NODA MASA LALU

NODA MASA LALU
Bab 31. MENCIUM BAU-BAU PERCINTAAN PUTRANYA


__ADS_3

Sejak kemarin Athalla tidur di rumah kediaman orang tuanya. Athalla ingin mengatakan tentang hubungannya dengan Kania. Namun, dia ingin menunggu waktu yang tepat.


“Dimakan dulu, Nak.” Seorang wanita paruh baya meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan sang anak.


Athalla menoleh ke arah wadah berkelir putih tersebut, lalu mengangguk mantap. Namun, matanya tak lepas dari gawai yang tergenggam di tangan. Jemari kokohnya juga sibuk menari-nari di atas sana.


Sosok yang kerap dipanggil Athalla dengan sebutan Mami itu sontak menautkan sepasang alis. Semenjak tadi, Athalla terlalu sibuk dengan ponsel. Entah siapa yang dia hubungi. Membuat maminya bertanya-tanya dalam hati.


Wanita itu menyantap lebih dulu hidangan yang telah ia sajikan di meja. Begitu suapan kelima, putranya tak kunjung sarapan. Dia senantiasa memandang layar benda pipih tersebut. Anehnya, sepasang sisi bibir Athalla melengkung, membentuk alfabet U. Athalla seperti orang yang sedang kegirangan.


“Kamu kenapa, hem?” Maminya bertanya.


Suara wanita di hadapan memecahkan aktivitas Athalla. Dia melongo ke arah piring sang Mama yang telah berkurang isinya, sementara makanannya belum tersentuh sama sekali. Bahkan, Athalla baru saja mengetahui, jika menu sarapan pagi kali ini adalah nasi goreng sea food.


“Ah, enggak ada, Mi,” balasnya.


“Sepertinya ada yang sedang disembunyikan oleh Athallah,” batin maminya.


Sebagai seorang Ibu, dia tentu tahu apa yang tengah dirasakan oleh si anak, karena ikatan batin yang terkoneksi. Maminya tak mudah percaya begitu saja. Wanita paruh baya itu yakin sekali, bahwa ada sebuah hal yang telah menyentuh perasaan anaknya, hingga membuat haru, tetapi apa?


“Aku harus mencari tahu!” Ia kembali bermonolog.


Yang dilakukan Athalla sesungguhnya adalah dia sedang terlibat percakapan via udara dengan sang tajuk hati alias Kania. Gadis muda itu selalu saja membuat bibirnya tersimpul indah. Semenjak berpacaran dengan Kania, Athalla jadi suka sekali bermain gadget, bahkan saat sedang bekerja sekalipun.


Athalla buru-buru mengunyah nasi, kemudian beranjak ke kantor. Tidak sabar sekali ingin berjumpa dengan sosok pujaan.


***


Sore ini Athalla kelihatan buru-buru di kediamannya pasca pulang bekerja. Biasanya dia akan menghabiskan waktu dengan bersantai di belakang rumah atau hanya sekadar nangkring di kamar melepas penat jika menginap dirumah orang tuanya. Namun, kali ini berbeda. Athalla mondar-mandir bak sebuah setrika berjalan.


Pemandangan itu berhasil ditangkap oleh netra maminya dan menimbulkan rasa penasaran tingkat tinggi. Maminya berpura-pura membaca majalah di sofa ruang tengah sambil sesekali melirik ke arah Athalla yang berseliweran. Setelah anak itu tak lagi tampak, barulah maminya mengendap-endap menuju bilik Athalla.


Agaknya, rasa curiga itu mulai terjawab. Bertepatan dengan itu, Athalla pun menghubungi Kania, sementara pintu kamar dalam kondisi sedikit terbuka. Maminya mengambil kesempatan untuk menguping apa yang ia bicarakan dengan seseorang di seberang sana.


“Aku sudah selesai. Bagaimana denganmu, Kania?” Athalla menempelkan benda pipih di telinganya.


“…”

__ADS_1


“Ya, sudah. Aku akan menjemputmu sekarang. Oke!”


Athalla mematikan sambungan telepon, lalu menyimpan ponselnya di saku celana. Tak lupa dia mengayun kaki ke arah meja rias untuk mengambil sebotol parfum, lalu menyemprotkannya ke pakaian.


Sebelum Athalla keluar dan mengetahui kehadiran maminya, maka perempuan paruh baya itu memutuskan untuk beranjak lebih dulu. Ia kembali ke sofa dan mengambil majalah yang tergeletak di meja.


“Athalla, mau ke mana kamu?” tanya maminya.


“Ada urusan sebentar, Mi. Athalla pergi dulu.” Dia melenggang heboh.


Maminya tak tinggal diam. Wanita itu pun mengekori ke mana mobil Athalla pergi.


Semula, pria itu menjemput seorang wanita, lalu bergulir ke sebuah restoran mewah.


