
Kania mengikuti Anggara sampai ke ruang kerja bosnya tersebut. Walaupun disebut sebagai manajer oleh rekan kerjanya, tapi Kania tahu bahwa Anggara adalah pemilik dari perusahaan tempatnya bekerja saat ini.
Hal itu bisa dia lihat langsung dari papan nama yang tertempel di bagian depan pintu ruang kerja dari pria muda yang tampan tersebut.
"Kamu sudah tahu job desk di sini?" Tanya Anggara, sambil meminta Kania untuk duduk di kursi dengan kode tangannya.
"Sudah, Pak! Saya sudah tahu. Kalau dari lowongan kerja yang saya melamar lewat online kemarin, sepertinya juga sudah dijelaskan jobdesnya. Apakah ada tambahan untuk jobdesnya, Pak?" Kania balik bertanya pada Anggara.
"Bagus kalau kamu sudah tahu. Tidak ada juga tambahan, kecuali kalau memang ada pekerjaan yang harus dikerjakan menyesuaikan deadline. Tapi selebihnya, kamu hanya mengerjakan sesuai dengan yang kamu ketahui di lowongan kerja itu. Jadi kamu tidak usah dijelaskan lagi ya? Nanti kamu bisa tanyakan ke bagian kepala divisinya, supaya kamu bisa memulai pekerjaan hari ini. Dan kalau bisa, kamu harus cukup fasih untuk berbahasa Inggris karena klien kita kebanyakan adalah orang dari luar Indonesia."
Permintaan Anggara tersebut sebenarnya wajar, mengingat bahwa Kania sekarang bekerja di sebuah perusahaan yang ada di kota Batam. Di mana Kota Batam sendiri, adalah kota yang sangat dekat dengan wilayah Singapura. Dan memang biasa menjadi tempat untuk orang Singapura berkunjung atau melakukan investasinya.
"Baik Pak Anggara. Saya akan segera melakukan pekerjaan hari ini. Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Kania.
"Kania ...! Cuma mau mengingatkan saja, kamu nggak usah memanggil saya dengan nama panjang seperti itu. Cukup panggil saya Pak Angga, atau Angga. Saya masih cukup muda untuk dipanggil Bapak."
Kania cukup tersentak tapi juga kemudian dia langsung menganggukkan kepalanya singkat sebelum keluar dari ruangan bosnya tersebut.
Dalam hati dia menggerutu sendiri, dia tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa Angga itu sudah tua. Dia memanggil Angga dengan panggilan Bapak, juga karena dia adalah Bos di sini. Bukankah seharusnya itu bagus?
Mengingat itu merupakan salah satu dari etika dalam bersosialisasi di sebuah perusahaan tempat seseorang bekerja. Tidak mungkin juga Kania mau memanggil Angga dengan panggilan Kakak atau sebagainya.
Kalau saja Kania tidak ingat, bahwa Angga memang punya paras yang cukup rupawan. Maka mungkin Kania akan menggerutu lebih keras sekarang. Lagi pula, ini adalah hari pertamanya. Mungkin ini juga salah satu ujian Kania pada hari pertamanya bekerja di perusahaan yang baru.
__ADS_1
**
Hari berganti, minggu berlalu, dan bulan pun terlewati. Sekarang Kania sudah sekitar 3 bulan bekerja di perusahaan itu. Dan selama bekerja, Kania benar-benar menunjukkan performa yang luar biasa untuk perusahaan barunya tersebut. Dia begitu rajin dan terampil. Serta sangat cekatan.
Tidak hanya memuaskan bagi perusahaan, tapi pekerjaan yang dilakukan Kania juga sering mendapat pujian dari klien yang bekerja sama dengan perusahaan milik Angga tersebut.
Bahkan Angga juga mengetahui kalau Kania sangatlah fasih dalam berbahasa Inggris baik aktif maupun pasifnya. Dan itu membuat Kania mendapatkan nilai tambah dalam setiap pekerjaan yang dia lakukan.
"Bapak panggil saya?” pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Daniel saat dia masuk ke dalam ruangan Angga.
Hari ini, bahkan saat pagi hari dia baru saja sampai ke kantor. Kania sudah diberitahu bahwa anggaran mencari keberadaan dirinya. Dan meminta agar Kania datang ke ruangan setelah jam makan siang.
