
Nenekku dikremasi setelah tak bernapas lagi. Penyakitnya menjadi alasan tunggal yang berani merampas nyawanya.
Kemarin, nenek menyuruhku untuk pergi ke Texas, tetapi sebelum itu, aku ingin mengumpulkan uang terlebih dahulu. Aku merasa takut, jika uang yang diberikan nenek tidak cukup, terlebih aku harus melunasi bayaran kos tiga bulan.
Sejak pagi sampai sore ini, aku terus menawarkan brosur kepada orang-orang sekitar dengan sebuah kostum. Ya, itu karena pekerjaan baruku adalah SPG. Meski terlihat menyedihkan, aku harus melakukannya, karena hanya pekerjaan ini yang bisa kulakukan.
Ada beberapa orang yang menerima brosur dariku, ada juga yang mengacuhkanku. Anak-anak silih berganti datang hanya sekadar minta foto denganku. Namun, ada juga yang menangis ketika melihatku.
Aku seperti mandi keringat karena mengenakan kostum boneka ini. Lelah sekali bekerja seperti ini. Energiku terkuras lebih banyak dari pada saat bekerja di kafe. Kostum ini juga berat dan bau, rasanya aku sesak napas.
"Nak, ini sudah menjelang malam. Terima kasih, hari ini promosi kita banyak peminatnya. Ini upahmu dan kamu boleh pulang sekarang," ucap bos baruku, sambil mengulurkan sebuah amplop cokelat.
Aku melepas kepala kostum boneka itu. Sungguh, keringat mengalir dari pucuk kepala sampai leher. Sepertinya wajahku jadi sangat buluk dan rambutku jadi lepek. Aku segera meraih amplop itu dan mengulas senyum sambil berulang kali membungkuk guna menghormatinya, meski napasku terengah-engah.
"Terima kasih banyak, pak."
"Sama-sama. Segera buka kostumnya! Besok kamu kerja lagi, 'kan?"
"Tentu saja, pak!" jawabku segera.
Aku pun membuka kostum bonekanya di dalam tenda. Setelah melepasnya, aku merasa bahwa bajuku sangat basah karena ulah keringat. Aku memutuskan untuk segera pulang.
Tenagaku yang terkuras banyak, membuat langkah kakiku sangat pelan. Aku harap, aku bisa segera sampai ke rumah tanpa perlu berjalan. Aku terus menghela napas kasar, guna meringankan banyak pikiran juga mengeluarkan kerisausan hati.
Sambil memandang langit malam, tak kutemukan Bulan lagi. Hanya ribuan bintang yang membentang.
"Di mana? Kamu di mana?" tanyaku.
"Sarah!"
Sontak aku menengok ke asal suara yang menyebut namaku. Tepat saat aku menengok ke belakang, aku mendapati seorang pria tengah berlari ke arahku dengan senyum lebar.
"Jo ... Joseph?" tanyaku terheran-heran.
Joseph menghentikan langkah ketika telah sampai di hadapanku. Ia memanfaatkan hal tersebut dengan mengatur napas yang terdengar begitu letih. Setelah merasa napasnya sudah cukup teratur, Joseph bertanya, "Dari tadi aku memanggilmu, Sarah! Kenapa kau tidak dengar?"
"Ah, maaf ya," ucapku.
"Lagi pula, untuk apa kau memanggilku?" tanyaku.
Pria itu hanya menggaruk tengkuknya, yang kuyakini tak gatal. "Eh? Em ... ga sengaja aku melihatmu, jadi, ya, aku panggil aja," jawabnya terbata-bata.
"Kalau sudah begini, ayo jalan! Aku akan mengantarmu," sambung pria itu, kemudian menarik tangan kiriku untuk mengikutinya.
Refleks saja, aku melepas pegangannya dan menyamakan tempo langkah kami berdampingan.
"Eh? Itu gajimu, ya?" tanya Joseph setelah melihat amplop cokelat yang kubawa. Dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya pria itu tanpa melihatku. Ia terpaku ke arah depan.
"Baik," jawabku seadanya.
"Jangan bohong! Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan, kan?" selidiknya lagi.
Aku menunduk. Bingung harus mengatakan apa. "Bajumu basah, habis ngapain?" Dan ia bertanya lagi.
"Bekerja."
Tanpa aba-aba, ia menghentikan langkahnya. Ia menatap wajahku lekat, hingga kepalaku tambah tertunduk. Aku tak berani untuk kembali menatapnya.
Sambil memegang kedua pundakku, Joseph berujar, "Kalau kamu kesulitan, cerita aja sama aku. Sebagai teman, sudah sepatutnya saling membantu, kan?"
"Aku ... tidak punya teman."
__ADS_1
"Hei! Aku ini sudah menganggapmu teman, masa kamu tidak menganggapku begitu?" sahut Joseph.
Aku masih menunduk, kemudian mengangguk pelan sebagai jawaban 'iya'. Ia juga mengusak puncak kepalaku. Dan kami melanjutkan perjalanan.
"Kok bisa kamu ga punya teman?"
"Entahlah. Tapi aku merasa dijauhi."
"Memangnya kamu ga punya teman sekolah?"