"Siapa wanita yang Athalla jemput itu? Rasanya aku mengenalnya?" tanya Mami dengan diri sendiri.


Gegas dia turun dan terus mengikuti ke mana Athalla melabuhkan tubuh. Mereka memilih meja nomor 24, sementara maminya duduk di meja nomor 27. Cukup dekat, tetapi Athalla tidak menyadari kehadiran sosok ibu dikarenakan keadaan yang ramai. Lagi pula, Athalla terlampau fokus dengan Kania, sampai-sampai tidak menghiraukan keadaan sekitar.


“Siapa anak itu, ya?” Maminya penasaran betul, karena wanita yang bersama Athalla membelakangi tubuhnya.


Dia terus memantau gerak-gerik Athalla yang kian mencurigakan. Keduanya tampak akrab sekali. Saling melempar tawa dan sentuhan fisik. Maminya merasa, bahwa sosok Kania merupakan teman spesial bagi Athalla.


Sedikit kecewa, karena ternyata Athalla mempunyai pasangan, tetapi tidak memberitahu maminya. Wanita itu tidak boleh gegabah. Ia wajib mencaritahu dari kalangan mana perempuan yang berhasil merebut hati putranya tersebut.


Mami meminta orang suruhan segera datang ke restoran dan meminta orang itu menyelidiki siapa wanita yang bersama Athalla.


Baru saja maminya hendak pulang, tetapi seorang pelayan malah datang dan menagih pesanan. Wanita itu menggeleng mantap, lalu berseru, “Saya tidak jadi pesan. Terima kasih.”


Nahas, begitu bangkit dari kursi, Mami Athalla malah menabrak seseorang tak dikenal, sampai mengalihkan perhatian beberapa pengunjung di sana, termasuk Athalla sendiri. Dia spontan menutup wajah dengan kedua tangan. Setelah mengucap kata maaf, wanita itu pun berlari kencang.


“Aish! Hampir saja,” batinnya panik.


Wanita paruh baya itu buru-buru bergulir kembali ke rumah. Selanjutnya, menghubungi kembali seseorang yang dia hubungi tadi untuk mencari tahu mengenai sosok Kania.


“Jangan sampai salah orang, ya! Berikan yang terbaik untukku,” katanya memeringatkan kepada sosok di kejauhan sana.


Dia merebahkan tubuh seusai memberi arahan kepada orang suruhannya, memikirkan masalah Athalla yang diam-diam mempunyai kekasih. Berbagai spekulasi hadir di kepala. Seharusnya, Athalla membocorkan keadaan terbarunya, bukan malah main belakang begini.

__ADS_1


Wanita itu mempunyai ide untuk mengetes kejujuran Athalla. Wanita itu sengaja menunggu anaknya, sampai pulang ke rumah.


Beberapa jam berlalu, akhirnya yang dinanti-nanti hadir juga. Maminya memasang ekspresi setenang mungkin, seakan-akan ia tidak tahu apa yang telah dilakukan Athalla.


“Anak Mami sudah pulang?” sapanya begitu melihat Athalla.


Lelaki itu mengembangkan senyum sambil mengangguk. “Sudah, Mi,” balasnya.


“Sini, duduk! Kamu membuat Mami kesepian di sini,” kata maminya seraya mencebikkan bibir, bersikap manja.


Athalla sadar dengan tingkah lakunya. Jadi, ia menuruti perkataan si Ibu dengan menemaninya di sofa ruang tengah. Athalla tidak menemukan tanda apapun dari perempuan itu. Maminya berhasil mengelabui keadaan.


“Kamu dari mana, Sayang?” Maminya memulai obrolan.


“Kan, sudah kubilang, kalau aku ketemu temen, Mi.”


“Iya, Mami ingat, kok. Cuma, di mana?” tanya Mami lagi


“Di restoran.” Sampai titik ini Athalla masih berkata jujur.


“Oh, temen kerja, ya? Atau apa?” Kembali pertanyaan diajukan Mami untuk Athalla.


“Ehm, iya, Mi. Temen satu kantor.”


Athalla tidak berbohong. Kania merupakan sekretarisnya sendiri. Namun, maminya sudah menganggap, bahwa putranya menipu sebab dia tidak tahu siapa Kania atau wanita yang bersama putranya tadi. Dia tidak tahu, kalau keduanya terlibat d dalam satu kantor.


“Perempuan?”


Athalla sejenak berpikir, hingga pada akhirnya berseru, “Iya, Mi.”


“Tumben kamu ketemu wanita, Atha.”


“Iya, Mi. Ada urusan kerja.”


Athalla terpaksa berbohong, karena belum mampu menguak sosok Kania yang sebenarnya. Dia masih menunggu waktu yang tepat untuk berterus terang tentang hubungannya dengan Kania.


...****************...

__ADS_1


Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.



__ADS_2