NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[17 : Hadiah yang Tidak Diinginkan]


__ADS_3

Tiba hari besar yang dinanti-nanti. Ulang tahun Haeya dan Natal jatuh pada hari yang sama. Sesuai ancang-ancang, kedua sahabat Haeya termasuk sang kekasih, sudah menyiapkan segalanya.


Sesuai kecerdasan Joseph mengenai kue, ia pun diberi kepercayaan untuk membuat kue ulang tahun Haeya. Begitu pun Cayla yang pintar masak dan Matthew yang memproduksi beribu ide kreatif dalam dekorasi ruangan. Kerja sama ini dilakukan dari pagi buta, tepat ketika Haeya masih tenggelam di alam mimpinya.


"Yes! Akhirnya misi selesai!" seru Cayla bahagia.


"Huft ... lelah sekali! Waktu tidurku terbuang sia-sia," keluh Joseph sambil meregangkan tubuhnya di sofa.


Matthew berdecak dengan tatapan sinis. Ia takkan menerima begitu saja, jika menyangkut sang kekasih. Dan mungkin ia akan menerkam Joseph kalau saja Cayla tidak segera mengalihkan.


"Sudah! Sudah! Ayo nyalain lilin kuenya! Aku mau bangunin Haeya dulu," ujar Cayla.


Cayla segera menuju kamar yang mereka bagi berdua, dengan niat membangunkan sang sahabat. Sayangnya, Haeya sudah lebih dulu bangun dan baru saja hendak beranjak dari ranjang.


"Eh! Sudah bangun!" sergah Cayla.


"Kenapa emang? Aneh banget reaksinya," ketus gadis itu.


"Biasanya, kan, kamu bangun siang. Bahkan baru bangun kalau sarapan udah jadi," ejek Cayla.


Perempuan kelahiran Korea Selatan hanya menungging senyum, pasalnya berhibernasi adalah ciri khas gadis itu. Namun untuk sekarang kondisinya berbeda. "Mana mungkin aku bangun siang di saat pacarku akan datang terus ke sini," bantah Haeya.


"Jadi, ini yang namanya pencitraan?" sindir sahabatnya.


Tak lama setelah itu, terdengar suara dua pemuda yang menyanyikan lagu Happy Birthday sambil menepuk tangan dari ruang tengah. Haeya terheran-heran sedangkan Cayla tersenyum dan ikut menyanyikan lagu tersebut. Dua gadis itu pun keluar dari kamar dan mendapati seorang pemuda membawa kue warna merah yang dihiasi beberapa buah stroberi. Tak lupa dengan lilin angka 20 menyala di atasnya.


"Happy birthday Haeya~


Happy birthday~ happy birthday~


happy birthday Haeya~"


Sontak gadis yang bertambah usia menangis haru. Dia tak menyangka ulang tahunnya akan dirayakan seperti ini. Bahkan dia sendiri hampir lupa bahwa ini hari lahirnya. Gadis itu hanya ingat kalau ini hari Natal.


Tangis terus mengalir, tiada ucap, Matthew langsung merengkuh tubuh mungil gadis itu. Rasa bahagia, sedih, haru, benar-benar bercampur aduk. Yang pasti, Haeya bersyukur sekali bisa dirayakan meski sekadar pesta kecil-kecilan.


"Udah pelukannya! Kita tiup dulu kuenya," perintah Cayla.


"Bukan kuenya! Lilinnya kali!" sergap Joseph yang memegang kue tersebut.


Atas intruksi gadis bernama belakang Alverine itu, yang berulang tahun langsung meniup lilin dan mengucap wish dalam hati. Entah apa yang dia minta, setelah itu mereka lanjut menghabiskan waktu bersama.


"Haeya. Ini buat kamu," ucap Matthew seraya menjulurkan sebuah kotak merah.


Kalau kalian ingat, itu kotak yang kemarin tidak sengaja Matthew jatuhkan saat menciduk Jordan dan Sarah berduaan di flatnya. Ternyata barang tersebut adalah hadiah untuk sang gadis pujaan.


Saat kotaknya dibuka, Haeya mendapati cincin. Sudah pasti cincin berlian yang mahal, namun tampak sederhana.


"Thank you so much!"


Sangat tidak disesali dia ikut dalam liburan ini, bahkan karena memori hari ini Haeya merasa bahwa hari ulang tahun adalah salah satu hari yang bahagia. Hari dimana orang-orang terdekatnya memberi kasih sayang yang tulus walaupun hanya satu tahun sekali.


Gadis bermarga Jeon itu tidak menghentikan pandangan terharu kepada ketiga orang di sekelilingnya. Namun masih ada sedikit rasa miris dalam hati. Sejak tadi, dia selalu menggengggam erat ponselnya dengan harapan ada suara pesan masuk dari barang itu.


"Kakak kamu ga ucapin?" suara Cayla memecah lamunan gadis ini. 


