NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[13 : Dia Sebuah Bulan]


__ADS_3

"S—siapa?"


Aku berjengit di tempat ketika tiba-tiba saja seseorang menghampiriku. Aku pun menoleh ke arah pria itu yang sudah mengambil alih ayunan di sebelahku. Pria itu hanya mengedarkan padangannya ke langit. Tanpa sekilas pun melihatku yang tengah menatapnya dengan lekat.


"Ada apa?"


Akhirnya pria itu menoleh. Kami saling melempar pandang tanpa ekspresi. Dari saat itu, aku memanfaatkan waktu untuk melihat jelas mimik wajahnya, supaya bisa tersimpan di ingatan.


Tampan, menjadi kata perdana yang aku lontarkan dalam batin. Namun, aku tak cukup pintar untuk mencerna pertanyaan pria itu.


"Bukannya kau memanggilku?"


Belum sempat aku menjawab, ia sudah bertanya balik. Sambil berkedip-kedip bingung, aku berujar, "Aku memanggil Bulan. Bukan kamu."


"Dan aku adalah Bulan."


Sebentar, apa jangan-jangan aku yang salah dengar?


Atau dia yang sedang halu?


Aku terus berpikir tanpa suara. Kalau boleh, aku akan melempar umpatan-umpatan atas ucapan konyolnya. Sementara pria itu, hanya menatapku tanpa pergerakan.


"Beneran?"


Dan sekarang, aku malah melempar pertanyaan itu, seolah-olah aku percaya dengan argumen bahwa dia sebuah bulan.


"Aku tidak perlu kepercayaanmu," celetuknya.


_________________________________________


Cklek!


"Jordan! Jordan? Pria tampan yang baru saja mendapat hati seorang wanita ini sudah pulang!"


Seruan-seruan Matthew menggema di apartemen. Ia baru saja pulang dengan wajah berseri. Sepertinya ia punya kabar gembira, tetapi ketika tahu Jordan tidak berada di apartemen, raut wajahnya seketika berubah. Seperti ibu yang kehilangan buah hatinya.


Ia merogoh kasar saku jaketnya dan menemukan ponsel.


Tangannya tampak mengetik sesuatu di ponsel sebelum akhirnya ia tempelkan di telinga. Pria bermarga Julian itu tanpa lelah jalan berkelintaran di satu titik sambil mendecak.


"Kenapa anak itu tidak menjawab teleponku sih?! Dia masih ga paham cara menggunakan ponsel ya?"


Tiba-tiba Jordan datang dengan seorang gadis. Tangan kiri Jordan dilingkarkan pada leher si gadis. Sementara gadis itu memegang pinggang Jordan dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menggeret koper.


Melihat gadis itu kesulitan, Matthew segera mengambil alih Jordan untuk dibawa ke sofa.


"Hei! Kenapa kau bisa luka? Sudah kubilang ga usah berkeliaran! Dan kalau aku telepon itu diangkat! Aku, kan, sudah mengajarimu menggunakan ponsel! Kau ini bagaimana sih? Sekarang kau malah merepotkan seorang gad—"


"Diam lah! Kau berisik sekali!"


Seperti yang sudah dikatakan tadi, bahwa Matthew memang menunjukkan rasa khawatir layaknya seorang ibu pada buah hatinya. Namun sang anak malah membangkang ibunya.


Matthew mendengus kasar. Ia baru sadar dengan tingkah protektifnya pada pria itu, sampai ia lupa dengan gadis yang membantu Jordan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Sarah.


"Apa nama barang itu? Kenapa dia jahat sekali?" Jordan malah bertanya balik.


Adalah koperku yang ia maksud. Aneh sekali, pria ini seperti sungguhan dari planet lain, batin Sarah.


"Ah, itu koper. Kau tadi menabraknya. Kopernya mah diam saja di tempat," sindir Sarah.

__ADS_1


"Terima kasih ya, sudah mau bantu bocah ini," ucapnya sambil melihat ke arah gadis itu yang masih mematung di daun pintu.


"Dia harus segera diobati. Aku harus pergi."


Ia melihat lekat si gadis yang tak berpakaian hangat meski suhu sangat rendah. Matthew cukup peka untuk mengetahui gadis ini sedang merantau. Niat ingin berbalas budi pun muncul dalam benak pria tajir itu.


