NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[33 : Air Mata Sia-Sia]


__ADS_3

Guk! Guk!


Kumohon ... Jangan sekarang!


Seekor anjing ikut mempersulit diriku. Dengan tidak tahu dirinya, seekor anjing yang terawat, tiba-tiba mengambil tas berisi pakaian yang baru kubeli. Entah anjing itu akan membawa ke mana barang punyaku tanpa dosa dengan mulutnya. Aku sudah tidak peduli. Hari ini begitu naas hingga rasanya ingin menghilang dari muka bumi.


Aku menghela napas kecewa. Berulang kali menyeka air mata dengan kasar, aku benci mereka turun tanpa jeda.


Seseorang menyampirkan jaket denim berwarna hitam di bahuku sebelum aku berbalik. Aku menoleh, guna melihat pelakunya. Ternyata sesosok pria tampan yang memiliki warna rambut blonde dan sentuhan biru di bagian poninya.


Hm? Perpaduan warna yang unik.


"Maaf," ujarnya lembut. "Anjing nakal itu milikku, maaf sekali ya."


"Ah," Aku segera menyeka air mataku dan melepas jaket miliknya, "aku tidak papa."


Namun ia menahan pergerakanku. Ia kembali menyampirkan jaketnya pada bahuku. "Setidaknya, terimalah jaket ini sebagai tanda maafku," pintanya sambil tersenyum.


Beruntung taksi sudah datang, kalau tidak, aku akan terjebak dalam situasi canggung dengan pria bak malaikat ini. Kami saling berpamitan dulu, tak lupa beberapa kali mengumandangkan kata terima kasihku padanya.


Beberapa menit perjalanan akhirnya sampai ke kediamanku. Dengan cepat aku langsung membersihkan diri, mencuci pakaianku dan tasku yang ternodai wine dalam mesin cuci. Bahkan aku sampai menghabiskan dua botol sabun cair, guna menghilangkan bau pekat wine dari tubuhku. Bukan hanya sabun, bahkan satu botol shampoo juga habis untuk kugunakan keramas.


Usai berkutat di kamar mandi, aku segera memakai parfume pada baju sampai celanaku. Tidak sampai di situ, aku terlebih dulu mengeringkan rambutku yang basah dengan hairdryer. Sebelum kemudiam menepati janji untuk menghampiri Jordan di flat Matthew.


Ting-Tong!


Cklek.


Respon penghuni flat sangat cepat. Sudah menampakkan Jordan dengan raut khawatir menatapku begitu intens. Sementara aku hanya mengukir senyum seolah tak terjadi apa-apa.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya pemuda itu sembari memegang kedua bahuku.


Aku terkekeh sejenak. Gemas melihatnya begitu. "Yang terjadi aku hanya jalan dan makan siang seperti biasa." Untuk kali ini aku memutuskan berbohong.


"Sarah ... tidak sedang berbohong, 'kan?"


Mataku sontak membulat. Kehabisan kata-kata untuk kembali melontarkan kalimat. Kalaupun aku menjawab, hanya berakhir kebohongan.


"Jordan, ada siapa?!" Seorang gadis berambut panjang datang menghampiri kami di ambang pintu. Aku bersyukur sekali Cayla menyelamatkanku dari kecanggungan ini.


"Oh, Sarah?" sapanya dengan bernada tanya.


"Hai Cayla! Sedang apa kamu di sini?"


Daripada meladeni Jordan, lebih baik aku beralih pada Cayla yang menuntunku masuk ke dalam flat.


Tampaknya Jordan tidak bisa protes, ia menutup pintu dan membiarkan pembicaraan kami tergantung begitu saja.


Ketika masuk, aku bisa melihat secangkir kopi yang kubuat tadi pagi untuk Jordan. Masih penuh, bahkan sudah dingin.


"Hai Sarah!" sapa seorang pemuda bernama Joseph. Ia tengah asik memakan sebungkus cemilan sambil menonton serial Bollywood.


"Joseph, kamu suka nonton film India juga, ya?" tanyaku sedikit terkekeh.


"Suka sekali!" serunya antusias.


Cayla memutar bola matanya jengah. Dia mengedarkan pandangan pada Jordan yang baru saja duduk di sebelah Joseph. Kemudian kembali menatapku. "Sepertinya mereka punya selera yang sama," bisiknya tepat di runguku. Namun masih tertangkap di pendengaran kedua pemuda tersebut.


"Oh ya, Matthew di mana?"

__ADS_1


"Ga tau," jawab Joseph. "Katanya lagi ada urusan keluar sebentar," lanjutnya seraya mengidikan bahu.


"Ah, seharusnya dia bayar dulu makanan yang aku beli, baru pergi," keluh Cayla sembari duduk di bawah sofa, dekat kaki Joseph.


