NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[0.8 : Gadis Sebatang Kara]


__ADS_3

Sarah POV


Aku memasuki sebuah ruangan dengan nuansa warna cokelat yang terpadu dengan berbagai jenis kopi dan roti yang baru saja dipanggang. Bukan lain adalah tempat kerjaku, sudah cukup lama aku bekerja di kafe ini.


Pada awalnya, aku bekerja sangat baik sehingga banyak pujian yang dilontarkan dari para pelanggan maupun bosku.


Namun semakin ke sini, kurasa performa kerja yang kumiliki mulai menurun, karena banyak hal kupikirkan sehingga tidak mungkin aku bisa selalu berpikir secara jernih. Apalagi kejadian beberapa hari lalu yang karena kecerobohan, aku bisa kehilangan pekerjaan ini.


"Kau pasti bisa! Bersemangatlah Sarah, perasaanku berkata akan banyak pelanggan hari ini," gumamku pada diri sendiri.


Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan guna melegakan kerisauan.


Dalam hati, aku selalu berharap bahwa hari ini pasti dewi fortuna sedang berpihak.


Pelanggan pertama hari ini telah datang, untuk menyambutnya kubuat kurva melengkung pada wajahku. Jangan lupa dengan mata yang berbinar. Mungkin aku letih, tetapi aku tidak ingin pelanggan merasakannya juga, kita harus saling berbagi energi yang positif.


"Mau pesan apa, kak?" tanyaku dengan hati-hati.


"Aku pesan satu Americano dan dua Green Tea Macaron," balasnya hangat.


"Baik. Silahkan ditunggu ya, kak."


"Terima kasih," tuturnya.


Seandainya semua pelanggan sepertinya pasti akan sangat nyaman, tetapi aku bisa apalagi begitu banyak tipe pelanggan yang selalu kuhadapi.


Semakin matahari bergerak naik, maka akan semakin banyak pelanggan yang datang. "Selamat siang, mau pesan apa?"


Aku bertanya kepada pelanggan wanita yang ada di hadapanku.


Namun, mengapa aku merasa familiar dengan wanita ini?


Setelah kuamati dengan sangat jelas, aku ingat ia adalah Angel. Wanita yang memarahiku beberapa hari yang lalu. Ia kemari menggunakan style yang sama.


Apa yang ia inginkan lagi?


"Aku ingin memesan menu yang sama seperti beberapa hari yang lalu." Dia menekan kata-kata dengan sangat jelas, aku tidak tahu masih ada orang yang sangat arogan di tahun ini.


"Oh, satu lagi, kau lihat pakaian ini? Tidak usah panik, aku membeli pakaian yang sama. Beruntung stock-nya masih ada beberapa, kalau tidak, maka kau dalam masalah besar," lanjutnya dengan menyinggungkan senyum, sekali-kali dia juga meniup jari-jari lentiknya itu layaknya orang sombong.


Prahara lagi. Tidak bisakah aku menghilang saja hari ini?


Tanganku sudah lelah, karena sedari tadi aku terus mengepal tangan ini sebagai bentuk kekesalan. Sesungguhnya bukan hanya tangan ini yang lelah, pikiran dan perasaanku juga sudah mulai merasa lelah menerka prahara.


Tanpa intruksi, seorang wanita lain menghampiriku, lalu dia berdiri tepat di depanku, lebih tepatnya menghadap ke wanita yang sedari tadi memakiku. Karena itu, aku hanya bisa melihat pundaknya yang tegak dan kepalanya yang terangkat angkuh.


"Maaf banget ya, aku harus menyela pembicaraanmu. Tapi, apa kau tidak malu terus menerus menghina gadis lugu ini? Bahkan, video kau mempermalukan gadis ini beberapa hari lalu, sudah viral di media sosial," tangkas wanita itu.


"Hei! Kau siapa, hah?!" tanya Angel, bernada tegas. "Berani-beraninya ikut campur urusanku!" teriaknya lagi.


"Kalau ga mau orang lain ikut campur, ya jangan bertengkar di tempat umum. Oh, jangan-jangan kau suka jadi pusat perhatian orang lain, ya?" ketus wanita itu hingga sukses membuat para pelanggan lain tertawa, tentu saja menertawakan Angel.

