
Ini sudah siang. Sarah dan Jordan sibuk berkutat pada barang-barang di flat Sarah. Namun sayang seribu sayang, Jordan berhasil membuat sang gadis berambut pendek itu kewalahan. Masalahnya, Jordan baru saja membuat kecerobohan saat hendak membantu mengisi botol air minum Sarah. Ia tidak sengaja lalai membiarkan air kepenuhan hingga terjun ke lantai. Kini lantai jadi tergenang air, secara terpaksa Sarah yang sedari awal mengemas pakaian, harus mengelap lantai terlebih dahulu.
Dia beranjak dari tempat kopernya berada, lalu mengambil kain lap kering. "Jo, kamu mending duduk aja, ya. Biar aku yang melakukan sendiri," ucap Sarah.
Kemudian dia mengambil botol minum yang berlebihan air itu dari tangan Jordan, dan menutupnya. Si tersangka menuruti perintah Sarah untuk duduk di sofa. Padahal niat murni untuk membantu Sarah mengemas barang-barang di flat, tetapi malah selalu menambah pekerjaan akibat ceroboh.
"Maaf, aku jadi menyusahkanmu," sesal pemuda itu. Ternyata tidak sia-sia Sarah mengajarkan ia minta maaf sebagai tata krama yang diperlukan bila berbuat salah.
"Iya, baiklah, tidak masalah."
Sebenarnya, Jordan merasa bosan karena hanya ia sendiri yang sudah siap dengan kopernya. Mungkin pakaian dan barang miliknya memang masih sedikit, mengingat ia belum terlalu lama tinggal di bumi. Lagi pun, semua barang Jordan berupa bekas dari Matthew, tetapi ada juga yang baru.
"Sarah, kenapa kita harus pindah dari kota ini?" tanya Jordan, setelah lihat Sarah selesai mengelap lantai.
"Entahlah. Setahuku, Matthew akan membuka cabang kafe di California. Aku hanya melakukan perintahnya. Memangnya kamu ga diberi tahu?" Gadis itu menjelaskan sekaligus bertanya balik.
"Tidak. Dia bahkan tidak pulang semalam," jawab Jordan singkat. Pandangannya mulai beralih pada koper hitam yang tergeletak dalam kondisi terbuka di lantai.
Saat Sarah sudah selesai berkutat dengan lantai, dia memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya mengemas pakaian. Namun raut wajah sontak berubah drastis ketika Jordan secara polos mengambil salah satu pakaian dalam miliknya warna merah muda.
"Sarah... ini apa?" Dengan lugu Jordan bertanya seraya mengangkat barang tersebut menggunakan jari jemari lentiknya.
Sang pemilik pakaian dalam, segera merebut yang Jordan pegang, dan menyembunyikannya di tumpukkan baju lain dalam koper. Dia langsung memastikan bahwa kopernya telah tertutup rapat.
"Jo! Ga sopan rubu-raba isi koper orang lain!" bentak Sarah penuh emosi. Tetapi tetap saja, nadanya masih terdengar lembut.
"Kenapa ekspresi Sarah jadi aneh? Aku penasaran dengan benda itu. Apa namanya? Kenapa ada dua bulatan? Kenapa aku ga punya?" Pemuda itu malah menderetkan kalimat tanya tanpa rasa bersalah.
Sementara Sarah menggeleng-geleng kepala sambil menghela napas.
_________________________________________
Kebetulan akhir pekan, Cayla dan Joseph menyempatkan diri untuk membantu Matthew membuka kafe baru di California. Mereka terlihat sibuk pada tugas masing-masing yang sudah dibagi rata. Cayla menyapu permukaan kafe, Joseph menggantung beberapa lukisan di tembok dan Matthew mengatur tata letak perabotan, seperti meja dan kursi kafe.
"Kamu jadi menetap di sini?" tanya Joseph.
"Kalau aku bercanda ngapain coba segala beli perabotan baru?"
