
Mengalami keterkejutan yang Kania ucapkan. Mami Athalla masih memproses semuanya. Dari kejadian suaminya yang dulu menabrak sepasang suami istri dan membandingkannya dengan kejadian yang di alami kedua orangtua Kania. Atau ini hanya kebetulan saja? Sayangnya, Mami Athalla tidak menganggap jika ini semua hanya kemiripan atas kejadian yang dulu dialami papi. Hatinya mengatakan dengan lantang jika suaminya lah yang saat itu menabrak kedua orangtua Kania.
Kania menatap raut wajah mami Athalla sedikit berbeda. Mungkin dia juga merasakan kesedihan yang Kania rasakan. Kania tidak ingin membagikan kesedihannya pada orang lain. Dia hanya ingin menceritakan kejadian kedua orangtuanya yang alami sesuai pertanyaan yang diajukan mami Athalla, tidak bermaksud untuk menariknya ke dalam cerita ini.
Kania melepaskan kedua tangan mami Athalla. Menghapus sedikit cairan bening yang tiba-tiba saja lolos membasahi pipinya. Kania benar-benar tidak bermaksud membuat cerita sedih di sini. Ia tidak ingin, kesehatan mami Athalla terganggu dengan ceritanya. "Apa, sih. Malah menceritakan kisah sedih yang sudah berlalu. Aku jadi nangis lagi," tutur Kania sambil menghapus air matanya.
Kedua tangan mami Athalla berada di atas perutnya yang terselimuti selembar kain. Mami Athalla menatap ke atas, mungkin tidak ingin melihat kesedihan yang Kania alami dan ikut mengalami kesedihannya. Kania paham itu. Meskipun, sesekali menatap Kania dengan tatapan yang entah bagaimana. Tetapi, Kania paham. Kania juga tidak ingin menceritakannya lagi jika mami Athalla tidak ingin mendengarnya.
"Tidak apa-apa, Kania. Jika sedih, luapkan. Jika bahagia salurkan. Agar yang ada di dalam hatimu tidak menumpuk dan menjadikannya penyakit hati jika tidak disalurkan. Tante benar-benar minta maaf telah mengungkit kisah masa lalumu dengan menanyakannya lagi."
"Tidak, Tante. Bukan salah, Tante. Memang Kania yang cengeng jika menyangkut orangtua. Kania selalu menangis jika orang lain bertanya, bukan hanya saat Tante saja yang menanyakannya. Kania juga bingung, kenapa bisa seperti ini. Mungkin Kania terlalu sangat menyayangi mereka, karena mereka harta satu-satunya yang Kania punya. Tidak ada lagi yang Kania miliki saat ini selain kenangan bersama mereka."
Hati mami Athalla mencelos lagi mendengar penuturan Kania. Sepertinya, memang bener orang yang ditabrak suaminya dulu adalah kedua orangtua Kania. Tetapi, mami Athalla sedikit bingung untuk menanyakan kepastian yang terjadi saat itu. Dia tidak mungkin tiba-tiba mengatakan jika yang terjadi saat itu adalah suaminya yang menjadi pelaku utama, bukan? Kania akan bingung dan mungkin langsung membenci dirinya saat langsung mengatakannya.
Mami Athalla harus memilih kata-kata yang sedikit sopan dan tidak terlalu terkesan memperlihatkan jika dirinya benar-benar penasaran dengan kejadian saat itu. Beberapa menit memikirkan itu, membuat mami Athalla tidak mendengar apa yang sedang Kania tanyakan.
"Tante?" panggil Kania lagi. Mami Athalla terlihat bingung dan gelagapan saat menjawab panggilan dari Kania yang sudah kedua kalinya.
"I-iya, Kania? Ada apa?"
"Itu, Athalla memanggil Tante," tunjuk Kania pada Athalla yang sudah berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
Mami Athalla terlihat bingung, dia pun menoleh pada Athalla yang sudah berdiri di samping ranjang tempatnya tidur. Kedua netranya menatap Athalla, seperti tatapan kosong dan linglung.
"Mami, kenapa? Apa yang terjadi?" Athalla bingung dengan keadaan maminya. Tangannya pun memeriksa keadaan keningnya, tidak panas. Memeriksa lehernya, juga tidak demam.
"Tidak apa-apa. Kamu kenapa kemari? Mami sama Kania belum selesai mengobrol, Athalla."
