NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[24 : Senyuman Lebar]


__ADS_3

Atas insiden pertengkaran Haeya dan Matthew, aku benar-benar merasa bersalah. Kehadiranku seolah menebar hal buruk pada sekitarku.


Saat aku sudah kembali ke apartemen bersama Jordan, aku bisa melihat pemuda itu tampak duduk di sofa seraya memegang kepalanya frustasi. Kondisinya kini sangat kalut, buncah dan kalang kabut. Tidak dapat diragukan lagi besar cintanya kepada sosok gadis yang baru saja meninggalkannya.


Masih di ambang pintu, Jordan memperhatikanku, sementara aku menatap lekat Matthew. Tangannya tak lekas melonggar saat menggenggam tanganku, lantas ia bersuara, "Sarah, aku rasa ini berlebihan jika kau merasa bersalah."


Fokusku sontak teralihkan. Begitu juga Matthew ketika mendengar suara Jordan, ia baru tersadar dari lamunannya. Dari situ, ia menghampiri kami dan mempersilahkan kami masuk. Namun aku melepas genggaman Jordan yang hendak membawaku masuk. Tentu saja aku menolak, tidak ingin membuat situasi semakin salah paham. Hingga dengan inisiatif, "Aku minta maaf."


Matthew berkedip-kedip heran, seakan ia tak menemukan setitik salah pun padaku. Kemudian ia tersenyum amat tulus, aku sampai pangling mengetahui betapa baik dirinya, meski aku sekadar orang asing.


"Istirahatlah! Besok kita akan bekerja lagi. Bukankah kamu lelah?" tanya Matthew padaku. "Jo, bawa dia ke flatnya!" suruhnya yang dijawab anggukkan kecil dari Jordan.


"Tapi jangan lupa balik!" Pemuda bermarga Julian memberi peringatan tegas, tetapi malah membuatku sedikit tertawa.


Sesuai perintahnya, Jordan mengantarku sampai di depan flat. Aku membuka pintu, lalu ketika ingin menutupnya, ia secara sengaja menahan pergerakan pintu. Aku merasa heran akan gerak-gerik sepanjang hari ini. Ia tampak berbeda, apakah ia sedang masa puber? Ah, tatapan Jordan juga sangat dingin, tetapi harus kuakui kalau ia tampan.


"Ada apa?" Dari tadi ia bergeming saja, jadi kuputuskan memulai topik.


"Sarah tidak boleh menangis!" larangnya datar.


"Memang ada hal apa yang harus membuatku nangis?"


"Hal buruk. Seperti kejadian tadi," jawabnya cepat.


Menggemaskan sekali melihat sosok pria yang polos bak anak kecil, tetapi diam-diam bisa perhatian. Kalau boleh jujur, terkadang aku merasa terlena, secara ia selalu menunjukan sikap manis. Aku jadi penasaran akan semanis apa lagi, bila ia menambahkan ekspresi wajah.


"Kupikir, semua akan baik-baik saja kalau ada dirimu."


Setelah sadar dengan ucapanku, raut wajahku amat terkejut, terlebih kedua mataku ikut membulat. Ia menatap kosong diriku yang sedang memukul-mukul bibir sebagai hukuman karena tidak mencerna kalimat terlebih dahulu sebelum dilontarkan.


"Em ... Jo? Kamu ga balik? Nanti Matthew cariin, lho!" Dengan cepat aku mengalihkan arah pembicaran, sebelum ia berasumsi diriku aneh. Aku segera membalikkan tubuh kakunya sebelum kemudian menutup pintu flat. Jantungku berdebar tak karuan, bahkan sesekali aku seperti sesak napas.


"Apa aku mengidap sakit jantung?" gumamku pelan.

__ADS_1


_________________________________________


Author POV


Waktu bergulir tiada lelah. Pagi ini masih secerah pagi sebelumnya. Langit dan cuaca tampak lebih ramah. Sebentar lagi musim akan berganti dari musim dingin, secara bulan sudah memasuki awal Februari, sementara musim selanjutnya akan jatuh di pertengahan Februari, yakni musim semi.


Senyum sumringah selalu setia menemani sang gadis berambut pendek. Dia disibukkan dengan kedatangan beberapa pelanggan di kafe. Sikap keramah-tamahan terus menjadi prioritas Sarah saat melakukan pelayanan, demi kenyamanan pelanggan. Begitu juga para barista lain, mereka menyajikan pesanan terbaik menggunakan teknik andal. Sehingga tidak diragukan lagi para pecinta kopi sangat merekomendasikan kafe ini.


Sarah POV


Kenikmatan pagi yang indah, tidak dirasakan oleh sang empu kafe. Tidak ada senyum dan keceriaan seperti biasanya. Ia duduk di sudut meja kafe seorang diri dengan secangkir matcha latte sedang mengepulkan asap hangat tipis dan beberapa cemilan di atas piring kecil. Banyak hal yang tengah ia pikirkan, seperti menimbang-nimbang sesuatu seraya sesekali menyeruput minumannya.


Dari kejauhan, bisa kulihat Matthew merasa tertekan. Entahlah, mungkin ia tidak mau membebani orang sekitar. Sekali lagi, aku tidak pernah bosan ataupun ragu menjulukinya pria yang sangat baik. Ia dermawan, kuat dan dewasa, setidaknya harus kubalas kebaikannya.


