
Jalan raya depan Wijaya Kusuma terlihat ramai, tidak seperti biasanya. Pengendara motor maupun mobil melintas dengan santai, sedikit mengurangi kecepatan sembari memasang lampu seng. Kebanyakan dari pengendara itu berhenti di bangunan yang didepannya sudah terpasang tenda. Yang kanan kirinya terdapat beberapa karangan bunga ucapan suka cita.
Seorang pria paru baya yang barusan turun dari mobilnya, mengamati sejenak halaman depan Wijaya Kusuma. Pria yang tidak lain alumni Sekolah tersebut berdecak saat melihat kokohnya bangunan Wijaya Kusuma. "Di tinggal makin cakep aja ni sekolah."
Pandangannya beralih menatap banner bertuliskan 'harap tenang, ada ujian' yang terpasang di pintu gerbang sekolah. "Mana bisa tenang kalau soal yang keluar meresahkan?"
......................
"Makanya belajar!" ucap ciko yang duduk di sebelah Bryan.
Bryan yang sedari tadi mengeluhkan soal ujian membuang muka. Bukan! Bukannya Bryan tidak belajar, cowok itu kan sudah mengikuti les? Hanya saja cowok itu lupa dengan materi yang sudah dipelajarinya. Bryan menatap sekilas Bu Aida yang tengah fokus pada ponselnya, cowok itu kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja. Istirahat sejenak tidak masalah bukan?
Rata-rata waktu ujian adalah dua jam. Peserta cerdas yang sudah belajar dari jauh-jauh hari dan terobsesi menjadi bintang kelas bahkan sekolah, selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Membaca soal dengan teliti dan menjawabnya dengan pertimbangan yang baik. Soal yang menurut mereka sulit akan di lewati dan akan di kerjakan di akhir. Bertanya jika kurang jelas. Dan meneliti kembali jawaban yang sudah ditulis. Dan amazing-nya, semua itu dilakukan oleh Bara saat ini!
Setiap kali mengikuti tes ataupun ulangan, Bara tidak pernah seserius ini. Bara sendiri pun heran dengan dirinya saat ini. Well, Bara tidak membuat perjanjian dengan kedua orang tuanya, tidak pula terobsesi untuk menjadi bintang kelas ataupun sekolah. Tidak ingin di puji juga. Jadi alasannya? Hanya ingin.
Bara berdecak saat salah menulis kata pada jawaban essay. Cowok itu mendongak untuk melihat Bu Aida. Beberapa detik kemudian pandangannya beralih menatap Bryan.
"Yan, woy." Bara setengah berseru. Berusaha memanggil Bryan yang tertidur.
Sebagai teman sekelas yang baik, Ciko membangunkan Bryan dan memberitahu cowok itu jika Bara sedang memanggilnya.
Bryan mengucek netranya sambil menoleh ke Bara. "Hah! Apa Bar, Nomer enam?" Seru Bryan membuat seisi kelas menatap dirinya dan Bara bergantian. Termasuk Bu Aida.
"Kampret!" Maki Bara, tak terima menjadi bahan fitnahan Bryan. Apalagi beberapa temen mereka terlihat tertawa. "Gue pinjem tip-ex dodol," sambungnya.
Bryan terkekeh, cowok itu mengangguk-ngangguk tanpa dosa. Kemudian melempar tip-ex miliknya ke Bara. Bara yang melihat itu ingin sekali memukul kepala Bryan, tapi apa daya. Mereka duduk di tempat yang terpisah, lumayan jauh pula.
"Sudah-sudah, fokus ke soal kalian," tutur Bu Aida sebab keadaan kelas mulai ramai. Terdengar bisik-bisik saling bertukar jawaban.
Beberapa siswa yang terkena tatapan datar Bu Aida seketika diam dan kembali fokus dengan lembaran kertas di depannya. Pura-pura mengerjakan soal. Sedangkan Bu Aida, beliau kembali bermain ponsel, sambil sesekali memantau keadaan kelas.
