NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
LX


__ADS_3

Sehari setelah insiden di depan kedai Bakso, Spica menyusul Mira di kampung. Setiap detik dalam benak Spica selalu dihantui rasa takut. Spica tidak bisa membayangkan jika Mira larut dalam kesalahpahaman dan merasa begitu kecewa. Spica tidak ingin hal itu membuatnya didiamkan atau bahkan tidak dianggap sebagai anak. Pikiran negatif yang berlebihan itu terus saja membuat Spica gelisah.


Spica membawa beberapa stel baju dalam tas gendong. Gadis itu tidak yakin bisa membalikkan keadaan hanya dalam waktu sehari. Dan rasanya, waktu sehari tidaklah etis untuk memperbaiki keadaan. Spica bersyukur ada waktu libur dua Minggu. Spica akan berusaha, memanfaatkan waktu yang tersedia dengan sebaik mungkin. Itu tekadnya.


Tepat setelah Spica mengunci pintu kosan, ponsel gadis itu berdering. Terlihat notifikasi bahwa pesanan ojek online telah siap dan saat ini sedang menunggu di depan pagar bangunan. Spica buru-buru turun, menghampiri tukang ojek online dengan motor matic-nya.


"Mba Spica ya?"


Spica mengangguk, berapa detik mengamati wajah tukang ojek yang tertutup masker. Suaranya terdengar masih muda.


Tersadar dari tindakannya yang menilai, Spica langsung duduk di belakang. "Cepetan ya Mas."


"Bismillah dulu Mba."


Spica tidak menyahut, namun tidak pula mengidahkan penuturan tukang ojek.


......................


Kediaman Sujaya nampak begitu sepi. Bahkan asisten rumah tangga dan pengurus lainnya pun tidak terlihat. Sunjaya bersama istrinya memang sedang tidak di rumah, pasangan itu sedang berlibur guna mengusir penat, mencari waktu luang untuk keduanya saling mempererat cinta kasih yang sudah berjalan lebih dari 20 tahun.


Sebelum meninggalkan rumah, Sujaya sempat meminta Bi Sri untuk tinggal menemani Bara. Namun setelah kepergiannya, Bara malah meminta Bi Sri untuk pulang ke rumahnya. Anggap saja memberi libur pada Bi Sri agar istirahat. Bara sendiri, saat ini masih berbaring di ranjang dengan selimut menutupi sebelah kaki. Cowok itu berbaring dengan posisi tengkurap dan bantal menutupi kepala. Kedua tangannya melipat ke depan, digunakan untuk bertopang dagu. Jika diperhatikan lebih jauh, posisi itu membuat Bara terlihat seperti anak gadis.


Dalam kamar yang remang-remang padahal matahari sudah mencapai titik tengah, Bara terdiam lebih dari 30 menit terhitung sejak dirinya bangun kesiangan. Bahkan cowok itu belum mandi atau setidaknya cuci muka.


Bara sedang memikirkan kejadian kemarin, tentang reaksi Spica yang membuatnya merasa bersalah. Gadis itu terlihat begitu marah, padahal Bara tidak ada maksud apapun. Apa yang Bara lakukan itu refleks karena ingin terbebas dari kejaran Sena. Agar Sena tidak lagi berharap pada dirinya, tidak lagi menganggap dirinya masih suka dengan cewek penghianat itu.


Penolakan Spica membuat pikiran Bara dipenuhi prasangka. Padahal dulu gadis itu yang pertama kali membuat masalah dengannya, mendekati Bara, membuntuti seperti bodyguard. Mengatur aktivitas bahkan pergaulan Bara. Gadis itu tidak telihat malas. Kemarin, saat Bara mendekat, welcome bahkan sampai meminta bantuannya 'tanpa kalimat tolong'. Gadis itu malah menghindar, memandang Bara seakan jijik. Bara tidak mengerti bagian mana dari dirinya yang najis?

__ADS_1


Spica terlihat begitu membenci Bara setelahnya. Benar-benar, Bara sampai pusing sendiri memikirkan.


Suara ponsel memecah keheningan, Bara menoleh pada sumber suara. Terlihat cahaya muncul dari benda pipih berbentuk persegi panjang dibarengi potongan lagu yang dibawakan band linking park, in the end.


Bara beranjak dari tempatnya, mendekat ke nakas. Dimana benda tersebut berada. Tanpa pikir panjang Bara mengambil benda itu, tidak peduli dengan kabel charger yang masih terpasang.


Sebuah foto terpampang di layar ponsel Bara, menampilkan Bryan dengan outfit khas anak motor tengah menggendong salah satu anak kucing anggora peliharaan ibu Samudra.


Di bawah tengah terdapat ikon telepon bergetar yang meminta untuk di dial. Dengan enggan, Bara menggeser ikon tersebut ke atas. Seketika wajah Bryan yang sebenarnya muncul di layar ponsel.


Bryan meringis "Bobo terus si Bos!"


"Ada apa?"


"Ihh jutek banget, kek cewek menstruasi."


"Astaghfirullah Bos, kita lagi ngumpul di warung Abah nih." Bryan beralih menggunakan kamera belakang. Menyoroti teman-temannya yang sedang berkumpul di bengkel. "Bos ke sini cepetan."


"Males."


