
Baru saja Kania tiba di apartemen dalam perjalanan karirnya ke Singapura. Dia baru saja mencuci tangannya dan bersiap untuk istirahat. Sambil menunggu dirinya mengantuk, Kania meng-scroll media sosialnya agar dia cepat mengantuk.
Namun, baru saja dia membuka media sosialnya, Kania melihat postingan Athalla bahwa Maminya membutuhkan darah segera. Golongan darah Mami Athalla sama dengan dirinya. Kania langsung menghubungi nomor Athalla
Tidak butuh berapa lama sampai seseorang dari seberang mengangkat panggilannya.
“Halo, Sayang?” Suara yang amat sangat dikenalnya itu. Suara itu, suara kekasihnya yang selalu ingin dia dengar. Suara yang sangat dia rindukan.
“Hah? Ah—iya, golongan darah aku, AB,” ucap Kania.
“Kania? Kamu bisa datang ke Rumah Sakit Jakarta sekarang. Aku mohon bantuanmu, Sayang?” tanya Athalla dengan perasaan lega.
“Aku baru saja sampai di apartemen .Tapi aku akan mencari tiket penerbangan pertama.” Kania ikut merasa khawatir setelah mendengar nada suara Athalla yang sedikit bergetar.
“Aku akan menjemputmu di bandara, Sayang,” ucap Athalla.
Setelah percakapan itu, Kania langsung mencari tiket pesawat dengan jadwal penerbangan tercepat. Beruntung, ada pesawat yang akan terbang dalam tiga puluh menit. Kania langsung membelinya. Baru setelah itu dia mengganti pakaiannya dan segera berangkat ke bandara.
Tidak Kania bayangkan, mereka akan dipertemukan kembali dalam situasi seperti ini. Kania kira mereka berdua tidak akan bertemu dalam waktu dekat ini.
Tepat saat Kania tiba di bandara Singapura, pesawat yang akan dia tumpangi juga akan berangkat. Kania tidak membawa barang apa pun bersamanya kecuali ponsel dan sebuah dompet. Kania kemudian menyalakan mode pesawat pada ponselnya. Tidak lama kemudian, pesawat itu lepas landas meninggalkan bandara internasional Singapura.
Butuh waktu sekitar dua jam sampai dirinya tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta. Di bandara, sudah ada Athalla yang sedang menunggunya. Athalla langsung mengajak Kania ke mobilnya agar mereka bisa segera pergi ke rumah sakit Jakarta.
Tidak ada percakapan selama dalam perjalanan. Athalla tampak sibuk dengan kemudi mobilnya. Sedangkan Kania tidak enak mengajak Athalla berbicara.
Karena Athalla melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak membutuhkan waktu lama sampai mereka tiba di rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Kania langsung menjalankan serangkaian prosedur donor darah. Athalla terus menemani Kania sampai semua proses selesai di jalankan.
Setelah darah Kania di ambil, wanita itu diberi makanan untuk memulihkan kembali energinya. Agar Kania tidak terkena anemia.
Darah Kania yang telah diambil kemudian dibawa oleh petugas ke dalam ruang operasi untuk melanjutkan operasi itu. Kania dan Athalla menunggu di depan ruang operasi. Mereka duduk berdampingan, tidak ada yang memulai percakapan di antara mereka.
__ADS_1
“Makasi, Sayang,” ucap Athalla menolehkan pandangannya sedikit ke arah Kania.
“Iya, Mas,” jawab Kania singkat merespon ucapan terima kasih dari Athalla.
“Kamu tahu dari mana jika Mami membutuhkan darah, Sayang?” tanya Athalla.
"Sebelum mandi aku melihat media sosial kamu, Mas. Setelah menghubungi kamu, aku langsung ke bandara. Beruntung ada pesawat yang mau berangkat, tapi ...." Kania menghentikan ucapannya.
"Tapi apa, Sayang?" tanya Athalla. Pria itu makin merapatkan tubuhnya dengan Kania
"Aku nggak bawa pakaian. Ini sudah malam."
"Kamu ke apartemen aku aja. Pakai kemeja atau baju kaosku saja buat tidur. Pulanglah! Istirahat. Kamu diantar supir, ya? Besok aku yang jemput."
Belum sempat Kania menjawab pintu kamar operasi terbuka. Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang operasi dengan raut wajah yang berbeda dengan saat itu.
