
Di saat yang bersamaan pada part kemarin...
Sebenarnya, sebelum ke Texas, Cayla membuat skenario untuk Haeya dan Matthew. Tentu saja skenario ini dirancang diam-diam oleh Cayla dan Joseph.
Cayla menceritakan kepada Joseph perihal hubungan Matthew dan Haeya yang saling menyimpan rasa. Yang menjadi masalah adalah ketika keduanya sulit menjabarkan perasaan itu, sehingga hubungannya masih gantung seperti jemuran baju.
Rencana Cayla adalah; Joseph harus menjemput Matthew terlebih dahulu, sekalian membeli beberapa cemilan dan bahan makanan. Awalnya Joseph tidak setuju kalau harus mejemput Matthew, karena Joseph sendiri pun tak pernah mengenali pria itu. Namun Cayla terus memohon dan Joseph pun terima pasrah.
_________________________________________
Pagi-pagi sekali Matthew sudah bangun. Bahkan sebelum alarm miliknya berbunyi. Pun ia sudah mandi dan berpakaian necis.
Jordan tak begitu peduli dengan Matthew. Rasa penasaran untuk sekadar bertanya Matthew mau kemana pun tidak ada. Ia menikmati secangkir kopi hangat sambil menonton televisi.
Baru-baru ini, pria tajir itu tak hanya mengajarinya sikat gigi, ia juga mengajari Jordan menggunakan remote televisi dan ponsel.
Kalau saja ponsel milik Matthew tidak berdering, mungkin ia akan terus berdiri tegak lurus depan lemari kaca. Dan melontarkan pujian-pujian tentang betapa tampan wajahnya.
"Halo?"
"Oh, Joseph sudah sampai?"
"Iya-iya, aku akan segera turun."
Pip!
Telepon diakhiri. Matthew segera beranjak dari kamar dengan memakai jaket model cardigan berwarna krem dan sepatu yang senada. Saat sudah membuka pintu, pria itu sempat melirik Jordan sekilas yang benar-benar tak peduli dengan kepergiannya.
"Hei Jordan! Kalau ada apa-apa, telepon aja, oke?"
Jordan menoleh sekilas. Lalu hanya mengangguk sebagai jawaban.
Matthew pun benar-benar meninggalkan Jordan seorang diri.
Ketika sudah sampai di parkiran apartemen, Matthew mendapati pria yang memakai jaket hitam dan menatapnya dengan raut terkejut.
"Eh? Jadi kau yang namanya Matthew?" tanyanya.
"Iya. Kau ini Joseph, kan?"
Pria itu hanya mengangguk sambil menghela napas puas. Bahwasanya, ia sempat mengira Cayla pujaan hatinya Matthew saat di pesta ulang tahun Cayla, ternyata selama ini ia salah paham.
"Aku kira, kamu yang mengincar Cayla," kata Joseph sambil masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Matthew menaik turunkan alisnya karena tak paham. Kemudian, ia masuk mobil dan duduk di samping kemudi Joseph.
Di tengah perjalanan dengan laju yang normal, Joseph mengajak Matthew bicara, "Aku Joseph Stello. Panggil saja Joseph. Semoga kita bisa akrab."
Akan tetapi, pandangannya tetap fokus pada jalanan di depan. Ia tidak mungkin menyetir tidak serius, apalagi saat membawa nyawa selain dirinya.
"Oh, oke. Kau bisa memanggilku Matthew," balasnya.
"Hei! Kau kekasih Cayla, ya?" Entah dari mana asumsi itu bisa muncul, tapi lebih aneh ketika pria kemudi itu mengangguk dengan cepat.
"Oh, ya?"
Matthew memastikan lagi bahwa dirinya tidak sedang halu. Beberapa detik kemudian, sebelum pria itu mengumbar spekulasi-spekulasi tak benar, Joseph buru-buru meluruskan, "E ... engga sih. Tapi ya ... gitu, deh."
"Oh gitu. Aku sedang membuat strategi, supaya Haeya mau sama aku."
"Awalnya aku sempat kira kau dengan Cayla. Tapi saat melihat penampilanmu, pandanganku jadi berubah. Karena Cayla hanya akan tertarik pada pria yang tampan," ucap Joseph dengan nada sombong sambil menunjukkan seringai.
Hal itu membuat Matthew merasa harga dirinya jatuh sesaat. Namun ia juga tidak bisa membantah, lantaran Joseph memang memiliki paras tampan. Lantas, ia hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah dan mendengus kasar.
