
Satu minggu berlalu. Aku masih tidak habis pikir harus bekerja dengan desas-desus jahat mengenai kebohongan yang disebar Haeya. Secara rutin para pelanggan memperbincangkan gosip itu, bahkan terkadang menatapku dengan tatapan mengintimidasi.
Yang kulakukan hanya acuh tak acuh. Sebenarnya ingin sekali kuteriakan mereka, tetapi akan membuat masalah dan kesalahpahaman ini semakin rumit. Daripada perihal harga diriku, aku lebih memprihatinkan Matthew. Aku sangat heran, mengapa mereka hanya berbicara tanpa selidik fakta terlebih dahulu? Lantas kalau begini, nama Matthew akan semakin tercemar.
Bisa saja setelah ini, Matthew menaruh dendam padaku. Hidupku sudah susah, kemudian Matthew datang menolongku, tetapi malah menjadi benalu dalam hidupnya. Kadang pertanyaan mengenai alasanku hidup selalu melayang dalam lingkar pikirku. Namun, supaya tidak memperberat keadaan Matthew saat ini, aku akan pura-pura baik-baik saja.
Aku menghela napas lega. Sesungguhnya ini akhir pekan, aku memutuskan untuk mengambil quality time sendiri. Ya, tentu tanpa Jordan.
Drrtt-Drrt-Drrt!
Ponselku atas pemberian Cayla ini bergetar. Aku merogoh dalam tas hendak mencari barang pipih tersebut. Dan setelah kutemukan, tertera nama sang penelepon ‘Jordan’. Padahal baru saja beberapa langkah dari apartemen, pemuda ini sudah meneleponku seolah tak ingin jauh.
Ah, tidak, apa-apaan pikiranku barusan?!
“Halo Sarah?”
"Iya, Jo. Ada apa?"
“Sarah, apa ga sebaiknya aku jalan bersamamu? Firasatku mengatakan hal buruk hari ini.”
"Hei! Aku saja belum sampai di tempat tujuan!" gertakku sedikit tertawa. Lucu mendengar suaranya yang mengkhawatirkanku.
“Tapi Sarah--”
"Tidak apa-apa, Jordan. Aku hanya ingin refreshing, dan akan kembali setelah makan siang. Lagi pula, barusan aku sudah membuatkanmu kopi, 'kan?"
Atas permintaannya sebelum aku pergi, ia memintaku membuatkan secangkir kopi instan. Padahal ia lebih andal sebagai barista, tetapi masih manja ingin kubuatkan kopi. Sikapnya bahkan sungguh menggemaskan ketika memelas hanya untuk secangkir kopi.
“Aku tidak akan meminumnya sampai Sarah kembali,” gerutunya yang kuyakini tengah mengerucutkan bibir mungil miliknya.
Keningku mengerut meski ia tak bisa melihatku. Kemudian lanjut berjalan di sepanjang trotoar. "Kenapa?"
“Sarah, firasatku tidak pernah salah. Aku, 'kan, anak Dewa Semesta dan Dewi Kehidupan, aku tidak mungkin berbohong!”
Entah mengapa mendengar pernyataannya semakin membuat kekehanku menggila. Orang sekitar sampai melihatku dengan terheran-heran. Aku tidak peduli, Jordan saat ini sukses membuat moodku lebih baik hanya sekadar berbincang. Namun, biar bagaimanapun, aku tidak bisa selalu bersamanya. Aku juga ingin memiliki waktu sendiri, kalau aku terbiasa bersama pemuda itu, bisa-bisa aku dianggap obsesi. Atau mungkin sama seperti yang Cayla bilang; Jordan seperti anak anjing yang terus mengikuti majikannya.
"Terima kasih sudah mengingatkanku. Aku akan lebih berhati-hati kalau begitu," ucapku sambil tersenyum simpul.