"Mami jangan lupa makan. Itu bubur masih ada di nakas belum disentuh. Obat juga belum diminum." Athalla sangat rajin untuk memeriksa obat sudah diminum maminya atau belum, karena itu adalah penunjang kesembuhan untuk maminya agar segera keluar dari rumah sakit ini. Athalla dan Kania sama-sama melihat ke atas nakas, bubur yang masih utuh belum tersentuh sama sekali.
"Biar Kania saja yang menyuapi, Tante." Kania menawarkan diri, berdiri mengambil buburnya. "Kamu bisa keluar lagi kalau Tante tidak ingin kamu mendengar obrolan kami, Athalla." Sedikit tersenyum dan berdebar secara bersamaan. Jika Athalla di sini, jantungnya benar-benar tidak aman.
Berada di dekat Athalla membuatnya grogi dan terus menerus berdebar, seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Kania tidak ingin Athalla mendengar suara detak jantungnya. Terlebih, bersenggolan tangan saat mengambil mangkok bubur di atas nakas tadi. Membuat pipi Kania timbul semburat merah seperti tomat yang sudah matang ditempelkan pada ke kedua pipinya. Kini, Kania lebih memilih untuk menunduk karena tahu jika pipinya memerah karena terasa panas akan afeksi yang terjadi baru saja.
"Iya, pasti. Ada Kania yang bisa merawat mami." Saat ini, kata-kata itu terdengar manis dan membuat kupu-kupu melayang bebas di perut Athalla juga Kania. Apakah ini pertanda hubungan keduanya akan bertambah membaik? Keputusan ini hanya bergantung pada mami Athalla, karena Athalla juga sudah menetapkan akan menikahi Kania.
Kania pun tetap tidak berani menatap kedua netra Athalla, masih menatap mangkok yang dipegangnya hingga Athalla meninggalkan ruangan dan Kania bisa melihat sendiri sudah tidak ada Athalla di sebelahnya.
"Dia sudah keluar," ucap mami Athalla memberitahu Kania agar menaikkan pandangannya dari menatap mangkok yang dipegangnya.
"Iya, Tante." Kania segera menyuapkan buburnya pada mami Athalla.
Mami Athalla jadi teringat lagi akan sosok yang ditabrak suaminya dulu. Dulu kejadian ini terjadi saat di Bandung, di pasar tradisional. Entah bagaimana kejadian detailnya, yang jelas papi saat itu menabrak korban sepasang suami istri hingga meninggal dunia dan di makamkan tidak jauh dari pasar tersebut.
__ADS_1
Mami Athalla tidak menyangka, jika benar Kania anak dari pasangan korban tabrakan itu, mami Athalla merasa jika dunia sedang menghukum dirinya karena sifatnya yang terlalu mengejar duniawi. Ingin menanyakan lagi, tetapi rasa takut itu tiba-tiba menghantui seluruh tubuhnya. Mami Athalla merasa tidak sanggup mengeluarkan kata-katanya karena tiba-tiba saja, tenggorokannya tercekat hingga membuat Kania bingun dan segera mengambil air putih di atas nakas dan memberikannya pada mami Athalla.
"Maaf, Tante. Sampai membuat Tante kehausan." Kania tidak menyadari jika hal ini bukan karena mami Athalla kehausan melainkan karena kejadian lampau mengingatkan dirinya akan kejadian yang dialami suaminya dulu.
Sedikit memberanikan diri untuk menanyakan di mana lokasi kejadian ini, mami Athalla terbata-bata saat mengatakannya. "Di-di mana lokasi kejadian itu, Kania?"
Kania sedikit terkejut karena tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari bibir ranum milik mami Athalla. Sedikit bingung, Kania menanyakan pertanyaan yang dimaksud mami Athalla. "Maksudnya, Tan?"
"Ke-kejadian kecelakaan kedua orangtuamu itu."
"Kenapa Tante jadi terbata-bata? Itu dulu di pasar tradisional Bandung, Tan. Sudah lama. Aku tidak ingin membahasnya lagi."
"Siapa nama kedua orangtuamu." Seperti mendapat dengungan yang sangat kencang. Mami Athalla sudah tidak fokus dan tidak mendengar apa yang diucapkan Kania lagi. Ia merasa dunianya runtuh saat itu juga.
Saat Kania menjawab, mami Athalla hanya bisa mengerti dari pergerakan bibir yang Kania ucapkan jika nama kedua orangtua Kania adalah benar-benar korban dari kecelakaan yang menimpa suaminya dulu. Dia tidak menyangka jika anak gadis yang duduk di sebelahnya adalah anak dari korban kecelakaan itu.
...****************...
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.
__ADS_1