__ADS_1


Sedangkan Angel hanya bergeming diam. Dia tercengang dengan kata-kata yang wanita itu katakan. Aku jadi merasa kasihan padanya, dia malah diperbincangkan semua orang di kafe.


Namun setelah itu, dia malah tercengir dan tertawa miris. Rasa miris itu disiratkan padaku, dia melangkah lebih dekat ke hadapan wanita yang membelakangiku. "Kamu merasa kasihan sama pegawai dengan pendidikan yang sangat terbatas ini, ya?" tukas Angel.


Aku tersentak kaget. Kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada alasan yang membuat wanita itu harus membantuku. Mungkin memang benar, bahwa ia hanya merasa kasihan padaku.


"Aku yang kasihan sama kamu!" bantah wanita itu dengan sigap.


"Pertama, gadis ini sudah minta maaf, tapi hatimu terlalu dangkal untuk mengampuni. Kedua, kau mungkin lahir dari keluarga yang mempunyai sendok emas dan mungkin kau juga mempunyai pendidikan yang tinggi. Namun apakah itu terlihat dalam dirimu? Kau memiliki segalanya, namun kau sangat menjijikan dalam beretika pada orang lain," sindir wanita itu dengan menaikkan suaranya jadi lebih keras, guna membuat Angel malu.


"Ketiga?" Serentak para pelanggan kafe yang menyaksikan adegan itu, ikut bertanya. Seolah mereka menikmati sebuah drama.


"Ketiga, namamu berartikan malaikat, tapi rasa kemanusiaannya tumpul!" lanjutnya lagi, sambil menyeringai angkuh.


Hal itu membuat harga diri Angel jatuh, mungkin seperti tidak lagi punya harga diri. Angel masih berpaku di tempatnya, dan menatap wanita yang terus mengoceh itu dengan tajam.


Wanita yang sejak awal membelakangi diriku, kini menengok ke arahku dan bertanya, "Hei! Kau tidak mau bicara?"


Akhirnya aku memutuskan untuk bicara. Karena nyaliku hanya sejumput, aku bicara sambil menunduk dan masih mengepal tangan.


"Setiap saat saya selalu berpikir 'Apa yang bisa saya bawa hari ini ke rumah?' 'Apakah penghasilan ini cukup untuk kebutuhan selama sebulan?' Bukan hanya sebulan, bahkan untuk satu hari saja saya harus berpikir mati-matian, terlebih lagi, saya harus mengurus nenek saya yang sakit keras. Tapi, nona ini hanya ribut soal pakaian, dan saya juga tidak mempermalukan anda waktu itu. Malah saya yang dipermalukan. Jika nona minta ganti rugi, maka saya akan ganti itu saat uangnya sudah cukup."


Aku tidak bisa lagi menahan air yang sudah terbendung di pelupuk mataku. Orang-orang seketika bungkam, dengan melempar tatapan iba padaku.


"Saya mengatakan ini bukan untuk meminta belas kasih anda, tetapi untuk menyadarkan anda betapa tumpulnya hati anda kepada orang lain. Berteman sesuai level anda, selalu menunjukkan apa yang anda punya, menghina orang lain, seharusnya anda malu," sambungku lagi.


"Bahkan, setelah gadis ini bicara pun, kau tidak ada niat minta maaf? Kalau ga mau minta maaf, aku akan menunjukkan pintu keluarnya," sindir wanita itu lagi.


Angel tampak kesal dan tanpa banyak bicara lagi, dia segera keluar. Suasana kafe menjadi tegang. Ada beberapa pelanggan juga risih dengan kejadian ini.


"Selagi kamu masih punya mulut, terkam saja orang-orang seperti dia!" Setelah bermajas demikian, dia kembali ke mejanya. Aku bisa melihat bahwa ia datang dengan beberapa temannya.


Kemudian, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Bukan untuk lari dari masalah, aku hanya ingin memperbaiki harga diriku.


_________________________________________


Di tengah kepadatan, langkah kakiku tampak seringan kapas, tetapi sebenarnya tidak. Tanpa aba-aba, rasa penat menyelimuti kepalaku. Suhu pun naik drastis. Membuat sekujur tubuhku berkeringat. Aku terus menguatkan langkah demi langkah untuk berjalan, akan tetapi tubuhku seperti menolak hingga tanpa kendali aku jatuh.


