NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[39 : Ceritakan Tentang Harimu]


__ADS_3

Tak terasa sudah memasuki bulan Juni, lantas musim panas berlabuh di Amerika. Tentu suhu tinggi menjajah seluruh pelosok negeri. Di mana mereka akan menggunakan pakaian yang tipis agar tidak berkutat dengan keringat.


Sengsaranya bagi para pekerja kantor yang tetap melalui hawa panas harus memakai kemeja atau jas. Itu pun dirasakan Joseph yang harus memakai jaket pengirim makanan sebagai identitasnya. Ia tak hanya menggeluti satu pekerjaan, demi mengumpulkan banyak uang.


Joseph rela mengambil jam kerja sore di kedai roti, secara waktu pagi akan ia pakai sebagai pengirim makanan. Sebenarnya ini dilakukan bukan untuk uang semata, karena sebentar lagi ulang tahun Joseph tiba. Ia berencana memberi donasi pada tempat panti asuhan yang dulu pernah ia singgahi dari kecil.


Senyum Joseph selalu merekah. Ini salah satu cara untuk menyemangati dirinya sendiri. Beberapa pemesan makanan menerima pesanan dari Joseph sangat ramah, sisanya ada yang bersikap kurang ramah sampai keterlaluan. Namun jiwa semangat dirinya tak lantas gugur, begitu juga bibirnya selalu mengulas senyum.


Sudah beberapa jam berlalu. Mentari semakin naik dan bercahaya terik. Di tengah hiruk-pikuk metrapolitan, Joseph baru saja keluar dari bangunan apartemen. Ia tampak membawa sebuah kardus cokelat yang berisi beberapa tumpukan plastik sampah berwarna hitam. Ia membuang sampah itu ke tempat yang seharusnya lalu kembali ke parkiran untuk mengendarai motor menuju kedai roti.


Pria bertahi lalat bawah mata itu sudah sampai di tempat kerjanya sebagai tukang roti. Ini waktunya Joseph beralih jam kerja sebagai profesi yang berbeda.


Pintu kedai terbuka. Menampakkan sosok pria yang baru saja masuk sambil menyibakkan rambutnya seolah tebar pesona dan melangkah penuh percaya diri. Alhasil seluruh atensi penghuni ruangan berpusat padanya.


Tak bisa dipungkiri, ketampanan Joseph terlalu hiperbola untuk dideskripsikan. Bibir tebal miliknya cenderung menjadi titik menawan di mata kaum hawa. Namun ia belum masuk kategori ideal para wanita. Karena apa? Karena mulutnya tak tanggung-tanggung membicarakan orang amat ketus dan kadang sifat kekanakannya menjadi-jadi.


Mark, rekan kerja Joseph sebagai koki—pembuat kue. Mark sukarela mengambil shift pagi lantaran tahu rencana Joseph. Ia terlebih dahulu mengganti seragam, tak lupa memakai Toque sebelum memulai bekerja.


Silih berganti pelanggan hadir. Suasana kedai jadi lebih ramai kala malam hari. Dominasi nuansa cokelat dan aroma adonan kue merupakan ciri khas kedai roti. Namun beberapa saat ada wangi yang meruap indera penciuman Joseph.


Tadinya ia sedang menata beberapa cookies di atas meja kasir, tetapi ia langsung mendongak tatkala merasakan aura tak asing yang menyapa tanpa suara.


"Cayla?!"


Tepat sekali. Sudah ada Cayla di depan kasir yang entah mengapa sudah bertengger senyuman. "Apa reaksimu harus selalu begitu saat aku di sini?" tanyanya.


Joseph mendekatkan dirinya pada Cayla. "Bagaimana tidak kaget? Kau datang tanpa pemberitahuan."


"Aku bukan surat edaran berjalan!" debat gadis itu.


"Dan aku sibuk!" balas Joseph tak mau kalah.


"Eitss! Sebentar!" Cayla mendekatkan wajahnya pada tubuh sang koki. Dia mendengus dan semakin mendekat lantaran Joseph semakin menghindar.


"Apa yang kau lakukan?!" sergah Joseph.


Secepat kilat, Cayla menjauhkan dirinya dari Joseph. Sambil menutup hidung pakai punggung tangan, dia berkomentar, "Badanmu bau!"


