NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 38. Kepulangan Jenazah Stefani.


__ADS_3

"Maaf ... Adik anda telah berpulang ke pangkuan pemilik-Nya!"


Mendengar ucapan Dokter tubuh Mama langsung luruh, untung Papa langsung menyambut dan memeluknya.


Bagai mendengar petir di siang bolong Adit mendengar ucapan Dokter itu. Bukannya menangis, pria itu bahkan tertawa. Dokter heran melihat reaksi dari keluarga korban.


"Terima kasih, Dok! Tapi lelucon anda garing. Kenapa anda mengatakan adik saya telah kembali ke pangkuan sang pencipta-Nya. Anda tahu apa artinya itu. Sama saja anda mendoakan adik saya meninggal!" Adit bicara dengan penuh emosi dan penekanan.


Dokter itu sangat mengerti menghadapi keluarga yang baru kehilangan keluarganya sehingga dia tenang saja mendengar ucapan Adit. Dokter hanya menarik napas, sebelum bicara kembali.


"Saya mengerti, tidak mudah menerima kenyataan ini. Namun, semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Saya harap keluarga yang di tinggalkan dapat menerima semua kenyataan ini dengan sabar dan ikhlas."


"Bapak, Ibu, dapat melihat jenazah putrinya di dalam. Sekali lagi saya mewakili dari pihak rumah dan seluruh tim medis mohon mengucapkan turut berduka cita, semoga keluarga tabah menghadapi semua ini. Saya mohon undur diri. Ada pasien yang harus saya tangani!"


Dokter itu pamit dan pergi meninggalkan tiga orang yang masih tampak syok mendengar kabar kepergian satu anggota keluarganya. Adit yang tersadar terlebih dahulu, dia masuk ke dalam ruangan dan melihat tubuh adiknya yang telah ditutupi kain putih.


Adit membuka kain penutup tubuh Stefani, tampak tubuh adiknya yang telah membiru dan wajah yang telah sangat pucat. Adit membelai pipi adiknya.


"Bangunlah, Dek! Tidak lucu candaan kamu ini. Bangun Fani. Abang janji akan menemani kamu hingga melahirkan di luar negeri nanti. Atau kita pergi ke desa berdua. Abang janji tidak akan marah lagi. Kamu bisa membesarkan anakmu tanpa harus dititipkan. di panti asuhan. Sekarang bangunlah. Bangun, Dek!" Adit mengguncang tubuh adiknya itu. Namun tidak ada reaksi apa-apa.


Adit menjerit, menangis dan terduduk di lantai. Menarik rambutnya kuat hingga beberapa helai tercabut. Papa dan Mama masuk ke ruangan itu. Mama berada dalam pelukan Papa.

__ADS_1


Mama mengusap wajah putrinya. Mengecup pipi Fani. Air mata mengalir deras dari kedua bola matanya. Tidak pernah menduga putrinya akan pergi secepat ini.


"Fani, bangunlah Sayang. Kamu hanya tidur'kan Nak. Tidak mungkin kamu pergi meninggalkan Mama. Sayang, Mama sudah janji akan bicara dengan Papa. Dia telah setuju kamu tetap bersama kami. Jadi jangan bercanda begini lagi, Sayang. Bangunlah!"


Sama seperti Adit, Mama mengguncang tubuh Fani berharap jika putrinya itu terbangun dan tersenyum dengannya. Putri kecil yang sangat dia sayangi.


Papa menggenggam tangan Fani. Tangan mungil itu telah membiru dan terasa dingin. Papa hanya bisa menatap dan menangis. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya.


Mama pingsan setelah mengucapkan kata tadi. Sehingga terpaksa dibaringkan di atas ranjang pasien yang kosong.


Papa berusaha tegar dan mengurus semua kepulangan jenazah putrinya. Papa juga meminta asistennya untuk mengurus semua mengenai masalah ini.


Mama yang tampak masih lemas duduk di samping keranda jenazah putrinya. Dengan ambulance, jenazah putrinya di bawa pulang. Rumah kediaman mereka sudah mulai ramai dengan sanak keluarga yang telah Papa beri tahu. Tetangga juga sudah ada yang datang melayat. Mereka dapat kabar dari Pak RT.


Jenazah sampai di rumah duka dan dibaringkan di tengah ruangan. Papa membawa Mama ke kamar dan membantu menggantikan pakaiannya. Jenazah akan dikebumikan pagi ini juga.


Adit berkurung di kamar adiknya dengan memegang frame foto adiknya. Air mata tidak bisa di bendung lagi, membasahi pipinya.


Dalam kesedihannya, Adit teringat Kania. Dia mencoba menghubungi nomor kontak wanita itu. Namun, tidak bisa tersambung. Adit ingin meminta maaf pada wanita itu. Jangan sampai Kania juga melakukan hal yang sama dengan Fani.


Adit mencoba menghubungi Athalla. Lama baru tersambung. Athalla, awalnya malas menerimanya. Apa lagi saat ini pikirannya sedang suntuk. Memikirkan kepergian Kania yang entah kemana.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Athalla tanpa basa basi.


"Aku ingin bicara dengan Kania. Apa kamu memiliki nomor barunya Atau nomor aku telah di blokir. Kenapa aku tidak bisa menghubungi Kania?" tanya Adit dengan suara terbata.


Athalla kaget mendengar Adit yang ingin bicara dengan Kania. Pria itu berpikir, apakah kepergian kekasihnya itu ada hubungan dengan Adit.


"Untuk apa kau mencari Kania?" tanya Athalla dengan suara tinggi.


Adit tidak marah mendengar bentakan Athalla. Tujuannya hanya satu, meminta maaf pada wanita itu. Tidak ingin Kania menjadi korban kedua keegoisannya.


"Aku hanya ingin meminta maaf atas semua yang pernah aku lakukan. Aku telah mendapat karma atas apa yang aku perbuat padanya. Fani ... Fani meninggal bunuh diri karena mengalami hal yang serupa dengan Kania. Video mesumnya beredar. Dia malu dan bunuh diri," ucap Adit terbata.


Ponsel Athalla jatuh ke lantai mendengar ucapan Adit. Pria itu tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Yang menjadi ketakutan Athalla, jika Kania ternyata juga melakukan hal yang sama.


Athalla langsung menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk mencari tahu dan menyelidiki kemana menghilangnya Kania. Dia harus tahu keberadaan wanita itu secepatnya. Athalla mengganti pakaiannya untuk melayat ke rumah duka.


...****************...


Selamat Pagi. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.


__ADS_1


__ADS_2