Sebelum menjawab, Haeya hanya bisa mengulas senyum seperti tanda prihatin dalam dirinya. "Nanti pasti dia ucapin. Dia selalu ingin jadi orang terakhir."


Mendengar jawaban Haeya, Cayla hanya bisa mengangguk paham, menurutnya itu sesuatu hal yang wajar, tetapi bukan itu yang sesungguhnya.


"Hae ...."

__ADS_1


Panggilan pria itu terhenti ketika melihat kedua gadis yang sedang berbincang, namun karena mendengar panggilan pria itu, Cayla dan Haeya mengalihkan pandangannya.


"Eh maaf, aku ganggu ya?"


Cayla beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Matthew seraya menepuk bahunya, tidak lupa disertai oleh senyum hangat. Dengan segala inisiatif Matthew langsung menghampiri Haeya.


"Ide aku bagus, 'kan?" tanya sang kekasih dengan segala kepercayaan diri yang ada, sebenarnya niat lain ingin memamerkan kemampuannya.


"Oh, ini ide kamu? Aku kira kamu asal searching di internet."


Canda Haeya, tiba-tiba dia melihat raut wajah kekasihnya yang berubah menjadi kesal namun versi gemas. Tidak kuat dengan tingkah lucu Matthew, Haeya tak segan-segan mencubit gemas pipi Matthew sampai pria ini meringis kesakitan. Tentu kekasihnya juga tidak terima, ia membalas perlakuan Haeya dengan menggelitiki sekujur tubuh gadis itu dan hanya terdengar suara tawa di ruangan selama kurang lebih sepuluh menit. 


"Matt, udah perut aku sakit ketawa terus," sergap Haeya yang masih melingkari tangan di sekitar otot perutnya. 


"Mau temenin aku jalan-jalan gak?" tawar Matthew. 


"Kemarin, kan, udah main di luar. Lagi pula di luar tuh dingin Matt." Mendengar tolakan Haeya tentu tidak membuat Matthew patah semangat. 


"Kalau kedinginan nanti aku peluk!"


Sebenarnya Haeya tidak tahu alasan kekasihnya punya kebiasaan gombal yang sangat akut. Terkadang gombalannya mungkin membuat Haeya merasa geli namun hatinya tetap saja luluh. Ah, apakah fase jatuh cinta seperti itu? Kalau mau, bisa saja Haeya punya rekaman Matthew meneriakkan 10 jenis kata-kata mutiara saat mendapati tikus masuk ke apartemen.


Sudah terlalu sulit untuk menolak, akhirnya Haeya menerima tawaran sang kekasih. Mereka berjalan keluar apartemen sambil menggenggam tangan satu sama lain. Haeya selalu menundukkan kepalanya agar langkahnya selalu serasi dengan Matthew. Sedangkan Matthew terus melihat jalanan yang dipenuhi oleh salju, sesekali asap keluar dari hembusan napasnya. 


Suhu pria itu lebih dulu turun, dari pada suhu gadis ini. Perbedaan suhu mereka dapat terasa dari genggaman tangan mereka, Haeya menoleh sekilas ke arah Matthew dengan tatapan khawatir. Sadar akan hal itu Matthew hanya mengeratkan genggamannya saja. 


"Pulang ajak yuk? Tangan kamu lebih dingin dari aku," tawar gadis itu karena khawatir jika kekasihnya ini jatuh sakit. 


"Bosen di apartemen terus. Masuk ke minimarket aja." Sebagai solusi akhirnya mereka mampir untuk menghangatkan diri di dalam minimarket. 


Mereka memasuki minimarket itu, lalu membeli dua minuman hangat dan sedikit snack untuk mengisi kehampaan di perut mereka. Kemudian mereka juga duduk di kursi yang berada di depan minimarket.


Sangat sulit bagi Matthew untuk menjalin hubungan jarak jauh, lebih tepatnya mereka berdua. Haeya pun sebenarnya ingin berada di dekat kekasihnya saja tetapi, sangat tidak mungkin untuk meninggalkan pekerjaan dan keluarga. 


"Susah ya LDR? Aku bakal sering hubungin kamu kok."


Haeya memegang tangan Matthew di atas meja, guna berusaha menghiburnya.


Memang komunikasi paling penting dalam hubungan, tapi jika tanpa pertemuan langsung itu tidak sangat tidak lengkap.


"Aku ramal. Pasti aku yang bakal sering main ke California." Kedua insan itu saling terkekeh. "Kamu sibuk terus," lanjut Matthew. 


"Hahaha! Kata siapa? Sok tahu kamu!" 


"Cayla."


Matthew menjawab seadanya tanpa beban maupun dosa. Setelah beberapa detik, ia baru sadar menyebut nama Cayla, Matthew langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia sukses terciduk mencari informasi gadis itu melalui sahabatnya. 


"Oh, jadi selama ini kamu stalking aku ya?" goda Haeya, dia berpikir bahwa akhirnya dia menemukan suatu rahasia besar kekasihnya. 


