NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
LVII


__ADS_3

Setelah ijin untuk tidak mengikuti kegiatan belajar beberapa hari di sekolah, Spica lebih banyak diam di kamar. Tidak ada yang bisa dilakukan Spica selain merenung dan mengingat kembali kenangan bersama almarhum Bapaknya. Bisa saja Spica mengalihkan pikirannya dengan membantu keluarga dan beberapa tetangganya memasak hidangan untuk tahlilan 7 malam. Tapi Mira menolak, ibunya itu malah menyuruh Spica menenangkan diri di kamar, menemani adiknya.


Jika ditanya kenapa teman sekelas Spica tidak ada yang takziah? Itu karena Spica meminta pihak Sekolah untuk tidak menyebar informasi mengenai kematian Bapaknya. Cukup guru atau karyawan saja yang tahu. Dan syukurlah pihak sekolah mengiyakan. Teman Sekelas Spica hanya mengetahui jika alasan gadis itu tidak berangkat karena drop. Alhasil hanya wali kelas dan beberapa guru saja yang datang ke rumahnya untuk mengucapkan bela sungkawa serta memberi semangat pada keluarga, terutama Spica.


Seminggu berlalu, Spica juga melupakan belajarnya. Gadis itu baru sadar saat kembali ke kota dan masuk ke kos-nya. Melihat kertas kisi-kisj yang sudah lebur tulisannya sebab terkena air hujan. Tidak ada penyesalan ataupun rasa sakit, dirinya sudah mati rasa. Lebih tepatnya bodoamat dengan sekolahnya.


Nyatanya, kepergian Bapak membuat Spica berubah. Hidupnya seakan kacau dan penuh tekanan. Selain kehilangan semangat hidup, kini, gadis itu juga di timpa dengan tanggungjawabnya sebagai anak pertama.


Katanya, anak pertama harus kuat memang benar adanya, sebab mereka akan memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga jika sang pahlawan telah gugur, terutama dalam hal materi. Ini bukan tentang boros atau mata duitan. Yakinlah, uang memang bukan segalanya. Tapi uang memperlancar segalanya. Berbohong sekali jika sebuah keluarga berkata tidak membutuhkan uang. Sedangkan mereka perlu sandang pangan papan untuk bertahan hidup.


Dalam posisi tidurnya menghadap langit-langit kamar, Spica mengusap wajahnya. Hari ini, Spica mengubur dalam-dalam semua mimpinya. Sekarang, Adara dan Ibu adalah tujuan hidupnya. Tidak ada lagi waktu luang untuk berleha-leha, karena setiap waktu luang adalah uang.


Spica menoleh saat terdengar bunyi panggilan dari ponselnya, buru-buru gadis itu mengangkatnya.


"Mbak Spica! Sudah sampai dengan selamat kan?" Suara Adara terdengar ceria di sebrang sana, entah dibuat-buat agar Spica tidak terus kepikiran atau memang sudah ikhlas dengan kepergian Bapak. Spica tidak tahu, tapi hal itu cukup membuatnya sedikit lega.


"Hem."


"Jangan pikirin Ibu sama Adara, di sini kami baik-baik saja. Fokus aja sama sekolahnya, bentar lagi lulus lohhhh."


"Kau juga sama."


"Aishh. Adara sayang Mbak, tapi boong. Dadahh." Terdengar sekali adiknya itu ingin menghibur Spica.


Panggilan terputus, Spica menatap ponselnya dengan wajah datar. Kemudian menaruhnya ke sembarang tempat.


"Tidak ada lagi perguruan tinggi, Adara sukses cita-cita terbesar saat ini. Dan melihat ibu bahagia, harapan untuk selamanya," batin Spica sebelum menutup netranya. Lelah menuntut tubuh beristirahat, melupakan sejenak beban hidup semakin nyata.


......................


