NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[35 : Pria Berambut Pink]


__ADS_3

15 Juni 2017.


Beberapa hari berlalu. Gosip dan rumor mengenai kebohongan yang Haeya sebar, mulai surut. Namun bukan karena fakta terungkap, tetapi karena video diriku yang ditumpahi wine itu sudah tersebar luas.


Sesekali para pelanggan dengan sengaja memutar video itu di kafe, sambil menyorotiku dan tertawa puas. Ya, biar bagaimanapun mereka pelanggan, harus kulayani penuh sabar.


Perihal hubunganku sama Matthew masih baik-baik saja. Terkadang ada di waktu kami canggung kala mengingat kejadian masalah itu. Begitupun sama Jordan, meski kemarin aku membohonginya, ia bisa memaklumi, bahkan menganggap seolah hal biasa.


Pandangan dan omongan orang lain tidak membuatku lemah.


Setiap malam, di ruang yang gelap, aku selalu merenung. Sebaiknya aku tidak bergantung terus pada Matthew. Maka dari itu, aku memiliki rencana lain untuk .....


"Apa?! Beli rumah?!"


Aku menghela napas, saat Matthew baru saja melempar tanya penuh kejutan. Ah, sepertinya ini memang terlalu tiba-tiba, tetapi lebih cepat lebih baik kurasa.


Aku mengangguk. "Ya. Aku sudah mencari rumah dengan jumlah harga yang pas, dan aku kira sudah cukup hasil tabunganku. Apalagi kau sering memberi bonus upah," jelasku tersenyum, berusaha menenangkannya.


Rumahnya terjangkau dari apartemen Matthew. Bisa dibilang dekat dan strategis ke tempat kerja. Meski masih harus menyicil, beruntungnya harga masih bersahabat dengan tabunganku.


Sekarang Matthew dan Jordan tengah berada di flatku. Matthew menatapku penuh kejut, sementara Jordan tampak tenang. Aku sibuk berkutat membereskan barang-barangku untuk bersiap minggat.


Pria berkulit agak gelap itu menghela napas, seraya memijit tangkai hidung. "Apa apartemen yang kubeli tidak cukup?"


Aku berdiri mendekatinya. "Terlalu cukup. Sampai aku merasa berhutang budi atas kebaikanmu." Pria ini memang dermawan, aku bahkan tidak tahu apakah layak mendapat semua pemberian darinya?


"Sarah ... Firasatku buruk."


Dengan kompak kami menengok ke asal suara. Jordan menunjukkan ekspresi datar, tetapi bibirnya mengerucut bak anak kecil. Menggemaskan sekali. Aku pun berpindah menghampiri Jordan yang berdiri di samping Matthew lalu mengusak pelan pucuk kepalanya yang sengaja ditundukkan.


"Kau bisa berkunjung kapan saja." Aku menengok ke Matthew. "Kau juga." Sambil tersenyum simpul.


Mengingat barang-barang belum selesai dimasukkan ke kardus, aku kembali melanjutkan. Dan kedua pemuda itu masih diam di tempat sambil menatap intens.


Beberapa menit berlalu. Koper, tas ransel sudah kukemas secara teliti. "Nah! Sudah selesai!" Aku menghela napas puas lalu menatap mereka yang enggan menyudahi sorotan mata tajam kepadaku.


"K-kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?"

__ADS_1


Matthew mengusap kasar wajahnya. Melirih kasar lalu kembali menatapku serius. "Ini bukan karena masalah itu, 'kan?"


Pertanyaan Matthew membuktikan bahwa ia belum melupakan kejadian itu. Sorot matanya berubah jadi sedu. Lukanya memang tak kasat mata, tetapi sakitnya masih terasa. Memori tak terlelakan dalam retrospeksi perihal hubungan ia bersama sang kekasih.


"Bahkan aku sudah lupa tapi kau ungkit lagi," ungkapku sambil mendongak ke Matthew. "Kalau terus diratapi, luka takkan terobati." Kemudian aku mengukir senyum, begitupun ia.


Matthew menarik napas dalam-dalam, menandakan ia merasa lebih lega. "Jadi? Mari kuantar!"


Aku terkekeh pelan. Terkesiap menggendong ransel dan mengambil koper. Matthew sudah lebih dulu membawakan kardus yang berisi barang-barangku dan tanpa sepatah kata, si pemuda jangkung mengambil alih koperku, lantas menggeretnya keluar. Sontak aku mengerjap pelan, melihat perlakuan manis Jordan.


_________________________________________


Tidak terhitung jauh, kami sudah sampai di rumah yang akan kutempati. Cukup memuaskan dari luar dan dalam. Di sana juga ada beberapa deretan rumah yang saling berhadapan. Mungkin aku harus menyapa tetangga sebagai penghuni baru di wilayah ini.