"Daripada nge-stalk perempuan lain!" bantah Matthew berniat menggoda. Hingga kedua insan saling membalas tawa.


Ting!


Suara pesan masuk terdengar dari ponsel gadis itu. Tanpa mengulur waktu, Haeya membuka hingga mendapati deretan kata singkat. Kuriositas juga dirasakan Matthew, hingga ia sengaja mengintip ponsel Haeya. Namun dengan cepat sang gadis menaruh ponselnya, seakan hal itu sebuah rahasia.


"Dari siapa?" tanya Matthew, lalu kembali duduk di posisi semula.


"Ah, cuma SMS operator ga jelas."


Jelas sekali Haeya sedang berbohong saat ini. Tampak dari wajahnya yang sekilas terkejut. Entah tidak peka, entah memilih percaya, Matthew memutuskan melanjutkan makan snack dengan raut biasa.

__ADS_1


_________________________________________


Di sisi lain, ada dua orang yang masih berada di alam mereka masing-masing. Seorang gadis yang masih terlelap dan seorang pria tengah menjadikan barang yang mengeluarkan suara dan menangkap gambar sebagai pusat atensinya.


Memang sih, ia berupa sebagai manusia, tetapi tingkah laku dan perasaannya tidak menunjukkan sisi kemanusiaan.


Kini mulai berbeda, Jordan sudah bisa dikatakan sebagai manusia yang normal. Walau masih banyak proses yang harus ia lalui untuk menjadi manusia yang seratus persen normal. 


Kemajuan itu tidak akan terjadi pesat tanpa keberadaan Sarah yang selalu sabar menghadapi kelakuan Jordan. Di sela kegiatannya, Jordan sempat pergi ke balkon dan mengedarkan pandangan ke atas cakrawala, seolah-olah ia memberi pesan kepada semesta atas keadaannya.


Jika kalian berpikir apakah Jordan melupakan tugas awalnya atau tidak? Tentu jawabannya adalah tidak, ia selalu mengingat betul apa yang harus ia lakukan.


Bukan berarti Jordan tidak betah di daratan asing. Hanya saja, waktu masih segan memberi petunjuk atas keberadaan Bintang, adiknya.


"Jo, kamu mau kopi gak?" tanya Sarah dari dalam ruangan.


"Tumben sekali kamu menawari aku kopi." Pernyataan Jordan berhasil membuat Sarah kebingungan. Karena selama ini dia selalu menawari, bahkan bukan hanya menawari tetapi sekaligus membuatkannya.


"Bukannya selalu? Kau bahkan sampai membawa cangkirnya kemarin. Ingat?"


"Ya sudah. Kalau kamu terpaksa, lebih baik tidak usah," jawab Jordan sontak gadis itu menepuk dahinya.


Beruntung Jordan bertemu gadis seperti Sarah. Kalau ia bertemu gadis seperti Haeya ataupun Cayla, mungkin mereka sudah menendangnya detik ini juga.


"Terlambat!" sergap gadis itu sambil membawa dua cangkir kopi di kedua tangannya.


Saat Sarah memberi secangkir kopi kepada Jordan, gadis itu masih mengamatinya. Sementara yang ditatap hanya membalas dengan pandangan polos. Untuk pria bulan, seharusnya kamu mengerti bahwa gadis itu sedang menunggu kata 'terimakasih' terlontar dari mulutmu. 


"Apa?" tanya Jordan karena tidak tahan dilihat gadis itu dengan pandangan seperti memelas sesuatu.


"Te.ri.ma.ka.sih."


Sarah tanpa ragu menekan setiap suku kata. Dan pria di sebelahnya malah mengerutkan dahi sebagai bentuk tak paham.


Oh, ayolah! Aku menunggumu bilang terima kasih! batin Sarah.


"Setelah mendapatkan sesuatu atau mendapatkan bantuan, kamu harus mengatakan terimakasih ke orang itu. Paham?"


"Baiklah, terimakasih."


Jordan melakukan apa yang dikatakan Sarah, walaupun pengucapannya sangat kaku, itu bukanlah masalah besar untuk Sarah. Ia juga butuh waktu belajar tata krama dengan sesama.


"Sama-sama, Bulan," balas Sarah sambil tersenyum dan menurunkan volume suara tepat pada akhir katanya.


"Kamu sudah percaya bahwa aku Bulan?" 


"Melihat kelakuanmu, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri untuk percaya."


Entah apa yang sudah dituliskan semesta untuk mereka, namun untuk saat ini biarkanlah itu terjadi.


Sekeras apa pun batu itu, jika lapisannya selalu bertemu rintihan langit, maka batu itu akan berubah menjadi ribuan pasir di pantai. Sama halnya dengan pemuda Bulan yang kaku. Memiliki perasaan layaknya batu, suatu hari akan menemukan rintihan langitnya untuk menjadikannya seseorang yang sempurna di daratan.


.


.


.


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡

__ADS_1


__ADS_2