Sesuai rencana, Matthew, Haeya, Joseph dan Cayla terlebih dahulu sarapan bersama yang sudah dihidangkan Cayla. Lalu pergi ke acara festival musim dingin yang terlaksana selama satu minggu. Di sana mereka menghabiskan waktu dengan menunggang kuda, menikmati makanan khas Texas, ada juga beberapa penampilan artis yang semakin memeriahkan festival musim dingin.
Rasa belum puas masih ada. Selanjutnya mereka pergi ke wahana bermain dan kembali ke apartemen Cayla, setelah membungkus makanan dari restoran untuk makan malam bersama. Akan tetapi, suasana jadi cenderung canggung dari perjalanan pulang sampai bersatu di meja makan.
"Hei! Ini makanan udah di depan, kenapa semua diam?" tanya Joseph.
"Apa sesuatu terjadi?" sambung Cayla.
Haeya dan Matthew dengan kompak saling bertatapan. Seolah mereka bicara dalam frekuensi batin. Sampai salah satu dari mereka angkat bicara.
Kalau ditanya apakah pacaran diam-diam itu menyenangkan, Matthew akan menjawab "tidak" dengan cepat. Ia bukan tipe yang bisa memendam rahasia lama-lama. Pada satu titik, hal-hal yang ia sembunyikan dari publik, terutama orang-orang terdekatnya, pasti akan terkuak juga.
"Sebenarnya ...."
Belum sempat Matthew menggenapkan kalimatnya, Joseph dan Cayla dikagetkan oleh suara Haeya.
"Kami pacaran!"
"Ha-ha-ha!"
Sontak Joseph dan Cayla tertawa. Gelombang kepuasan terpancar dari wajah mereka, secara misinya berjalan sukses.
"Selamat ya!"
__ADS_1
"Boleh tuh, pajak jadiannya!" goda Cayla.
_________________________________________
Di sisi lain, Jordan merasa bosan di apartemen. Tidak ada kegiatan yang bisa dilakukannya kecuali mandi, menonton serial Bollywood dan membuat kopi. Bahkan hari ini, ia sudah meminum delapan cangkir kopi.
Mungkin karena merasa tidak enak menganggu kegiatan Matthew, Ia memendam niat untuk menelepon. Sejak awal, Jordan memang tak begitu tertarik dengan barang baru miliknya. Tapi setelah dilihat-lihat, sepertinya ponsel itu dapat menghapus kejenuhannya.
Tangannya tampak mengutak-atik dengan wajah bingung. Sampai ia menemukan aplikasi yang menangkap gambar dirinya.
Cekrek!
Jordan mengernyit. Ia bertanya-tanya dalam hati, alasan dirinya bisa masuk ke barang kotak itu. Dan rasa penasaran semakin melambung. Hingga ia memutuskan untuk keluar apartemen, agar bisa menangkap lebih banyak objek. Tak lupa ia memakai jaket cardigannya sebagai senjata cuaca dingin.
Sampai di luar apartemen, ia mencari tempat sepi, supaya bisa menangkap foto lebih leluasa.
Ckrek-ckrek-ckrek!
Meski objek yang ditangkap hanya berupa kerikil, semak-semak dan lampu jalanan, ia layak dikatakan photografer handal. Karena ia sangat mengutamakan sudut pandang yang tepat.
Namun, aksinya mulai terhenti, ketika secara tak sengaja ia menangkap gambar seorang gadis yang duduk pada ayunan, hanya sendiri di taman kota. Taman itu agak gelap karena pencahayaan lampu yang buruk.
Atensi yang sebelumnya penuh pada ponsel kamera boba, sukses teralihkan pada gadis itu yang memiliki rambut sebahu sambil menengadah terus ke langit. Lantaran berpakaian tipis, gadis itu tampak menggigil dan mendekap tubuhnya sendiri.
Gadis itu tak sadar akan kehadiran Jordan, sambil memejamkan mata, ia berucap, "Aku merindukanmu. Kamu dimana, bulan?"
"Tidak perlu mencari suatu yang tidak ada sementara. Mereka sudah menentukan sesuatu yang terbaik untukmu."
Tanpa basa-basi, Jordan seakan menjawab pertanyaan gadis itu yang berhasil dibuatnya kaget.
Jordan berjalan semakin dekat dan duduk di ayunan sebelah gadis itu. Namun tatapannya masih terpaku ke atas langit, Jordan seperti memberi sinyal kepada semesta untuk keadaannya saat ini.
Tepat pada detik selanjutnya, salju pertama turun, bagai saksi bisu untuk dua insan yang telah bersatu dan dua insan yang telah bertemu.
.
.
.
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡
__ADS_1