
"Bagaimana kencannya?" tanya Jordan yang sedang rebahan di sofa, mendapati Matthew baru pulang dari kencannya.
Matthew sudah malas menjawab, maka ia segera istirahat di kamar.
Melihat tingkah Matthew, membuat insting Jordan berkata, bahwa kencannya tak berjalan mulus. "Ya sudah. Mungkin Dewi Cinta tidak setuju," gumamnya sambil memejamkan kedua mata.
_________________________________________
Keesokkan harinya...
Semenjak tragedi yang membuat Joseph menahan malu di pesta ulang tahun Cayla. Ia memutuskan untuk mengumpulkan uang lebih banyak dengan bekerja sebagai pengirim makanan cepat saji setelah jam kerjanya di kedai roti.
"Apartemen nomor 125."
Ia menaikki tangga apartemen untuk menemukan tujuan makanan yang dibawa. Saat sudah menemukan nomor yang tepat, ia segera menekan bel pintu.
Ting-Tong-Ting-Tong!
"Siapa?" tanya suara seorang pria dari dalam rumah.
"Pengantar makanan!" sahutnya.
Cklek!
"Cepat sekali. Terima kasih, ya," ucap pria itu.
Joseph mengulurkan pesanannya dan tersenyum simpul. "Kembali kasih."
Belum sempat Joseph berbalik, pria itu kembali memanggilnya. "Hei, nak! Tunggu sebentar!" suruhnya.
Menit selanjutnya, pria itu keluar lagi dan memberi dua kantung plastik besar berwarna hitam. Reaksi Joseph malah berkedip-kedip bingung.
"Sekalian buang sampah ini, ya," pinta pria itu.
"S—saya?"
"Iya. Ga mau?"
"Ah, baiklah."
Pria itu berpikir bahwa Joseph melakukannya dengan berat hati. Lantas ia mendecak jengkel. "Padahal terpaksa kerja begini karena ga berpendidikan," sindir pria itu lalu menutup kasar pintunya.
Lagi-lagi Joseph mendapat perlakuan buruk dari orang lain. Ia benci menerima diskriminasi terus-menerus.
Memangnya salah kalau aku harus bekerja seperti ini? Yang penting pekerjaan ini tidak membuat orang lain rugi, batin Joseph merasa miris.
Oleh karena itu, fondasi semangat yang ia bangun kembali runtuh, hingga mentalnya juga tidak percaya diri.
_________________________________________
Sarah POV
__ADS_1
"Mbak! Kami mau pesan lagi!" seru seorang wanita sambil melambaikan tangannya.
Aku menoleh setelah dia memanggilku dan segera menghampirinya. "Mau pesan apa, kak?" tanyaku yang sudah siap mencatat pesanannya di sebuah note kecil.
"Aku mau pesan ketiga Cupcakes Puppy ini, ya," ucapnya sambil menunjuk gambar menu.
Cepat-cepat kutulis semua yang dia katakan. "Ada lagi, kak?" tanyaku, kemudian ia menggeleng sebagai jawaban.
Aku segera menuju kasir untuk memberitahu pesanannya. Lalu, kembali ke meja itu tepat saat pesanan sudah jadi.
Namun langkahku yang awalnya begitu percaya diri, tiba-tiba jatuh karena tersandung. Semua makanan yang kubawa dengan sebuah nampan, sukses mendarat di pakaian wanita itu hingga meninggalkan banyak noda.
Gadis itu langsung berdiri dan memaki diriku. "Sial! Kau bisa kerja ga, sih? Lihat ini! Baju mahalku!" teriaknya.
Seluruh atensi pelanggan berpusat padaku yang masih tersungkur di lantai, rasanya kakiku terkilir dan sakit sekali. "A ... aku minta maaf." Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.
Wajahnya tampak lebih murka, ketika dia mendapati pacarnya malah tertawa. "Aaaaaa!" jerit wanita itu sangat menusuk telinga, seolah meluapkan emosinya, mungkin ia akan begitu sampai lima menit kalau saja bosku tidak datang untuk melerai.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanyanya sambil membantuku berdiri dengan kedua kakiku yang masih sakit.
"Karyawanmu ga becus! Saya mau dia dipecat sekarang juga, kalau tidak saya akan kasih penilaian buruk kafe ini!" bentaknya.
Hanya desas-desus serta tatapan intimidasi yang aku peroleh. Padahal ini sebuah ketidaksengajaan.
"Aku minta maaf atas nama dia. Aku akan melakukannya! Tolong jangan kasih kami penilaian buruk!" Bosku memohon, sambil membungkukkan tubuhnya.
Setelah berkata demikian, wanita itu beranjak pergi disusul pacarnya. "Angel! Tunggu aku!" seru lelaki itu.
Sekarang aku tahu nama wanita itu, yang ternyata Angel.
