanjang makan malam Kania benar-benar diacuhkan kedua orang tua Athalla. Hanya Athalla yang mengajaknya sesekali bicara.


"Atha, Fitri ini calon dokter. Cocok dengan kamu. Kamu bisa lebih mengenalnya. Ajak-ajak dia pergi jalan," ucap Mami.


"Mami, jangan main jodoh begitu. Siapa tahu Fitri-nya ada pasangan, bukan begitu Fit?" tanya Athalla.


Sebelum Fitri menjawab mami langsung yang bicara seolah mewakili gadis itu.


"Fitri belum ada pasangan. Dia tidak pernah pergi berdua dengan pria manapun. Kamu adalah pria pertama yang memgajaknya jalan jika kamu berkenan. Mami udah tanya-tanya tadi di dapur!" ucap Mami.


"Kania itu hanya teman sekantor kamu'kan? Papi dan Mami kira teman yang akan kamu ajak makan malam itu teman pria!" ucap Papi lagi.


"Kania, kamu hanya karyawan Athalla'kan? Kehadiarnmu membuat Fitri jadi salah tingkah. Begitu juga kedua orang tuanya. Dia pikir kamu kekasihnya Athalla. Jadi tidak enak hati ini semuanya!" ucap Mami.


"Mami, Papi, Kania ini ...." Sebelum Athalla melanjutkan ucapannya Kania telah memotongnya.


"Iya , Bu. Saya hanya karyawan. Kebetulan kami habis rapat sehingga Pak Atha mengajak aku sekalian makan malam. Betul'kan Pak Atha?!" Kania mengucapkan dengan penuh penekanan agar Atha mengerti dan membenarkan ucapannya itu.


Setelah makan malam semua kembali ke ruang keluarga. Mami langsung menarik tangan Athalla untuk mengikuti langkahnya. Kania yang tidak enak hati lebih memilih duduk di taman.


Kekurangan adalah pemicu orang tua tidak setuju. Maka yang harus dilakukan hanyalah merubah kekurangan itu menjadi kelebihan, atau setidaknya menutupi kekurangan itu dengan kelebihan agar orang tua bisa setuju.

__ADS_1


"Aku sadar dengan posisiku saat ini. Jika aku menjadi orang tua Mas Athalla, mungkin aku juga tidak merestui. Siapapun orang tua, pasti inginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Apa lagi jika mereka tahu noda di masa laluku. Sejak video itu beredar, aku telah membentengi hatiku. Penolakan dari siapapun itu tidak akan membuat aku rapuh dan terjatuh," ucap Kania dalam hati.


Kania memandangi bintang di langit. Berharap dari salah satu bintang itu adalah ibunya seperti yang pernah dirinya dengar dulu. Jika ibunya yang telah meninggal akan melihat dirinya dari atas langit dan menjelma menjadi salah satu bintang.


Walau Kania tahu semua itu hanyalah sekedar mitos, tapi Kania tetap meyakinkan itu semua sebagai penghibur di saat rindu dengan kedua orang tuanya yang telah tiada.


Saat Kania sedang asyik menikmati bintang dia mendengar suara perdebatan. Kania yakin itu suara Athalla dan mami-nya. Kania tidak bermaksud menguping tapi suara perdebatan keduanya memang dapat di tangkap telinga Kania.


"Mami minta kamu kembali ke dalam, Atha. Jangan buat Mami malu. Dari kemarin Mami udah katakan jika ingin mengenalkan kamu dengan anak sahabat Mami. Namun, kenapa kamu bawa Kania?"


"Bukankah aku telah minta izin untuk membawa teman dengan Papi dan Mami kemarin?" tanya Athalla.


"Tapi kamu tidak mengatakan jika dia seorang wanita!"


"Baiklah itu salah Mami. Tapi sekarang mami minta kamu ke dalam. Ajak Fitri bicara. Bawa di ruang tamu. Biar kami para orang tua bicara di ruang tengah saja!" ucap Mami.


