NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[14 : Dalam dan Luar Kehidupan]


__ADS_3

Fajar sudah datang dan malam sudah terganti. Jujur, malam tanpa kehadiran bulan sangatlah kurang. Kita hanya bisa menatap ribuan bintang saja. Langit tampak monoton dan sedu tanpa cahaya sosok benda, yang entah berbentuk purnama atau sabit.


Ckrek-ckrek-ckrek!


Sudah jelas suara potretan dari ponsel Jordan membuat mimpi Matthew jadi terganggu. Dengan keadaan rambut yang sangat berantakan, pria itu terpaksa bangun meski alarm miliknya belum beraksi.


"Jo, suara ponsel kamu sangat mengganggu!" protes Matthew sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Tapi aku menikmatinya dan itu hanya masalahmu."


Jordan membalas dan lagi-lagi ia berhasil menguji kesabaran Matthew. Cepat-cepat Matthew segera mengambil alih ponsel milik Jordan. Ia mengganti setting suara ponsel itu jadi hening. Dengan begitu, Matthew tidak akan terganggu lagi dan Jordan bisa sepuasnya mengambil gambar. Sebelum ia mengembalikan ponsel itu pada sang pemilik, Matthew memeriksa hasil jepretan Jordan. Dan tak disangka, betapa berbakatnya pria ini, bahwasanya foto yang ia potret sangatlah bagus, ia sudah seperti photografer profesional. 


"Bagus juga hasil fotomu," puji Matthew.


"Aku tahu."


Rasanya Jordan sudah seperti Matthew, yang punya rasa percaya diri akut.


"Ah .... Sepertinya dewa telah memberimu kepercayaan diri yang amat banyak." Tentu kalimat yang dilontarkan pria itu dihiraukan oleh Jordan.


"Kamu ga apa-apa kalau sendiri lagi? Aku mau jalan-jalan dengan teman-teman ku."


Sebenarnya Matthew sendiri tahu bahwa Jordan tidak akan peduli dengan urusannya, sambil menyerahkan kembali ponsel Jordan, ia berujar, "Mungkin hari ini kamu bisa bersama dengan gadis yang kemarin. Kurasa selama tidak ada aku, dia akan menjagamu dengan baik," saran Matthew.


"Katakan saja kalau kamu ingin menghabiskan waktumu dengan kekasih barumu."


Sontak hal yang baru dikatakan Jordan membuat Matthew melotot, dia hampir lupa bahwa anak ini adalah utusan Dewa. Namum tunggu, apa maksudnya mengatakan 'kekasih baru'?


"Hei! Ingat ya! Ini adalah kali pertama aku menjalin hubungan. Jadi, jangan sok tau!"


"Terserah kamu saja."


Mendengar itu Matthew hanya bisa menghela napas. Jika boleh jujur, sesungguhnya Matthew sangat ingin mengajari Jordan dengan bahasa yang gaul. Dia hanya selalu berpikir apakah pria ini akan selalu berbicara dengan amat sangat formal?


Setelah mengakhiri perbincangan, Matthew beranjak mandi. Sampai selesai berpakaian, kegiatan itu hanya memakan waktu sepuluh menit. Dan siaplah dia melakukan travelling dengan Joseph, Cayla juga pacar barunya.


_________________________________________


Ting-Tong-Ting-Tong!


Terdengar suara bel yang masuk ke dalam flat Sarah. Dia sungguh penasaran siapa yang sudah datang pagi-pagi begini. Dengan langkah cepat dia menghampiri pintu dan membukakannya.


Tepat sasaran, tidak lain dan tidak bukan adalah Jordan.


Sarah mengembangkan senyum hangatnya untuk menyambut pria bulan itu, tetapi sepertinya pria itu tak pandai berekspresi hingga menanggapinya datar.


Cukup informasi; Jordan sudah bisa terbilang cukup beradaptasi dengan keadaan planet yang ia kunjungi, semakin hari ia menunjukkan perkembangan yang layak untuk ukuran manusia. Mulai dari muncul hobi minum kopi, photografi, berjalan-jalan dan menonton film Bollywood. 


"Kenapa kamu pagi-pagi ke sini?" tanya gadis itu terheran-heran. 


"Matthew sedang pergi dan ia menyuruhku untuk kemari."


Kepolosan Jordan sebenarnya tidaklah normal. Ia sangat polos seperti anak kecil yang akan mengikuti siapapun jika memberinya permen. 