Ia mendecak. Menyorot sinis pada Cayla. "Orang kaya tapi perhitungan." Dan lolos sebuah cibiran terkesan halus lewat rungu gadis itu.


"Heh?! Kurang ajar kamu, Jo!"


Tanpa menggubris balasan Cayla, ia bangkit dari sofa dan beranjak ke dapur.


Remote televisi yang sedari tadi pemuda Stello itu pegang, akhirnya bisa diambil alih oleh Cayla yang ingin mengganti channel televisi. Namun sebelum niatnya benar-benar tercapai, Joseph sudah lebih dulu mempergokki kelakuan sang gadis.


"Hei! Aku dan Jordan sedang menonton tahu!" seru Joseph sambil berusaha meraih remote yang disembunyikan Cayla di belakang punggungnya.


Tinggi mereka hampir sama, jadi lumayan sulit Joseph mengendalikan tubuh gadis itu.


"Heh! Memangnya hanya kalian yang mau nonton?!" tanya Cayla disertai penekanan, lalu mendorong pelan tubuh Joseph agar menjauh. "Aku juga mau nonton tahu!"


"Kalian sangat berisik!"


Nada bariton seorang pemuda lain, seketika menghentikan tingkah kekanakan mereka. Aku menengok kompak menatap Jordan yang kini terselimuti rasa kesal. Padahal hanya masalah kecil, tetapi ia benar-benar benci kebisingan rupanya.


"Jo, mereka hanya main-main." Jelas ada aura berbeda dari Jordan. Kulihat cangkir kopinya, masih penuh. Pemuda itu benar-benar tidak meminum kopi buatanku.


Joseph berhenti. Ia kembali duduk di samping Jordan dan mengalah remote kepada Cayla.


"Tidak apa-apa. Aku juga tidak akan tersinggung pada pria tampan sepertinya," ujar Cayla, memasang wajah penuh kemenangan atas hak remote televisi.


Terdengar suara mendecak. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu pelakunya adalah Joseph. "Dasar pilih kasih!" gumamnya dengan maksud menyindir.


Melihat diriku yang masih berdiri mematung, Cayla menepuk lantai di sebelahnya, mengisyaratkan aku untuk duduk di sebelahnya. Aku mendekat dan duduk bersama Cayla. Namun tampaknya indra penciuman gadis model itu terganggu, hingga menimbulkan pertanyaan, "Eh! Kamu mengonsumsi alkohol?"


"Tidak, kok."


"Tapi ini baunya lumayan menyengat!" Sungguh, Cayla sangat menggertak, agar aku mengatakan yang sebenarnya.


"Benar. Aku tidak minum."


Tatapan Cayla amat tajam. Sulit untuk menyangkal dari fakta.


"Lalu apa yang terjadi?"


Dan suasana sekarang sudah serius, semuanya menatap semakin intens seperti meminta suatu klarifikasi.


___________________________________________


Author POV


Setelah mendengar semua penjelasan Sarah, Cayla keluar dari apartemen dengan buru-buru. Tanpa tatapan tenang,  matanya seakan menusuk setiap edaran pandang. Dia tidak mengira bahwa semuanya akan menjadi separah ini, bahkan lebih parah.


Dalam benaknya Cayla selalu berpikir apa gadis itu tidak puas dengan kehidupannya sekarang? Setidaknya dia sudah memiliki hidup yang tenang kalau mau melupakan semua yang terjadi.


"Kamu yakin mau nemuin dia?" tanya ragu dari pria bernama belakang Stello itu.


Butuh beberapa menit Cayla meyakinkan dirinya untuk menemui sahabatnya dan dengan yakin dia menjawab, "Apa pun keadaannya dia tetep sahabat aku, Jo. Seburuk apa pun dia bukan berarti aku harus selalu menjauh." Diam sejenak. "Lagi pula aku datang untuk memberinya suatu kesadaran dan kalau dia tidak ingin menerimanya maka akan berubah menjadi peringatan, atau ... ancaman."


Jawaban awal yang bijaksana ternyata ditutup dengan akhir yang terdengar mengerikan, Joseph pasti paham mengapa Cayla bisa menjadi muak karena ia dengan Cayla memiliki latar belakang yang sama, tetapi alur hidup yang berbeda. Sehingga, dia pasti mengerti bagaimana rasanya dihina dan diperlakukan dengan amat buruk.


Sekitar setengah jam Joseph mengendarai mobil ke arah apartemen Haeya. Cayla sebenarnya juga cukup dekat dengan kakak Haeya. Benar, yang memberitahu keberadaan Haeya adalah kakaknya.

__ADS_1


Brak!


Berhasil membuka password pintunya, Cayla langsung membanting pintu itu dengan keras. Saat mereka masuk bukan aroma segar namun mereka bisa menghirup aroma alkohol yang terkunci lama di ruangan itu. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi keadaan apartemen itu juga sangatlah berantakan seperti kapal pecah. Sirkulasi udaranya juga lebih lembab, sepertinya gadis itu benar-benar mengunci dirinya selama seminggu.


