
Akhir pekan berakhir. Hari ini waktunya kami bekerja di kafe. Aku menebak-nebak apa yang Matthew lakukan sementara Jordan menginap di rumahku. Sepertinya ia merasa kesepian, atau mungkin merasa bebas. Pasalnya, ia tidak menelepon, atau memberi pesan sekali pun. Mungkin ia memang sengaja menyuruh Jordan singgah di rumahku agar tidak ada yang mengganggu akhir pekannya.
Biasanya pagi ini, aku berjalan bertiga bersama Theo dan anjingnya. Namun kini, kami bertambah satu, tentu saja ada Jordan di antara kami. Aku tidak begitu peduli, lantaran Theo selalu bisa melempar bahan humor yang menggelitik hingga menaikkan moodku. Kalau Jordan masih diam dan bereaksi datar, ia terlalu serius menatap langkah demi langkah kakinya.
Bahkan sampai Theo dan kami berpisah, ia sama sekali tidak bersuara. Kami pun akhirnya langsung masuk ke kafe, sudah disambut dengan cengiran khas Matthew. Ia memicingkan mata seraya menaik-turunkan alis pada kami.
"Ekspresimu memperburuk pemandangan," ketus Jordan datar. Sontak aku menyikut perutnya hingga ia meringis pelan.
"Bilang aja kau iri sama ketampananku," tukas Matthew sambil berpose keren.
"Aku kira kau sudah mati. Ternyata masih hidup dan sehat. Ke mana saja kau tidak mengangkat telepon atau baca pesanku?" lugas Jordan lagi, memasang raut datar.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian! Dan sekarang aku akan menyambut keponakanku saja, kok." Adalah Matthew yang melontarkan kalimat tak masuk akal itu.
"Maksudmu apa?" Aku mengernyit, menuntut penjelasan.
"Apa kau mual-mual? Perutmu sakit, 'kan? Kau sebaiknya duduk dan istirahat aja!" ujar Matthew yang semakin mengarah pada hal liar. Ah, aku benci pikiranku.
"Hei! Kami tidak berbuat sejauh itu!" bantahku tegas.
"Yah ... pembaca kecewa." Nadanya merendah di kata terakhir.
"Udah, ah. Sebaiknya kita bersiap-siap bekerja," saranku lalu meninggalkan kedua pria aneh itu.
"Kemarin Joseph ulang tahun, kau tidak mengucapkannya?" Langkahku sontak terhenti. Lalu menoleh ke titik keberadaan Matthew. "Benarkah?"
Ia mengangguk. "Kau tidak tahu?"
Aku menggeleng, dibalut rasa bersalah. "Kalau begitu, aku akan segera mengucapkannya lewat SMS."
Tepat ketika usai memakai celemek cokelat dan masuk ke dapur, aku merogoh celanaku guna mengambil ponsel. Kemudian jari-jari lentikku mengetik deretan kalimat ucapan ulang tahun untuk Joseph.
Me:
Happy birthday Joseph!
Maaf telat, huhu T^T
Apa pun kendala hidupmu, teruslah bahagia!
Aku mendecak pada diri sendiri. "Ucapan ini klise banget, astaga!" Awalnya ingin dihapus, tetapi sudah kukirim duluan. Tak lama balasan pesan masuk dari Joseph.
Joseph:
Makasih banyak Saraaahhh!!
__ADS_1
Huhu, kaulah sahabat sejati aku~
Me:
Lebih sering mandi ya!
Joseph:
Apa itu mandi?
Me:
Kudoakan kamu bisa bersahabat dengan air, ya.
Itu kalimat terakhir yang mengakhiri pesan SMS kami.
_________________________________________
Author POV
"Matt, apa itu ulang tahun?" tanya Jordan tiba-tiba yang tengah memakai celemek cokelat.
Matthew menarik napas, mulai menatap serius pria barista itu. "Ulang tahun adalah hari di mana manusia baru lahir dan manusia lama bertambah usia," terangnya sekaligus memperagakan gerak tangan.
Pelaku yang ditanya terdiam sejenak. Ia terlihat berpikir sambil memegang dagu. "Kau masih ingat tanggal berapa dan bulan apa, saat kau turun ke Bumi?"