"Gabutnya buang-buang duit," canda seorang gadis di sana. Pasalnya, Matthew sudah membeli dua apartemen, satu untuk dirinya bersama Jordan dan satu lagi untuk Sarah.
"Aku sebutir upil di tengah bongkahan berlian, cuma diam seribu bahasa," gumam Joseph, masih berkutat pada lukisan.
"Jo! Pasang lukisannya bisa estetika sedikit ga, sih?" cetus Cayla.
"Ga usah ngurusin orang, kalo kamu sendiri nyapunya ga bersih!"
Memang benar faktanya, gadis cantik itu tidak terbiasa memegang pekerjaan rumah. Maklum saja, dia memiliki orangtua yang tajir, bahkan tidak nanggung-nanggung memperkerjakan banyak asisten rumah tangga.
Mendengar sindiran Joseph, Cayla berdecak kesal. Tidak terima dengan kritik, dia melanjutkan kegiatan menyapu lebih serius dan cekatan.
"Ck! Ga punya akhlak!" ejek gadis itu dengan suara nyaring. Tentu saja kedua pemuda di sana mendengar, Matthew hanya tertawa, berbeda dengan Joseph yang membalas tatapan sinis.
Beberapa menit berlalu. Ternyata Matthew dan Cayla sudah menyelesaikan tugas masing-masing dan tengah duduk berhadapan di kursi sambil menikmati secangkir teh hangat. Sementara Joseph, baru saja selesai memajang beberapa replika tembok. Ia turun dari tangga dengan perasaan lega dan ikut bergabung dengan kawannya di sana.
"Matt, si Sarah sama temen kamu udah berangkat dari Texas?" tanya Joseph sambil mencuri seruput teh milik gadis yang duduk di sebelahnya.
"Iya, naik kereta tadi siang. Paling sebentar lagi nyampe," terang Matthew.
"Jordan, 'kan, namanya? Cowok yang ngerusak kran air flat Sarah, kemarin?" timpa Cayla penuh tanya, sekadar dijawab anggukkan.
"Kita belum sempat kenalan," ucapan Joseph disetujui oleh Cayla, "lagian orangnya juga cuek."
__ADS_1
Persetujuan Cayla berubah jadi gelengan kepala. "Tidak masalah selagi dia tampan," ujarnya sembari menopang dagu dengan kedua telapak tangan, seolah sedang membayangkan raut wajah Jordan yang kelewat tampan.
"By the way, kenapa Sarah jadi balik lagi ke California? Bukannya dia harus bertemu dengan bibinya?" selidik Joseph.
Menyadari hal itu, Cayla mengerutkan kening sekaligus memegang dagu penuh heran. "Iya juga, ya. Apa jangan-jangan dia sudah menemukan Jordan sebagai cinta sejatinya?"
"Kebiasaan deh, memperbesar topik jadi gibah. Nanti aku kenalin sama Jordan, kalau mereka udah sampai."
Di saat bersamaan, kedua tukang gosip itu saling melempar kekehan. Mereka sangat terlihat akrab ketika satu frekuensi memperbincangkan orang lain.
_________________________________________
Ting-Tong-Ting-Tong!
Cklek!
"Ada apa?" tanya dingin salah satu penghuni wisma itu. Kesan bangsawan yang dibawa oleh pemuda itu tak kalah juga dengan aura kharisma sang tamu. Namun, wajah yang bisa ternilai segar dan lucu tidaklah dominan dengan sikapnya.
Sebelum menjawab pertanyaan sang empu, pria itu berdehem. "Aku ingin menjemput, Haeya."
Tidak langsung dipersilahkan masuk, Yeonseok mengamati Chris dengan saksama. Wajah yang babak belur dan bau obat-obatan sangat lekat. Tidak begitu lekat, tetapi untuk Yeonseok yang memiliki penciuman sensitif, aroma obatnya terlalu menusuk. "Wajahmu?" tanya singkat Yeonseok.
