NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[21 : I Hate to Admit It]


__ADS_3

Beberapa jam berlalu. Ketelatenan para service team memperbaiki kran air membuahkan hasil memuaskan. Flat Sarah kembali kering, dan sudah bisa ditempati lagi.


Sementara itu Joseph dan Cayla memutuskan untuk menginap di flat Matthew. Mereka tidak mau mengganggu mood Haeya semakin buruk. Jadi, secara terpaksa Jordan dititipkan lagi di flat Sarah untuk semalam atas dasar permintaan Matthew. Karena ia hanya memiliki satu kamar, itu pun sudah diputuskan akan dipakai Matthew bersama Joseph, dan Cayla akan tidur di sofa. Maka, tidak ada tempat lagi bagi Jordan.


"Kamu ga tidur, kan, Jo?" tanya Sarah.


"Tidak. Aku bisa istirahat di sofa ini saja," jawab pemuda itu.


"Ah, baiklah. Aku akan ke kamarku. Selamat ti-- maksudku selamat malam."


Sarah beranjak ke kamarnya yang tidak jauh dari ruang tamu atau sofa keberadaan Jordan. Sebelum benar-benar masuk ke kamar, dia terlebih dahulu mematikan seluruh lampu ruangan yang terpasang pada tembok.


Ctek!


"Sarah?! Kenapa ruangan menjadi gelap?!" Pemuda itu tampaknya tidak nyaman dengan keadaan gelap. Ia terkejut, langsung berdiri dari sofa dan mencari keberadaan Sarah yang sebenarnya masih berdiri di ambang pintu kamar.


Bruukk!


Sesaat setelah mendengar benturan keras, Sarah kembali menyalakan lampu dan kaget ketika mendapati Jordan sudah tersungkur di lantai. Ah, mungkin ia tersandung sesuatu.


"Sarah ...."


Wajah memelas terbaik Jordan kini ditunjukkan. Ia benar-benar menggemaskan, hingga Sarah masih sempat-sempatnya menciptakan gelak tawa, sebelum kemudian menolong pemuda yang terbaring di lantai. Gadis itu yakin, bahwa Jordan bisa berdiri tanpa butuh pertolongan, tetapi ia malah bersikap manja layaknya bocah kepada sang ibu.


"Lagian kamu ga hati-hati, sih!" seru Sarah sambil terkekeh kecil. Lalu dia menuntun Jordan duduk di sofa.


"Maksudmu yang salah aku?"


Sang gadis menghela napas, masih tidak berhenti terkekeh. "Sepertinya kamu ga suka gelap, ya?"


"Aku tidak terbiasa, karena Matthew selalu menyalakan lampu," jawabnya.


"Padahal kamu terlihat indah di tengah gulita langit malam," puji Sarah spontan. Hingga dia baru sadar, buru-buru mengklarifikasi perkataannya sebelum pria bulan berspekulasi aneh.


"Baiklah. Aku tidak akan mematikan lampu ruangan ini," pungkas Sarah, tanpa pikir panjang dia kembali ke kamar dan meninggalkan Jordan yang duduk di sofa.


"Eh, Sarah!"


Lagi-lagi sebelum pintu kamar tertutup sempurna, Sarah sudah dihentikan pergerakannya oleh Jordan.


"Kenapa?"


"Apakah kita sudah menikah?"


Hah? Menikah? Tunggu, tunggu, pertanyaan ambigu apa lagi ini?, batin Sarah, menautkan kedua alisnya.


Melihat Sarah tertegun tanpa berucap, Jordan segera menyambung kalimatnya, "Kata Matthew, kalau perempuan dan laki-laki tinggal di satu atap, berarti mereka sepasang kekasih yang sudah menikah."


Dia tertawa karena kepolosan Jordan. Tidak habis pikir hal seperti ini bisa membuat orang salah paham. "Pokoknya kita tidak menikah, Jo. Kamu cuma dititipin di sini," ucapnya sambil terkekeh pelan.


Sementara Jordan mengalihkan pandangan dari Sarah. Tatapannya berubah jadi kecewa, dan mengerucutkan bibir sangat menggemaskan. "Padahal, kuharap begitu," gumam pria itu, tentu tidak terdengar oleh Sarah yang sudah menutup rapat pintu kamar.