Edaran mataku sontak terjebak, ketika mendapati setelan pakaian yang terpajang di dinding kaca, tentu sebuah toko baju. Tiba-tiba juga terlintas sosok pria bulan, persetan dengan telepon yang tengah berlangsung, aku langsung menutupnya secara sepihak.
"Jo, aku matikan, ya. Bye!" pungkasku. Lalu menyimpan ponsel ke tas, sebelum kemudian memasuki toko baju di sana.
___________________________________________
"Sarah? Sarah?! Halo? Sarah?!" Jordan tampak kesal ketika teleponnya diputus secara sepihak oleh Sarah. Ia mendecak kesal, bahkan raut wajah khawatirnya terlihat begitu nyata.
"Aish! Maklum aja kalau dimatikan sama Sarah, karena kau terlalu banyak bicara," celetuk Matthew tanpa aba-aba yang sedang mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Melihat tingkah menyebalkan Matthew, wajah semula Jordan yang khawatir berubah menjadi kesal. Ia bersiap dengan seribu satu lontaran kata pembelaan untuk dirinya sendiri. Namun, sebelum kata-kata protes terlontar, Matthew sudah lebih dulu menyela, "Tersenyumlah! Wajahmu terlihat masam kalau cemberut seperti itu."
Seketika niat Jordan protes menjadi surut. Kini ia tampak seperti menatap Matthew yang sedang duduk di sebelahnya dengan intens. Ia pun mengubah posisinya jadi menghadap ke Matthew seolah akan bernicara empat mata.
"Apa?" tanya Matthew menuntut.
"Aku bingung pada Sarah. Dia melarangku tersenyum, padahal dia bilang aku lebih tampan ketika tersenyum. Apa ada yang salah dengannya? Apa semua perempuan seperti itu?" Mata Jordan menyipit, menandakan ia serius akan pertanyaan barusan.
Melihat kepolosan Jordan, sang pemuda berkulit agak gelap itu berkata, "Tentu saja dia cemburu."
"Ah, tapi saat aku tanya dia cemburu atau tidak, dia malah mengelus rambutku dan bilang bahwa aku tidak peka," lanjutnya lagi tanpa jeda.
Matthew menaruh ponselnya. Menatap Jordan lekat. "Sejahat itukah paras elok yang indah? Senyum bak cantiknya bunga. Bahkan detik perdana mampu melarutkan kaum hawa."
__ADS_1
Deretan kalimat puitis sekaligus menggelikan khas Matthew, disertai gerak tubuh yang alai. Bulu-bulu Jordan saja mulai meremang, kalau mungkin dilegalkan menyumpah-serapahi orang, secara tidak segan akan Jordan katakan sekarang.
Tanpa disadari pun sudah ada dua oknum yang datang ke flat. Satu pihak tercengang, pihak lain merasa jijik. Bukan lain adalah Cayla dan Joseph. Lihat, wajah Cayla lebih menunjukkan ekspresi ambigu. Dan Matthew malah terjebak dalam kesalahpahaman antara hubungannya dengan Jordan. Lagi pula, maklum saja Cayla berspekulasi ambigu kepada Matthew. Pasalnya, Matthew bisa melempar gombalan sekaligus puisi pada siapa pun.
Detik selanjutnya Joseph dan Cayla masuk ke dalam. Mereka masing-masing terlihat membawa satu kantung plastik besar yang berisi bahan makanan.
"Mat, kita tahu kamu sedang tertekan. Tapi kalau cari pelariannya sama yang sejenis, sangat tidak masuk akal!" Rupanya Joseph sudah berpikir lebih jauh dan lebih kacau.
Matthew tidak terima. Ia secara refleks berdiri dari sofa dan hendak protes. "Hei! Ini bukan yang seperti kalian pikirkan! Aku hanya sedang mengajari Jordan tentang materi cemburu dalam hubungan. Sudah, itu saja, kok," jelas pemuda itu cepat-cepat.