Wajah muram Bryan berganti dengan wajah Samudra. Cowok pintar itu memandang Bara dengan datar. "Bar, ke sini buruan. Kita lagi rapat isbat!" Titahnya, seketika langsung memutus sambungan video call.


Bara berdecak, antara kesal dan tidak enak dengan teman sepermainanya itu. Sebab hari ini Bara benar-benar malas, tanpa membersihkan badan terlebih dahulu, cowok itu beranjak dari tempatnya. Menyaut parfum dan menyemprotkan ke beberapa titik di tubuhnya. Setelah itu, keluar dari kamar, menuruni tangga dengan cepat menuju ke dapur. Bara mengambil gelas secara random untuk dibawa ke pojok ruangan, dimana dispenser tempat air berada. Sebelum pergi, cowok itu menenggak segelas air untuk tenggorokannya yang terasa kering.


Sampai di tempat Abah, Bara memarkirkan motornya bersama dengan beberapa motor lain di halaman. Bryan langsung menyambut kedatangan Bara dengan menggenggam plastik berisi es teh, yang diangkatnya ke udara. "Ngeteh Bos!"


Di samping Bryan, Robi yang sedang merokok terkekeh melihat aksi Bryan. "Lo minum es kaya gitu, gue jadi inget masa kecil njir."

__ADS_1


"Gue kira orang kaya nggak pernah minum es di plastik."


"Lagi ngomongin diri sendiri?"


"Sadar diri Bro! Lo berdua sama-sama anak Sultan."


"Jadi gue cuma di suruh liat orang berdebat?"


Bara yang bermaksud untuk pulang lagi di cegat Samudra. Cowok itu juga melerai Bryan dan Robi, menyuruh mereka kembali ke topik utama. Samudra menjelaskan rencananya untuk mendaki. Entah mengapa? Cowok itu merasa akhir-akhir ini pertemanan mereka sedikit terganggu karena kesibukan masing-masing. Melihat beberapa wajah mereka yang sepertinya sedang dalam masalah atau beban, Samudra berpikir mungkin mendaki dapat mempererat lagi pertemanan sekaligus mengusir sejenak masalah hidup. Bertadabur dengan alam dapat menghilangkan stres!


Syukurnya, rencana Samudra mendapat respon positif dari teman-temannya. Termasuk Abah yang kebetulan sedang bersantai bersama mereka. Pengecualian untuk Bara. Dalam hati, cowok itu sebenarnya menolak. Tapi melihat respon lainnya, tidak enak hati Bara mengatakan tidak. Akhirnya dengan setengah hati cowok itu menyanggupi.


Semoga saja liburan membuat pikirannya ter-refresh. Tidak mengharap lebih, Bara hanya mencoba.


Di lain tempat, Spica terlihat berusaha menarik perhatian Mira. Gadis itu tak henti-hentinya menggenggam tangan Mira dan meminta maaf. Spica sudah menjelaskan dengan detail insiden di kedai Bakso. Bahkan menceritakan awal mula dirinya berurusan dengan Bara. Dari luar kamar, Adara bahkan sempat menangis menyaksikan Spica seperti itu. Kasian, tidak tega dengan hal yang menimpa kakaknya.


"Ibu ndak nyangka, kamu berbuat sejauh ini Nduk. Ndak cerita sama Ibu tentang gawean-mu itu. Jujur ibu sedih. Tapi keterbukaanmu pada akhirnya membuat ibu sedikit luluh. Ibu ndak mau lagi denger yang namanya janji. Ibu butuh bukti. Jangan ulangi lagi ya? Kalo ada apa-apa cerita dulu sama Ibu. Kamu kan masih punya Ibu."


Sambil menahan tangis, Spica mengangguk. Gadis itu langsung memeluk ibunya dengan takut-takut. "Terimakasih Bu," liriknya dengan nada kaku.


Maria juga memeluk anaknya dengan sayang. Walau bagaimanapun perbuatan Spica, gadis itu tetap anak kebanggaannya. Anak remaja yang sedang dalam masa puber. Kesalahan adalah hal yang wajar dan sebagai orang tua, Mira berkewajiban membimbing anak gadisnya itu.


"Kamu juga janji, jangan kerja-kerja begitu. Ibu ndak mau kamu kerja sebelum waktunya. Walaupun sekarang ibu sendiri, InsyaAllah ibu masih bisa mencukupi kebutuhan kamu sama adikmu. Janji sama ibu ya?" Mira kembali memberi wejangan.


Dengan cepat, Spica mengangguk. Dalam hati berjanji tidak akan membuat ibunya bersedih lagi. Cukup ini yang pertama dan terakhir kali. Spica akan menjauhi orang-orang yang sekiranya membawa hal negatif dalam hidupnya. Tak terkecuali Bara.


Dan seperti kesepakatan di kedai bakso kala itu, mereka berdua akhirnya memilih untuk saling menjauh. Seperti tidak mengenal. Bahkan saat liburan berakhir dan kegiatan sekolah kembali berjalan, Bara menepati janjinya untuk tidak mendekati Spica. Begitu pula Spica yang juga berjanji untuk tidak lagi berurusan dengan apapun yang menyangkut Bara. Memutus hubungan kerja dirinya dengan Sujaya dan kembali tinggal di kos lamanya dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2