_________________________________________


Bunga matahari sudah menyapa sang surya setelah argumen buruk waktu silam membuat Haeya merasa sangat bersalah. Dia tahu emosinya terlalu berkoar, dengan niat dia beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya. Namun niatnya terhalang sejenak setelah melihat benda persegi panjang yang pipih memunculkan notifikasi pesan masuk. Dengan segera dia membuka layar ponselnya dan membuka pesan tersebut, mimik sumringah di awal tiba-tiba luntur karena yang awalnya dia kira pesan dari sang kekasih ternyata hanya dari sahabatnya. 


Apalagi pesan yang diketik adalah 'Hae, aku dan Joseph menginap di apartemen Matthew.' 


Sebenarnya gadis ini tidak ingin terkejut namun seketika dirinya merasa kecewa. Mengapa semua orang membiarkannya sendiri selama ini? Memang dia tidak ingin diganggu di saat api melandai, tetapi bukan berarti dia tidak butuh hiburan. Tanpa berpikir lagi Haeya hanya melakukan kegiatan yang menjadi niat sejak awal.


Satu setengah jam dia habiskan di bawah pancuran air shower. Setelah itu dia juga menghabiskan waktu untuk memilih pakaian yang akan dia kenakan, namun akhirnya dia hanya memakai t-shirt nuansa putih pucat dan rip jeans.

__ADS_1


Destinasi awal yang akan dia tuju adalah kafe sang kekasih. Secara sadar, Haeya akan meminta maaf atas tindakan menyimpangnya kemarin. Jarak antara apartemen dengan kafe Matthew tak terhitung jauh, jadi dia akan menempuh dengan jalan kaki. 


_________________________________________


"Apa sahabatmu tidak tambah berasap?" tanya Joseph kepada Cayla, bohong jika mereka tidak takut saat Haeya sudah meledak. Menurut mereka jika alarm gadis itu sudah berbunyi, maka akan ada bencana besar.


Cayla hanya menggelengkan kepala dan menarik bahunya ke atas, dia juga tidak tahu apa itu akan membuat sahabatnya tenang atau malah sebaliknya.


"Kamu ga hubungin Haeya?" Dan kini Joseph bertanya pada kekasih yang menjadi bahan rumpinya.


"Kau mau nanyain orang satu-satu?"


Matthew malah membalas tanya ke Joseph. Asal kalian tahu, mereka tidak kuat lagi dengan topik ini. Pasalnya, sejak malam Joseph selalu mengungkit perihal Haeya. Entah itu sifatnya atau tanggapan dirinya sendiri, yang pasti ia suka membuat remah topik menjadi hiperbola.


"Niat aku baik. Kalau semisal dia meledak lagi, aku ga mau ikut-ikutan."


"Ga ada yang mau ngajak kamu juga, Jo." Cayla hanya menanggapi Joseph dengan canda yang mendasar. Tetapi percayalah, itu sangat garing untuk suasana membara seperti ini.


Di sisi lain Sarah sibuk berkutat dengan cangkir-cangkir kotor yang sedang dia bersihkan. Sementara skill barista Jordan kian meningkat, apalagi Felix sangat sukarela membantunya bila mengalami kesulitan. Kerja sama inilah yang membuat kafe jadi lebih ramai dan laris. Terlebih juga, paras kedua barista tersebut sangatlah tampan, hingga menarik banyak hati pelanggan wanita.


"Kamu ternyata sangat berbakat ya di bidang ini," puji Sarah setelah sekian lama mengamati step by step langkah pria bulan itu meracik kopi.


"Kamu juga pandai di bidang itu," pujian Jordan terkesan sia-sia untuk Sarah. Padahal Sarah hanya menyuci cangkir dan mencatat pesanan pelanggan, tak tergolong istimewa.


"Jo, aku juga mau coba buat kopi sendiri. Kamu bisa ajarin aku?"


Sarah tidak bisa menghentikan rasa ketertarikannya untuk mencoba dan dengan peka pemuda itu menarik tangan Sarah lalu mengajarinya langkah demi langkah.


Sarah tentu terkejut dengan perbuatan Jordan yang terkesan ambigu. "E-eh.. jangan seperti ini, Jo!"


"Aku hanya mengajarimu, jangan salah paham."