"Jo, jangan-jangan kamu tidak mandi, ya?" tukasnya. Lalu mengacungkan jari telunjuk pada Joseph. "Tapi ini bau sampah. Kau ....!"


Belum sempat menyempurnakan kalimat bernada tinggi ke Joseph, pria itu segera menepis pelan jari Cayla dan mengelak dari fakta, "Hari ini panas sekali, tahu! Aku jadi bau karena keringat."


"Sudah aku bilang, kamu tidak pintar berbohong. Jadi, kamu masih suka disuruh buang sampah?" Pernyataan Cayla tidak mendapat balasan apa pun dari Joseph yang memilih bungkam.


Cayla mendengus kasar. "Apa mereka tidak bisa membedakan pengirim makanan sama pengangkut sampah?! Huh!"

__ADS_1


"Hei! Aku yang bekerja, kenapa malah kau yang kesal?"


"Hei anak kecil! Aku datang ke sini untuk mengucapkan selamat ulang tahun, tapi kau malah mengajakku bertengkar," decak Cayla penuh penekanan. "Jujur, ya. Kau pasti sering menerima perlakuan buruk, 'kan?"


Melihat sahabatnya jadi protektif, kadang kala tampak lucu dan menggemaskan. Detik berikutnya Joseph menghela napas lalu menatap serius gadis di hadapannya. "Namanya juga manusia. Sifat mereka berbeda, tak bisa dipukul rata. Harus ada yang mengalah meski tak bersalah agar tidak berakhir menjadi prahara tetapi pahala."


Entahlah .... Joseph seperti melontarkan wangsit tanpa kiasan yang kini sukses membungkam Cayla. Dia hanya mengerjap sekali, dua kali, sampai satu menit mematung. "Dasar anak kecil! Kau pasti mendengar kata-kata itu dari seseorang, 'kan? Kemudian kau kembali mengatakan itu padaku agar terlihat dewasa. Benar, 'kan?"


Pelaku yang terus-menerus ditukas itu mencebik jengkel. "Ini dialogku murni, tahu!"


"Lagi pula, aku sengaja melakukan itu supaya dikasih lima bintang," lanjut Joseph tenang.


Cayla hanya diam. Dia baru tahu kalau sahabatnya ini memiliki sifat ambis.


Niat awal pria itu kembali beralih pada tugasnya. Namun ia menyempatkan diri untuk mencuri tanya, "Ngomong-ngomong, ulang tahunku masih beberapa hari lagi. Kau tidak datang hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun padaku, 'kan?"


Yang ditanya menggeleng cepat. "Apa kau tahu kalau Sarah beli rumah sendiri?" Pertanyaan Joseph langsung ditimpi dengan kalimat tanya lagi.


"Serius?! Di mana?" Sontak kedua pupil Joseph membesar. Seolah menuntut penjelasan lebih dalam.


"Entahlah .... Matthew tidak memberi tahu yang rinci padaku," jawab Cayla sekadarnya seraya mengangkat bahu.


"Wah! Dia pasti mengalami hal sulit akhir-akhir ini."


Seketika Cayla mendecak. "Tidak perlu peduliin orang, kalau mandi aja masih harus diingetin."


"Tapi jangan lupa ... kebersihan juga sebagian dari iman!"


Tatapan sinis mereka saling bertemu lantaran kelakar kedua pihak semakin memperbesar kontradiksi. Para pelanggan pun terheran-heran yang sejak awal menonton celotehan absurd mereka.


Tidak mau berkedip. Tatapan sengit Joseph dan Cayla kian setajam silet. Seolah ada sambungan kilat yang dilempar kedua netra mereka.


_________________________________________


Sarah POV


Jujur, aku tidak pernah bisa paham sama tingkah laku pria itu. Tentu saja pria yang semalam tiba-tiba memelukku. Bukan lain adalah Jordan. Meski pelukan itu bukan pertama kalinya, tetapi semalam itu ..... Ah, sudahlah. Aku sendiri pun sulit menerjemahkannya.


Malam itu ... ia benar-benar sulit kulepaskan. Aku memilih pasrah, karena semakin kuberontak, peluknya kian menguat.