Kini Athalla memiliki firasat yang baik tentang keadaan Maminya. Kania dan Athalla sama-sama berdiri saat dokter itu keluar dari ruang operasi.
Semua masalah Athalla seperti terangkat darinya saat itu juga. Athalla merasa sangat senang akhirnya bisa memiliki kesempatan untuk melihat Maminya kembali membuka mata. Saking senangnya, Athalla tanpa sengaja memeluk Kania.
Butuh beberapa detik sampai Athalla sadar dan melepaskan pelukan mereka. Suasana canggung kembali menyelimuti mereka. Malu menyadari jika mereka jadi pusat perhatian orang sekitar.
Sebuah brankar dengan Mami Athalla di sana di dorong keluar dari ruang operasi oleh beberapa perawat. Athalla dan Kania mengikuti brankar itu sampai mereka berhenti di ruang perawatan.
Perawat kembali bekerja memasang alat medis ke tubuh Mami Athalla. Hingga semuanya selesai, para perawat itu kemudian keluar dari ruang rawat Mami Athalla. Kini, Athalla duduk di pinggir brankar Maminya melihat lelah wajah wanita paruh baya itu.
Kania memegang pundak Athalla pelan membuat pria itu berbalik, “Mas, sepertinya aku harus kembali saat ini juga dengan keberangkatan pertama. Aku baru ingat pagi aku ada rapat," ucap Kania pada Athalla.
Mendengarnya membuat Athalla terkejut karena wanita itu harus kembali secepat ini.
Namun, jika dipikirkan lagi, dia tidak memiliki alasan untuk menahan Kania tetap berada di sisinya. Kania telah mengatakan alasannya jika dia ingin secepatnya selesaikan proyek yang sedang dipegangnya agar dia bisa melepaskan pekerjaan itu secepatnya.
__ADS_1
Karena itu, Athalla dengan terpaksa mengangguk mengiyakan perkataan Kania.
“Aku akan mengantarmu ke bandara, Sayang,” ucap Athalla menawarkan tumpangan kepada Kania. Kania sedikit tersenyum kepada Athalla. Dia menggeleng pelan.
“Tante akan sendiri jika kamu mengantarku. Aku akan pergi sendiri.” Kania menolak Athalla mengantarnya dengan alasan yang sangat masuk akal.
"Biar supir yang mengantarkan kamu, Sayang. Seandainya kamu bisa menemani aku, pasti akan lebih menyenangkan," ucap Athalla.
"Mas, aku sudah mengatakan alasannya, bukan? Aku ingin secepatnya bisa tuntaskan proyek ini, agar aku bisa melepaskan dengan segera."
"Baiklah, Sayang. Secepatnya aku akan menyusul kamu. Jika kamu tak sempat ke sini."
"Mas, sekarang yang perlu kamu pikirkan itu Mami. Kesembuhan, Mami."
"Iya, Sayang. Aku nggak tahu harus mengatakan apa. Terima kasih saja tidak akan cukup untuk bantuanmu, Sayang."
Kania memeluk pinggang Athalla. Tidak peduli lagi dengan orang sekitar mereka. Pria di depannya saat ini membutuhkan dukungan.
"Kamu telah membalasnya dengan mencintai aku, Mas."
Athalla mengecup pucuk kepala wanita yang dicintainya itu. Jika tidak mengingat mereka berada di rumah sakit, Athalla ingin menciumnya.
Setelah memeluk Kania, Athalla mengantar hingga wanita itu masuk ke mobil.
Mau tidak mau, Athalla harus melepas kepergian Kania.
Jika bisa, Athalla ingin berada lebih lama di dekat wanita itu. Mendengarkan suaranya yang selalu menenangkan. Melihat wajah yang selalu melekat erat salam ingatan dan netranya yang indah. Athalla sangat ingin menahan wanita itu untuk tetap berada di sebelahnya. Namun, dia tidak memiliki kuasa untuk itu.
Athalla kembali ke kamar perawatan Maminya. Dia harus menjaga wanita yang telah melahirkannya itu. Yang kini tengah terbaring tak berdaya dengan alat medis yang melekat padanya.
Bahkan saat Athalla berada di sebelah Maminya, pikirannya masih terus berada pada Kania. Memikirkan segala kemungkinan jika mereka akan secepatnya bisa bersama dalam ikatan pernikahan.
__ADS_1
...****************...