
Mami Athalla masih terkejut dengan ucapan anaknya yang mengatakan jika dirinya mendapat donor darah dari Kania. Betapa tidak malunya dia yang menyuruh sang anak untuk memutuskan hubungan dengan Kania saat mereka berdua saling jatuh cinta. Mami Athalla merutuki dirinya sendiri, merasa diri sendiri sudah hebat tanpa butuh bantuan dari orang lain yang nyatanya dia masih membutuhkan bantuan dari orang yang dia benci selama ini.
Padahal Kania tidak memiliki salah apapun pada Mami Athalla. Dia hanya tidak suka jika anaknya berhubungan dengan orang yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Mami Athalla menginginkan gadis yang juga bisa menjunjung nilai kehormatan keluarganya.
Namun, nyatanya, semua itu tidak berguna jika seorang gadis tidak mempunyai budi pekerti luhur. Tingkah laku yang baiklah yang akan menjunjung tinggi nilai sebuah keluarga bukan soal kekayaan.
Mami Athalla seolah tertampar dengan perbuatan Kania yang tidak memandang rendah dirinya karena telah melarang anaknya berhubungan dengannya. Sungguh, Mami Athalla merasa sangat malu sekali pada Kania.
"Athalla, telepon Kania dan suruh ke sini, Nak. Mami ingin bertemu dengannya. Mami ingin berterima kasih padanya sendiri. Mami merasa, mami malu. Mami juga ingin meminta maaf padanya," ucap Mami dengan wajah penuh penyesalan.
Mendengar hal ini, membuat Athalla mengembangkan senyumnya. Dalam hati Athalla, dia bersyukur karena Yang Maha Kuasa telah membukakan pintu hati maminya. Menarik sudut bibirnya ke atas, dia segera mengambil ponselnya yang diletakkan di atas nakas. Pria itu pun menelepon Kania saat ini juga.
Athalla memilih menyingkir, agar apa yang dia bicarakan tidak terdengar oleh maminya karena sejujurnya, Athalla masih malu pada Kania.
"Hallo, Kania?"
"Iya, ada apa, Mas Athalla?" Athalla sangat merindukan suara dari seberang telepon. Ia pun senyum-senyum sendiri.
"Kania, mami menyuruhku untuk menghubungimu. Dia ingin mengucapkan rasa terima kasihnya padamu langsung. Jadi, kapan kamu akan ke sini lagi, Sayang? Aku juga kangen!"
Kania tampak berpikir, tapi secepat itu menjawab, "Besok aku bisa terbang ke Jakarta untuk menemui mami, Mas. Baru aja berpisah dua hari. Masa udah kangen aja."
"Jangankan dua hari, satu jam saja aku sudah sangat kangen."
"Gombalnya receh banget, Mas. Nanti aku cari tiket dulu, Mas. Aku mau lanjut kerja dulu. Aku kelarin pekerjaanku."
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih, Sayang." Athalla langsung memutuskan sambungan telepon dan kembali pada maminya.
"Sudah?" tanya mami Athalla saat Athalla memasuki ruangannya.
"Sudah, Mi."
"Kamu kenapa? Kenapa pipimu memerah?" tanya mami Athalla penasaran.Dia tidak pernah melihat Athalla salah tingkah seperti ini. Apa ini karena dia menyuruhnya untuk menghubungi Kania dan menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit? Rupanya, efek Kania begitu besar di hidup Athalla. Pantas saja, anak itu masih sendiri setelah saat putus dari Kania. Rupanya, Kania sangat membekas di hati Athalla.
Athalla masih diam saja. Senyum-senyum sendiri atas apa yang mami-nya ucapkan. Tidak menyangka, sebentar lagi akan bertemu dengan Kania lagi.
Hatinya sudah berdebar tak karuan. Rasanya seperti saat pertama bertemu dengan Kania.
Setelah keesokan harinya, Kania datang ke rumah sakit untuk memenuhi panggilan yang mami Athalla bicarakan pada Athalla kemarin. Kania kini berada di ruang inap mami Athalla dan duduk di sebelah ranjang dengan Athalla duduk di sofa. Mami Athalla memegang tangan Kania dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Tante. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat disayangi. Makanya, aku tidak mau Athalla merasakan apa yang aku rasakan. Dan semoga, Athalla tidak akan mengalaminya."
Kania memang tidak ingin Athalla mengalami hal yang serupa dengan yang Kania alami, kehilangan kedua orangtuanya untuk selama-lamanya tapi juga tidak ingin Athalla mengalami seperti yang dirinya rasakan. Kehilangan Athalla merupakan kehilangan terbesar kedua setelah Kania kehilangan kedua orangtuanya. Dia tidak ingin, orang yang dia paling cintai ini merasakan hal yang sama seperti dirinya dulu.
