NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 58. Kecelakaan


__ADS_3

Pagi itu, di rumah Mami Athalla sudah banyak orang yang berkumpul. Teman-teman sosialita Mami akan mengadakan arisan.


Untuk itu, Mami sudah menyiapkan beberapa makanan untuk mereka semua. Mereka terlihat sedang berbincang ria membicarakan hal random seperti ibu-ibu pada umumnya. Mulai dari anak hingga keseharian mereka di rumah saat orang-orang sudah berangkat ke kantor.


“Iya, Bu. Cucu saya sekarang udah pinter lari-lari. Saya kadang suka takut sendiri dia kan baru bisa jalan. Takut tiba-tiba jatuh. Anak sekecil itu kan kulitnya masih tipis.” Seseorang di antara mereka mulai membeberkan tentang bagaimana perkembangan cucunya. Biasanya, ini adalah awal dari segala bentuk masalah.


“Kalau cucu saya sih udah pinter ngitung, Bu. Kadang dia juga ngafalin huruf A-B-C gitu. Lucu deh lihatnya, soalnya lagi imut-imutnya.”


Ibu yang sebelumnya mengambil gelas berisi sirup dan meneguknya pelan. Tampak sekali dia sudah mulai sedikit kesal karena temannya itu seperti ingin agar cucunya terlihat lebih pintar. Namun, dia masih menyembunyikannya dengan tersenyum dan menanggapi sedikit cerita temannya itu.


“Cucu saya biasanya dia nyanyi lagu Inggris, Bu. Kalau suka denger di TV terus diikutin. Pinter banget Bu, memang anaknya,” ucap Ibu sebelumnya tidak ingin cucunya kalah saing.


“Kemarin cucu saya Bu ikut lomba menggambar, terus juara satu. Memang sih, gambarnya itu Bu bagus banget untuk anak seusia itu.” Sepertinya perbandingan ini tidak akan memiliki akhir. Tampak ibu yang satu tadi sedang berpikir keras, apa lagi yang perlu di banggakan dari cucunya.


“Pinter banget Bu, memang sih setiap anak itu punya kecerdasannya sendiri. Cucu saya kan pinter bahasa Inggris, jadi dia nggak terlalu jago menggambar.” Jalan terakhir yang sangat mulus, tetapi tetap saja menimbulkan rasa malu. Kemenangan berada di pihak ibu ke dua tadi.


“Maminya Athalla gimana nih? Tinggal Ibu loh yang belum punya cucu. Athalla-nya kapan nikah? Katanya pertunangan udah putus, ya? Udah punya calon baru nggak, Bu?” lanjut Ibu pertama yang sekarang memojokkan Mami Athalla yang sejak tadi hanya diam mendengarkan mereka.

__ADS_1


Mami Athalla tertegun saat mereka semua tiba-tiba menatap ke arahnya. Dia hanya bisa tersenyum kecut. “Iya nih, saya sudah sering ngomong ke Athalla buat cepat-cepat nikah. Tapi dia katanya mau fokus kerja, Bu. Maklum, usaha dia lagi bagus. Banyak investor yang ngantri buat investasi di perusahaan dia. Soalnya kinerja Athalla kan bagus, Bu. Perusahaannya juga bukan perusahaan kecil lagi.” Hal yang terlihat sangat jelas dari sosok Athalla. Sepertinya penjelasan itu mampu membuat ibu-ibu di sana diam seribu bahasa. Sampai salah satu dari mereka mengalihkan ke topik lain.


Namun, tetap saja pertanyaan itu menimbulkan rasa sakit di hati Mami Athalla. Dia juga ingin melihat putranya itu menikah dan memiliki anak. Dia sangat ingin menggendong cucu. Tapi, Athalla sama sekali tidak ingin menikah jika bukan dengan Kania dan itu membuatnya pusing sendiri.


***


Semua masalah yang terjadi belakangan ini tentu saja membuat Mami Athalla sedikit banyak pikiran. Mungkin karena itu, dia memilih untuk pergi berbelanja hari ini untuk sekedar menenangkan pikirannya. Menghilangkan semua beban itu sejenak dan menikmati hidup.