"Aku melakukan kesalahan saat berlatih boxing kemarin," jelas Chris dengan penuh kebohongan. Sang tuan rumah tidak begitu bodoh sampai mudah tertipu, tetapi dia juga tidak begitu peduli dengan keadaan Chris. Ia bahkan menyambut pemuda kelahiran Amerika-Australia tersebut amat dingin.
"Masuklah, mungkin Appa dan Haeya sudah menunggumu."
Yeonseok adalah putra sulung keluarga Jeon, pastinya kakak dari Haeya. Kemudian ia memberi jalan untuk Chris agar masuk terlebih dahulu. Suasana rumah yang sepi, dengan nuansa kuno-modern. Tentu saja karena rumah ini hanya dihuni oleh tiga orang pemilik dan kurang lebih enam pekerja.
"Kamu udah sampai? Cepat banget biasanya kamu, 'kan, telat terus," ledek Haeya sambil menuruni satu anak tangga terakhir sampai benar menginjak lantai ruang utama. Terlihat wajahnya terpoles make-up yang natural.
Disambut layaknya tuan putri, Chris memberikan tangannya untuk menuntun gadis itu turun. Tidak lupa dengan kecupan singkat yang mendarat hangat di pipi sang gadis, berhasil membuat Haeya tersipu malu.
"Romantis sekali anak zaman sekarang, untuk menyambut kekasihnya."
"Saya ingin mengajak putri anda untuk jalan-jalan. Apakah saya pantas mendapat izin darimu?"
Dengan setia pria kelahiran Australia itu menunggu jawaban dari sang ayah mertua. Seungdae berjalan mendekati Chris, ia menepuk pundak Chris layaknya seorang anak, lalu tertawa bak seorang pria tua. "Ha-ha-ha-ha. Seharusnya kamu tahu, segala izin saya berikan, asalkan Haeya terus bersamamu."
"Appa! Apaan sih?!" protes Haeya, kepala dan pipinya sudah menyerupai kepiting rebus sedari tadi.
Mereka beranjak dari ruang utama menuju mobil Chris, dalam perjalanan tangan Chris enggan terlepas dari eratannya. Ia selalu menggenggam Haeya layaknya anak kecil yang takut hilang dalam jangkauan orangtuanya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Chris mempunyai agenda rahasia dengan Haeya. Agenda yang biasa dilakukan oleh para pasangan baru. Makan malam yang spesial dengan kelopak bunga mawar yang tersusun rapi di sekitar piring, tidak lupa dilengkapi dengan lilin menyala.
"Kamu siapin ini semua sendiri?" tanya gadis itu terkagum-kagum. Dia tidak pernah disuguhi pengalaman seromantis ini. Chris sangat berbeda dengan Matthew.
"Kalau bukan aku, siapa lagi dong?" Balas Chris dengan candaan. Pria yang humoris, romantis, berkharisma, haruskah Haeya mengatakan bahwa dia beruntung memiliki pria ini?
Makan malam pun telah tiba. Chris memesan steak dengan tingkat kematangan medium-rare, aroma yang sangat menggugah selera makan bercampur dengan aroma wine. Masing-masing mereka menikmati hidangan itu diiringi dengan musik klasik dan gelak tawa.
Waktu terus berjalan, langit semakin gulita rasa letih sudah bercampur dalam kepuasan. "Kamu ingin pulang?" tawar Chris.
"Ah, iya, aku sangat letih. Kamu masih harus bantu ayahmu bekerja, bukan? Perusahaanmu sedang naik daun, pasti banyak yang harus kamu kerjakan."
"Tenang saja, aku bisa berbagi waktu denganmu. Don't worry, ok?" Chris memberi pelukan hangat kepada kekasihnya ini.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dengan pencahayaan yang minim. Haeya masih berkutik untuk memasang sabuk pengamannya, sedangkan Chris hanya memerhatikan gadis itu lekat. Sadar sedang diamati, Haeya pun membuka suara, "Kenapa? Apa ada sesuatu diwajahku?"