"Mi, untuk apa aku bicara berdua saja. Jangan -jangan Mami mau menjodohkan aku? Jika iitu memang niat Mami, aku mohon lupakan. Karena saat ini aku dan Kania sedang melakukan pendekatan untuk hubungan yang lebih serius.


Kania hanya bisa mengurut dadanya yang terasa sesak. Begini rasanya menjadi orang tidak punya. Kehadirannya selalu diabaikan!"


"Kamu dan Kania ingin menjalin hubungan? Apa kamu tidak salah? Banyak wanita lain yang bisa menjadi pilihanmu dan melebihi Kania. Kenapa harus memilih wanita itu?"


Kania tertawa pada dirinya sendiri mendengar ucapan orang tua Athalla. Hal biasa baginya diremehkan. Keluarganya saja tidak bisa menerima kehadiran dirinya, apa lagi orang lain.

__ADS_1


Aku tidak tahu apakah tempatku benar-benar di sini. Aku tidak punya seorangpun untuk diajak bicara. Duduklah dengan rasa sakit sampai hilang, dan kamu akan lebih tenang untuk yang berikutnya. Tanpa rasa sakit, tanpa pengorbanan, kita tidak akan memiliki apa-apa.


Tanpa Athalla sadari, Kania berjalan ke samping rumah dan pamit pada satpam. Kania pesan, jika Athalla mencarinya katakan kalau dia telah pulang.


Kania menghentikan sebuah taksi dan masuk kedalam mobil itu. Dalam perjalanan menuju kos-nya Kania tidak bisa lagi menahan tangisnya. Air mata jatuh membasahi pipinya.


"Rasa sakit ini telah biasa aku rasakan. Apakah ini berarti memang tidak ada tempat bagiku? Aku juga tidak ingin dilahirkan begini! Apa kah ini balasan atas dosa-dosa yang aku lakukan? Aku juga ingin merasakan bahagia seperti mereka. Aku juga ingin hidup dengan tenang. Apakah masih ada harapan bagiku untuk menikmati hidup ini?"


Sedangkan Athalla dan Maminya masih saja beedebat tanpa menyadari jika tadi Kania mendengarnya.


"Mi, yang terlihat jelek belum tentu jelek. Dan yang tampak baik belum tentu juga baik. Janganlah Mami menilai dari penampilanya saja. Coba Mami kenali dulu lebih dekat. Setelah bergaul baru kita bisa tahu gimana karakter seseorang itu!"


"Setiap orang pasti akan melihat dari bungkus luarnya dulu. Coba kamu membeli makanan. Mana yang kamu pilih. Yang terbuka atau tertutup dengan rapat. Pasti kamu lebih memilih yang tertutup bukan?" tanya Mami tidak mau kalah.


Salah satu hal yang paling menyebalkan dalam hidup ini adalah bertemu orang-orang yang dengan mudah menilai diri seseorang. Entah itu dari penampilan, dari cerita orang, atau dari masa lalunya.


Sudah menjadi tradisi di masyarakat kita bahwa kebanyakan dari kita menilai seseorang itu dari penampilannya. Jika seseorang berpenampilan baik, maka mungkin orang tersebut adalah orang yang baik. Begitulah yang di nilai Mami melihat penampilan Kania.


Papi yang menyadari anak dan istrinya terlalu lama meninggalkan tamu akhirnya menyusul. Melihat Mami dan Athalla yang berdebat, Papi mendekati.


"Sudah! Jangan berdebat! Kamu Athalla, hargai tamu yang datang. Jika memang kamu tidak suka dan tidak mau dijodohkan, ya sudah. Tapi Papi mohon kamu kembali dan duduk bersama dulu. Urusan jika kamu menolak bisa dibicarakan nanti. Mami juga kembalilah. Pasti mereka bisa membaca ada sesuatu yang mami dan Athalla perdebatkan!"


Athalla dan Mami dengan terpaksa kembali ke ruang tengah dimana Fitri dan orang tuanya masih berada di sana.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2