"Iya Kania ... kebetulan sekali, karena saya baru saja selesai bertemu dengan klien. Silakan duduk dulu, ada hal penting yang mau saya bicarakan sama kamu."
Berbeda dari biasanya, anggaran tidak meminta Kania untuk duduk di kursi biasa yang memang berada di depan meja kerja pria tersebut. Melainkan Angga meminta agar karya duduk di sofa yang letaknya ada di bagian tengah ruangan kerja dari bosnya tersebut.
Namun, kalau melihat ekspresi wajah dan nada bicara Angga yang tidak terlalu keras padanya sekarang, mungkin itu bukan seperti yang dia pikirkan oleh Kania.
Angga menyodorkan sebuah map yang berisi beberapa kertas di hadapan Kania. Di mana kertas tersebut bertuliskan tentang informasi sebuah kantor cabang dari perusahaan Itu yang memang berada di negara Singapura.
Kania yang memang tidak mengerti maksud dan tujuan dari diberikannya informasi itu dari Angga. Hanya membaca saja tanpa banyak memberikan pendapat yang terlalu jauh karena takut jika salah dalam berkata-kata.
"Sudah baca?"
__ADS_1
Kania menganggukkan kepalanya dan kembali menaruh map itu di atas meja.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Angga kembali.
Kania yang semakin bingung, hanya bisa diam dan menggigit bibirnya sebelum kemudian berkata, "Bagaimana yang seperti apa yang diinginkan bapak?" tanya Kania kemudian.
Angga yang mengetahui kalau Kania ternyata sedang kebingungan sendiri. Langsung tertawa keras dan mendekati Kania. Dia lantas mengambil map tersebut dan kembali menyerahkannya kepada Kania.
"Begini loh, Kania ... tujuan saya memanggil kamu ke ruangan saya hari ini, itu bukan untuk memarahi kamu atau memberi hukuman padamu. Tapi justru saya mau berterima kasih karena dengan performa kerja kamu yang luar biasa. Meskipun baru 3 bulan bekerja di perusahaan saya, tapi sudah banyak sekali hal yang kamu berikan dan membawa keuntungan yang luar biasa juga untuk perusahaan ini. Ditambah lagi, banyak dari para klien yang sangat puas dengan kinerja kamu juga saat ditugaskan menjalin kerjasama dengan mereka. Oleh sebab itu... saya berpikir untuk menunjuk kamu sebagai manajer di perusahaan saya yang ada di Singapura. Karena menurut saya kamu sangat berpotensi untuk bisa maju dan mengembangkan perusahaan ini jika menempati posisi tersebut."
Kania masih saja diam dan mencoba untuk mencerna satu persatu yang diucapkan oleh Angga sekarang. Sampai akhirnya, ketika dia sudah menyadari apa yang dimaksudkan oleh pria tersebut. Wajah terkejut langsung ditunjukkan Kania dihadapkan Anggara.
"Maksud Bapak, saya mau dipindahin ke Singapura? Dan mau dikasih jabatan di sana? Apa Bapak tidak salah dengan keputusan itu? Maksud saya, saya ini kan masih pakai baru di sini. Seperti yang Bapak tadi ucapkan juga, kalau saya bahkan baru 3 bulan gabung di perusahaan ini. Menurut saya, keputusan itu terlalu cepat ...," jawab Kania.
Agak berbeda dengan sebuah reaksi yang diharapkan oleh Angga sebelumnya. Karena pria itu menganggap bahwa Kania pasti akan senang kalau dia sampai bisa diberikan jabatan seperti itu oleh Angga. Tapi kenyataannya, wanita tersebut justru terlihat kebingungan dan menolak dengan sopan tawaran Angga tersebut.
"Saya bisa memberikan tawaran ini juga setelah mempertimbangkannya secara matang. Sambil memperhatikan bagaimana kinerja kamu selama ini ....”
Walaupun anda sudah berkata demikian, tapi kenyataannya Kania masih belum bisa memberikan jawaban yang pasti apakah dia akan menerima tawaran itu atau tidak.
Bonus Visual Anggara dan Kania.
__ADS_1
...****************...