
"Guk-Guk!"
Tanpa kuasa sang tuan, harness alias tali tuntun hewan berbulu lebat itu terlepas dari genggamannya. Kini anjing itu menggong-gong penuh riang sambil berlari seringan kapas ke arah tak menentu. Sangat terpaksa si pemilik anjing pula harus mengejar kepergian hewan peliharaannya.
"Buffi! Kau mau ke mana?!"
Sayangnya ini sudah larut malam. Dan anjing yang memiliki nama Buffi itu tak juga ditemukan. Bahkan langkah lari hewan lebih cepat dibanding manusia. Sang pria berambut oranye tampak putus asa harus berlari lagi guna mencari keberadaan anjingnya. Ia lebih memilih berdiam dulu sambil memegangi kedua lututnya dan menormalkan pernapasan yang terengah-engah. Dari pucuk kepala sukses dibasahi keringat sampai leher. Untuk meneguk saliva pun sulit, lantaran tenggorokannya terasa kering.
Ia mengedarkan pandangan ke sepanjang trotoar dan seberang trotoar. Hanya terdapat suara kendaraan dan desas-desus orang sekitar. Tak ditemukan suara khas Buffi, sekarang rasa takut benar-benar menyelimuti. Bagaimana tidak? Pikiran negatifnya mengatakan bahwa bisa saja anjing itu telah mati karena insiden tabrak lari, bisa juga diculik orang, atau dibawa polisi ke tempat penyimpanan hewan liar.
Pria itu menggigit bibir bawahnya. Penuh keseriusan berharap hewan kesayangannya bisa kembali. Namun, ia masih berada di tempat yang sama, tanpa ada niat mencari ke titik lain lagi. Dan sebuah keberuntungan datang, ketika seorang pemuda asing menghampirinya dengan membawa seekor anjing yang dipeluk.
"Guk-Guk!"
Lantas melihat sang tuan aslinya, Buffi menggong-gong dari kejauhan. Buffi tampak riang bisa bertemu lagi dengan tuannya.
Senyum pria itu mengembang dan segera menghampiri pemuda yang membawa anjing miliknya. "Buffi!"
"Apa anjing ini milikmu?" tanya pemuda bertahi lalat itu.
"Benar. Namanya Buffi. Terima kasih banyak, ya!" ujarnya sembari mengambil alih Buffi ke dalam gendongannya. "Maaf, jadi ngereporin."
"Anjingmu sangat pintar. Sepertinya insting Buffi denganmu sangat kuat. Buffi yang menunjukkan arah ke sini," jelas pemuda itu.
"Oh ya, aku Joseph Stello." Ya, pemuda yang baru saja mengantarkan anjing ke pemilik sesungguhnya adalah Joseph.
__ADS_1
"Aku Theo, salam kenal." Dan Theo menjabat uluran tangan Joseph sebagai awal pertemanan.
Seketika Buffi menggong-gong kecil pada Joseph seraya meronta-rontakan tubuhnya di dekapan Theo penuh sifat manja.
"Guk-guk!"
Buffi menjilat tangan Joseph yang mengelus kepala berbulunya. Lantas ia merasa geli dan terkekeh kecil. Sang pemilik yang melihat keakraban pemuda itu bersama anjing miliknya, merasa heran, karena Buffi tidak mudah bersahabat dengan orang lain. Namun ketika bertemu Joseph, Buffi selayaknya sudah lama mengenal.
"Kelihatannya dia sangat menyukaimu, Joseph." Opini Theo tidaklah keliru. Dan Joseph sendiri memiliki sifat lembut untuk hewan, tetapi sayangnya masih kurang memungkinkan bila dirinya memelihara hewan.
"Kalau begitu, aku akan pulang. Sampai jumpa!" seru pemuda Stello yang melambaikan tangan, kemudian beranjak pergi ke arah berlawanan dari rumah Theo.
Dari titik berdirinya, Theo juga melambaikan tangan seraya menyungging senyum. Ia menatap Buffi dengan rasa puas dan mengusak bulunya penuh kasih sayang.
Selepas kembali mengikat hewan itu dengan harness, ia menuntun Buffi tiap langkah menuju kediaman.
Di saat bersamaan, di kafe Matthew.
Sarah POV
Langit sudah gulita. Waktu berlalu kian larut, menunjukkan pukul sembilan malam. Baru saja keluar dari dapur, langkahku terhenti di samping Matthew. Raut wajahku berubah drastis menjadi terkejut, sementara Matthew memberi ekspresi jengkel. Aku menatap pelaku yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Matthew.
Seorang gadis remaja berpakaian bak karyawan kantor, sedang duduk berhadapan dengan Jordan. Mereka tampak akrab bahkan kerap kali tertawa ketika bercengkrama. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti titik-titik api risih mulai menyulut. Terlebih gadis itu sewaktu-waktu berani menyentuh lengan Jordan.
Ah, mungkin hanya aku yang berpikir berlebihan. Namun tetap saja, tidak bisa kututupi kerisihan ketika melihat interaksi mereka. Aku jadi menyesal karena menyuruh Jordan tersenyum, sehingga dari saat itu, ia mulai tersenyum pada siapa pun.
__ADS_1
"Hahhh ...." Matthew menghela napas.
Pandanganku bergilir pada dirinya yang berdiri di sampingku. Ia masih menatap kedua pelaku di depan sana sambil melipat tangan. "Beginilah ... nasib punya karyawan lebih ganteng dari bosnya," ungkap Matthew tanpa melihatku.
"Memangnya gadis itu siapa?" Aku bertanya pelan.
"Seorang wartawan magang yang masih kuliah. Dia bilang akan mewawancarai bos kafe ini, tapi saat melihat Jordan, dia ga minat mewawancaraiku." Kemudian ia menatapku dengan memasang wajah ambek. "Padahal, kan, aku bosnyaaa!" rengek Matthew sembari menghentak-hentakkan kaki.
Melihat wajah lucunya yang seperti anak kecil merajuk, aku malah tertawa. Ia tidak cocok menerapkan karakter manja apalagi kekanakan. Kalau boleh jujur, aku saja merasa mual tatkala ia mengerucutkan bibir. Namun aku bisa apa untuk pria berkulit eksotik ini?
"Kau harus berdoa, bersabar, dan berkaca," saranku sembari menepuk-nepuk pelan pundaknya dan sengaja menekan kata paling akhir.
Kan, sudah dibilang aku tidak mampu menghibur orang, malah menjerumuskannya dalam keterpurukan lagi. Sekarang yang penting bukan perihal kami berdua, melainkan mereka berdua.
"Iya, Love."
Sekilas terdengar omongan Jordan yang menyebut gadis itu pakai 'Love'. Sontak mataku membulat sempurna, secara 'Love' berarti cinta.
Apakah Jordan sedang menyatakan cinta?!
.
.
.
__ADS_1
to be continued...