Jordan hanya mengatakan itu sesuai poinnya, hal itu dilakukan agar sang gadis lebih cepat memahami praktiknya dari pada ia bicara panjang lebar untuk teori yang sulit dimengerti.


Seperti itulah kegiatan mereka yang memakan setengah jam, guna menjelaskan setiap langkah sampai ke tahap akhir. Dan gadis ini berhasil membuat kopi espresso walaupun bukan hasil tangannya sendiri, tapi Sarah cukup puas ketika berhasil membuat kopi bercita rasa yang tidak kalah nikmat dengan kopi Jordan. 


"Wow! Siapa yang membuat kopi dengan aroma seperti penuh goda?" celetuk Matthew. Awalnya ia hanya iseng pergi ke meja barista, namun tanpa sadar aroma kopi buatan Sarah terlalu mengunggah penciumannya. 


Sarah dan Jordan saling bertatap, sementara Sarah mengulas senyum.


"Sarah ingin tahu bagaimana cara membuat kopi," jelas Jordan.


"Jadi ini kopi buatan Sarah?" tanya Matthew dengan wajah berbinar, tentu dia tidak percaya bahwa gadis ini bisa pandai membuat kopi dengan sedap. 


Tetapi cepat-cepat gadis itu hanya menggeleng, dan berkata "Bukan! Aku dan Jordan yang  membuatnya." 


Jawaban polos Sarah malah membuat Matthew terkekeh dan dia pun memberi anggukan sebagai tanda mengerti. Sejenak Matthew berpikir meskipun dengan bantuan tetapi kopi ciptaan gadis ini sangatlah enak, sepertinya dia punya potensi yang sama seperti Jordan. 


"Sarah! Aku ingin melihatmu membuat kopi ini sendiri." Untuk memastikannya Matthew harus melihat secara langsung proses gadis ini, meskipun ada rasa ragu tetapi gadis ini hanya menjalankan apa yang Matthew perintahkan. 


Meskipun tangannya belum cekatan, tetapi Matthew bisa mengakui bahwa memang gadis ini memiliki potensi di bidang ini. Akhirnya Matthew memutuskan untuk menukar peran Sarah dan Jordan. Matthew akan membiarkan Sarah bekerja di meja barista sedangkan Jordan akan melayani setiap pelanggan. 


"Aku harap kamu bisa melakukan yang terbaik hari ini," Matthew mengucapkan kata-kata semangat untuk Sarah. 


"Ini kesempatan langka, aku akan bekerja dengan keras." 


Sarah mengepal tangannya untuk tanda menyemangati dirinya sendiri, melihat itu Matthew tertawa dan tanpa di sadari seseorang mengamati mereka berdua di balik bilik kaca yang transparan.


Tring!


Mendengar suara masuk bel pintu, Matthew memalingkan tatapan awalnya menuju seseorang yang baru saja masuk. Orang itu memberikan senyuman amat terpaksa kepada seluruh penghuni kafe.

__ADS_1


"Kenapa jadi diam?"


Memang bukan deretan kata sarkastis, namun serupa dengan sindiran.


"Kan kita udah selesai bercanda," jawab Matthew singkat, hingga matanya bertumpu pada seikat bunga Anyelir kuning digenggam Haeya. "Kamu habis dari toko bunga?"


Pertanyaan Matthew hanya dibalas decakan dan senyum seringai. Sejujurnya, niat Haeya meminta maaf kepada Sarah mendadak musnah usai melihat momen dekat kekasihnya dengan Sarah.


"Ah, kamu melihat ini?"


Tanpa basa basi Haeya melempar bunga Anyelir kuning itu ke lantai hingga berhasil setiap kelopaknya betebaran di mana-mana. Bukan meminta maaf, dia malah memasang ekspresi seolah terkejut atas tindakan disengajanya.


"Oh tidak!" sambil menutup mulut dengan telapak tangan, "bunga ini nakal terpeleset dari genggamanku," lanjutnya seolah menuduh benda mati.


"Hae?!"


Tiba-tiba dua orang lain datang dari sudut ruangan yang berbeda mereka tidak mengerti alasan ini terjadi.


"Kenapa ini jadi berantakan?" Joseph yang tidak bisa tinggal diam akhirnya membuka suara.


