NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[52 : Kenangan Hambar]


__ADS_3

Di saat yang bersamaan dengan momen Sarah dan Jordan di part 51.


Atas ajakan pemuda yang berstatus sahabatnya, sekarang Cayla sudah berada di sebuah bar kecil bersama Joseph. Tempat itu tidak terlalu dipadati pengunjung dan suasana didominasi ketenangan. Berbagai lagu barat mengalun pelan seiring jalannya waktu.


Cayla terdiam duduk di kursi bar. Sudah satu jam berlalu, dan yang gadis itu lakukan hanyalah terus menatap bingung pemuda di depannya. Pemuda yang sejak awal menghabiskan waktu dengan meneguk *So*ju. Lantas kuriositas Cayla memuncak, dia langsung menghentikkan kegiatan Joseph yang hendak meneguk satu gelas lagi.


"Jo, ada apa denganmu?" lirih Cayla. "Sedang dilanda masalah?" timpanya berulang.


Joseph sudah setengah mabuk menyelami euforia. Ia tersenyum dengan wajah yang memerah, berusaha fokus pada gadis di hadapannya sekarang, karena netranya kini kabur ke arah tak menentu. Ia juga sulit berkonsentrasi pada satu titik.


"Kamu ... mungkin menganggap kondisiku sangat sulit," kata Joseph lumayan terbata. Membuat Cayla masih bergeming lantaran merasa sama sekali tidak paham arah bicara sang pemuda.


"Semua orang tidak memedulikan itu ...," lanjutnya terjeda, "tapi aku harus berpegang pada harapan."


Lantas Cayla mengerutkan dahi. "Hei anak kecil! Aku ngga suka orang yang terlalu bertele-tele." Bukan Cayla Alverine namanya jika tidak menambah kesan ketus dalam dialognya.


Tak kunjung mendapat respon, Joseph malah beranjak dari kursi dan melangkah pergi ke luar. Niat murni Cayla sebenarnya ingin pulang saja, daripada mengurus pemuda kekanakan ini. Namun kondisi Joseph saat ini tengah dalam pengaruh alkohol, oleh karena itu Cayla tidak tega hati bisa meninggalkan Joseph seorang diri.


Setelah banyak pertimbangan, Cayla pun mengekori sang pemuda ke luar. Tampak dari belakang, Joseph dengan langkah terhuyung-huyung memutuskan duduk di salah satu bangku taman. Ada deretan lampu jalan yang menerangi remang-remang. Semenit kemudian Cayla duduk di samping Joseph. Meskipun ia mabuk, ia masih bisa menyadari presensi familiar sang sahabat di sampingnya.


"Bisakah ... aku memberitahumu ... rahasia?" tanyanya terbata-bata, tanpa sedetik pun memandang wajah Cayla yang terus menatapnya.


"Sebenarnya aku ... tidak baik-baik saja ... dengan semua ini," ungkap Joseph bernada pelan bahkan nyaris tak terdengar. "Aku juga merasa ... harga diriku jatuh ... saat jalan bersamamu."

__ADS_1


Kalimat terakhir dari Joseph, sukses membuat Cayla sekarang dapat mengerti akar persoalan ini. Cayla sampai memberi tatapan intimidasi seolah menuntut lebih banyak penjelasan.


"Hahaha! Aku memberi tahumu tentang ini ... karena aku mabuk. Ngga usah dipikirkan terlalu serius." Pemuda itu menatap Cayla dengan mata sayu tanpa ekspresi. Bahkan tawanya terdengar amat hambar.


_________________________________________


Di saat yang bersamaan pula


Matthew melihat bentangan langit dari dalam mobil, yang kini sudah kian gulita. Ia tersenyum simpul, menyetel musik melalui radio mobil seraya bersenandung riang. Setelahnya, Matthew menyalakan mesin dan mulai melajukan kendaraan berkaki empat miliknya.


Bisa dibilang Matthew merasa bebas tatkala tiada presensi Jordan malam ini. Secara pria Bulan itu akan mengambil satu malam untuk tidur di rumah Sarah. Ya, mungkin nanti ia akan segera diberi kabar setelah Sarah merilis berita kehamilannya. Tidak, tidak! Ini hanya berupa pikiran absurd si pria berdarah Texas.


Masih mengalun lagu dari vokalis laki-laki yang merdu nan unik. Ia tampak menikmati tangga nada lagu, bahkan Matthew ikut bernyanyi sepenggal demi penggal liriknya. Dengan penuh kesiapan, laju mobil pun terhenti. Tentu saja sengaja, akibat dihalangi oleh rambu lalu lintas berwarna merah.


Di sela-sela keberlangsungan bernyanyi, Matthew mengecek arloji mewah pada lengan kirinya, ternyata masih menunjukkan pukul tujuh malam. Pantas saja, jalanan California masih ramai oleh banyak transportasi.


Dan suatu objek tanpa aba-aba mengunci manik mata Matthew secara mudah. Adalah papan besar Billboard di sisi samping rambu lalu lintas berdiri, yang memampangkan visual Haeya. Seorang gadis yang pernah mengukir cerita indah bersamanya, dalam kurun waktu singkat. Ternyata memang benar ucapan Joseph, bahwa Haeya kini menjadi model iklan salah satu produk ternama.


Tes ... Tes ...


Bulir air bening menitik dari sudut mata. Bahkan walau begitu, pusat perhatian Matthew benar-benar terkunci pada foto Haeya yang sedang tersenyum. Senyum yang sejak lama ia rindukan. Senyum yang kini tak lagi singgah bersamanya. Senyum yang kini terasa fana.


Terlebih di mata Matthew semuanya seakan melambat. Pemandangan lainnya pun mengabur, tak lagi terlihat. Hanya iklan gadis itu yang terlihat jelas di matanya. Dan Matthew semakin dibuat sakit akan kenangan buruk masa lalu.

__ADS_1


Matthew jadi teringat perkataannya tadi siang saat piknik. "Kalau begitu, aku akan menutup mata saat berkendara agar tidak melihat iklan itu," katanya.


Namun sekali lagi, itu adalah bualan. Justru Matthew menatap lekat foto sang gadis. "Rupanya ... kamu yang tak pernah kusangka akan datang, kini menjadi seseorang yang paling kurindukan," lirihnya.


Tin-tin!!


Matthew terperanjat begitu sebuah suara tiba-tiba menginterupsi indera pendengarannya. Saat sadar, ia buru-buru menyeka air mata dari pelupuk kedua mata. Matthew jadi sadar, bahwa rambu lalu lintas sudah dari tadi berubah warna hijau, dan yang ia lakukan hanyalah melamun. Alhasil ia beroleh teriakan sarkastis sekaligus suara nyaring klakson dari deretan mobil di belakang Matthew.


.


.


.


I feel weighted by sorrow for no reason


Every day since you left


I've been left alone with pains


And I hate it.


-Matthew

__ADS_1


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


__ADS_2