Bara tidak tahu, dengan apa yang membuatnya segelisah sekarang. Duduk bersandar di tepi ranjang dengan pikiran yang terus tertuju pada seseorang. Tidak menjumpainya dalam seminggu terakhir membuat hatinya merana. Padahal sebelumnya tidak pernah merasakan. Jangankan memikirkan gadis lain, memikirkan ibunya saja hampir tidak pernah dirasakan! Ada apa gerangan?


Cowok berkaus polos warna putih itu bahkan tidak peduli dengan kekacauan yang dibuat Bryan dan Samudra. Dua temannya itu sedang asik bermain PS, bertaruh mendapatkan ikan ****** dari masing-masing lawan. Di sekitarnya, bungkus snack dan minuman berserakan. Bantal guling yang hampir hangus sebab begitu dekat dengan rokok Bryan yang masih menyala, bertengger atas minuman kaleng kosong.


Samudra begitu santai dengan joystick-nya, terlihat dari mulutnya yang masih bisa mengunyah permen karet dengan sesekali membuat balon. Lain dengan Bryan yang terlihat kualahan, ekspresinya terlihat kesal. Apalagi saat pada akhirnya harus menerima kekalahan. Bertambah kesal cowok itu.


"Di goreng apa dikasih ke kitten adek gue ya?" Samudra terlihat menimang-nimang pilihannya, yang sebenarnya hanya untuk menggoda Bryan. "Mm, digoreng keknya lebih mantap." Sambungnya saat melihat wajah kecut Bryan.


"Gue kasih duit aja gimana Sam?"


Samudra melirik Bryan. "Enggak usah Yan, gue masih punya duit. Tapi kal...." kalimatnya terputus saat ponsel cowok itu berdering. Cepat-cepat Samudra mengambil ponsel di sakunya, kemudian mending ikon berwarna hijau.


"Iya Bi?"


Melihat Samudra yang tengah fokus dengan ponselnya, diam-diam Bryan mengambil ikan ****** yang menjadi bahan taruhannya itu. Membawanya pergi. Sangking terburu-burunya, Bryan bahkan tidak sempat berpamitan dengan Bara yang tengah asik berdiam diri.


Sedangkan Samudra, bukannya tidak melihat kelakuan Bryan. Cowok itu bahkan terus memperhatikan gerak-gerik Bryan lewat ekor matanya, dan membiarkan teman anehnya membawa pergi ikan ****** yang seharusnya telah sah menjadi miliknya. Toh Samudra tidak tertarik dengan ikan ****** itu.


Selesai menerima telpon, Samudra pamit pulang. Eh, tidak pulang. Cowok itu akan pergi ke toko kue ibunya. Mengurus masalah kecil yang disebabkan konsumen nakal.


Beberapa menit setelah kepergian kedua temannya, Bara membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap jendela. Sambil memeluk guling, cowok itu menatap bulan yang terhalang kaca jendela. Terlihat samar sebab tertutup mendung tipis.


"Gue nggak mungkin kangen Spica kan?" lirih Bara sebelum menutup netranya.


Satu hal yang Bara lupakan dalam pikiran kerasnya. Benci yang terlalu besar sewaktu saat akan melemah sebab ketidakmampuan hati untuk menahan rasa itu. Ibarat berlari, tidak mungkin seseorang terus memacu tenaganya agar berlari kencang dan stabil tanpa istirahat. Tenaganya sudah pasti akan melemah. Akibatnya, seseorang itu akan memperlambat larinya. Tidak mungkin seseorang sanggup menyimpan benci yang begitu besar dalam kurun waktu yang lama. Rasa itu perlahan pasti akan menipis seiring dengan berjalannya waktu. Berganti dengan rasa yang biasa. Atau jika Tuhan ingin mempermainkan, rasa benci akan berubah menjadi cinta. Mungkinkah itu yang terjadi pada Bara dikemudian hari? Ataukah sudah terjadi saat ini?


......................


Pagi harinya di Wijaya Kusuma


"Spicaaaaaaaa!" Bunga berteriak memanggil Spica saat netranya melihat gadis yang sudah seminggu menghilang itu berjalan di koridor seorang diri.


