
Jarum jam terus berputar. Waktu beranjak dari satu ke lain angka. Hingga langit mulai gelap, kafe Matthew pun tutup lebih awal. Semua karyawan dipulangkan, karena cuaca masih kurang mendukung.
Kecuali Sarah dan salah seorang pria masih menetap di kafe. Mereka hanya berdua di sana. Terlihat Sarah yang tengah mengepel seluruh permukaan lantai kafe, sementara Jordan hanya duduk sambil mengamati dengan lekat gerak-gerik gadis itu.
"Sarah, kau sedang apa?"
Sang penerima tanya malah mendengus kasar dan sejenak memberhentikan kegiatannya. "Aku sudah bilang berulang kali, Jordan. Aku ini sedang mengepel lantai."
"Apakah itu sulit? Aku ingin mencobanya."
Permintaan Jordan sepertinya akan dikabulkan Sarah. Pasalnya gadis itu juga sudah letih sejak jam pulang membereskan kafe seorang diri. Memang sih, ini permintaannya sendiri, tetapi namanya juga makhluk sosial.
"Kemari! Akan kuajari kau mengepel," ucap Sarah.
Petak demi petak, Sarah mengajari pria itu cara mengepel lantai. Dia juga menunjukkan contoh memeras kain pel yang basah dengan tangan. Namun suasana mulai canggung sampai di saat Sarah harus memegang kedua tangan Jordan untuk memberi praktik yang lebih mudah. Perasaan ini hanya Sarah yang rasakan, karena pria tersebut tak memiliki rasa. Lebih tepatnya, belum mengetahui semua jenis perasaan, kecuali marah dan senang. Itu pun tidak bisa ia rasakan.
"Kau sudah bisa melakukannya, 'kan?" tanyanya sambil melepas tangan yang sejak tadi memegang kedua tangan Jordan.
"Iya. Sekarang kau duduk saja. Aku akan mengepel sampai lantai bersih," suruh Jordan.
Belum sempat dia duduk, Jordan sukses membuat Sarah terkejut. Sesuai cara mengepel yang benar adalah bergerak ke belakang, tetapi Jordan malah maju ke depan. Otomatis petak lantai yang sudah dipel menjadi kembali kotor karena alas sepatunya.
"Jo! Bukan maju! Tapi kamunya ke belakang!"
Mendapati teguran Sarah, pria itu langsung paham dan mengikuti intruksi. Kali ini ia sudah benar. Maka sambil menunggunya, Sarah memanfaatkan waktu untuk rehat sejenak. Kalau diingat-ingat, Sarah belum makan dari pagi, tak heran kalau sekarang perutnya berteriak minta makan.
Secepatnya Jordan menyelesaikan tugasnya dan mereka pun pulang. Tidak lupa Sarah mengunci pintu kafe. Kalau kalian penasaran dengan Matthew, ia sudah pulang duluan bersama teman juga pacarnya ke apartemen miliknya. Rencana itu sudah diberi tahukan ke Sarah, jadi Jordan sementara dititip bersama gadis itu sampai teman dan pacarnya pulang.
"Jadi, kita mau kemana, Sarah?"
"Pulang," jawab Sarah singkat sambil tersenyum.
Kedua insan itu berjalan kaki sampai ke apartemen. Mengingat pesan Matthew, Jordan diajak ke flatnya. Memang tidak terhitung jauh jarak antara kafe dan flatnya, namun tetap saja rasanya dahaga sudah menguasai sela kerongkongan. Akhirnya, Sarah memutuskan untuk mengambil air dan membuatkan kopi untuk minuman Jordan, kalau jujur sebenarnya gadis ini khawatir dengan kesehatan pria bulan itu. Bagaimana tidak? Ia tidak bisa memakan apapun atau bahkan meminum apapun selain kopi. Memang kopi tidak terhitung buruk, hanya saja apapun yang berlebihan akan sangat berbahaya.
"Jo, apa kamu gak mau coba minuman lain?"
"Untuk apa? Percuma saja tubuhku tidak akan menerimanya," jawaban itu hanya bisa dibalas anggukan oleh Sarah.