__ADS_1


"Oh begitu. Sepertinya kamu betul-betul warga asing." Entah ramalan atau pendapat, Jordan dibuat bingung oleh Sarah. Pemuda Bulan tidak akan pernah mengerti apa yang gadis ini katakan. Sepertinya ia membutuhkan Matthew untuk menjelaskan setiap kata yang gadis ini ucapkan. 


"Aku tidak paham."


"Baiklah, lupakan saja."


Tampaknya Sarah menyerah dengan tingkah Jordan. Dia sendiri bingung harus memakai bahasa apa untuk membuatnya pahan. Sarah meninggalkan Jordan di depan pintu tanpa menutupnya. Padahal Sarah sedang memberi kode supaya pemuda itu masuk, tetapi Jordan masih berdiri tegak di depan pintu.


"Kamu gak masuk?"


Mungkin kalau Sarah tidak bertanya demikian, pemuda itu takkan masuk. "Apakah kamu memiliki kopi?" tanya Jordan dengan nada datar.


"Aku belum sempat membeli bahan makanan," jawab gadis itu seadanya. 


"Di zaman sekarang masih ada orang yang tidak memiliki kopi," gumam Jordan, tetapi kata-katanya masih bisa terdengar oleh Sarah. Lantas, sang gadis pemilik marga Rosanne hanya menyeringitkan dahinya sebagai bentuk heran. 


"Kalau begitu, apa kamu mau menemaniku berbelanja?"


Tawaran gadis itu membuat Jordan beralih fokusnya dari arah dapur ke arah gadis itu.


"Apa itu belanja?" 


Sarah mendecak kesal. "Kamu akan tahu nanti. Ayo!"


Tanpa mengulur banyak waktu, Sarah segera memakai jaket sebagai senjata suhu dingin. Lalu menarik tangan Jordan sangat erat, sementara yang ditarik hanya mengikuti setiap langkah gadis itu. 


_________________________________________


Adalah Joseph yang melontarkan pertanyaan itu. Sukses membuat Matthew dan Haeya tersipu malu. Sebenarnya tidak memalukan, hanya saja mengingat peristiwa malam itu, sangatlah menjadi hal yang canggung untuk pasangan baru ini.


"Ya gitu. Waktu naik bianglala ia mulai memecah keheningan dengan kata-kata yang terlewat puitis. Jujur kalimat itu sebenarnya berlebihan, Matt," ungkap Haeya, kemudian dia mendapat pandangan datar dari kekasihnya.


Agenda mereka hari ini hanya untuk mengobrol di apartemen Cayla. Dikarenakan mereka masih lelah dengan perjalanan kemarin. Terlebih suhu di luar rendah, sementara mereka lebih memilih menghangatkan diri di kediaman. Tetapi itu bukan suatu masalah besar, karena lebih menyenangkan jika kita berkumpul di sebuah ruangan dan saling bercerita disertai dengan suara tawa yang menular. Mungkin, besok mereka akan melanjutkan ekspedisi liburan.


Para pasangan itu saling melempar pandangannya. Pandangan tulus dari kedua insan yang sudah resmi dan pandangan persahabatan dari pasangan yang masih tidak ada kepastian di masing-masing pelaku.


"Kalian berdua emangnya ga ada rasa? Sahabatan udah lama, yakin ga ada rasa?" tanya Haeya berbobot, dengan tatapan semata-mata mengintrogasi kedua sahabatnya.


"Aku nyaman dengan status sahabat aja," jawab Cayla dengan yakin, matanya bahkan tak berkedip saat mengatakan itu. Dan pernyataannya tidak ada respon apa pun dari Joseph.


"Biasanya kalau hubungan persahabatan laki-laki sama perempuan pasti salah satunya ada rasa. Atau mungkin keduanya cuma masih ga yakin aja sama perasaan sendiri," selidik Matthew.


Bisa dibilang, ia memang sangat ahli dia dalam hal percintaan. Kadang karena itu, ia malah terjerumus pada rumor tak sedap. Pasalnya, Matthew bisa saja melontarkan seribu satu kata mutiara kepada semua kaum hawa juga kaum adam.


Joseph hanya bisa ber-oh ria, mungkin benar apa yang Matthew baru katakan. Sekalipun ia paham akan perasaannya, ia hanya takut bahwa hal itu akan jadi rasa satu pihak saja.