Di depan kelas yang pintunya masih terkunci, Mutia dan beberapa teman lainnya yang sedang membaca rangkuman kisi-kisi menoleh ke arah Bunga dengan tatapan tidak sukanya. Mereka benci dengan teriakan Bunga yang membuat telinga mereka berdengung. Menyebabkan konsentrasi mereka terpecah. Menyebalkan!


"Suaranya Mba."

__ADS_1


"Suaranya tolong dikondisikan," tutur Mutia.


Bunga memandang Mutia dan teman lainnya dengan cengengesan. "Excited ini loh," belanya. Tidak sabar ingin menginterogasi Spica.


Sebenarnya bukan Bunga saja yang penasaran dan excited dengan kehadiran Spica. Teman sekelas lainnya pun begitu, hanya saja mereka lebih bisa menahan dan bersikap santai. Tidak perlu mengerubung, toh pertanyaan Bunga nantinya mungkin tidak jauh berbeda dari yang ingin mereka sampaikan. Cukup diam dan pasang telinga. Makan semua informasi akan didapatkan.


"Lu tepar, kok lama banget? Seminggu  full," tanya Bunga begitu Spica duduk di sampingnya, lesehan di depan kelas.


"Hanya ingin," singkat Spica. Gadis itu mengeluarkan buku catatan dan mulai membaca beberapa rangkuman  yang sudah diprediksi akan muncul pada soal ujian.


Tidak puas dengan jawaban Spica, Bunga kembali bertanya. Tidak peduli dengan Spica yang ingin belajar. "Lahhh, seneng banget. Mau tes libur seminggu dulu."


Diam, Spica tidak menjawab pertanyaan Bunga.


"Ka! Jawab ihh." Kesal Bunga.


Spica mengalihkan perhatiannya pada Bunga. "Oh, rejeki anak sholehah."


"Cih, dah bisa ngelawak lu ya?"


Spica diam sejenak, memasang ekspresi berpikirnya. "Tidak juga," ucapnya sambil menggeleng. Spica, melawak? Sepertinya itu hal yang tidak mungkin terjadi.


"Ka, gue tanya serius ini." Bunga mengubah raut wajahnya menjadi serius. Gadis itu mana mungkin percaya begitu saja perihal Spica sakit. Rasanya sangat tidak mungkin, mengingat pembawaan Spica yang selalu tegas dan tahan banting. Tidak ada gempa bumi, tidak mendung, hujan badai apalagi banjir, tiba-tiba sakit? Sangat mencurigakan!


"Lu nyimpen sesuatu ya?" Bunga menatap Spica begitu intens, membuta yang ditatap risih. "Sebuah rahasia, iya kan?" tuduhnya.


Kembali lagi tidak ada respon dari Spica.


"Cerita aja sih, kita kan prennn." Sambung Bunga. Berusaha membuat Spica membuka mulutnya.


Spica menaikkan sebelah alisnya. "Sejak?"


Apapun usaha yang dilakukan agar Spica terbuka dengan sekitarnya, pasti akan berakhir sia-sia. Spica tidak akan pernah membuka mulutnya. Spica tidak cengeng, dirinya masih bisa menyelesaikan sendiri masalahnya, masih kuat menanggung beban hidupnya. Spica gadis kuat.


"SPICA KEK TAI," seru Bunga. Habis sudah kesabaran dirinya menanggapi respon-respon menyebalkan dari Spica. Gadis itu membuang muka, tangganya melipat di depan dada sambil memanyunkan bibirnya. Terlihat jelek, namun Bunga tidak peduli.


Jika di kelas Spica dan lainnya kurang 15 menit, kelas Bara justru masuk 15 menit lebih awal. Bu Aida, guru pengawas yang terkenal dengan kerajinan itu sudah duduk manis di kursi guru dengan netra mengawasi setiap anak yang sedang memasuki kelas. Begitu semua sudah masuk, Bu Aida segera memberi salam untuk membuka kelas ujian yang pertama.


"Assalamu'alaikum semuanya, selamat pagi?" Bu Aida mengedarkan netranya ke seluruh penjuru ruangan.