Bara yang hendak mengembalikan tip-ex Bryan mengurungkan niatnya saat si empunya tiba-tiba berbalik dan menatapnya penuh harap. Bryan meminta beberapa jawaban pilihan ganda kepadanya. Bara menatap tajam Bryan sambil mengacungkan jari tengahnya. Walaupun begitu, Bara tetap menuliskan jawaban yang diinginkan Bryan, menulisnya dalam sobek kecil kertas. Melipatnya sedemikian rupa sebelum menyelipkan kertas tersebut ke tutup tip-ex yang bolong.
Bryan mengacungkan jempolnya saat menerima tip-ex tersebut.
Di lain tempat, Samudra yang menyaksikan kejadian itu hanya geleng-geleng kepala. Menertawakan Bryan yang katanya sudah les privat tapi masih saja menanyakan jawaban pada Bara. Sia-sia juga lesnya itu.
Di kelas Spica, tidak jauh berbeda dengan kelas Bara. Anak-anak dengan akhlak minus selalu tersebar di setiap kelas. Entah itu cowok ataupun cewek, semua sama saja. Saling bertukar jawaban dengan kode-kode cerdik. Tidak semuanya memang, tapi pasti ada. Tidak peduli se-killer dan se-ketat apa gurunya. Pasti ada akan cara yang bisa mereka lakukan untuk melancarkan aksinya itu.
Tepat di samping Spica, kedua teman kelasnya itu tengah bermain mata, saling memutuskan waktu yang tepat untuk menukar jawab mereka. Beberapa kali melirik pengawas yang tengah lengah sambil menurunkan setengah lembar kertas agar jawaban essay terlihat dari belakang. Dan teman bertukar yang dibelakangnya langsung mencatat jawaban teman di depannya.
Ada pula yang menentukan jawaban dengan ketukan pulpen. Ketukan pertama berarti A dan seterusnya. Selain itu menggunakan jari dengan pura-pura menggaruk kepala atau lengan mereka dengan jari menekuk sesuai jawaban yang di kehendaki, jika jawabannya B, maka mereka akan menggaruk dengan dua jari, begitupun seterusnya.
Spica bukannya tidak tahu dengan kelakuan teman sekelasnya itu. Hanya saja Spica memilih diam karena malas mengurusi hidup mereka. Apapun yang orang lain lakukan, tanggung jawab ada ditangan mereka.
Spica menghela napas pelan saat dirinya baru saja menyelesaikan semua soal. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seisi kelas dan kebetulan bertubrukan dengan netra Bunga yang memang ingin memanggilnya. Bunga langsung berbicara tanpa suara, bertanya apakah dirinya sudah selesai apa belum. Spica hanya mengacungkan jempolnya ke udara.
Bunga tersenyum, kemudian mengajak Spica keluar yang langsung dianggukinya.
"Eh, dah selesai kah?"
"Cepet banget njir."
"Oohh gitu, nggak mau bagi-bagi jawaban."
Bebrapa kalimat teman mereka begitu melihat Bunga dan Spica beranjak dari kursi sambil membawa soal dan jawaban, mengumpulkannya di meja pengawas.
__ADS_1
......................
Di hari-hari berikutnya, tes berlangsung dengan lancar Sampai hari terakhir. Dan kini seluruh murid Wijaya Kusuma tengah di sibukkan dengan acara class meeting. Tidak ada yang istimewa dari acara ini, hal yang diperlombakan masih sama seperti yang sudah-sudah. Ada Volly, futsal, maraton, pidato, tilawah, membatik, menyanyi dan terakhir yel-yel.
Dari kelas sepuluh sampai akan lulus tahun ini, Spica sama sekali tidak pernah mewakili kelas untuk salah satu perlombaan tersebut. Malas dan malu, itu alasannya. Lagi pula Spica selalu terpilih ataupun di minta menjadi seksi keamanan setiap kali sekolahnya mengadakan event.