"Kau!" panggil Matthew, membuat langkah Sarah terhenti.


"Namamu siapa?"


"Saya? Sarah."


"Kau tidak punya tempat tinggal ya?"


"Hah?"


"Aku ingin berbalas budi kepadamu. Tinggalah di flat depan kami!"


Entah karena memiliki hati yang baik atau saking tajir melintir, yang pasti pria itu senantiasa membeli flat apartemen untuk Sarah.


Bukannya ia mau sombong atau pamer, tetapi ia merasa tak tega melihat orang kesulitan. Sama halnya saat ia bertemu Jordan hingga menyuruhnya untuk tinggal bersama. Matthew pun tak pernah merasa rugi, apalagi ketika Dewi Kemakmuran selalu berpihak padanya.


Melihat kebaikan pria itu, wajar saja Sarah mendadak terkejut. Ada banyak tanda tanya melayang-layang di kepalanya. Dia tidak beranjak dari posisinya berdiri sampai hampir semenit, seperti sedang melamunkan sesuatu dan menimbang-nimbang jangka panjang.


Sebenarnya, saat ini gadis itu tidak hanya sedang memikirkan tawaran si pria tajir. Dia juga memikirkan tujuan awalnya datang ke Texas. Yang menjadi ihwalnya, Sarah tersesat sebelum sampai ke rumah sang bibi.


Niat Sarah murni untuk menolak. Namun hal itu rupanya tak diterima baik oleh Matthew. Maka gadis bernama belakang Rosanne itu memutuskan untuk menerima tawaran Matthew. Setidaknya dia bisa memiliki tempat menetap sementara. 


"Bukannya terlalu merepotkan? Pertolonganku juga tidak seperti menyelamatkan seorang yang sekarat," ungkap gadis itu dengan tangan yang perlahan menggaruk tengkuknya.


"Orang ini berbeda. Jadi, kuanggap pertolonganmu sepadan seperti menyelamatkan seorang yang sekarat."


Berbeda? Apa maksudnya? benak Sarah.


Tak sempat lagi gadis itu bicara, dia sudah terlebih dahulu ditarik keluar oleh tangan Jordan yang terluka dan meninggalkan Matthew dengan wajah yang terhitung kesal, tetapi untungnya Jordan tepat memilih Matthew sebagai orang yang merawatnya, karena sekesal apapun Matthew terhadap Jordan, dia tidak pernah mengungkap kekesalannya dalam bentuk tindakan ataupun sindiran. Pria berhati besar adalah julukkan yang cocok untuk Matthew. 


Sarah dan Jordan sudah memasuki sebuah flat yang ditunjuk oleh Matthew. Tepat di depan flat mereka. Dengan ukuran delapan belas meter persegi, sudah terhitung sangat cukup untuk Sarah tinggali. Ia berjalan mengelilingi ruangan yang masih asing baginya. Dia melihat ruangan yang sudah terpenuhi akan fasilitas mewah dan canggih. Gadis itu selalu bergumam apakah pemberian ini terlalu berlebihan untuknya?


"Kamu jangan merasa sungkan. Matthew adalah pria kaya raya, baginya ini hanyalah pemberian kecil," ucap Jordan dan Sarah hanya mengangguk paham.


Apa seperti itu rasanya bagi orang yang kelebihan harta? batin Sarah miris.


"Sepertinya kamu orang yang kaku, apa kamu berasal dari negara lain?"


Menurut pandangan Sarah, gerak-gerik pria ini sangat aneh. Ada kemungkinan bahwa dia melakukan imigrasi secara intens.


"Negara? Apa itu negara? Dari awal aku sudah bilang aku ini Bulan. Tetapi kau tidak percaya."


Mendengar pertanyaan sekaligus jawaban dari Jordan, Sarah mengerutkan dahi. Sungguh, dia sangat tidak tertarik akan guyonan yang tidak bermutu ini. Terlebih Sarah sadar diri kalau dirinya tak cukup pintar untuk mencerna omongan orang lain.


"Ah, tanganmu masih terluka. Duduk di sofa dulu!"


Sadar dengan luka Jordan di kedua telapak tangannya, dia langsung mengambil kain bersih dengan sedikit dibasuh air. Luka lecet itu diseka perlahan-lahan. Sesekali Sarah juga meniup lukanya ketika si pemuda Luna meringis. Meski Sarah tidak memiliki hansaplast, sepertinya dengan membersihkan lukanya sudah cukup.