Seluruh penghuni memecah keheningan dengan tawa——Jordan tidak terhitung. Ternyata ini hanya candaan semata seolah mereka sedang akting di serial sinetron.
___________________________________________
Sarah POV
Ada yang menarik tadi di toko baju. Aku memilih dua setelan piyama bernuansa putih dengan beberapa corak planet dan bintang yang tersebar di seluruh bagian. Kupikir ini akan cocok dipakai Jordan.
Beberapa jam sudah berlalu. Perutku rupanya memberontak minta asupan. Hingga aku memutuskan mencari tempat makan terdekat. Selain enak, aku juga memilih tempat yang tarifnya bersahabat. Bukan karena uangku tidak cukup, hanya saja aku sedang bertekad menabung. Akhir-akhir ini aku mulai memikirkan suatu rencana dengan tabunganku itu.
Tempat makan di sepanjang jalan ini ternyata memiliki harga yang cukup tinggi. Memilih untuk tetap berjalan mencari tempat makan, akhirnya aku melihat salah satu tempat makan yang memiliki diskon habis-habisan untuk jam makan siang. Melihat simbol persen pada spanduknya saja sudah membuatku tergiur, apalagi setelah tertulis juga itu adalah restoran terbaik di sini.
"Ternyata dewi fortuna mempunyai jalannya sendiri," gumamku bersyukur.
Tanpa berpikir lagi langkahku sudah mengiring memasuki restoran. Tidak terlalu banyak pengunjung, suasana yang nyaman untuk makan siang, menu dan porsi yang pas. Hanya memesan satu makanan pokok dan satu minuman.
"Ini pesananmu." Salah seorang pramusaji menghampiriku sambil membawa pesanan.
Bibirku terukir senyum hangat.
"Terima kasih."
Satu suapan pertama berhasil lolos ke pencernaan, rasanya sangat nikmat. Sampai suapan kedua, aku mendengar suara gerombolan perempuan muda bersama satu sosok yang terasa familiar.
Dengan berbagai cara aku menutupi wajahku dengan buku menu yang besar. Namun ternyata usahaku nihil. Kedua indra penglihatannya lebih cepat menangkap presensiku di sini.
"Teman-teman, ayo duduk di sini!"
Buku menu itu kutaruh lagi di atas meja. Aku bersikap biasa saja, meskipun sesungguhnya sangat risau.
Dia seperti salah pergaulan, terlebih mereka memakai pakaian ketat yang tidak senonoh.
"Hey! Kalian tahu tidak? Aku baru saja putus." Salah satu temannya mencurahkan kepiluan hati tanpa ada ekspresi menyesal atau sedih, melainkan seperti dibuat-buat. Tanggapan temannya yang lain juga hanya seperti menaruh perhatian yang sia-sia.
"Tenang saja. Kita bisa pergi ke club nanti, bahkan kau bisa menemui banyak pria kaya dengan proporsi tubuhmu itu."
Hiburan yang tidak senonoh, itu bukanlah suatu solusi positif. Apa mereka tidak malu mengungkapkan itu di tempat umum? Seperti mencari hubungan hanya untuk dimanfaatkan.
"Memangnya kenapa dengan mantanmu? Apa dia selingkuh?" tanya Haeya seolah memulai aksinya. Dia bahkan sesekali melirikku dengan sinis.
"Lebih tepatnya ia memilih perempuan lain hanya karena balas budi. Ya, aku menganggap itu seperti balas budi, cih!"
Tunggu. Aku hampir mengira cerita itu adalah ceritaku sendiri.
"Seharusnya kau memberi pelajaran pada gadisnya dulu, apa lagi mantanmu bisa terbilang lumayan mapan. Hati-hati jika gadisnya murahan, sifat lugunya bisa saja menutupi kebusukan," celetuk Haeya.
