NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[16 : It's Ok to Not be Ok]


__ADS_3

Langit pagi itu masih secerah pagi-pagi sebelumnya.


Matahari muncul di antara awan-awan tipis yang bertebaran. Sinarnya yang sampai ke bumi tak terlalu menyilaukan juga tak menyengat kulit. Matthew, Haeya, Cayla dan Joseph pun tak terganggu sama sekali ketika mereka berlari penuh semangat ke lapangan yang sudah diselimuti salju.


Kini mereka menggunakan pakaian hangat yang memadai untuk suhu ekstrem ini.


Hal itu dimanfaatkan mereka untuk membentuk salju menjadi bola, sebelum akhirnya mereka lempar ke satu sama lain. Dari yang bentuknya kecil hingga besar, tak segan-segan mereka layangkan.


Mereka juga membuat boneka dari salju. Dipasangnya wortel sebagai hidung, sepasang ranting kayu sebagai lengan, beberapa kerikil kecil sebagai mata dan lengkungan mulut tersenyum.


Tak lupa mereka merebahkan diri di atas tumpukan salju. Menggerakan kaki dan tangannya hingga membuat cetakan tepat pada lapisan salju. Dua pemuda itu bahkan tidak ragu menggeliat di sepanjang bentangan lapangan. Saking dinginnya, saat mereka bicara pun keluar uap yang mengepul.


"Sudah ya, ini sangat dingin, aku bisa beku lama-lama," kata Haeya.


"Ayo masuk! Akan kubuat sup dan susu hangat," ajak Cayla.


Kedua gadis itu masuk lebih dulu, sementara Matthew mengulurkan tangannya kepada Joseph yang masih bermanjaan di atas salju. Sebelum kemudian mereka saling merangkul dan masuk ke apartemen.


Saat di dalam, keempat orang itu mengganti jaket tadi dengan sweater rumahan. Pun Haeya menyalakan penghangat ruangan. Sambil menanti masakkan Cayla, mereka berkumpul di ruang tengah dan menyaksikan acara televisi.


"Nah, makanan sudah jadi!"


Cayla akhirnya keluar dari dapur dengan membawa empat mangkuk sup dan empat susu jahe. Tentu saja itu dibawa menggunakan nampan besar. Mereka duduk di lantai dan makan di meja ruang tengah. Tujuannya sih supaya bisa sambil nonton televisi.


"Cay, aku, kan, ga suka jahe!"


Haeya merengek ketika dihidangkan susu jahe oleh Cayla. Pasalnya dia tak suka minuman itu dan dia juga sudah memesan susu cokelat.


"Ya sudah. Ga usah diminum!"


Baginya tak ada pilihan lain. Dia terpaksa ke dapur untuk membuat susu cokelat, tetapi sebelum itu, dia masih sempat-sempatnya menjulurkan lidah pada Cayla. Sedangkan yang lain hanya tertawa melihat raut ambek gadis kelahiran Korea Selatan tersebut.


Mengingat salah satu dari mereka akan berulang tahun yang jatuh pada tanggal 25 Desember, Cayla, Joseph dan Matthew mencuri waktu untuk memperbincangkan hal itu. Di saat bersamaan, mereka juga harus berbisik jika tidak mau Haeya mendengarnya.


Karena suhu ekstrem ini tak bisa diajak bersahabat kalau merayakannya di restoran luar. Mereka pikir akan membuat pesta kecil-kecilan di apartemen saja. Beberapa ancang-ancang sudah Cayla persiapkan; Joseph yang akan membuat kue ulang tahun, Cayla akan masak banyak makanan dan Matthew yang mendekorasi apartemen.


Ancang-ancang ini dilakukan saat tengah malam, tepatnya saat gadis itu tertidur. Tak lama kemudian, Haeya yang menjadi buah bibir keluar dari dapur dengan membawa segelas susu cokelat miliknya. Mereka semua terkesiap untuk memberhentikan topik dan merencanakannya diam-diam.


Kebersamaan hari ini terasa sangat hangat. Makan, nonton film, saling bercerita, tertawa, mereka lakukan hingga hampir lupa waktu.


_________________________________________


"Uhh ... dingin bangeeeettt."