Seperti saat ini, Spica tengah duduk kalem pada kursi yang sengaja di letakan di samping pintu belakang sekolah. Di meja depannya, terdapat beberapa lembar kertas yang berisi laporan keluar masuknya murid Wijaya Kusuma. Spica berjaga seorang diri, teman tugasnya kebetulan sedang ke mushola sekolah untuk sholat dzuhur. Spica sendiri sedang berhalangan. Beberapa saat berlalu, gadis itu memilih bermain ponsel untuk mengisi suasana lenggang. Saat ini tidak banyak murid yang keluar masuk, mungkin karena matahari sedang semangat-semangatnya bersinar. Membuat sebagian besar murid memilih berlindung di dalam kelas ber AC, kantin, dan di bawah pohon sambil berkipas-kipas menggunakan sobekan karton.
Di hati ketiga class meeting ini, murid Wijaya Kusuma namanya masih setia stay di sekolah, menunggu final pertandingan futsal dari kedua kelas yang di nilai paling terkenal di Wijaya Kusuma. Kelas yang berisi anak-anak hits karena kepintaran dan skill olahraganya yang tidak main-main. Idaman hampir semua kaum hawa Wijaya Kusuma. Mana mungkin mereka melewatkan pertandingan menegangkan sekaligus terkeren itu!
"Panas banget Astaghfirullah." Bunga mengeluh sembari mengipas-ngipasi wajahnya dengan sobekan karton air mineral. Gadis yang sedang bergerombol di bawah pohon dengan beberapa teman sekelasnya itu terus memperhatikan tanah lapangan yang sedang terjadi proses penguapan. Ughh, Bunga tidak bisa membayangkan jika kaki telanjangnya berjalan di sana. Pasti langsung terbakar.
"Mau gimana lagi? Demi dedek Romi," ujar Mutia. Salah satu penggemar Romi si adik kelas yang pintar bermain futsal. Kebetulan hari ini Romi akan bertanding bersama beberapa teman sekelas lainnya.
"Nge-fans boleh, alay jangan." Bunga memukul kepala Mutia dengan kipas kartonnya.
Mutia melirik Bunga tajam, gadis situ merasa terhina mendengar kata alay Bunga yang tunjukkan untuknya. "Lah, suka-suka gue dong."
"Pen punya cowok futsal aing tuh." Indri menerawang, membayangkan romantisnya memiliki cowok futsal yang terkenal. Berangkat sekolah bareng, posesif, di lindungi layaknya permata, dan yang pasti mau menerima Indri apa adanya.
"Jangan!" Mutia mengacaukan imajinasi Indri. "Gue nge-fans tapi nggak mau juga kalo punya cowok anak futsal... Katanya, anak futsal playboy beb. Sok-sokan parah, sok keren. Walaupun kenyataanya keren sih. Gue suka tapi juga ihhhh."
"Bener woy, menang famous doang." Bunga menimpali.
"Sama anak rohis aja In." Alexa memberi saran. Karena setahunnya, anak rohis itu baik-baik dan kalem. Pasti setia juga, pikirnya.
Mutia langsung menatap Alexa. "Idihhhhhh. Anak rohis kalau pacaran alay njir, kaya orang nggak pernah pacaran. Pokoknya alay deh. Sampe bikin ilfil."
"Ya udah deh, sama pengurus osis aja," ujar Indri.
"Kan enggak semua cowok begitu Mutt," sanggah Alexa dengan pikiran positifnya.
"Emang enggak semua sih, tapi kebanyakan gitu." Mutia membenarkan.
Bunga yang sedari tadi diam, memilih terus menyimak sambil memakan kuaci yang dibawa Indri dan tanpa sadar menghabiskannya.
"Terus gue pacaran sama siapa dong?" tanya Indri dengan polosnya.
"Guru olahraga kita yang baru," celetuk Bunga. Entah mengapa, tiba-tiba bayangan guru olahraga mereka yang baru terlintas di pikirannya. Beliau tinggi, ganteng, umurnya baru 22 tahun, masih mudah dan pastinya kece baday. Cocok sekali untuk Indri yang tingkahnya sok polos itu.
"Astaghfirullah Bunga! Nggak papa sih sama om-om," respon Indri, dalam hati meng-aamiinkan kalimat Bunga.