"Aku hanya lulus SMP karena ga punya uang dan akhirnya memilih langsung kerja."
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Joseph dengan nada terkejut.
"Tidak. Aku tinggal sama nenek. Hanya saja, nenek baru meninggal dua hari yang lalu," jelasku.
Raut wajahnya berubah. Ia seperti merasa tidak enak denganku. "Turut berduka, ya."
"Iya. Terima kasih."
"Jadi, kalau kamu mau cerita sama siapa?"
"Bulan," jawabku, membuatnya heran.
"Bulan? Temanmu namanya Bulan?" selidiknya.
"Sudah kubilang, aku ga punya teman," kataku sambil menengadah ke langit. "Benda langit itu ... entah dari kapan, aku sangat menyukai Bulan."
Pria bertahi lalat tepat di kantung matanya itu menengadah dan mengedarkan pandangan ke langit. Mencari objek yang dari tadi kuperhatikan, tetapi ia tak menemukan keberadaan benda langit itu.
"Hah? Ga ada Bulan, tuh?"
"Iya. Akhir-akhir ini, bulan menghilang."
"Aku ga suka bintang!" bantahku lantang.
"Ba ... baiklah."
Selang beberapa menit kemudian, kami sampai di rumahku. Kini, terhitung dua kali ia sudah mengunjungi rumahku, walaupun tidak masuk. Sebelum aku masuk, ia mencuri tanya, "Boleh minta nomor telepon ga?"
"Aku ga punya ponsel. Maaf ya," kataku, yang sukses membuatnya tampak terkejut.
"Yah, kalau begitu, terpaksa deh kita harus ketemu setiap hari," gurau Joseph.
Aku tidak mengerti maksud ucapannya. Tiba-tiba, terlintas kejadian kemarin, saat aku ditolong pria ini sebelum pingsan, tetapi aku lupa bilang terima kasih.
"Terima kasih ya, kemarin kamu udah tolong aku."
"Santai aja! Kita, kan, teman," pungkas Joseph.
"Aku akan masuk. Kamu hati-hati di jalan, ya!"
_________________________________________
"Cayla! Kan sudah mama bilang, jangan samperin laki-laki itu!" bentak Cassandra pada sang putri.
"Emangnya kenapa, sih? Cayla, kan, udah temenan sama dia sejak mama belum adopsi Cayla!" balas putrinya.
"Tapi dia ga selevel sama kamu, Cayla! Kita ini dari keluarga terpandang, ga pantas temenan sama orang kayak dia!" debat Cassandra.
"Dulu sebelum mama sama papa adopsi Cayla, Cayla juga hanya anak biasa yang ga punya orangtua, 'kan? Terus apa masalahnya? Emangnya harga diri orang bisa dinilai dari harta yang orang itu punya?" sambung Cayla sangat lancang.
Cassandra kehabisan kata-kata untuk melawan lagi, sedangkan Cayla merasa sangat marah hingga kesabarannya habis. Ia meninggalkan mamanya dan mengunci dirinya di kamar.
__ADS_1
Tok-Tok-Tok!
"Nona Cayla! Waktunya makan malam! Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang makan," panggil seorang wanita yang merupakan asisten rumah tangga mereka.
"Aku masih kenyang, Elena! Lagi pula, sudah berapa kali kubilang, agar tidak memanggilku 'nona'?!" sahut Cayla dari dalam kamar.
"Baik Cayla. Maafkan saya." Wanita itu kembali ke ruang makan, dan memberitahu Cassandra bahwa Cayla tidak mau makan.
"Maaf Nyonya, Nona Cayla masih kenyang, katanya."
Cassandra mendecak kesal, sedangkan suaminya yang sedari tadi menunggu Cayla keluar, sudah mulai menyantap makanannya.
Drrtt-drrtt-drrtt!
Dering handphone milik Cayla terdengar begitu intens. Ia menelepon seseorang di tengah kesedihannya.
"Halo Cay?"
"Hae, liburan yuk!"
Orang yang diteleponnya adalah Haeya. Sahabat yang senantiasa ada di segala situasi.
"Tiba-tiba banget? Kenapa?"
"Ga. Cuma males aja di rumah. Aku mau bebas bernapas," ungkap Cayla dengan nada lirih.
"Emang mau cari destinasi dimana?"
"Mau ke Texas aja."
"Yakin?"
"Untuk apa ragu? Soal biaya gampang!"
Haeya berdecak kesal. Pasalnya Cayla memang hidup dengan kelimpahan, tapi bukan itu yang dimaksud.
"Hei! Bukan soal biaya ini mah! Tapi izin!"
"Izin juga gampang kok. Mama bisa kurayu. Kalau kamu? Kamu, kan, yang paling susah dikasih izin."
Dengan cepat Haeya menyahut, "Kalau aku diam-diam mah bisa. Karena papaku juga ga akan peduli."
Cayla hanya bergumam sebagai balasan dengan sedikit helaan napas.
"Maunya kapan?"
"Pas musim gugur."
"Cuma kita berdua gitu?"
"Mau ajak Joseph, sih. Nanti aku kabarin lagi deh."
"Oke. Bye."
.
.
.
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡
__ADS_1