NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 64. Korban Kecelakaan


__ADS_3

Mami Athalla lekas menggenggam kedua tangan Kania, yang sebelumnya Kania sudah meletakkan mangkoknya ke atas nakas. Mami Athalla tidak tidak menyangka jika anak gadis ini adalah anak dari korban kecelakaan itu. Tiba-tiba saja kedua netranya melepaskan cairan asin yang sudah mengganjal sejak tadi.


Hal ini membuat Kania bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. "Tante? Tante kenapa? Kok, menangis?" Kania heran, tiba-tiba mami Athalla menangis dan menggenggam kedua tangannya dengan erat sekali.


"Kania, maafkan tante, Sayang. Tante sangat-sangat minta maaf ke kamu."


"Ada apa, Tante? Tante tidak salah." Tepat saat Kania mengatakan ini, Athalla memeriksa maminya kembali apakah bubur yang dimakannya telah habis atau belum.


"Kedua orangtuamu mungkin adalah korban dari kecelakaan itu. Papi Athalla yang telah menabrak kedua orangtuamu, Kania."


Seperti tersambar petir. Akhirnya, Kania mengetahui siapa penabrak yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya. Orang yang paling berharga bagi Kania, orang yang sangat Kania sayangi melebihi apapun di dunia ini. Hidup dan mati bagi Kania.


Kania seperti orang linglung dan hilang arah saat kejadian itu. Dia tidak menyangka jika pelaku utamanya adalah dari orangtua terdekatnya, papi Athalla.


Kesedihan itu kembali lagi. Dunia Kania seperti terulang kembali mendapati kabar bahwa papi Athalla yang menabraknya. Dia pun segera berdiri, dan melepaskan paksa genggaman tangan mami Athalla.


Athalla berdiri agak jauh dari tempat Kania duduk, melihat kedua netra dan hidung maminya memerah, cairan bening itu menetes di kedua pipi maminya, Athalla menghentikan langkahnya saat maminya mengatakan hal itu. Dia sendiri juga kaget jika papinya merupakan tersangka utama dari kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtua Kania.

__ADS_1


Kania berlari menabrak lengan Athalla, hingga bahunya goyang. Tidak menghiraukan jika Athalla sejak tadi berdiri di tempatnya. Kania terus berlari hingga suara pergerakan pintu terdengar dan Kania sudah hilang di balik pintu. Kania kembali ke hotelnya tempat menginap, tidak jauh dari rumah sakit.


Kania menangis dalam keadaan berlari dari rumah sakit menuju hotelnya. Rasa kecewa itu kembali memasuki hatinya. Dia tidak menyangka, masih tidak menyangka jika pelaku utama itu adalah papi Athalla. Berhenti sejenak untuk menghirup banyak-banyak oksigen dan melepaskan hal yang mengganjal di hatinya. Kania masih saja terus menangis untuk melepaskan hormon estrogen dalam tubuhnya.


Kania ingin, kesedihan ini tidak berlarut dan mengingatkan dirinya akan kecelakaan itu. Kania hanya ingin mengingat hal-hal bahagia yang telah kedua orangtuanya torehkan dalam hidupnya selama mereka masih bersama dulu.


Dulu, saat Kania masih kecil. Papa dan mamanya selalu memberikan hadiah kecil berupa mainan atau buka bergambar yang nantinya akan diwarnai Kania sendiri. Hal itu sudah membuat Kania sangat bahagia. Ia ingat betul, saat itu, saat dirinya meraih juara tiga di kelasnya. Kedua orangtuanya sangat bangganya. Tidak melulu menuntut Kania untuk menjadi nomor satu di kelas, yang terpenting Kania paham dengan apa yang gurunya terangkan saat pelajaran. Tidak mendapat juara pun tidak menjadi masalah bagi kedua orangtuanya. Karena, Kania akan tetap menjadi nomor satu di hati kedua orangtuanya.


Mengingat hal itu lagi, semakin membuat Kania merasa bersalah karena baru saja menemukan siapa pelaku utama yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya. Kania merasa menjadi anak yang tidak berguna untuk kedua orangtuanya.