"Ah! Ayolah, Sarah! Kalau memikirkan ini terus, kau jadi tidak fokus!" gerutuku pada diri sendiri sambil menghentak-hentakkan kaki.


Jangankan seharian ini. Tadi malam saja aku sampai sulit untuk tidur. Terlebih, keringat yang mengalir dari kepala tiada henti. Walaupun sudah memakai kipas elektrik dan mengikat rambutku, tetap saja hawa panas menjajah. Berbeda dengan Jordan yang seharian ini baik-baik saja. Ia bersikap seolah tidak ada yang terjadi tadi malam.


"Duh, panas sekali!" rengekku pelan.

__ADS_1


"Makanya kau berdiri di sampingku agar tidak kepanasan." Kata-kata Jordan memang terdengar ambigu, tetapi faktanya di belakang tempat ia berdiri sekarang terdapat AC. Jadi, maklum saja ia tidak kepanasan dan menyuruhku berada di sampingnya.


Alih-alih menuruti kata-katanya, lebih baik aku memanfaatkan waktu guna mencuci piring kotor.


Mendadak Matthew secara inisiatif menghampiriku. Ia melihat kegiatanku dulu, sebelum bertanya, "Kau tidak merasakan perubahan sikap Jordan?"


Aku menengok ke kiri—titik keberadaan Matthew. Ia memiringkan kepala seolah memelas jawaban. Akan tetapi, aku sendiri bingung untuk memberi jawaban. Kalau saja aku menceritakan kejadian semalam, bisa-bisa Matthew berspekulasi aneh mendekati ambigu.


"Pe ... perubahan seperti apa?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


Ia mendelik, menyilangkan tangan sambil bersandar pada tembok. "Biasanya dia selalu memotret barang-barang. Tapi sekarang ..." Matthew mendekatkan wajahnya padaku, "dia tidak bisa berhenti selfie!" bisiknya sangat pelan.


Aku menghela napas. Sungguh merasa dikecewakan. Pasalnya, ini bukan berita besar atau semacam pengumuman yang akan menggemparkan seluruh dunia. Lagi pula lebih bagus Jordan suka selfie, daripada paparazi foto sembarangan orang.


"Lalu? Apa masalahnya?" tanyaku, menaik-turunkan alis. Akhirnya tugas mencuci piring terselesaikan.


"Aku hanya kasih laporan. Karena dia aneh sejak kau pindah."


Keningku kian mengerut. "Bukannya memang aneh?"


"Kalian sedang apa?"


Suara bariton dari ambang pintu dapur terdengar. Kami terperanjat di tempat sebab orang yang kami jadikan buah bibir muncul tanpa aba-aba.


Karena aku sudah menyelesaikan cuci piring, tidak ada alasan untuk berlama-lama di dapur. Jadi, aku memutuskan untuk ke luar. "Ini waktunya kita tutup kafe," kataku lalu beranjak melewati Jordan.


Tidak ada lagi presensi pelanggan. Lantas aku membalikkan papan gantung di pintu jadi bertuliskan close lalu ke luar untuk memasukkan papan promosi yang berada di depan. Setelah itu duduk guna rehat sebentar.


Sedangkan Jordan sudah bersiap mengepel lantai dan Matthew membersihkan meja dengan waslap. Aku hanya menatap mereka sambil menikmati hembusan angin AC. Namun suara lonceng pintu jadi pusat perhatian kami. Sebuah pertanda kedatangan seseorang. Di ambang pintu telah memperlihatkan pria bersama seekor anjing kecil.


"Permisi ....."


Mataku membelalak karena kaget. Secara refleks aku bangkit berdiri dari kursi, Jordan dan Matthew pun menghentikan kegiatannya.


"Maaf. Tapi kafe sudah tutup," ujar sang pemilik.


Cengiran giginya melebar. Ia masih berdiri di ambang pintu dan berkata kepada Matthew, "Aku bukan ingin membeli sesuatu." Lalu edaran matanya teralih padaku. "Tujuanku ke sini untuk mengajak Sarah pulang bareng," lanjutnya seraya menggaruk tengkuk penuh canggung.


.


.


.


to be continued...

__ADS_1


IG: @carameldarx


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♥


__ADS_2