"Kau sedang apa pada kedua tanganku?"


"Aku sedang membersihkan luka-lukamu," jawabnya, masih berpaku pada tangan Jordan.


Seketika dia merintih. "Rasa apa ini?"


Sarah terkekeh kecil dan menjawab, "Oh ... itu artinya kau merasa sakit."

__ADS_1


"Pantas saja menyakitkan."


Setelah itu, Sarah merapikan barang bawaannya dan mengistirahatkan dirinya. Tetapi sang pemuda yang mengaku bulan itu, masih menatapnya datar tanpa ekspresi apapun. Hal itu sontak jelas membuat Sarah menjadi risih. Sehingga terpaksa dia harus membuka suara lagi, "Jika kamu gak ada keperluan penting lagi, kamu bisa kembali ke tempatmu."


"Tidak menjadi masalah jika aku tinggal?"


Pertanyaan absurd itu diucapkan secara frontal oleh pria ini. Sarah hanya bisa memutar bola matanya malas dan menjawab, "Yang menjadi masalah kalau kamu selalu di sini. Aku orang baru, akan sangat aneh jika kau menemaniku di sini. Apalagi hanya berdua." Dia menutup kalimatnya dengan sedikit menaikkan nada bicaranya. 


"Jadi ... kau menyuruhku pergi?"


"Ya, seperti itu."


"Mengapa kau berbeda?"


"Hah? Apanya yang berbeda?"


"Mengapa kau tidak menanyai nomor teleponku seperti gadis lainnya? Kau bahkan tidak bertanya namaku," tanya Jordan berturut-turut.


"Tadi kau dipanggil Jordan oleh Matthew. Jadi kupikir, namamu adalah Jordan."


Berdasarkan pengalaman, setiap gadis yang melihatnya pasti selalu menanyai namanya dan meminta nomor teleponnya, tetapi Sarah tidak melakukan hal yang sama pada Jordan. Hal itu malah membuat Jordan memberi nomor teleponnya, meski gadis berambut pendek itu tak meminta. Sebenarnya Jordan yang terlewat polos atau ia memiliki kepercayaan diri yang akut?


Namun Sarah tetap menerima, karena bisa saja itu dibutuhkan dalam kondisi tertentu.


"Jordan Luna. Nama lengkapku Jordan Luna."


_________________________________________


"Eh, kau udah pulang. Kukira kau akan bermalam di sana," ujar pria dari dalam apartemennya untuk menyambut seseorang yang baru datang. 


"Bermalam?"


"Maksudnya menemaninya di sana," ralatnya cepat dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.


"Dia tidak mau," jawab Jordan datar, sedangkan Matthew hanya menahan kekehannya saja.


Lalu Matthew mendekati Jordan dan menepuk bahunya serta berkata, "Ingin sekali aku menggunjing kepolosanmu."


Sebelum ia mengakhiri perbincangannya dengan pemuda Bulan, Matthew sempat melihat pada benda pipih yang selalu berada digenggaman Jordan. "Sepertinya kamu sudah akrab dengan ponsel yang aku berikan." 


"Mungkin. Aku bisa memasukkan benda ke dalam ponsel ini dan aku menyukainya."


Mendengar jawaban Jordan, Matthew hanya bisa memasang wajah kebingungan. "Apa maksudmu?" 


"Jika kuarahkan ponsel ini tepat di wajahmu, maka wajahmu itu akan masuk ke dalam ponselku." Setelah mendengar penjelasan Jordan akhirnya Matthew pun mengangguk paham. 


"Itu namanya memotret. Kamu pasti punya hobi photografi."


"A—"


"Tidak penting. Aku tau kamu ga akan paham."


Mudah ditebak, Matthew langsung terkesiap menyudahi pembicaraan mereka. Ini sudah malam, membuat Matthew jadi malas jika harus panjang lebar menjelaskannya, seperti sedang memberi seribu satu materi kuliah.


Padahal usut demi usut dia ingin bercerita kepada pemuda Bulan itu bahwa ia sudah memiliki suatu hubungan dengan sang pujaannya.


.


.


.

__ADS_1


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


__ADS_2