NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 23. Makan Malam.


__ADS_3

Athalla menunggu Kania selesai mandi di lobi hotel. Mereka akan malam malam di luar sambil jalan-jalan.


Athalla meminta Kania jangan selalu mengingat masa lalu lagi. Karena setiap manusia pasti punya kekurangan.


Malam ini sangat menbahagiakan bagi Athalla. Pasalnya, mereka akan menghabiskan malam romantis saat menikmati makan malam berdua nanti.


Berada di bilangan Sudirman, di lantai 36 sebuah gedung tinggi yang ada rooftopnya. Menikmati makan malam sekaligus pemandangan indahnya kota yang tidak pernah tidur.


Meletakkan kain kecil di atas pahanya, Athalla memberikan sepotong daging yang Kania sendiri tidak memesannya. Ingin Kania mencicipi apa yang Athalla makan adalah satu dari kebahagiaannya.


Apa yang dipakai atau dimakan Kania, Athalla juga ingin memakai atau memakannya. Mungkin terdengar sangat bucin, tapi itulah kenyataannya. Cintanya pada Kania sudah melebihi batas kewajaran normal mungkin bagi orang lain yang memandangnya, namun tidak bagi Athalla.


"Enak, tidak dagingnya?" tanya Athalla pada Kania yang telah mengunyah dagingnya.

__ADS_1


"Mas Atha, ini baru masuk mulut, lho. Belum masuk ke perut," tunjuk Kania pada mulutnya sendiri.


Kania terlihat menikmati potongan daging yang diberikan Athalla, mengunyahnya hingga lembut kemudian ditelan. Ia tampak menikmatinya. "Enak, kok. Ini tadi apa namanya?"


"Tenderloin steak nama gampangnya. Ini medium, bukan welldone. Kalau welldone nanti rasanya seperti daging dimasak teriyaki," jelas Athalla dengan memakan dagingnya satu potong. "Apapun yang aku makan, aku pakai itu kamu harus mencobanya, Nia. Kita akan hidup bersama nantinya. Aku tidak ingin membuat diriku bahagia sendirian, harus ada kamu di sampingku yang merasakan kebahagiaan itu juga." Diusapnya pipi kiri Kania, menandakan rasa sayangnya yang amat dalam.


Kania memejamkan kedua matanya sejenak, untuk merasakan usapan lembut pada pipi kirinya. Dipegangnya tangan kanan Athalla menggunakan tangan kirinya. "Jangan pernah berubah, ya, rasa sayang dan cinta kamu buat aku? Aku hanya memiliki kamu di hidupku."


Anggukan dari Athalla sebagai jawabannya cukup membuat Kania merasakan rasa sayang dan cinta itu.


"Kania, mau kamu menjadi satu-satunya wanita yang mengisi hatiku di sisa hidupku ini? Menjadi ibu dari anak-anakku kelak? Serta menjadi wanita yang setia mendampingiku hingga akhir hayat nanti?" Kepala Athalla menatap manik mata Kania. Seperti memohon untuk menerima pernyataan ajakan menikahnya. Meskipun Athalla sudah mengetahui isi hati Kania, namun Athalla ingin melakukan ini untuk orang spesialnya.


Kedua netranya terasa panas. Ada tumpukan air yang menggenang di pelupuk matanya. Kania tidak bisa untuk tidak menangis terharu mendapat perlakuan seperti ini. Rasanya seperti dalam cerita dongeng yang selalu ia impikan. Kania pun berdiri, dan menarik kedua tangan Athalla untuk berdiri.

__ADS_1


"Dijawab dulu, Sayang!" ucap Athalla meminta jawaban dari Kania.


Menangis tersedu, namun dirinya malah tersenyum bahagia. Perasaan ini, perasaan yang baru saja Kania rasakan adalah yang pertama kalinya wanita itu rasakan selama hidupnya.


Kania belum pernah merasakan perasaan ini dan perlakuan yang Athalla lakukan untuknya saat ini. "Kamu terlalu sempurna untuk aku yang banyak memiliki kekurangan ini. Aku menerimamu dengan segala kekuranganmu yang anehnya, kamu tidak memiliki kekurangan itu. Kamu terlalu baik dan sempurna. And I said yes," jujurnya yang membuat Athalla langsung memeluk erat tubuh Kania setelah memakaikan cincin itu jari manisnya.


Pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua memberikan buket bunga pada Athalla yang telah dipesan untuk Kania. Pria itu pun melepas pelukannya sejenak untuk menerima buket bunga tersebut lalu diberikan pada Kania. "Bunganya harum," tutur Kania sembari menciumi bunga yang dia genggam. Kania lalu memeluk Athalla sekali, dan menangis haru tak percaya dengan semua ini.


Ternyata tanpa setahu Kania, Athalla memang merencanakan semua ini. Itulah alasan kenapa Athalla memaksa Kania ikut.


Baru kali ini Athalla sebagai pria bisa menangis bahagia. Seumur hidupnya, Athalla tidak pernah menangis untuk orang lain. "Terima kasih, ya. Sudah mau menerimaku," bisiknya di telinga Kania. Sunggingan senyum itu terus merekah di bibir Athalla. Dipeluknya semakin erat tubuh wanita mungil yang berdiri di hadapannya.


Athalla dan Kania memghabiskan menu makan malam dengan sangat romantis.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2