Aku terus memohon kepada bosku dengan wajah melas. Sulit jika aku harus mencari pekerjaan lagi, karena pendidikanku juga rendah.
Bosku memijat pelipisnya. Seolah ia dilema membuat keputusan.
"Baiklah. Aku potong gajimu. Tapi ingat, bila kesalahan terjadi lagi, aku tak segan-segan memecatmu."
"Saya benar-benar minta maaf, pak. Saya tidak akan mengulanginya." Dan aku berjanji.
Setelah perkara itu, bos menyuruhku pulang saja, guna menenangkan diri dan beristirahat. Kakiku masih sangat sakit, bahkan untuk berjalan pun aku seperti terpincang-pincang.
Jadi, aku memilih untuk duduk di bangku taman dulu. Menikmati angin sepoi-sepoi yang berhawa panas. Di tengah kepadatan, aku hanya memejamkan kedua mataku. Aku kurang begitu suka lingkungan yang terang, apalagi yang sampai menusuk mata seperti cahaya matahari itu.
Semoga saja malam ini tidak hujan.
"Huft..." Terdengar helaan napas panjang. Aku sontak membuka mata dan menengok ke asal suara itu, tepat pada pria yang sudah mengambil posisi duduk di sampingku.
Ia sedang menangis. Aku jadi merasa tidak enak kalau duduk di sampingnya begini. Sepertinya ia tidak tau keberadaanku.
"Ah, hai!" sapaku.
Wajahnya nampak memerah seperti menahan tangis. Dengan cepat ia mengusap mata yang berlinang air.
__ADS_1
"Kenapa kamu nangis?"
"Enggak. Aku ga nangis, tuh?" bantah pria itu yang jelas-jelas sedang berbohong.
Aku menghela napas panjang. "Aku juga sedang sial hari ini. Tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak bisa memberontak. Mungkin kamu merasa sedih, kehilangan, marah, atau sakit hati, tapi menangisi atau menyesali semua juga percuma."
"Tidak apa-apa. Di depan masih ada kesempatan untukmu. Kamu bisa coba lagi besok," sambungku.
Sekarang aku malah melontarkan retorika dan majas yang konyol kepada pria tampan asing ini.
"Benar juga katamu." Ia mengacungkan jempol padaku. "Semuanya ga bisa dipukul rata. Kadang kita harus menjadikannya pembelajaran berharga, walau harus dibayar air mata," ulasnya sambil menunjukkan senyum hingga matanya menyipit.
"Terima kasih, ya. Meski hanya ungkapan seperti itu, aku jadi lebih baik," ucap pemuda itu lagi tanpa memberi jeda waktu untukku bicara.
"Kapan-kapan ketemu lagi, ya!" ujarnya sambil melambaikan tangan dan segera pergi dengan motor miliknya.
Bagaimana kami akan bertemu lagi, jika saling bertanya nama pun tidak?
Baru saja aku seperti ditransfer energi positif setelah melihat wajahnya kembali berseri, terlebih saat ia mengukir lengkung kurva pada bibirnya yang tebal warna merah muda.
Ada sejumput rasa yang membuatku ingin bertemu lagi dengannya.
"Astaga, Jordan! Kenapa mesin peraciknya bisa rusak?" gerutu Matthew.
"Aku tidak tahu. Barang ini juga sudah tua," jawab Jordan sambil menggidikkan bahu.
Matthew berdecak. "Aih. Gara-gara kerusakkan ini, kita harus beli lagi."
Jordan mengedikkan bahu. "Beli lagi saja. Kamu, kan, orang kaya," ujarnya dengan nada berlebihan.
Hal itu membuat Matthew merasa jengkel, sebab ia sangat menjaga pengeluaran uang, kecuali kalau perihal kencan. Ia bahkan tak segan-segan membeli barang mahal demi sang pujaan.
"Hari ini kafe sepi banget. Kenapa ya?" tanya Matthew sambil memainkan handphone-nya.
"Karena ga ramai." Jawaban Jordan ada benarnya, akan tetapi hal itu membuat Matthew tambah geram.
"Aish, kau semakin menyebalkan saja. Siapa yang ajarin kau seperti itu? Kebanyakan nonton film Bollywood, sih!" sindirnya.
Pria itu mengacuhkan Matthew. Ia malah asik menyeruput kopi buatannya sendiri, setelah jadi tersangka perusak mesin peracik kopi.
"Ya sudah. Kita pulang aja. Toh, mesinnya rusak."
"Maaf ya," pungkas pria pecandu kopi itu dengan wajah datar, lebih tepatnya tanpa raut rasa bersalah. Bisa disimpulkan, tidak ada gunanya dia meminta maaf.
Beruntung Jordan bertemu dengan Matthew yang bisa sangat sabar dengan tingkahnya.
.
.
.
__ADS_1
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