NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[23 : Ketenangan dalam Peluk]


__ADS_3

Info:


Eotteohge jinaeseyo: apa kabar?


Mianhae eoh: maaf ya?


Appa: ayah.


Oppa: kakak laki-laki.


Happy reading!♡


Segera saja gadis bermarga Jeon itu memutuskan untuk berkemas setelah meninggalkan kafe Matthew. Tentu kedua sahabatnya tak bisa membiarkan keputusannya, terlebih saat Haeya memilih pulang sendiri.


"Hae, ini bisa diselesaikan baik-baik!"


"Kamu ga boleh pulang sendiri!"


Seruan terus dilontarkan oleh Joseph dan Cayla. Mereka setengah mati membujuk si gadis keras kepala agar menyelesaikan masalahnya, sebelum kemudian pulang bersama.


Semua bujukkan nihil. Haeya bukan tipikal orang yang suka diatur jika bukan dari keinginannya sendiri. Terlebih ketika sang kekasih malah meninggalkannya dan memihak pada Sarah.


Beberapa menit dihabiskan guna mengemas semua barang-barang. Saat dirasa cukup, dia mulai menggeret koper bersamaan langkahnya di lantai.


"Aku pulang sendiri."


Haeya berpikir kalau keputusannya final, padahal fatal menurut Cayla. Awalnya Cayla berniat menahan kepergian gadis itu, tetapi justru Joseph membuka pintu keluar lebar-lebar sebagai tanda ia mempersilahkan Haeya kembali ke California, atau lebih tepatnya mengusir.


Joseph memang tipe orang yang blak-blakan dalam bicara. Namun, ia juga sudah malas berkelit sepanjang hari. Cukup mengikuti keputusan orang itu, karena kita tak punya hak mengatur orang lain, begitu pikir Joseph.


Dan saat detik itu juga Haeya meninggalkan kedua sahabat. Tanpa pikir panjang, dia sudah membeli tiket kereta menuju California.


Sementara di apartemen Matthew, Sarah merasa sangat sungkan dan bersalah atas kesalahpahaman ini. Akan tetapi lelaki bermarga Julian tersebut selalu berkata bahwa semua ini bukan salahnya.


Daripada lebih banyak hati yang terluka, Matthew memutuskan untuk tidak mengungkit-ungkit kejadian tadi. Untuk sementara ini, ia akan berpura-pura baik-baik saja.


Kalau Jordan, ia hanya bergeming di sebelah Sarah. Ia sangat tidak paham dengan perkara barusan yang manusia lakukan, bahkan ia tak menemukan alasan konkret yang menyebabkan perkara ini, pikir Jordan.

__ADS_1


Sedangkan Matthew tampak kelelahan setelah melakukan argumen bersama kekasihnya tadi. Ia mengusap wajah kasar dan bersandar di sofa, rasa frustasi terlihat meskipun ia menutup kedua indra penglihatannya. Matthew merenungkan perkata tadi mengenai fakta, masalah dan solusi. Pasangan ini masih butuh waktu masing-masing, hingga bisa saling memahami. Meskipun bisa terbilang bukan murni kesalahan Matthew, tetapi ini pun bukan sepenuhnya kesalahan Haeya.


Kemudian Sarah kembali ke flat. Tentu diikuti Jordan berjalan seiringan.


"Aku merasa menjadi penghancur hubungan mereka." Ternyata rasa bersalah masih dominan dalam batin Sarah.


"Hari ini menghadiahkanku hal buruk, seperti mati tapi masih bernapas," keluhnya merasa frustasi. Raut wajah Sarah begitu suntuk, tidak seperti biasa yang selalu tersenyum.


Jordan masih tiada suara. Ia malah menghela napas perlahan dan menatap Sarah lemah lembut. Satu detik berlalu, tanpa disangka Jordan mendekatkan tubuhnya ke arah gadis itu, guna memberi dekapan hangat kepada Sarah. Inilah kali pertama Jordan memiliki inisiatif, rasanya batu yang keras sudah menemukan rintihan langit, dan es beku mulai mencair.


Momen ini hendak disudahi oleh Jordan, namun berat hati Sarah melepas dekapannya. Ya, dia tanpa rasa canggung menahan pergerakan sang pemuda agar tetap memberi sandaran sampai dirasa cukup.


"Jo, kumohon ... sebentar lagi," pinta gadis itu penuh peluh.


Merasa tidak keberatan, Jordan memeluk lebih erat lagi. Mata Sarah tertutup, secara intens menetes air mata sedu.