Suara bising dari beberapa kendaraan yang berlalu lalang tidak membuat Kania terganggu dalam tangisannya. Banyak pasang mata juga yang melihatnya heran dan aneh karena menangis di jalanan sepanjang pinggir jalan menuju hotel. Kania tidak peduli dengan semua itu. Yang dia pedulikan hanyalah tangisan terakhir, yang akan mengeluarkan semua hormon estrogen yang bisa memicu kesedihan berkepanjangan seperti saat ini. Kania berharap jika kejadian ini akan menjadi yang terakhir baginya.


Di tempat Athalla berdiri, dia sendiri terkejut dengan pengakuan maminya. Athalla mendekat, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan mami menganggukkan kepala. Membenarkan apa sudah Athalla dengar jika papinya pelaku korban kecelakaan itu yang membuat kedua orangtua Kania meninggal dunia.


Tanpa berpikir panjang, Athalla pergi menuju hotel tempat Kania menginap. Athalla tahu karena dia sempat menanyakan pada Kania saat tiba di rumah sakit. Dia menuju kamar hotel tempat di mana Kania menghabiskan sisa harinya sebelum memulai hari selanjutnya.


Beberapa kali memencet bel, menunggu hingga beberapa menit, pintu itu belum juga terbuka. Namun, Athalla masih setia menunggu di depan pintu kamar Kania. Athalla sangat yakin, jika Kania kembali ke hotel karena Athalla masih ingat jelas jika wanita itu bersedih atau marah akan dilampiaskan dengan bersih-bersih seluruh rumah dibandingkan ke hal-hal negatif.

__ADS_1


Athalla mengulang lagi untuk memencet bel, hingga pintu itu terbuka menampilkan sosok Kania dengan peluh di jidat serta rambutnya yang dikuncir, tetapi dengan kedua matanya yang sembab. "Silakan masuk, Mas!" Terdengar suara serak yang keluar dari mulut Kania. Athalla memaklumi hal itu.


"Silakan duduk, Mas! Mau minum apa? Tapi, di sini hanya ada air putih dingin, tidak ada yang lain." Pertanyaan itu membuat Athalla paham dan saat ini bukan itu yang akan Athalla ingin dengar dan ucapkan.


Athalla ingin mendengar semua kesedihan yang Kania rasakan juga ingin mengucapkan atas apa yang telah menimpa Kania karena ulah papinya.


"Kania, sini duduk dulu!" perintah Athalla yang langsung dituruti Kania.


Saat Kania duduk, Athalla memberanikan diri untuk mengucapkan apa yang sudah seharusnya diucapkan oleh keluarga pelaku pada pihak keluarga korban atas kecelakaan itu.


"Aku minta maaf, Kania. Aku sangat-sangat minta ke kamu atas nama almarhum papi. Karena kecelakaan itu, membuat kamu kehilangan kedua orangtuamu." Athalla yang semula menatap lekat pada wanita yang duduk di sebelahnya itu kini menundukkan kepala.


Kania paham dengan apa yang dialami Athalla. Meskipun kecewa masih tersirat pada dirinya, dia juga tidak membenarkan atas perilakunya jika ini juga bukan kesalahan dia. Ini adalah murni kecelakaan. Kania pun berani menatap Athalla. "Bukan salah kamu, Mas Athalla. Ini juga bukan salah papi kamu. Ini murni kecelakaan. Tidak ada yang salah atas kejadian ini."


Mendengar hal itu, Athalla mendongakkan kepalanya untuk menatap wanita yang sangat dicintainya itu. Rasa cinta dan sayangnya tidak salah telah berlabuh pada Kania karena besarnya hati Kania untuk memaafkan atas kejadian yang menimpa kedua orangtua mereka.


"Aku memang sempat kecewa, tapi kini sudah tidak lagi. Setelah memikirkan semuanya, tidak seharusnya aku kecewa atas pengakuan mami kamu, Mas. Orangtuaku juga salah saat itu. Tidak ada yang perlu dibenarkan sama sekali." Karena rasa cintanya pada Athalla, membuat Kania bisa berpikir dewasa untuk tidak memperpanjang masalah ini. "Aku sudah memaafkan kamu dan juga orangtuamu, Mas. Maaf, tadi langsung meninggalkan tante sendirian di ruangannya."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2