"Nggak papa sih sama om-om." Beo Mutia. Menirukan suara Indri. "Tapi syarat dan ketentuan berlaku ya In?" Sambungnya.
Indri hanya mengangguk. Tidak apa dengan om-om, asal good looking.
"Jangan Guru olahraga In, gue nggak sreg. Gaya dia iuhh banget, kek sok kecakepan." Alexa mengutarakan isi hatinya. Gadis itu bergidik jijik membayangkan tindak tanduk guru olahraga mereka yang membuatnya ilfil. Tingkahnya yang sok famous membuat Alexa kesal.
Indri menghela napas, bingung dengan kalimat temannya yang semuanya dikata tidak baik. "Terus sama siapa?" Gadis itu menatap Alexa, menunggu jawabannya dengan kedua alis terangkat dan netra sedikit membesar.
"Sama penjaga sekolah, sebab dia baik lagi humoris. Dan gue liat, doi juga rajin ibadah." Alexa memang tidak mengetahuinya secara langsung, tapi gadis itu sering sekali melihat penjaga sekolah masuk ke mushola pada waktu-waktu sholat. Bahkan di kisaran jam delapan, dirinya pernah melihat penjaga sekolah mengunjungi mushola. Alexa sendiri belum pernah memasuki mushola sebab dia non-muslim, lagipula dirinya tidak memiliki urusan apapun di dalam mushola.
Mutia tertawa mendengar alasan Alexa, tidak ada yang salah memang. Doi baik dan humoris. Tapi masalahnya adalah status. "Kalo Indri mau dijadiin selingkuhan ya tak apa." Mutia melirik Indri untuk memandang wajah kesalahannya Indri.
"Lahhhh."
"Emang jomblo paling bener dah." Bunga menengahi.
__ADS_1
"Halah, itu hanya alasan untuk orang-orang yang nggak laku." Mutia menyanggah.
Bunga menutup netranya sekilas, sebelum akhirnya memasang gaya berwibawa. "Sorry girl, gue mahal. Nggak sembarang orang bisa dapetin gue. Sampe di sini paham?" Gadis itu melipat tangannya di depan dada. Kepalanya miring sambil menatap remeh Mutia. Mutia pasti kicep, pikirnya saat ini.
Namun feeling-nya salah saat kenyataan menariknya. Sebuah suara bariton terdengar dari belakang mereka.
"Mahal berapa? Sini gue bayarin." Rizal yang sehabis dari mushola kebetulan melewati gerombolan cewek-cewek di kelasnya itu berhenti saat mendengar kalimat terakhir Bunga. Dan tiba-tiba saja muncul keinginan untuk membalas kalimatnya. Membuat cewek-cewek itu menoleh menatapnya.
"Kamprettt!" Maki Bunga.
Rizal menatap Bunga dengan bingung, seolah berkata, salah gue apa coba? Dan pada akhirnya memilih pergi. "Sholatt!" Serunya sambil meneruskan langkah.
......................
"Males njir." Suara Bryan terdengar lesu. Cowok yang saat ini tengah duduk di kursi panjang depan kelas bersama kedua sahabatnya itu memang paling malas kedua setelah Bara, kalau urusan ibadah.
Samudra lantas menjitak kepala Bryan. "Sholat males, maksiat digembor-gemborin."
"Sesama pemaksiat tidak boleh saling mencela. Sungguh itu perbuatan yang dibenci Tuhan," ujar Bryan menirukan logat penceramah.
"Makanya sholat, biar maksiat sama ibadahnya seimbang... Ke mushola Bar." Samudra beralih menatap Bara yang tengah berdiam diri.
Tanpa berkata apapun, Bara langsung beranjak dari tempatnya. Pergi ke mushola sesuai ajakan Samudra barusan.
"Gue ke mushola dulu, kalo besok lo masuk neraka. Gue nggak mau nolongin," ujar Samudra sebelum menyusul Bara.
Bryan melotot. "Astaghfirullah." Cowok itu akhirnya memilih ke mushola untuk sholat dzuhur.