Mendengar itu, Athalla menatap Kania dengan tatapan entah bagaimana. Antara sedih dan bahagia. Sedih karena mendengar kisah Kania, tetapi bahagia karena Kania selalu memperhatikan dirinya. Memilih untuk keluar dari ruangan, Athalla tidak sanggup berdebar terus menerus saat mendengar jawaban yang Kania berikan pada maminya.
Kepergian Athalla sempat dilirik Kania, mami Athalla pun membiarkan Athalla keluar dari ruangan agar keduanya bisa mengobrol lebih intim lagi. Mami Athalla ingin mengetahui kehidupan Kania lebih jauh lagi. Karena selama ini, dia telah membenci Kania tanpa dasar dan ternyata dia lah orang yang sudah menolongnya dari keadaan kritisnya, antara hidup dan matinya.
"Kania, Tante minta maaf atas kejadian kamu dengan Athalla. Tante berperan besar dalam kandasnya hubungan kalian."
"Tidak usah dibahas, Tante. Tidak apa-apa. Orangtua mungkin ingin mendapatkan yang terbaik dari yang paling baik untuk anaknya." Kania mengusap-usap tangan mami Athalla yang masih betah memegang tangan kanannya.
__ADS_1
Mami Athalla tersenyum, canggung. Seorang Kania saja bisa memahami dirinya, tetapi mami Athalla tidak bisa memahami anaknya, tidak bisa mengerti gejolak kawula muda. Padahal dirinya sudah lebih dulu merasakan menjadi anak muda dulu.
"Kamu sekarang tinggal di Singapura? Berarti bolak-balik dari Singapura Indonesia?"
Kania tersenyum, kikuk. Ia merasa tidak enak hati untuk menjawabnya. "I-iya, Tante."
"Tante kira kamu masih di Indonesia. Bagaimana dengan orangtua kamu? Mereka mengizinkan kamu untuk tinggal di sana?" Keterkejutan itu membuat Kania menarik sudut bibirnya ke bawah. Kania harus mengingat kedua orangtuanya lagi karena pertanyaan mami Athalla. "Kenapa, Kania? Ada yang salah dengan pertanyaan tante? Maaf maaf, tante tidak bermaksud—."
"Tidak apa-apa, Tante. Mungkin memang Kania harus mengikhlaskan kepergian mereka saat orang lain tidak tahu apa yang telah menimpa Kania dengan kedua orangtua Kania. Orangtua Kania sudah meninggal, Tan," potong Kania saat mami Athalla ingin menjelaskan apa yang tidak diketahuinya tentang keluarga Kania.
Kedua tangan mami Athalla berubah untuk berada di atas tangan Kania, meremas-remasnya dengan sedikit kuat. Mencoba memberikan kekuatan untuk Kania menghadapi kenyataan jika memang kedua orangtuanya telah tiada.
Kania menarik sudut bibirnya ke atas sedikit, mencoba untuk terlihat baik-baik saja dan memberikan tanggapan pada mami Athalla kalau dirinya memang baik-baik saja. "Mama dan papa kecelakaan saat mereka pergi ke pasar, Tante. Mereka berdua saat berada di pasar, ditabrak oleh pengendara mobil lain yang melintasi jalan tersebut. Mungkin kedua orangtua Kania tidak hati-hati saat menyeberang atau tidak melihat jika ada mobil yang akan lewat." Bibirnya bergetar saat Kania mencoba untuk tersenyum. Ia tidak menyangka jika untuk mengikhlaskan kepergian kedua orangtuanya sangat sesulit ini.
Melihat hal ini, mami Athalla terkejut. Dia tidak menyangka dengan penjelasan Kania. Kejadian ini menariknya seperti kisah masa lalu yang terjadi dengan suaminya sendiri.
Melihat Kania memaksakan senyum untuk menceritakan kesedihannya membuat mami Athalla merasakan kesedihannya. Hati mami Athalla seperti teriris rasanya. Dia juga tidak sanggup jika perkiraannya benar. Mami Athalla terlihat penasaran dengan kondisi korban saat itu, dan di pasar mana kedua orangtuanya mengalami kecelakaan.
Mami Athalla ingin menanyakannya tetapi takut akan respon Kania yang akan menyelidikinya. Mami Athalla masih diam membisu, merasakan kesedihan yang ia alami saat mendengar kisah yang Kania bagikan untuknya.
...****************...
Selamat Pagi. Selamat liburan. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.
__ADS_1