NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 43. Batam, aku datang.


__ADS_3

Athalla sebenarnya tidak merasa bingung juga kalau akhirnya sang Mami bisa mengetahui tentang Kania serta masa lalunya.


Bagi mereka, mencari tahu tentang hal tersebut bukanlah hal yang sulit. Hanya saja Athalla masih terkejut karena maminya tahu lebih cepat daripada yang dia duga.


Saat ini Athalla masih menunggu dan ingin tahu, apa yang Mami inginkan dari dirinya.


**


Sementara itu, gadis yang saat ini sedang dicari oleh Athala sampai kelimpungan. Yaitu Kania, sekarang justru sudah sampai di kota Batam.


Dia baru sampai dipelabuhan dan menyeret tas-nya sepanjang jembatan, saat melihat sosok sahabatnya sudah menunggu sambil melambaikan tangannya tinggi kepada dirinya.


“Tari …!” suara Kania benar-benar cukup kencang, sampai beberapa orang mengalihkan atensi kepada mereka.


Gadis itu juga langsung berlari ke arah sang sahabat yang sudah menyunggingkan senyum sambil merentangkan tangan dan menunggu sampai Kania membalas pelukan hangatnya. Mereka berpelukan cukup lama seolah sedang melepaskan rindu masing-masing.


“Aduh, maaf ya jadi lama deh nunggunya! Soalnya tadi gelombang sangat besar. Jadi ketunda deh sampai ke sini. Udah nunggu lama banget ya?” Kania yang melepaskan pelukan mereka lebih dulu kemudian langsung menunjukkan ekspresi wajah menyesal sambil berkata demikian kepada Tari.


“Lumayan sih … tapi nggak masalah, kok. Soalnya aku juga bisa jajan dulu tadi di sini sambil nungguin kamu!” jawab Tari.


“Wah, kamu! masa jajan enak-enak aku nggak diajakin? Aku juga laper nih… tadi di kapal memang dikasih makanan sih, tapi tetep aja masih laper. Cari makan dulu yuk sebelum sampai ke tempat kost.”

__ADS_1


Kania mengalungkan lengannya ke lengan tari, dia lantas menarik kopernya dengan salah satu tangan lainnya, sementara tangan yang lain dibiarkan menggamit lengan Tari dengan sangat erat.


Mereka berjalan bersisihan, sambil terus mengobrol dan tertawa.


***


Mereka benar-benar pergi untuk mencari makan lebih dulu sebelum pulang ke kosan yang ditempati oleh Tari. Sesuai dengan keinginan Kania, Tari pun mengajak Kania untuk membeli beberapa makanan yang khas dari kota Batam. Tapi karena sudah terlalu lelah, Tari kemudian meminta agar makanannya dibungkus saja, supaya bisa dimakan saat di rumah nanti.


“Sorry ya … aku jadi ngerepotin kamu, nih! Pakai acara numpang segala di kosan. Nanti kalau aku udah dapat kosan yang pas nanti, aku pasti langsung pindah kok.”


Sepertinya Kania memang merasa sedikit agak tidak enak hati. Karena di hari pertamanya datang ke Kota Batam, dia justru tidak bisa langsung tinggal di kos yang sudah dia sewa. Melainkan harus menumpang lebih dulu di kosan milik sang teman, Tari.


Hal itu karena kedatangan Kania yang dua hari lebih cepat dari perkiraan. Yang mana akhirnya, membuat kamar kos yang sudah dipesan oleh Kania belum kosong dan masih ada penghuninya sampai besok.


“Ngomong apa sih? Santai aja lagi! Kaya sama siapa aja kamu. Tapi memangnya, kenapa sih harus buru-buru banget? Bukannya kamu bilang kalau kamu udah mulai kerjanya itu minggu depan ya? Kok sekarang udah duluan datang?”


Tari sebenarnya merasa penasaran dengan hal tersebut. Mengingat waktu masukannya ke dalam kos dengan waktu mulainya bekerja di kantor yang baru. Itu masih cukup lama.


Kania hanya tersenyum. Sepertinya dia masih enggan untuk menjelaskan situasi yang dihadapi sekarang. dan memilih untuk membuat alasan saja di hadapan Tari.


"Bukan apa-apa sih ... hanya saja, aku di sini kan, tidak punya kendaraan pribadi untuk pergi dan menunjang akomodasiku. Jadi aku rasa, lebih baik kalau aku pergi ke Batam lebih cepat. Untuk bisa menghafalkan rute ke perjalanan dari tempat kost ku yang baru menuju kantor dan sebaliknya. Serta beberapa tempat yang memang penting seperti mencari makanan, atau kebutuhan lainnya. Kamu tahu lah ... aku juga tidak bisa terus-terusan meminta bantuan padamu. Karena aku juga tidak enak hati kalau harus terus merepotkanmu,” jawab Kania.

__ADS_1


"Oh itu... aku pikir kenapa. Sebenarnya kamu tidak usah khawatir, kalaupun kamu sampai tersesat. Aku juga pasti akan menemukanmu lebih cepat. Karena aku sudah terbiasa untuk tinggal di kota ini. Jadi kapanpun kamu membutuhkan bantuanku, kamu tinggal mengatakannya saja."


***


Akhirnya mereka sampai ke kos tempat Tari. Dan di sana, Tari sudah menyiapkan banyak hal untuk menyambut kehadiran Kania. Tapi Tari yang sangat senang karena sahabatnya akan datang ke tempat tinggalnya saat ini, kemudian menyiapkan beberapa hal seperti camilan kesukaan Kania, dan beberapa merek kopi yang memang biasa diminum oleh Kania setiap pagi.


"Wah... aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu menyiapkan semua ini untuk aku. Sebenarnya kamu nggak usah repot! Justru seharusnya aku yang membeli oleh-oleh untuk kamu. Bukan justru sebaliknya,"


ujar Kania.


"Soalnya udah lama banget nggak ada yang main ke sini. Jadi sekalian aja, mumpung kamu lagi datang ke sini dan menginap. Biar kita juga bisa ngobrol enak tanpa harus mikir laper atau nyari cemilan. Aku beli deh banyak cemilan yang biasa kamu sama aku makan."


Kania langsung mau nyeret kopernya sementara dia duduk bersimpuh di lantai. Kamar kos yang dihuni oleh Tari ini memang tidak terlalu luas. Tapi cukup lega untuk ditempati dua orang. Beruntungnya lagi, ada pendingin udara di dalamnya.


Jadi tidak terlalu pengap walaupun diisi dengan banyak barang. Fasilitasnya juga cukup komplit.


Sebenarnya juga, Kania mau mencari tempat kost di rumah yang sama dengan yang ditempati oleh tari saat ini. Sayangnya, kamar kos di tempat tari sekarang justru sudah penuh semuanya.


"Oh ya, mumpung masih agak sore nih! Aku mau buang sampah dulu deh. Kamu kalau mau mandi duluan aja. Itu kamar mandinya ada di sebelah sana, jangan lupa ditutup pintunya kalau lagi mandi. Soalnya takut kalau nanti ada yang ngintip. Tapi nggak usah dikunci ya!"


Kania menuruti pesan yang diberikan oleh Tari. Dia pun kemudian bersiap untuk mandi dengan mengambil handuk dan juga baju gantinya dari dalam koper.

__ADS_1


Rasanya keras sekali walaupun dia sepanjang perjalanan menuju Kota Batam menggunakan pesawat yang full dengan pendingin udara. Nyatanya rasa lelah tetap saja membuat tubuhnya merasa sesak dan pengap.


***


__ADS_2