Usai menurunkan koper juga kardus, Matthew dan Jordan keluar dari rumah baruku. Dan aku hendak mengantar mereka sampai naik ke mobil. Tiba-tiba Matthew berkata, "Pasal video itu, akan diurus sama Cayla." Ia menyentuh pundakku. "Kamu tenang saja," timpanya lagi.


Ya, video yang secara tidak langsung melecehkan harga diriku dan dengan mudahnya disebar melalui media sosial. Kemudian aku mengangguk. Mengumandangkan terima kasih atas perhatiannya.


Menit selanjutnya, ia kembali ke mobil. Berbeda dengan Jordan yang seakan berat beranjak pergi dariku. Akan tetapi ia masih bergeming, aku pun heran mengapa tingkahnya hari ini sangat aneh bahkan tak banyak bicara.


Apakah seorang Jordan bisa mengalami pubertas?


Aku mendengus kesal lantaran ia memicingkan matanya. "Ada apa?!" tanyaku menuntut. "Aku tidak bisa baca pikiran orang lain, jadi katakan sesuatu."


"Hei!" Tangan kanannya sengaja kupukul pelan. "Kita bukan akan berpisah selamanya, 'kan?" Aku sedikit terkekeh, tatkala bibirnya dikerucutkan kembali.


"Lagi pula kita akan selalu bertemu setiap hari di kafe," ujarku berusaha meyakinkan.


Bagaimana kalau setelah dua tahun ... aku kembali ke alam semesta? batin Jordan sesak.


Seketika Jordan langsung mendekap tubuhku yang memiliki selisih tinggi beda jauh. Ia sampai membungkuk, tak lantas melonggarkan pelukannya. Aku mengerjap kaget lalu menepuk-nepuk punggungnya, seraya berkata, "Tidak papa. Semua akan baik-baik saja."


Tin-Tin!


Suara nyaring klakson mobil cukup mengejutkan. Tanpa menoleh pun, kami tahu suara itu berasal dari mobil Matthew yang sengaja dibunyikan.


Dasar! Mengganggu saja!

__ADS_1


Seolah tahu maksud Matthew, Jordan menjauhkan tubuhnya dan bergegas masuk dalam mobil. Tentu masih sempat menebar senyum sembari melambai-lambaikan tangan.


_________________________________________


"Hahh ...."


Aku menghempaskan tubuh di atas ranjang baru selepas membereskan barang-barang. Menatap langit-langit kamar sambil berharap ini keputusan yang tepat. Kutatap layar ponsel, menunjukkan waktu tepat jam 3 sore. Sebagai penghuni baru, aku harus menunjukkan keramah tamahan pada tetangga. Lagi pula kalau dihitung, jumlah tetangga tidak banyak. Ya, kuputuskan masak lebih dulu untuk menyiapkan makanan lalu mandi untuk bersiap.


Waktu sudah bergulir jam 5 sore. Yang kubuat hanya beberapa sandwich dalam 7 kotak. Ternyata pas sekali tetangga di sini berjumlah 7. Di sini, setiap rumah memiliki bel pintu kamera intercom yang dapat membunyikan bel, merekam suara sekaligus penampil video. Beruntung, mereka menyambut presensiku juga ramah, sepertinya lingkungan ini sangat baik dan rukun.


Aku membuang napas lega. Setidaknya tersisa satu kotak sandwich untuk tetangga terakhir di seberang rumahku.


Ting-Tong!


Bel pintu intercom kembali kubunyikan. Kemudian terdengar suara pria yang terasa tidak asing bertanya, "Siapa ya?"


Karena bel intercom ini bisa menunjukkan wajahku, lantas aku tersenyum lalu berbicara pada si tuan rumah melalui kamera. "Saya Sarah. Tetangga baru di rumah seberang." Sudah cukup memperkenalkan diriku.


Tidak ada sahutan lagi. Tak lama pintu terbuka, menampakkan seorang pria tinggi berwajah tampan. Sangat tampan. Selain itu, sosoknya tidak asing.


Sepertinya pernah sekali bertemu, tapi di mana?


Aku menatap lekat sang pria dari ujung rambut sampai ujung kaki. Begitupun ia, menyelidik penampilanku dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Pria berambut merah muda?


Kami sama-sama menunjukkan ekspresi tak menduga akan pertemuan kedua kami sekaligus kebetulan ini, sebelum akhirnya jari telunjuk kami saling menunjuk ke arah lawan.


"K-kau!"


.


.


.


to be continued...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


Thank you, love you, see you~


__ADS_2