Meski dia tak berkata apa pun. Aku merasa sembuh karena dekapannya, batin Sarah.


_________________________________________


Haeya POV


Aku melihat anak kecil yang berjalan sambil dituntun kedua orangtuanya. Ada juga dua orang sejoli, seorang nenek duduk di halte bersama cucunya, dan sepasang kekasih yang terlihat begitu hangat.


Tiba-tiba aku baru sadar, bahwa air mata sudah menetes dari kedua pelupuk. Cepat-cepat kuhapus buliran air itu, entah mengapa melihat kebahagiaan orang lain selalu membuatku merasa iri. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat atau tidak, sudah banyak bayangan yang mengitari benakku sekarang. 


Terkadang aku berpikir apa yang salah selama ini. Apa salah kalau aku dapat melihat cakrawala sampai saat ini? Atau ini kesalahan diriku sendiri yang hanya terlarut dalam rasa prihatin? Itulah mengapa aku tidak pernah berharap banyak soal hidup ini, semuanya hanya akan berhenti di tengah, tidak ada memori hidup se-mati. 


Ckiitt!


"Nona, kita sudah sampai," ucap sopir taksi itu.


Meski sempat ragu, aku langsung turun dengan membawa koper dan beranjak masuk ke rumah. Kondisi rumah sudah gelap, pertanda kalau penghuni rumah sudah terlelap.


Tentu saja pintu rumah terkunci. Jadi, mau tidak mau aku harus masuk melalui jendela yang untungnya masih terbuka. Untuk sampai ke kamarku, aku harus melewati ruang makan terlebih dahulu. Ah, di sini gelap sekali dan suasana juga hening sekali. Setidaknya itu yang kupikirkan, sebelum kemudian berjengit di tempat, ketika mendapati seorang laki-laki yang memanggil namaku.


"Haeya!"

__ADS_1


Aku mendecak kesal karena dikagetkan. "Oppa?! Belum tidur?"


Ya, ia adalah Oppa-ku, yang berarti kakak laki-lakiku. Aneh sekali, padahal ini sudah malam, tapi dia masih menyempatkan diri untuk makan. Setidaknya dia bisa nyalakan lampu supaya orang tidak mengiranya pencuri.


Tunggu dulu. Tadi saja aku masuk melalui jendela, jadi siapa yang sebenarnya bisa disebut pencuri? Ah, sudahlah! Bukan itu sekarang yang penting.


"Biasa aja dong reaksimu! Seperti melihat hantu aja!"


"Appa udah tidur?" tanyaku.


"Tidak usah tanyakan dia! Kamu tidur aja sana!"


Aku hanya menghela napas seraya menggelengkan kepala. Tidak ada sejumput niat pun membalas kelakarnya. Yang kupikirkan sekarang hanyalah istirahat dengan nyaman.


“Guk-Guk!”


Mendengar suara yang berasal dari kamarku, sontak aku menepuk jidat. Aku sampai lupa dengan keadaan anjingku, Kkami. Tanpa mengulur waktu lagi, aku menuju kamar lalu menutup pintunya.


Sambil menaruh koper, aku menggendong anjing kecilku seperti bayi, yang berjenis Bichon Havanais. Bulunya berwarna putih bersih, telinganya jatuh seolah menyatu dengan bulu tebal miliknya. Kalau kalian ingin tahu, dia sudah menemaniku sejak usiaku menginjak 13 tahun. Dan sekarang sudah 7 tahun waktu kita bersama.


"Aww sayang! I miss you! Eotteohge jinaeseyo? Aku meninggalkanmu lama sekali, ya, mianhae eoh? Oh iya, selamat tahun baru Kkami!"


“Guk-Guk!”


Sementara Kkami sesekali menjilat pipiku sebagai bentuk kerinduan. Ya, sepertinya hewan lebih tahu rasa kemanusiaan.


"Kkami, apa kamu tahu? Aku meninggalkannya sendiri di Texas," ujarku merendahkan nada pada akhir kalimat.


Tidak ada teman untuk situasi saat ini, aku hanya mencurahkannya ke Kkami. Pergi tanpa salam perpisahan aku tidak tahu apakah akan cepat usai atau malah mengulur semuanya. Sekarang aku hanyalah seperti orang bodoh.


Sesudah itu, aku membaringkan tubuhku di ranjang. Biarkanlah Kkami menemaniku sepanjang malam. Kupanjat semua semoga, agar besok bisa lebih baik dari yang terjadi hari ini. Meskipun hanya terlelap dalam kesedihan.


.


.


.

__ADS_1


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


__ADS_2