"Apa aku terlalu menyusahkanmu?" tanya Jordan, sukses membuat Sarah mematung hingga bungkam seribu bahasa. Dia bingung harus menjawab jujur atau berbohong. Memang faktanya dia merasa kesulitan, tetapi di sisi lain juga dia terhibur akan kehadiran sang pria bulan.
"Apa mataku mengatakan hal itu?"
"Kamu tidak usah membuatkanku kopi. Aku akan membuatnya sendiri." Sarah menoleh ke belakang dengan kerutan di dahinya, apakah ada kesalahan dalam perkataannya tadi? Namun gadis ini hanya mengiyakan larangan Jordan.
"Jo, hati-ha--"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Sarah tercengang dengan hasil perbuatan Jordan.
_________________________________________
__ADS_1
"Matt, kok bisa sih kamu ketemu sama Sarah?"
Sedari tadi Cayla terus menanyakan topik yang tidak jauh berbeda, dikarenakan rasa kuriositas tinggi pada gadis itu. Kesannya seperti tak percaya dengan jawaban yang disuguhkan Matthew. Tentu saja tidak, masih ada hal ganjal dalam batinnya.
"Bukan aku yang temuin, tapi Jordan." Dan tentu dibalas dengan pernyataan yang sama, tetapi sepertinya hal itu tidak diserap baik oleh gadis berdarah Korea Selatan itu.
Haeya yang sedari tadi mengamati ponselnya merubah fokus ke arah sang kekasih sembari memutar jengkel kedua mata. Dengan pandangan malas dia berkata, "Kamu sama sekali gak bahas hal ini sama aku."
Mungkin perkataannya tidak terlalu terdengar, ya memang dia sengaja. Dan tentu gadis ini tidak terlalu menerima perlakuan balas budi kekasihnya terhadap Sarah.
"Kau cemburu?"
Adalah Joseph yang melontarkan pertanyaan itu dengan lantang. Oleh karenanya, sontak membuat Cayla dan Matthew memberi pandangan asing terhadap Haeya.
"Kalian gak merasa berlebihan? Dia cuma tolongin Jordan dan kamu ngasih dia tempat tinggal sama pekerjaan."
"Dia gak ada tujuan, Hae."
Kini pupil mata si gadis membesar, sebab dia tidak yakin hanya itu alasannya. Dia tidak tahu apa karena dunia ini terlalu sempit atau ada suatu hal terselubung.
"Udah lah, kalian cuma debat soal hal yang gak terlalu penting."
Cayla menengahi argumen Matthew dan Haeya, setidaknya dia tahu yang dirasakan sahabatnya. Dari pada ruangan ini dipenuhi api, harus ada sedikit air untuk memadaminya.
"Gak penting? Bahkan dia sama sekali gak ada inisiatif cerita hal ini ke pacarnya sendiri," tukas Haeya.
Sepertinya usaha Cayla menjadi penengah nihil. Kini Haeya terlalu membara untuk dipadamkan. Bahkan ia sendiri tak percaya, bahwa sahabatnya berada di pihak kekasihnya, yang artinya dia membela Sarah.
Seruan Cayla sukses membuat gadis ini kalah telak, dia hanya bisa mengedarkan tatapan tidak percaya kepada teman-temannya.
Karena Haeya sudah merasa kalah dalam argumen, dia pun memutuskan untuk diam dan memijat sebentar pelipisnya. Emosi terlalu mengendalikannya, hal itu membuatnya menjadi lelah
Ting-tong-ting-tong!
Seseorang menekan bel tanpa jeda, akhirnya Cayla berlari ke arah pintu dan betapa tidak percayanya, dia melihat seorang gadis yang familiar datang bersama seorang pria bertubuh tinggi dan tegak di belakangnya. Lebih tepatnya, seorang gadis yang sejak awal menjadi topik perbincangan mereka.
"Hai Sarah! Ada apa?" sambut gadis itu dan mempersilahkan mereka masuk. Sebenarnya dengan hati berat Sarah memasuki tempat itu. Dia merasa sangat mengganggu kegiatan mereka.