Sesekali terdengar lirihan dari si gadis berwajah pucat. Pasalnya flat gadis itu sangat dingin, sedangkan dia tidak kuat dengan suhu rendah. Sudah dibilang, itu karena dia tidak menyalakan penghangat ruangan untuk menghemat pengeluaran.


Sambil rebahan, kini tubuhnya sudah terbalut beberapa lapisan baju tebal juga selimut. Percayalah, dia sudah seperti kepompong yang menolak mentah-mentah udara dingin untuk menjajah dirinya.


Ting-Tong-Ting-Tong!


Beberapa kali bel pintu bersuara. Tanpa mengulur banyak waktu, si pemilik flat segera membukakan pintu. Meski biasanya datang lebih pagi, pemuda itu tak pernah alpa mengunjungi Sarah. Siapa lagi kalau bukan Jordan?

__ADS_1


"Oh? Tumben siangan," kata gadis itu.


"Tadi aku nonton film Bollywood dulu," sahutnya.


Sepertinya Sarah tak lagi kaget dengan kedatangannya. Mengetahui kepolosan pemuda itu, Sarah jadi tak segan-segan menyambutnya setiap hari dan menyuruhnya masuk.


Namun yang sekarang dikagetkan adalah pemuda bulan tersebut. Ia mengamati gadis di depannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Terlihat Sarah membalut tubuh dengan selimut dan wajahnya sangat pucat seperti orang sakit. Sesekali tubuh Sarah menggigil hingga deretan giginya ikut bergetar.


"Sarah kenapa?" tanya Jordan seraya memiringkan kepala.


"Ti... tidak. Hanya kedinginan. Matthew pergi lagi?"


"Iya."


"Ya sudah. Ayo masuk!"


Saat berada di dalam, Jordan bukan manusia yang tidak bisa merasa hawa panas atau dingin, ia sadar betul akan suhu dingin flat Sarah.


"Pantas saja Sarah kedinginan. Mengapa Sarah tidak menggunakan penghangat ruangan?"


"Aku harus menghemat pengeluaran, Jo," jawab Sarah sembari membuatkan kopi untuk pemuda itu.


Jordan duduk di sofa dan bertanya, "Menghemat?"


"Iya, menghemat itu artinya kau mengurangi pengeluaran."


Ia hanya mengangguk. Tepat saat Sarah usai membuat kopi dan menyerahkannya pada Jordan, pemuda itu melontarkan ide.


"Bagaimana kalau kita ke flatku saja? Sarah tidak akan kedinginan, karena di sana Matthew menyuruhku menggunakan penghangat ruangan," bujuk Jordan.


Tidak buruk menerima tawaran baiknya, tapi bisa-bisa orang berspekulasi buruk, batin Sarah.


Mungkin karena terlalu lama, mungkin juga karena tidak ingin tahu, Jordan tanpa aba-aba menarik tangan Sarah untuk keluar. Selimut yang dipakai Sarah pun terlepas ke lantai, dan anehnya, ia tidak lupa membawa cangkir kopi yang sudah dibuatkan Sarah untuknya.


Baru Sarah sadari, ternyata Jordan memiliki tubuh yang sangat tinggi. Saking tingginya, bahkan untuk menjangkau bahu Jordan saja tidak sampai. Mungkin di pandangan orang, Sarah hanya akan terlihat layaknya kurcaci ketika jalan berdampingan.


"Ah, ternyata benar, di sini hangat. Terimakasih," ungkap gadis itu ketika sampai di dalam flat Jordan, lebih tepatnya Matthew.


Mereka pun duduk bersebelahan di sofa. Tak lupa juga Jordan menyetel film kesukaannya sembari menikmati kopi. Terkadang film itu membuat candaan sampai Sarah tertawa, tetapi bertolak belakang dengan Jordan. Pemuda itu tetap serius dan tidak tertawa sama sekali. Maklum saja, dia tak tahu cara mengekspresikan rasa kemanusiaan.


Siang berlalu. Mentari pun tenggelam dan berganti langit gelap. Selang beberapa jam asik dengan layar televisi, Jordan baru sadar bahwa Sarah tengah tidur di bahunya. Dia tampak begitu letih. Membuat Jordan ragu untuk membangunkannya.