"Tepat pada tanggal dua puluh delapan di bulan Juli," sela Sarah tiba-tiba.
Matthew terperanjat. Dengan kompak mereka menghadap ke tempat berdiri Sarah di pintu dapur. "Aku masih ingat tanggal terakhir keberadaan Bulan di langit." Dia diam sejenak lalu tersenyum. "Ternyata Bulannya berada dekat denganku."
Ekspresi Matthew terkejut. "Jadi ...!" Nada tingginya langsung merendah, hampir seperti berbisik. "Jadi, kau selama ini sudah tahu bahwa Jordan adalah Bulan? Dan kau mempercayainya?!"
"Hei!" Tatap sinis Jordan ditujukan pada Matthew.
"Apa? Apa?!" lawan Matthew.
"Tidak mungkin aku berbohong! Hanya membuang waktu saja!" protes Jordan menautkan alis.
"Selamat ulang tahun, Jordan!" sela gadis itu.
Sejujurnya Sarah enggan untuk mengucapkan apalagi merayakan ulang tahun keberadaan Jordan di Bumi sebagai manusia. Sebab semakin bertambah usianya, semakin berkurang waktunya untuk singgah di Bumi. Jika dihitung dari tanggal ini, maka waktu Jordan tersisa 1 tahun lagi. Sarah merasa cemas bila waktu 365 hari ini akan terasa singkat.
_________________________________________
Kafe mulai ramai. Beberapa pelanggan yang baru masuk seperti mendapatkan angin surgawi lantaran terhembus udara dingin dari AC. Sementara para pelanggan yang di dalam, tampak enggan beranjak ke luar guna menghindari paparan sinar matahari yang menyengat.
__ADS_1
"Jordan, main yuk!" Sekilas terdengar bisikkan bernada bak anak kecil terlintas di telinga Jordan. Alih-alih menengok ke asal suara, ia begitu sibuk membuat kopi untuk para pelanggan sampai tidak mempedulikan Matthew.
Pasalnya, ia tahu Matthew hanya akan membuang-buang waktu dengan topik tak berguna. Tepat ketika Jordan membuka freezer khusus penyimpan es batu, raut wajahnya berubah dan mulai mencari keberadaan pelaku yang tadi ia abaikan. "Matt! Persediaan es habis!"
Si pemilik nama langsung menghampiri Jordan. "Mungkin karena ini musim panas, jadi banyak yang memesan minuman es. Tunggu sebentar, di freezer dapur masih banyak!"
_________________________________________
"Aku tidak bisa menunggu!"
Seorang pemuda di kedai roti sedang menghentak-hentakkan kakinya lantaran tidak tahan menunggu temannya keluar dari toilet.
"Mark! Cepetan! Aku kebelet, nih!" gertaknya sembari memukul-mukul pintu toilet.
"Hei, Mark! Kau ini sedang buang air atau mati di dalam?!" bentak Joseph lagi.
"Iya, sebentar!" sahut Mark dan tak lama keluar dari toilet.
"Aih! Kau ini!" Secepat kilat Joseph mengambil alih toilet kemudian membanting pintu saking tak kuat menahan situasi ini.
Hanya dalam kurun waktu sebentar Joseph berada di dalam. Mark yang sudah menyelesaikan shift pagi, akhirnya pamit dan menyerahkan shift sore pada rekannya.
Pemuda itu pun melanjutkan kegiatannya sebagai chef di sana. Beberapa pelanggan silih berganti datang memesan kue ulang tahun yang akhir-akhir ini berhasil menarik perhatian masyarakat di media sosial.
Semakin banyak yang pesan, semakin banyak pula adonan kue harus dibuat. Sebelum kemudian ia masukkan adonan itu ke dalam oven.
Kling!
Buru-buru Joseph berdiri untuk menyambut kedatangan para pelanggan yang baru saja datang. Suara ibu-ibu menyapa rungunya, begitu pun aroma khas wanita yang menyeruak ke seluruh sudut ruangan.
"Selamat datang!"
Awalnya reaksi sang pemuda terlihat biasa saja. Namun senyumnya sekejap meluntur, tatkala bertemu pandang dengan salah satu wanita paruh baya di antara perkumpulan itu.
.
.
.
to be continued...
Siapa wanita itu?
Dukung terus, ya~♡
__ADS_1