"Wa'alaikumussalam Bu."


"Selamat Pagi."


"Gimana, sudah siap mengerjakan soal?" tanya Bu Aida, basa basi.


Bu Aida beranjak dari kusinya dengan membawa selembar kertas yang berisi tata tertib peserta ujian. Beliau menyuruh keturunan kelas untuk memimpin do'a, barulah setelah itu membacakan tata tertib dengan suara seru. Beberapa anak yang sudah hapal dengan tata tertib turun temurun itu juga ikut melafalkannya.


Tata Tertib Peserta Ujian


Penilaian Akhirnya Semester (PAS)



Peserta Ujian datang ke sekolah 15 menit sebelum tanda masuk dibunyikan.



2.  Peserta Ujian memasuki ruang ujian, setelah tanda masuk dibunyikan, 15 (lima belas) menit sebelum Ujian dimulai.


3.  Peserta harus menyediakan alat tulis-menulis yang diperlukan


4.  Peserta dilarang membawa alat komunikasi (HP) selama ujian berlangsung.


5.  Peserta wajib mengisi daftar hadir.

__ADS_1


6.  Peserta mulai mengerjakan soal setelah tanda boleh mulai, dibunyikan.


7.  Peserta yang memerlukan penjelasan dapat bertanya kepada Pengawas dengan cara mengacungkan tangan terlebih dahulu.


8.  Peserta yang datang terlambat, hanya boleh mengikuti Ujian setelah mendapat ijin dari Kepala Penyelenggara dan kepadanya tidak diberikan perpanjangan waktu.


9.  Selama Ujian berlangsung peserta hanya dapat meninggalkan ruangan dengan ijin dan pengawasan Pengawas.




Peserta yang meninggalkan ruangan setelah membaca soal dan tidak kembali lagi sampai tanda selesai dibunyikan dianggap telah selesai Ujian.




Peserta yang telah selesai mengerjakan soal sebelum waktu habis diperbolehkan meninggalkan ruangan setelah lembar jawaban yang disatukan dengan lembar soal diserahkan kepada Pengawas dan tidak boleh diminta kembali.




Peserta berhenti mengerjakan soal setelah tanda selesai, dibunyikan.




Selama Ujian berlangsung peserta dilarang :


    -Menanyakan jawaban soal kepada siapapun


    -Bekerja sama dengan peserta lain.


    -Memberi atau menerima bantuan dalam menjawab soal


    -Memperlihatkan pekerjaan sendiri kepada peserta lain atau melihat pekerjaan peserta lain.




14.  Semua Peserta meninggalkan ruangan dengan tertib dan tenang setelah tanda selesai dibunyikan.


TTD,


Panitia Penyelenggara


Selesai membacakan tata tertib, Bu Aida membagikan soal beserta lembar jawaban kepada seluruh peserta. Bara  yang duduknya di kursi kedua dari pojok depan, terlihat santai dengan soal di tangannya. Cowok itu langsung mengisi identitas sebelum mengerjakan soal.


"Lembar soal di teliti lagi, siapa tau ada halaman yang hilang," titah Bu Aida yang langsung dilaksanakan semua peserta, termasuk Bara.


"Kalau lengkap silahkan mulai mengerjakan, jika sudah selesai bisa langsung dikumpulkan," sambungnya kemudian kembali ke kursi kebesaran.


Beberapa peserta sempat tergelak dengan joke ringan yang dibuat  Bu Aida, beberapa dari mereka terkekeh. Walau tidak sedikit juga yang menghiraukannya.


"Baru juga di bagi, Bu," celetuk Bryan.


"Ibu kan bilang, kalau sudah selesai." Bu Aida membela diri.


Bryan menggaruk tengkuknya. "Bener juga, tap...." Belum juga menyelesaikan kalimatnya, suara Bu Aida kembali terdengar.


"Ayo dikerjakan, nanti waktunya keburu habis."

__ADS_1


Suasana mendadak sepi, semua peserta sibuk dengan pikirannya, ujiannya masing-masing.


__ADS_2