Haeya hanya berjalan menuju meja kasir dan memesan satu latte, tidak lupa dia memberi pesan agar kopi itu murni buatan Sarah. Sarah hanya bisa meneguk saliva, dia tidak tahu bagaimana cara membuat latte dan menurutnya kopi itu terlalu sulit untuk kali pertama. Matthew, Cayla dan Joseph hanya menatap tidak percaya apa yang Haeya lakukan.


Sang gadis berdarah Korea Selatan itu berjalan menuju tempat duduk Cayla, tetapi dia tahu teman-temannya masih mengamati dia dari belakang. Dengan terpaksa dia membalikkan diri dan berkata, "Aku kemari untuk menghabiskan waktu dengan kalian dan ada apa dengan tatapan aneh?"


Lontaran gadis itu hanya membuat mereka saling melempar pandang, untuk sekarang mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan Haeya. 


Kini semuanya telah mengambil posisi duduk yang nyaman, masih hening tanpa suara mereka berusaha supaya tidak melakukan kontak mata dengan Haeya. Tetapi tiba-tiba gadis ini memberi pernyataan, "Bahkan tanpa pesan ataupun panggilan? Mengesankan."


"Jangan berulah, Hae!" seru Joseph.


"Hei! Aku tidak menggunjing siapa pun, Jo," bantah Haeya.


"Kalau kamu masih kesal, jangan dipendam sendiri. Seenggaknya kamu cerita biar kita paham." Dengan niat sangat baik sahabatnya memberi saran, tentu saja Cayla tidak ingin Haeya dipandang sangat buruk oleh orang lain.


Ekspetasi Cayla tidak tepat sasaran saran yang dia berikan, malah dibalas oleh tawa hambar sahabatnya. "Bukan masalah besar dan jangan menganggap ini jadi masalah besar."


"Oh! By the way Mat, apa kamu ngerekrut pegawai yang lamban? Ini sudah sangat lama dari saat aku memesan latte kesukaanku," sindir Haeya mengarah pada Sarah.


Namun, tepat pada waktunya Sarah berjalan menuju meja mereka dan memberikan pesanan Haeya. Dan saat Sarah hendak kembali, tidak ragu-ragu Haeya mencegat.


"Ini kali pertama, 'kan? Bukankah lebih baik kamu menunggu pendapat pelanggan pertamamu soal kopi buatanmu ini?" tanya Haeya sambil mengamati setiap detail kopi yang diberikan Sarah.


Pramusaji itu hanya menunduk, sambil menunggu respon dari Haeya, entah buruk atau baik. Yang pasti, dia memilih respon baik, atau setidaknya buruk tidak masalah, asalkan Haeya bertutur kata sopan. Tetapi kembali lagi pada gadis kasar seperti Haeya, dia tidak akan memberi tanggapan positif ke orang yang dia benci, dan akan mencari cela terselubung.


Masih belum puas, karena Haeya pikir kopi buatan Sarah sudah cukup baik, hingga dia mengambil tegukan besar dan benar, dia mendapatkan kekurangan kopi itu. "Hei! Kopi ini terlalu manis bahkan sangat manis, apa kamu mau membuat pelangganmu diabetes?"


"Haeya! Dia baru pertama kali membuat kopi, bukankah wajar jika dia membuat kesalahan?" Kesabaran Matthew sudah nyaris habis, beruntung dia masih bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Meskipun aku terhitung teman, tapi di sini aku adalah pelanggan. Apa pun itu seharusnya dia bekerja dengan profesional," ucap Haeya dengan lantang, sebenarnya dia sengaja melakukan karena tidak percaya bahwa semua orang berada di pihak orang asing. 


Joseph yang sudah memanas lebih dulu tidak tahan lagi dan tanpa berpikir panjang dia pun mengeluarkan kata-kata tajamnya, "Yang menjadi masalah adalah kau sendiri! Aku tahu dengan sengaja kau mencari kekurangan Sarah buat menjatuhkan dia. Iya, 'kan?"


Sarah sedari tadi hanya mendengarkan argumen mereka hanya bisa menundukkan kepala. Tak habis pikir sapaan yang akrab di awal tidak selalu manis sampai akhir.


.


.


.


to be continued...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


__ADS_2