Ia malah mengamati wajah Sarah yang sudah tidak pucat seperti sebelumnya. Lalu pandangan Jordan beralih pada rambut pendek Sarah. Ia penasaran dengan aroma wangi dari rambut hitam pekat itu. Maka secara tak sadar, ia mengangkat beberapa helaian lalu perlahan-lahan menciumnya.


"Harum."


Cklek!


Tuk!


"Jordan?! Apa yang kamu lakukan dengan gadis polos itu?!"

__ADS_1


Sontak teriakan itu membuat kedua pihak berjengit di tempat. Sarah secara paksa terbangun, karena Jordan yang tiba-tiba berdiri membuat Sarah hampir terhempas ke lantai.


"Kalian sedang apa di flatku, hah?!"


Adalah Matthew yang meneriakkan kata-kata sedikit ambigu itu. Untung saja para tetangga apartemen tidak terbangun dengan suaranya. Matthew juga menjatuhkan kotak merah kecil bawaannya, yang menghasilkan suara benturan. Setelah dia sadar, kotak itu dipungut lagi.


"Apa? Kami hanya nonton televisi," ujar Jordan datar.


"Ta ... tapi kenapa di flatku?"


"Sarah kedinginan di flatnya."


"Loh? Bukannya di sana ada penghangat ruangan?" tanya Matthew lagi tanpa henti.


"Dia bilang menghemat."


"Kenapa? Kan semuanya aku yang tanggung."


"Aku tidak mau menyusahkanmu sampai aku bisa mencari pekerjaan." Kali ini Sarah menjawab seraya berdiri dari sofa.


Matthew memegang dagunya, dan diam sejenak guna mencari jalan keluar. "Ah, gimana kalau kau bekerja di kafeku?"


"Iya. Kau bisa bekerja jadi pramusaji di kafeku. Tenang saja, bocah itu juha jadi barista di sana."


Sarah tak ada niat menolak untuk peluang ini. Sangat sia-sia kalau ditolak tanpa mencoba terlebih dahulu. Gadis itu hanya mengangguk sebagai persetujuan.


"Baiklah! Kafeku tutup selama bulan desember. Kami baru buka di awal Januari, jadi persiapkan dirimu," pungkas Matthew.


"Ah, baiklah. Sekarang aku akan kembali ke flatku. Terimakasih ya."


Sebelum Sarah benar-benar pergi. Matthew kembali berujar, "Mulai sekarang, gunakanlah penghangat ruangan itu. Aku benci orang yang menerima setengah-setengah bantuanku."


Suasana jadi lebih serius, apalagi ketika Matthew tak mengulas senyum sama sekali.


"Sarah! Kau melupakan cangkir kopinya," ujar Jordan seraya memberi cangkir kosong itu kepada Sarah. Sebelum ada hambatan lagi, dia cepat-cepat mengambilnya. Lalu masuk ke flatnya.


Jordan yang menyadari Matthew berekpresi aneh, lebih tepatnya menyebalkan, berusaha acuh. Ia menuju ke wastafel untuk menyikat giginya. Jordan itu tipikal pria yang sangat merawat kebersihan diri. Ia sangat benci kalau mulutnya bau setelah minum kopi. Namun kecintaannya pada kopi tak pernah meluntur. Ah, kalau manusia mandi sehari tiga kali, berbeda dengan Jordan si pencinta kebersihan yang akan mandi setiap berkeringat.


Hal itu membuat pengeluaran Matthew jadi lebih banyak. Untung saja sekarang sedang musim dingin. Maka, Jordan akan mandi sehari tiga kali. Namun, mungkin saja hal itu akan dilakukan Jordan lagi kalau memasukki musim panas.


_________________________________________


Hello all~


Salam sehat, semuanya♡


Semoga makin suka ya sama Nyctophilia♥


sama authornya juga gapapa //plaakk


Ada pepatah bilang; Tak kenal maka tak sayang.

__ADS_1


Jadi, supaya makin sayang, yuk cek Instagram @carameldarx untuk mengetahui info-info lebih dalam lagi perihal visual, who's next, dan lain hal..


Thank you, love you, see you!☆


__ADS_2