Selesai beribadah, ketiganya pergi ke kantin untuk mengisi perut masing-masing. Begitu makanan habis, Bara beranjak dari tempatnya. Sebelumnya cowok itu pamit pada kedua temannya untuk pergi ke parkiran belakang. Tepatnya di pos satpam. Untuk apa lagi kalau bukan untuk merokok bersama penjaga sekolah. Namun niatnya kali ini gagal saat tiba di pintu belakang sekolah cowok itu melihat Spica yang sedang asik bermain ponsel. Dari jarak yang lumayan dekat, Bara mengambil dompet di saku celananya. Cowok itu tiba-tiba saja teringat kalung dan gelang yang pernah di belinya di pasar malam. Dengan cepat, Bara mengambil kedua benda itu dan menyimpannya di saku baju. Kemudian melanjutkan langkah dan berhenti tepat di depan Spica, mereka hanya terhalang meja.
Sedangkan Spica, gadis itu refleks mendongak dengan tubuh yang duduk tegap. Pikirannya masih terkejut dengan kedatangan Bara yang begitu dekat di depannya, menurut Spica. Namun sedetik kemudian, tadi itu menggeser kertas laporan. Pikirnya Bara akan keluar.
Bara mengambil kalung dan gelang di sakunya, menaruh benda tersebut di hadapan Spica. "Buat lo," tukasnya sedikit gengsi.
"Tidak perlu." Reflek Spica. Dalam hati bertanya-tanya ada apa gerangan dengan Bara? Tiba-tiba menjadi baik seperti itu. Terlihat aneh bagi Spica.
Karena respon Spica yang tidak sesuai harapannya, Bara lantas mengambil kalung di depannya dan memasangkannya pada Spica. Dengan kasar, cowok itu mendorong kepala bagian belakang Spica agar mendekat ke arahnya. Spica yang tidak terima langsung memberontak. "Dasar, tidak sopan!" Desisnya.
"Itu akibat lo nolak pemberian gue. Sekarang pilih, mau masang sendiri apa gue pasangin?" Bara memberi pilihan.
"Maaf, saya tidak suka menggunakan benda itu." Spica melirik kalung digenggaman Bara. Memperhatikan lebih dalam liontin berbentuk planet. Spica membagi tidak suka menggunakan kalung, tapi liontin itu cukup menarik perhatiannya.
"Kalo gitu lo pake gelangnya." Bara menukar kalung dengan gelang. Menyuruh Spica memakainya. Cowok itu terus memperhatikan Spica yang sedang mengambil gelang di tangannya. Beberapa detik terdiam Bara kembali berceloteh. "Kenapa gak di pake?"
"Nanti saja." Bunga beralasan. Sejujurnya gadis itu tidak bisa memandang gelang seorang diri. Apalagi dengan pengait sekecil itu. Mana bisa?! Memangnya Spica memiliki tiga tangan?
"Buruan pake."
"Nanti saja."
"Kalo nggak bisa make, bilang, biar gue pakein!" Bara menarik tangan Spica dan merebut gelang tersebut. Awalnya Spica sempat memberontak, tapi cekalan Bara di tangannya terlalu kuat. "Nurut bentar apa susahnya sih?" Ungkap Bara sedikit kesal.
Spica akhrinya menurut, gadis itu membiarkan Bara memasangkannya gelang berwarna hitam itu. Begitu gelang terpasang, Spica menarik tangannya ke bawah meja. Tingkahnya itu membuat Bara terkekeh.
Tidak ada ucapan terimakasih atau sejenisnya yang keluar dari mulut Spica. Gadis itu berpikir tidak seharusnya mengucapkan kalimat itu, lah wong dirinya menerima gelang itu atas dasar paksaan. Dan Bara pun tidak mempermasalahkannya. "Kalo di lepas, lo gue kasih hadiah." Bara mengancam.
Tidak ada respon dari Spica, sampai pada akhirnya Bara menarik lembar kertas di depannya untuk absen keluar. Kejadian itu tak lepas dari pengamatan Spica. Sampai Bara bergabung dengan penjaga sekolah dan mulai menyalakan rokoknya, barulah gadis itu mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1