"Dia ga ngapa-ngapain, 'kan?"


Pria ini begitu bingung dengan keadaan apartemen. Jujur, ia juga takut jika terjadi sesuatu, ia tidak ingin apartemen ini mempunyai penghuni yang mempunyai dendam kepadanya.


Cayla masih menatap setiap inci dari ruangan itu, lalu tatapannya membeku ketika melihat salah satu pintu kamar yang terkunci. Dengan langkah cepat dia menghampiri pintu tersebut dan langsung membukanya dengan keras.


Secara bersamaan Cayla dan Joseph terkejut dengan isi kamar itu. Pakaian tercecer di mana-mana, sampah tisu dan sekitar lima belas botol alkohol kosong tergeletak di setiap sudut ruangan.


"Jeon Haeya! Sadar bodoh!"


Plaakk!


Saat itu juga gadis Korea Selatan itu mendapat tamparan keras dari sahabatnya. Tentu bukan tamparan marah dari Cayla namun itu adalah tamparan khawatir, marah, kecewa dan ... kasih sayang. Bahkan air mata Cayla sekarang tidak bisa berhenti menetes.


"Kau tidak mau menamparku juga, Jo?"


Gadis ini hanya meringkuk di sisi tempat tidurnya, dia hanya bisa mengedarkan tatapan sedu. Kantung matanya begitu besar, dia terlihat sangat amat kacau. Padahal tadi siang gadis ini masih terlihat baik memainkan onar pada Sarah.


Plakk!


Tamparannya tidak begitu keras memang, tetapi itu lebih dari cukup untuk menyadarkan Haeya.


"Kamu gila atau aku yang terlalu jenius?!" Dengan frontal Joseph melontarkan kalimat tanya penuh sindiran keras.


Satu menit, ruangan itu hening mereka semua merasa frustasi. Namun keheningan sontak pecah saat Haeya memberikan tawa hambar tanpa humor. Sebenarnya jika sudah begini Joseph sangatlah takut, dia was-was bahkan sedari tadi dia hanya menyandar pada pintu kamar Haeya. Jadi jika terjadi apa-apa mungkin dia akan menghilang seketika.


"Secara tidak langsung kalian telah memihak kepada orang asing. Bisakah kalian pikir?! Dia hanya orang asing tapi kalian selalu memihaknya seakan-akan dia hidup telah lama bersama kalian!" Suara lantang menggema di mana-mana, Cayla dan Joseph terkejut dengan perkataan Haeya. Alih-alih ternyata dia masih belum sadar dengan perbuatannya.


"Dia bukan orang asing, Haeya!" Joseph menentang mentah pernyataan Haeya. Baginya Sarah adalah teman yang harus selalu dia lindungi selain Cayla.


"Pertama Matthew dan sekarang kalian? Kalau begitu apa bedanya kalian dengan Appa?" Haeya menyeringai, "setelah menampar maka kalian akan membuangku jauh-jauh, ck!"


"Hae ... Jangan menyalahkan orang lain." Dengan segala kesabaran Cayla mencoba menenangkan Haeya.


Untuk kesekian kali, Haeya mendecak. "Kenapa?! Apa aku mengatakan hal yang salah? Gadis itu hanya mencari perhatian saja dan aku merasa geli dengan kepolosannya yang sangat naif."


"Kata-katamu seperti orang tidak berpendidikan. Seharusnya kamu yang sadar diri!" Joseph sama sekali tidak bisa bergeming dengan suasana ini, ibarat saja jika suatu kertas kusam hanya kamu tumpuk dan berharap kertas itu akan berubah menjadi putih kembali. Jika hanya menunggu dan berharap itu tidak akan terjadi, kecuali kita sendiri yang bertindak mengganti kertas itu.


"Hahaha! Ya! Mungkin aku tidak sadar diri, tapi setidaknya aku tidak seperti si gadis rendahan!"


Mendengar celetuk 'rendahan', Cayla hanya menatap Haeya tidak percaya. Seakan-akan sahabatnya menghilangkan kepercayaan terhadapnya, bahkan dia tidak memberi waktu untuk menjelaskan situasi yang ada.


"Ini sudah lebih dari cukup, kamu sangat keterlaluan." Cayla menarik napasnya dalam. "Kamu yang memilih ini menjadi peringatan, sekali berulah lagi, aku gak akan tinggal diam."


Kata-kata terakhir yang hanya dikatakan Cayla, setelah itu dia beranjak keluar bersama Joseph. Dia begitu kecewa dengan pemikiran 'sahabatnya' dan hal itu baru terjadi sekarang, sebelumnya tidak pernah. Ya, sebelum ada kejadian ini.


.


.


.


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡

__ADS_1


__ADS_2