_________________________________________


Sejak awal mereka pergi ke supermarket Jordan selalu memotret objek di dekatnya. Awalnya Sarah menganggap itu hal yang biasa saja. Tapi ini sudah hampir dua jam ia selalu mengambil gambar. Padahal objek yang dipotret tak begitu menarik. Contoh kecilnya saja seperti; keranjang belanja, keset, lemari es, dan lampu di langit-langit supermarket. Pokoknya, semua barang yang Sarah lihat dan pegang, tanpa pikir panjang akan ia potret.


"Kenapa kamu selalu mengambil gambar, sih?!" geram Sarah yang tengah membayar seluruh belanjaan di kasir.


"Ini begitu menyenangkan. Semua objek bisa masuk ke dalam benda ini." Ungkapan Jordan hanya dibalas helaan napas dari Sarah.

__ADS_1


"Kau sudah mengambil kopi?"


"Sudah. Nih," jawab Sarah sambil menunjuk ke setumpuk kopi bungkus instan.


"Ayo kita pulang sekarang!"


Kegiatan belanja pun sudah selesai. Saat Sarah hendak meraih tangan Jordan, pria itu tidak sengaja mengarahkan ponselnya ke arah wajah si gadis. Tentu saja untuk mengambil gambarnya. Cahaya yang keluar dari kamera itu sontak membuat Sarah terkejut. Matanya terasa perih dengan flashlight kamera boba Jordan.


"Apa yang kamu lakukan, Jo?" tanya Sarah dengan lembut. Watak sabar gadis ini sepertinya sama dengan Matthew dalam menanggapi tingkah menyebalkan si pria bulan. 


"Wow! Wajahmu masuk ke dalam benda ini."


Sahutan tanpa nada juga ekspresi yang tak jauh beda dari obrolan di awal.


Setelah membeli beberapa makanan, seperti buah, lauk, sayur dan kopi, Sarah memutuskan pulang. Dengan susah payah, dia harus menyeret Jordan keluar karena pria itu sangat betah berada di supermarket. Selama di perjalanan, Sarah selalu menatap wajah Jordan.


'Bagaimana pria ini bisa hidup dengan mimik wajah datar?'


Apa hati dia terbuat dari es? Tidak mungkin! Bahkan es pun masih bisa mencair.


Pertanyaan itu selalu muncul dalam benak Sarah. 


Jordan yang merasa diamati akhirnya bertanya, "Mengapa kau melihatku?" 


"Tidak bisakah kamu tersenyum?" tanya Sarah to the point. 


"Ter ... tersenyum? Apa itu? Dan bagaimana caranya? Apa semua manusia bisa melakukannya?"


Benar-benar pria ini masuk list misterius untuk Sarah, apakah ada manusia yang hidup tanpa tahu maknanya tersenyum, berbelanja dan masalah paling besar yang hanya ia paham adalah perihal kopi.


"Senyum itu seperti ini."


Sarah mempraktikkan kepada Jordan. Meski membawa kantung belanja yang berat, dia tak segan-segan mengangkat tangannya dan menempelkan kedua telunjuknya --yang terbungkus sarung tangan-- pada masing-masing sudut bibir Jordan. Lalu menariknya secara perlahan untuk membentuk suatu lengkungan.


"Ketika kamu merasa bahagia, maka kamu harus tersenyum, ini juga menjadi tanda keramah-tamahan." 


Selesai berbicara Sarah melepas tangannya dari wajah Jordan, dan betapa kaku wajahnya sehingga ekspresinya berubah menjadi datar lagi sekilas. Karena tak tahan dengan ekspresi datarnya itu, buru-buru Sarah menyuruh Jordan untuk mengulas senyum sendiri dengan mengikuti pergerakkan tangan dan wajah Sarah.


Jordan hanya mengikuti apa yang gadis ini lakukan, dan akhirnya dia berhasil membuat senyumnya sendiri. Namun senyum pertamanya dibuat dengan penuh paksaan, bukannya karena perasaan. Alhasil, Sarah jadi bergidik ngeri melihat senyum Jordan yang seperti badut menyeramkan. 


"Baiklah kita lakukan itu lain kali saja," ucap Sarah penuh frustasi.


Melihat hal ini Jordan hanya memiringkan kepalanya sebagai tanda tak mengerti apa yang gadis anggun itu katakan. Memang hidup ini penuh dengan proses, bahkan sang bulan saja mengikuti seluk-beluk proses kehidupan.


.


.


.


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡

__ADS_1


__ADS_2