Mami Athalla kini sudah berada di mal yang tidak berada jauh dari rumahnya. Dia pergi sendiri kali ini. Beberapa jinjingan sudah ada di tangannya. Namun, Mami Athalla sepertinya belum lelah untuk terus mencari barang yang kiranya dia inginkan. Hampir semua toko sudah didatangi oleh Mami Athalla.


“Ini yang warna merah ada, Mbak?” tanya Mami Athalla menanyakan baju yang kini dipegangnya. Ini sebuah gaun selutut yang tampak sangat elegan. Mungkin akan cocok dengan salah satu kalung koleksinya.


“Ya udah deh, Mbak,” ucapnya lalu pergi dari sana. Setelah dipikir-pikir lagi, tidak akan terlihat bagus jika gaun itu berwarna hitam. Jadi, Mami Athalla memilih untuk tidak membelinya saja. Dia kembali berkeliling mencari barang lain yang bisa menyita perhatiannya.


Entah berapa lama waktu yang Mami Athalla habiskan untuk berbelanja, kini tangannya sudah sedikit penuh dengan paper bag. Namun, tampaknya Mami Athalla tidak memiliki tanda-tanda akan segera pulang.


Bahkan sekarang, Mami Athalla bertemu dengan teman-teman sosialitanya di mal sehingga membuat aktivitas belanjanya menjadi lebih lama. Mereka sempat mengobrol di salah satu cafe di sana lebih dahulu. Namun, tampaknya itu tidak berlangsung lama. Teman-teman Mami Athalla sedikit demi sedikit mulai pamit untuk pulang.

__ADS_1


Tinggallah Mami Athalla di cafe itu sendiri. Rasanya, wanita itu tidak ingin pulang saat ini. Mami Athalla sedikit lelah dengan suasana di rumah yang selalu dipenuhi ketegangan.


Sejenak dia ingin menghirup udara segar tanpa harus membuat urat lehernya menegang. Mami Athalla sedikit lelah dengan tingkah putranya yang seperti telah dibutakan oleh cintanya kepada Kania.


Kalau saja Athalla sedikit mendengarkannya, mungkin anak itu sudah menjadi lebih bahagia dan dirinya juga. Daripada terjebak dalam dunianya sendiri, menutup semua pintu masuk untuk orang lain. Agak sedikit disayangkan karena Athalla yang cerdas itu malah menjadi bodoh karena cinta.


Sore mulai menjelang, Mami Athalla akhirnya memutuskan untuk pulang. Mami Athalla kembali menjinjing semua paper bag miliknya agar bisa dibawa pulang. Dia berjalan dengan santai keluar dari mal. Di parkiran, Mami Athalla memasukkan semua belanjaannya ke dalam bagasi.


Baru saja akan pulang, tempat roti bakar yang ada di seberang mal menarik perhatian Mami Athalla. Karena itu, dia menunda kepulangannya dan bergegas untuk membeli roti bakar lebih dahulu. Mami Athalla berjalan dengan langkah cepat menyeberangi jalanan.


Mungkin karena kurang fokus, sebuah mobil berjalan cepat ke arahnya dan menabrak keras Mami Athalla hingga terpental. Kepala Mami Athalla membentur aspal keras hingga banyak darah yang berceceran di sana. Mami Athalla sudah tidak memiliki kesadaran lagi.


Kecelakaan itu membuat banyak orang berkumpul ingin melihat apa yang sedang terjadi. Hingga seseorang di antara mereka berinisiatif untuk memanggil ambulance.


Tidak membutuhkan waktu lama hingga sebuah mobil ambulance datang dan membawa tubuh Mami Athalla untuk diberikan perawatan. Mobil ambulance dengan suara sirine khasnya melintasi jalanan kota dengan kecepatan penuh.


Sementara petugas yang ada di dalam mobil ambulance berusaha menutup luka yang ada di kepala Mami Athalla agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi.

__ADS_1


Bahkan alat pernapasan sudah terpasang di wajah Mami Athalla. Tinggal menunggu waktu sampai mereka tiba di rumah sakit dan Mami Athalla bisa mendapatkan perawatan lanjutan.


...****************...


__ADS_2