Namun sebelum aku mencium tanah, sudah ada tangan seseorang yang menyangga tubuhku. Aku berusaha melihat wajahnya, tetapi nihil karena sinar matahari yang menusuk mataku. Yang kuketahui, orang itu laki-laki.


"Hai? Kita bertemu lagi!" ucap lelaki itu.


Perlahan sinar matahari hilang, membuat pandanganku bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Oh? Ka ... kamu?"


"Aku Joseph," katanya seolah menjawab pertanyaan batinku.


"Kamu sedang ga enak badan, ya?" tanyanya, lalu memeriksa keningku dengan punggung tangan kanannya, sedangkan yang kiri, masih menyangga tubuhku.


Menyadari hal itu, aku langsung berdiri dan memperbaiki rambutku.

__ADS_1


"Ma ... maaf."


"Tidak apa-apa. Kamu kelihatannya pucat sekali. Kebetulan aku belum makan siang. Ayo!" ujarnya lalu menarik tanganku.


Dia mengajakku ke restoran di sekitar situ. Lalu ia juga menawarkan traktiran untukku. Sempat aku menolak, tetapi ia langsung memesan makanan yang sama untuk kami.


Berkat traktirannya aku merasa kenyang dan lebih segar. Ia juga mengantarku sampai ke rumah untuk memastikan aku pulang dengan selamat, padahal ini sudah malam.


Sepanjang perjalanan, ia terus mengeluarkan topik-topik jenaka untuk mengusir suasana canggung, bahkan ia juga menunjukkan kehebatannya dalam bersiul. Sampai akhirnya, kami sampai di kediamanku.


Sebelum benar-benar harus pisah, aku berujar, "Kamu baik sekali. Aku benar-benar berterimakasih sama kamu."


"Tidak, Sarah! Aku yang malah berhutang budi sama kamu," timpanya sambil terkekeh.


"Aku tidak melakukan apapun untukmu."


"Hei! Kata-kata motivasimu buat aku jadi lebih semangat! Dan hari ini, aku dapat bonus dari bosku," tutur Joseph.


"Oh. Baguslah. Aku harus masuk sekarang. Dah!" pamitku.


"Oke! Dah Sarah! Jaga kesehatan ya! Terus semangat!"


Begitu seruan-seruan Joseph dengan nada sedikit tinggi. Kalau saja aku tidak segera menutup pintu, mungkin ia akan berdiri tegak lurus di sana selama satu jam. Astaga, lelaki itu benar-benar baik.


Aku menghampiri kamar nenek terlebih dahulu. Ia masih berada di posisi yang sama sejak aku berangkat kerja. Makanan untuk sarapan dan obatnya masih utuh di atas nakas. Ah, ada selembar kertas putih juga foto yang tergeletak di sana.


Aku memilih membaca kertas itu sebelum bangunkan nenek. Isinya adalah;


Untuk cucuku tersayang, Sarah.


Maaf sebelumnya, nenek tidak pernah memberitahumu dengan jelas mengenai orangtuamu. Karena nenek ga mau membuatmu terluka. Sebenarnya, orangtuamu meninggal karena kecelakaan saat umurmu tiga tahun.


Maaf juga, selama nenek hidup hanya bisa menyusahkanmu bahkan setelah nenek mati. Terimakasih sekali sudah mengurus nenek, sekarang giliran nenek membalas.


Selama ini, nenek berusaha untuk menyisihkan uang dari gaji pensiun kakekmu. Uangnya ada di laci lemari. Gunakan uang itu untuk mencari bibimu yang bernama Agatha di Texas. Nenek yakin dia akan mengurusmu dengan baik. Hati-hati di perjalanan.


Salam sayang,


(Tanda tangan)


Nenek.


Setelah membaca surat itu, aku mengambil secarik foto yang tergeletak di nakas. Terlihat dua pasangan serasi dan di tengah mereka terdapat seorang anak kecil berambut pendek. Instingku menebak bahwa itulah foto kecilku. Di balik foto itu juga terdapat alamat rumah. Setidaknya, ada petunjuk yang kudapat sebelum berekspedisi ke Texas.


Dan bukan lagi anak yatim piatu. Sekarang aku juga hanya sebatang kara.


.


.


.

__ADS_1


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


__ADS_2