Dan saat ini aku merasa tersindir. Aku takut. Ternyata benar kata Jordan, bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Kamu seperti pernah mengalaminya saja," sergap teman Haeya yang lain.
"Tidak kok, aku hanya mengarang."
__ADS_1
Lagi-lagi tatapan sindir itu menyorot kepadaku. Sampai teman-temannya yang lain ikut menatapku penuh intimidasi.
"Eh? Bukannya dia pekerja yang suka menggoda bosnya?" Temannya menunjuk Sarah.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Hae, teman kerja di clubku mendengar banyak berita yang kau sebarkan secara massal saat di kafenya."
"Omong-omong kamu tahu dari mana jika gadis itu suka menggoda bosnya?"
"Temanku menceritakan hal itu. Katanya dia tinggal di apartemen yang sama dengan bosnya, padahal bosnya sendiri sudah punya kekasih. Bukankah dia tampak seperti gadis naif dan lugu?"
Bisakah sehari saja aku damai?
Mataku kian memanas. Air mata mengalir tanpa aba-aba. Aku muak, malu, mengapa dia selalu bertindak seenaknya? Aku sudah tidak tahan lagi, sebaiknya aku keluar dari sini.
Namun sialnya, belum sempat beranjak, tubuhku terhempas ketika Haeya secara sengaja menyandungku dengan kakinya.
Byur!
Aku membulatkan mataku kala sekumpulan air berwarna merah, lebih tepatnya wine tiba-tiba saja terjatuh dari atas kepalaku ketika aku masih tersungkur. Bukan hanya aku, tetapi barang bawaanku juga basah. Aku segera menyilangkan tanganku di depan dada. Aku memakai dress putih yang sekarang jadi sedikit tembus pandang karena basah.
"Entah mengapa wine ini terasa pahit, apa ini wine murahan?" Sang pelaku menekan kata murahan.
"Kalau begitu kamu harus membuang ini jika murahan." Tanpa ragu Haeya menghampiriku, bahkan teman-temannya memotret sekaligus merekam aksi tadi.
"Kalian sudah mengambil videonya, 'kan?" tanyaku, memberanikan diri.
"Mana mungkin aku lewatkan."
Aku tidak bisa melawan. Sudah biasa, dan aku pikir ini akan memuaskan dendam Haeya padaku. Kini bukan hanya sekujur tubuhku yang basah, tetapi tas yang berisi pakaian yang tadi kubeli juga basah.
Kecewa? Pasti.
Kepalaku sudah berdenyut sejak pagi. Dan semakin diperparah oleh kejadian tadi. Penampilanku kacau, ditambah air mata ini tak kunjung berhenti mengalir. Semua orang sekitar tampak memperhatikanku, membuatku merasa ingin lenyap detik ini juga. Sungguh, aku sudah seperti gelandangan dengan bau wine yang membekas di tubuhku.
Sebagian dari mereka menganggapku lelucon dan tertawa. Beberapa menatapku dengan tatapan jijik yang sangat mengintimidasi. Sisanya, mungkin tak menganggapku sebagai sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Mereka hanya melihat sekilas, lalu berjalan seolah tak ada sesuatu yang terjadi.
Dret-Dret-Dret!
Ponselku kembali bergetar. Tidak lain, tidak bukan, sang penelepon adalah Jordan.
“Sarah! Ini sudah tiga jam tau!” Jordan mengomel kesal.
"Oh ya? Maaf kalau aku lama. Aku sedang menunggu taksi."
“Suara Sarah kenapa? Terdengar seperti sedang menangis.” Rasanya aku ingin berteriak keras ketika Jordan menanyakan itu, dengan sekuat tenaga aku mencoba menormalkan suaranya.
"Aku meminum banyak soda jadi terdengar sedikit serak." Terpaksa aku memilih bohong.
“Benarkah? Firasatku buruk.”
"Tunggulah di flat Matthew, aku akan menghampirimu nanti."
.
.
.
to be continued...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