Tentu Chris mendengar apa yang dikatakan Haeya, tetapi ia masih bergeming dan semakin lekat mengamati gadis itu.
"Hae..."
__ADS_1
Dengan lirih Chris menyebut nama Haeya. Ia tidak segan-segan mencondongkan tubuhnya ke arah Haeya tanpa mengenal kata jarak. Perlahan tetapi pasti, pria di kursi kemudi itu, menempelkan tangan kanannya di tempat duduk Haeya, lalu tangan kiri memegang pipi sang gadis tunangannya. Haeya hanya bisa pasrah dengan suasana yang mulai panas ini, dan memejamkan kedua mata, ketika bibir Chris semakin mendekat.
_________________________________________
Beralih ke kedua insan yang kini tengah menikmati perjalanan di kereta menuju California.
"Sarah? Kapan kita sampai?"
Kalau bukan bertingkah polos, pria itu akan bertingkah layaknya anak kecil. Sungguh, mungkin ini sudah ke seratus kali ia menanyakan kapan mereka sampai ke California.
"Bersabarlah, Jo! Satu jam lagi kita akan sampai," ucap Sarah frustasi, rungunya sudah panas dengan lemparan pertanyaan yang sama setiap detiknya.
Pria itu mendecak kesal, lalu menjawab, "Kamu dari tadi mengatakan itu!"
"Dan kamu dari tadi menanyakan hal yang sama!" bentak Sarah tanpa segan-segan pada Jordan. Namun, dia masih sadar diri sedang berada di kereta. Tentu mereka akan menjadi sorotan apabila saling melempar kelakar.
"Kali ini aku sungguhan, sebentar lagi, Jordan."
Pertemuan dirinya dengan Jordan, bisa terhitung tiga bulan. Masih terbilang sangat sebentar, tetapi sepertinya Sarah telah menyimpan rasa kepada Jordan. Dia merasa pemuda itu berhasil menjatuhkan hatinya sejatuh-jatuhnya. Kini, dia telah tahu tujuan awal sang pria bulan datang ke bumi, lantas karena itulah dia rela ikut kembali ke kota asalnya --meski terukir banyak luka-- demi menghabiskan sisa waktu bersama Jordan.
"Baik--" jawaban Jordan terputus.
"Jo! Kamu ngerasa gak, kalau malam ini lebih terang? Padahal, 'kan, tidak ada yang singgah sebagai bulan."
Faktanya, Jordan juga sudah sadar akan hal itu. Tampak langit malam yang lebih terang, padahal sang bulan alias Jordan sedang berada di bumi.
"Aku tidak tahu. Mustahil jika ada cahaya lain di atas sana," pemuda itu menatap Sarah, "atau mungkin karena kamu selalu berada di dekatku."
Entah apa yang terlintas dipikiran Jordan, kini ia layaknya seorang penyair mendekati penganut gombal berstatus cringe.
Secara frontal Sarah tersenyum lebar, sambil mengusak-usak pucuk kepala Jordan.
"Iya-iya, kamu terlalu terang sampai mataku sakit."
Tidak disangka, baru saja Jordan menunjukkan senyum perdananya kepada Sarah. Alih-alih terpesona, dia malah tertegun saat melihat lubangan kecil yang tercetak di kedua pipi sang pemuda.
"Oh! kau baru saja tersenyum!" seru Sarah. Sontak Jordan merubah ekspresinya menjadi datar.
"Bisakah kamu lakukan lagi? Aku penasaran setelah lihat pipimu bolong saat senyum."
_________________________________________
❝Kepada seonggok bintang yang lain
Janganlah pergi lagi
Tetaplah di sana menunggu chandrabha kembali
Hati kecil berkata lain akan perpisahan
Memaksa semesta untuk tinggal.❞
Sarah, 30 Maret 2017
.
.
.
to be continued...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