Pelanggan sudah mulai sepi. Tehitung empat orang tersisa di dalam, padahal ini belum malam, bahkan masih siang. Jadi, kumanfaatkan waktu untuk mencuci gelas. Tentu saja tidak sendiri, masih ada Jordan yang menemaniku, meskipun ia tak melakukan apapun dan hanya mengamati kelihaian diriku mencuci piring.


"Jo, kemarin Matthew ga omong apa-apa ke kamu?"


Jordan menggeleng pelan. "Tidak. Hanya menyuruhku istirahat, lalu ia tidur di kamarnya."


Seusai memasukkan gelas bersih ke tempatnya, aku bergegas ke meja bar kafe, disusul Jordan tentunya. Tidak ada tanda-tanda pelanggan masuk, hingga suasana menjadi semakin sepi setelah pelanggan sisanya meninggalkan ruangan. Masih bisa dilihat, Matthew berada di posisi semula. Ia tak beranjak sedetik pun, walau matcha latte buatan Felix sudah habis. Di posisi yang sama juga, ia merenung sesuatu, kuyakini ini bersangkut-paut dengan prakara Haeya beberapa tempo lalu.


"Sarah, apa kamu sadar? Akhir-akhir ini Matthew terus murung layaknya orang tanpa nyawa." Tiba-tiba Felix mendekatkan mulut tepat di runguku, hingga sukses meruntuhkan lamunanku.


Aku mengangguk pelan. Ia mulai menjauhkan dirinya, masih menatapku lekat, lantas aku membalas tatapannya. "Ya, aku juga merasa demikian," jawabku.


"Memang kenapa sih?" Felix mengernyit, sembari menggaruk-garuk kepala tak gatal.


"Hei! Bukankah kamu keterlaluan kalau kepo dengan urusan orang lain?" Dan seorang pemuda segera menyela pembicaraan. Aku dan Felix dengan kompak mengalihkan pandangan kami ke Jordan yang ada di belakangku.


Aku sempat tersentak di tempat, sebab baru pertama kalinya mendengar Jordan berbicara bahasa gaul. "Jo? Kamu tahu kata 'kepo' dari mana?" tanyaku sambil tertawa.


"Em ... televisi?" jawabnya ragu tanpa melihat wajahku.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya, Jordan. Bukan maksudku untuk mengorek-ngorek privasi orang, lagi pula ini karena aku perhatian sama Matthew," ujar Felix, dengan kompak kami melihat ke arah pemuda bermarga Lee tersebut.


"Sudahlah. Kau juga tidak akan paham. Oh ya, Sarah, aku juga ingin mengatakan beberapa hal padamu. Akhir-akhir ini kafe pun jadi sepi. Kalau begini terus, bisa-bisa pendapatan ikut menurun," sambung Felix.


Hari demi hari aku menyadari hal yang sama. Memang akan semakin rumit apabila kami mengeluh perihal ini ke Matthew. Aku tak bisa terus membuat dirinya tertekan, apalagi karena ulahku sendiri. Maka, kuputuskan untuk mengulak ide dari pikiran kami bertiga. Beruntung otakku sedang tidak tersendat, setidaknya ada seutas ide yang muncul, setelah banyak pertimbangan.


Felix menyuruhku untuk memperbincangkannya berdua kepada Matthew. Aku pun mengangguk setuju, tetapi entah mengapa si pemuda bulan seolah tak setuju. Kini ia malah menjadi penengah tempat duduk aku dan Matthew.


"Matthew ... Aku, Felix dan Jordan memiliki ide untuk menarik banyak pelanggan lagi. Apa kau mau mendengarkannya?"


"Ya, katakan saja."


"Baiklah. Di kafemu, hanya ada menu minuman saja, 'kan? Kafe ini jadi seperti khusus penikmat kopi atau sekadar orang-orang yang berkumpul untuk menggunakan WiFi, padahal mereka hanya memesan satu menu. Kalau dipikir-pikir, itu bisa merugikan kamu. Jadi, aku punya ide, agar kita membuat menu makanan juga. Bagaimana?"


Matthew tampak tengah berpikir. Ia sesekali menaik-turunkan kedua alis sambil memegang dagunya secara intens. Sekitar lima menit berlalu, tidak segan Matthew bertanya, "Lalu, siapa yang akan memasak makanan itu?"


"Sarah jago masak!" sergap Jordan.


Sontak sang pemuda Julian tertegun. Sebab kata jago adalah kata gaul perdana yang didengar langsung dari mulut Jordan. "Hei? Kosakatamu semakin luas. Sering-sering nonton televisi, ya!" Dan Matthew malah memberi saran agar Jordan semakin mengoleksi bahasa informal.


Melihat adegan keakraban Matthew dengan Jordan, aku jadi tertarik bergabung. Kuusak pucuk kepala Jordan, sambil berkata, "Anak ini bertumbuh dengan baik. Tadi dia juga bilang 'kepo', hampir aja aku oleng."


"Oh iya, Sarah. Sepertinya tidak ada salahnya melegalkan idemu. Aku sangat tertarik," ungkap Matthew tersenyum.


Aku melepas tanganku dari kepala Jordan. Lalu mengumandangkan kata terima kasih kepada sang pemilik kafe. Kuharap ideku membantu, meski tak banyak.


to be continued...


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


(masih masa ujian hwehehe)


__ADS_2