Semua pandangan menyambut Sarah dan Jordan, kecuali gadis yang hanya meringkuk dan sibuk memainkan ponselnya. Meskipun tidak memberikan pandangan asing, tetapi melihat perilaku gadis itu, membuat Jordan terus mengamatinya dengan tatapan mengintimidasi.
"Kenapa Sarah? Apa ada masalah?" tanya Matthew dengan halus.
"Ah ... sebenarnya bukan masalah besar, tetapi bukan masalah kecil juga."
Mendengar jawaban polos Sarah, membuat para penghuni ruangan itu terkekeh, Jordan dan Haeya tentu tidak terhitung.
"Aku tidak sengaja merusak leher keran di flat Sarah, airnya terus keluar sampai sekarang. Semua tempat jadi tergenang air," jelas Jordan datar tanpa ekspresi bersalah dan Matthew hanya bisa menepuk dahinya saja. Ia tidak mengerti lagi ulah aneh pria ini.
"Ck! Menyusahkan sekali!"
__ADS_1
Haeya berdecak sekaligus bergumam dengan niat menyindir. Pandangan seisi ruangan kini bertumpu padanya, tak terkecuali Sarah yang memandangnya dengan raut terkejut.
"Oh ... tidak masalah! Nanti aku akan menghubungi service team."
Sesegera mungkin Matthew mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau ada salah satu dari mereka menyimpan luka.
"Kamu bisa menunggu di sini. Tempatmu pasti seperti kolam renang anak sekarang," tawar Joseph dan disetujui oleh anggukkan Cayla.
Akan tetapi, lagi-lagi keputusan mereka tidak mendapat persetujuan dari Haeya. Hari ini seharusnya waktu untuk mereka berempat saja, bukan untuk dua orang asing ikut bergabung, begitu pikir Haeya.
"Kamu pergi ke Texas bukannya untuk bertemu bibimu?"
Haeya bertanya seolah ingin mulai perdebatan lagi.
"Hae ...."
"Aku hanya bertanya!"
Sayang seribu sayang, bukannya memperbaiki suasana, Haeya malah menjerumuskan seisi penghuni dalam kesalahpahaman. Kekesalan seakan membabi buta mata dan hatinya.
"Iya, tapi aku tidak tahu pasti di mana tempatnya."
Kalimat itu ditutup dengan senyuman manis khas Sarah.
"Kalau begitu, kenapa kamu gak tinggal sementara di apartemen kami dari awal? Seharusnya kamu gak bersikeras pergi dan seharusnya kamu kembali saja ke apartemen Cayla jika tidak tahu tempatnya."
"Maksudku bukan begi--"
Sarah ingin memberi penjelasan terhadap Haeya, namun perkataannya kalah cepat dengan sambaran gadis itu.
"Aku hanya kasih saran, dari pada kamu numpang di tempat orang asing. Apalagi dia udah punya pacar. Tentu bisa-bisa membuat pandangan buruk, 'kan?"
Bukan Haeya jika tidak ada penekanan di saat momen sarkasnya. Deretan sindiran itu membuat Sarah hanya menundukkan kepalanya. Hatinya pun yang begitu lembut tak sanggup mendengar kata-kata itu. Terlebih dari seseorang yang awalnya dia kira akan menjadi salah satu temannya.
"Haeya! Please stop! Masalah kamu sama aku."
Kalau saja Haeya tidak menciptakan kelakar, mana mungkin Matthew akan meninggikan nadanya seperti sekarang yang ia lakukan sekarang.
"Hae ... kamu kenapa sih?" lirih Cayla, terkadang dia muak dengan kelakukan sahabatnya di saat emosi menyulut. Tetapi dia tahu ada sesuatu yang membuat emosi Haeya tidak terkontrol.
Tidak ingin memperburuk suasana dengan inisiatifnya sendiri, gadis berdarah Korea Selatan segera beranjak keluar dari ruangan itu. Dia tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkan diri sendiri. Dalam benaknya, dia hanya tahu kalau semua ini sementara bahkan kebahagiaan.
Kepergian Haeya tentu tidak disusul oleh kedua sahabatnya. Bahwasanya Cayla tahu sang gadis membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan diri dari emosi.
.
.
.
__ADS_1
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